Bab. 19. Lamaran Alamanda

Saat mobil sudah mendekati sebuah mall yang besar. Marcel menoleh sekilas pada Charlotte yang duduk manis di sampingnya, bibir Charlotte sejak tadi terus melengkung membentuk sebuah senyuman. Mata Charlotte pun berbinar binar. Marcel pun tersenyum bahagia lalu dia kembali fokus ke depan dan menjalankan mobil menuju ke tempat parkir.

Setelah mobil terparkir mereka berdua turun dari mobil. Marcel menggendong tubuh mungil Charlotte agar puterinya tidak capek dan juga agar cepat langkahnya. Mereka pun lalu sibuk belanja macam macam Marcel menyuruh karyawan karyawan toko mall di mana dia berbelanja untuk mengantar belanjaan ke tempat mobilnya terparkir.

“Sudah ya Sayang sudah banyak.” Ucap Marcel sambil menatap Charlotte dan Charlotte pun mengangguk setuju.

“Tapi masih ada yang belum dibeli Pa..” ucap Charlotte yang masih dalam gendongan Marcel.

“Apa?” tanya Marcel sambil melangkah menuju ke tempat parkir.

“Bunga. Biar Ners Alamanda suka ke Papa.” Ucap Charlotte dengan serius.

“Memang Ners Alamanda suka bunga?” tanya Marcel sambil terus berjalan.

“Ihhh Papa itu gimana sih.. kan ada pepatah, katakan cinta dengan bunga...” ucap Charlotte dengan bibir cemberut.

“Jangan sekarang Sayang lain kali saja.” Ucap Marcel sambil terus melangkah. Karena baginya itu terlalu cepat jika pakai acara memberi bunga apalagi Alamanda statusnya sudah punya calon suami.

“Papa enggak asyik!” ucap Charlotte dengan bibir cemberut.

“Sudah keburu malam Sayang. Nanti kita ajak saja Ners Alamanda dan orang tuanya makan malam di luar.” Ucap Marcel sambil terus melangkah. Dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di dekat mobil para karyawan yang membawakan barang belanjaan Marcel dan Charlotte sudah menunggu mereka. Marcel segera membuka pintu bagasi dan para karyawan itu memasukkan barang belanjaan Marcel dan Charlotte. Tidak lupa Marcel memberi tip pada para karyawan itu.

Marcel kembali mendudukkan Charlotte di jok samping kemudi, lalu dia pun juga duduk di jok kemudi dan mobil kembali berjalan meninggalkan tempat parkir mall menuju ke rumah Alamanda. Marcel sudah mendapat share lokasi rumah Alamanda dari pak sopir.

“Pa, cepat dikit napa?” ucap Charlotte sambil menoleh menatap Sang Papa yang fokus mengemudikan mobil namun bibirnya tersenyum.

“Sudah tidak sabar ya..” goda Marcel malah memperlambat laju kemudinya.

“Papa... katanya mau mengajak Ners Alamanda dan orang tuanya makan malam di luar. Biar tidak terlambat Pa.” Ucap Charlotte dengan nada serius sambil masih menatap wajah Sang Papa.

“Iya Sayang...” ucap Marcel sambil tersenyum dan terus fokus pada kemudi mobilnya.

“Pa, nanti aku duduk di depan dipangku Ners Alamanda. Terus orang tua Ners Alamanda di belakang ya...” ucap Charlotte dengan bibir tersenyum bahagia.

“Hmmm...” gumam Marcel sambil tersenyum juga dan dia terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, meskipun kadang macet karena lalu lintas ramai. Saat macet tampak Charlotte gelisah dan memarahi Sang Papa yang katanya salah dalam mengambil jalur.

Waktu pun terus berlalu, jam yang ada di dash board mobil menunjukkan pukul sembilan belas nol nol. Mobil sudah mendekati lokasi rumah Alamanda. Akan tetapi Marcel tampak kaget saat di tempat tanah kosong di dekat mulut gang, sudah ada tiga buah mobil yang terparkir, hingga Marcel kesulitan untuk memarkirkan mobilnya. Selain tiga buah mobil yang parkir juga ada beberapa buah motor terparkir di tanah kosong itu.

“Kata Pak sopir tempat parkirnya di situ, terus kita jalan kaki.” Ucap Marcel yang sudah menghentikan mobilnya di tepi jalan sebelum tanah kosong tempat parkir.

“Kok sudah penuh begitu ya...” gumam Marcel kemudian. Sedangkan Charlotte tampak menoleh noleh melihat situasi di luar mobil.

Sesaat kemudian ada satu orang laki laki berpakaian hitam hitam, membawa satu buah peluit bertali yang terdampar di pundak lengannya berwarna merah. Laki laki itu berjalan mendekati mobil Marcel.

Saat sampai di dekat kaca jendela mobil Marcel, laki laki itu menganggukkan kepala. Marcel pun membuka kaca jendela mobilnya.

“Selamat malam Tuan, apa tamu acara keluarga Irawan?” tanya laki laki berpakaian hitam hitam itu.

“Saya akan ke rumah Ners Alamanda.” Ucap Marcel dengan nada sopan.

“Ooo ya betul Tuan, orang tua Neng Alamanda namanya Irawan. Silahkan Tuan, parkir mobil di tepi jalan tidak apa apa.” Ucap laki laki berpakaian hitam hitam itu.

“Acara sudah akan dimulai.” Ucap laki laki itu selanjutnya.

Marcel dan Charlotte tampak saling pandang.

“Ada acara apa ya Pak? Maaf saya tidak tahu, tidak mendapat undangan. Saya tadi hanya akan main berkunjung saja mengantar anak saya.” Ucap Marcel dengan ekspresi dan nada kaget.

“Ooo acara lamaran Neng Alamanda.” Jawab laki laki berpakaian hitam hitam yang bertugas untuk menjaga kendaraan tamu acara lamaran Alamanda yang berparkir.

“Ooo kalau begitu kami lain kali saja main berkunjungnya.” Ucap Marcel dengan nada sopan dan ada rasa kecewa.

“ Papa ayo kita turun dan tetap datang ke rumah Ners Alamanda.” Ucap Charlotte lalu dia membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil.

“Charlotte...” teriak Marcel yang mau tak mau dia pun membuka pintu mobilnya dan segera turun dari mobil untuk menyusul langkah kaki mungil Charlotte yang sudah berjalan cepat meninggalkan mobil menuju ke jalan yang kecil.

Marcel segera menggandeng tangan mungil Charlotte yang berjalan dengan cepat. Saat mereka berjalan kira kira sepuluh meter sudah banyak orang orang yang duduk di kursi di pinggir pinggir jalan.

“Sayang kita pulang saja.” Ucap lirih Marcel akan tetapi Charlotte tidak memedulikan, dia terus melangkah melewati orang orang yang duduk di kursi kursi yang berjejer berderet deret. Charlotte terus melangkah beberapa meter lagi di depannya ada tenda yang dipasang di jalan yang kecil itu. Ekspresi wajah Charlotte tampak kaku tidak ada lagi senyum di bibirnya. Sedangkan Marcel tetap berusaha untuk tersenyum menyapa orang orang yang duduk duduk di kursi yang menatap sosok Marcel dan Charlotte.

Kaki Charlotte pun sudah menginjak pada jalan yang dipasangi tenda, suara seorang laki laki sebagai master of Ceremony yang sedang menyampaikan susunan acara sudah terdengar di telinga Charlotte dan Marcel.

“Sayang kita duduk di sini saja.” Suara Marcel saat melihat ada satu kursi kosong. Dia pun tidak apa apa memangku Charlotte sampai acara selesai. Tapi Charlotte menggeleng gelengkan kepalanya dan terus melangkah....

“Charlotte.” Ucap Marcel lagi dengan suara pelan sambil menarik tangan mungil anaknya agar menurut pada dirinya, untuk duduk di kursi luar saja. Beberapa tamu yang ada di luar sudah tampak penasaran melihat kehadiran laki laki tampan yang memakai baju casual di acara lamaran resmi Alamanda apalagi dengan membawa satu anak balita yang tampak cemberut wajahnya. Charlotte terus saja berjalan cepat menuju ke pintu rumah Alamanda.

Terpopuler

Comments

neng ade

neng ade

ya Allah. kasihan Charlotte.. jika boleh ku berharap lamaran nya batal dan berganti dngn lamaran Marcel

2024-12-13

0

Deliza Yuseva

Deliza Yuseva

seru nich ...lamaran mana yg di pilih ortunya maanda ...

2024-02-19

1

✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT

✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT

lanjut kak author alamanda Terima marcel sj😂🤣

2023-07-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1. Hadirnya Millie
2 Bab. 2. Kanker Tulang
3 Bab. 3. Penolakan Charlotte Pada Alamanda
4 Bab. 4. Millie dan Alamanda Tinggal di Mansion Hanson
5 Bab. 5. Rencana Millie
6 Bab. 6. Ujian Dari Charlotte
7 Bab. 7. Luluhnya Hati Charlotte
8 Bab. 8. Calon Suami Alamanda
9 Bab. 9. Alamanda Harus Pulang
10 Bab. 10. Charlotte Harus Dioperasi
11 Bab. 11. Charlotte Kekurangan Darah
12 Bab. 12. Jatuh Hati
13 Bab. 13. Ultimatum Nyonya Hanson
14 Bab. 14. Alamanda Pergi
15 Bab. 15. Ada Yang Hilang
16 Bab. 16. Menggoda Marcel (Kopi Penambah Gairah)
17 Bab. 17. Curahan Hati Marcel
18 Bab. 18. Ke Rumah Alamanda
19 Bab. 19. Lamaran Alamanda
20 Bab. 20. Charlotte Menggagalkan Lamaran Alamanda
21 Bab. 21. Marcel Gelisah
22 Bab. 22. Tak Ada Restu
23 Bab. 23. Air Keras
24 Bab. 24. Alamanda Dalam Bahaya
25 Bab. 25. Selamat?
26 Bab. 26. Tawaran Buat Alamanda
27 Bab. 27. Charlotte Meretas Hand Phone Kevin
28 Bab. 28. Transferan Buat Marcel
29 Bab. 29. Bukti
30 Bab. 30. Alamanda di Mansion Ernestan
31 Bab. 31. Menunggu Waktu
32 Bab. 32. Ditolak
33 Bab. 33. Membuka Rahasia Millie
34 Bab. 34. Membatalkan Perjodohan Marcel dan Millie ( Ancaman Buat Nyonya Hanson)
35 Bab. 35. Ke Rumah Sakit
36 Bab. 36.. Siapa Alamanda?
37 Bab. 37. Karena Charlotte
38 Bab. 38. Suasana Romantis yang Terganggu
39 Bab. 39. Mencari Informasi Keluarga Alamanda
40 Bab. 40. Terpaksa Merestui
41 Bab. 41. Hak Asuh Charlotte
42 Bab. 42.
43 Bab. 43.
44 Bab. 44.
45 Bab. 45.
46 Bab. 46.
47 Bab. 47.
48 Bab. 48.
49 Bab. 49.
50 Bab. 50.
51 Bab. 51.
52 Bab. 52.
53 Bab. 53.
54 Bab. 54.
55 Bab. 55.
56 Bab. 56.
57 Bab. 57.
58 Bab. 58.
59 Bab. 59.
60 Bab. 60.
61 Bab. 61
62 Bab. 62.
63 Bab. 63.
64 Bab. 64.
65 Bab. 65.
66 Bab. 66.
67 Bab. 67.
68 Bab. 68.
69 Bab. 69.
70 Bab. 70.
71 Bab. 71.
72 Bab. 72.
73 Bab. 73.
74 Bab. 74.
75 Bab. 75.
76 Bab. 76.
77 Bab. 77.
78 Bab. 78.
79 Bab. 79.
80 Bab. 80.
81 Bab. 81.
82 Bab. 82.
83 Bab. 83.
84 Bab. 84.
85 Bab. 85.
86 Bab. 86.
87 Bab. 87.
88 Bab. 88.
89 Bab. 89.
90 Bab. 90.
91 Bab. 91.
92 Bab. 92.
93 Bab. 93.
94 Bab. 94.
95 Bab. 95.
96 Bab. 96.
97 Bab. 97.
98 Bab. 98.
99 Bab. 99.
100 Bab. 100.
101 Bab. 101.
102 Bab. 102
103 Bab. 103.
104 Bab. 104.
105 Bab. 105.
106 Bab. 106.
107 Bab. 107.
108 Bab. 108.
109 Bab. 109.
110 Bab. 110.
111 Bab. 111.
112 Bab. 112.
113 Bab. 113.
114 Bab. 114.
115 Bab. 115.
116 Bab. 116.
117 Bab. 117.
118 Bab. 118.
119 Bab. 119.
120 Bab. 120.
121 Bab. 121.
122 Bab. 122.
123 Bab. 123.
124 Bab. 124.
125 Bab. 125.
126 Bab. 126.
127 Bab. 127.
128 Bab. 128.
129 Bab. 129.
130 Bab. 130.
131 Bab. 131.
132 Bab. 132.
133 Bab. 133.
134 Bab. 134.
135 Bab. 135.
136 Bab. 136.
137 Bab. 137.
138 Bab. 138.
139 Bab. 139.
140 Bab. 140.
141 Bab. 141.
142 Bab. 142.
143 Bab. 143.
144 Bab. 144.
145 Bab. 145.
146 Bab. 146.
147 Bab. 147.
148 Bab. 148.
149 Bab. 149.
150 Bab. 150. Ngidam
151 Bab. 151.
152 Bab. 152.
153 Bab. 153.
154 PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
155 Promo Novel Dipecat Malah Jadi Juragan
156 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Bab. 1. Hadirnya Millie
2
Bab. 2. Kanker Tulang
3
Bab. 3. Penolakan Charlotte Pada Alamanda
4
Bab. 4. Millie dan Alamanda Tinggal di Mansion Hanson
5
Bab. 5. Rencana Millie
6
Bab. 6. Ujian Dari Charlotte
7
Bab. 7. Luluhnya Hati Charlotte
8
Bab. 8. Calon Suami Alamanda
9
Bab. 9. Alamanda Harus Pulang
10
Bab. 10. Charlotte Harus Dioperasi
11
Bab. 11. Charlotte Kekurangan Darah
12
Bab. 12. Jatuh Hati
13
Bab. 13. Ultimatum Nyonya Hanson
14
Bab. 14. Alamanda Pergi
15
Bab. 15. Ada Yang Hilang
16
Bab. 16. Menggoda Marcel (Kopi Penambah Gairah)
17
Bab. 17. Curahan Hati Marcel
18
Bab. 18. Ke Rumah Alamanda
19
Bab. 19. Lamaran Alamanda
20
Bab. 20. Charlotte Menggagalkan Lamaran Alamanda
21
Bab. 21. Marcel Gelisah
22
Bab. 22. Tak Ada Restu
23
Bab. 23. Air Keras
24
Bab. 24. Alamanda Dalam Bahaya
25
Bab. 25. Selamat?
26
Bab. 26. Tawaran Buat Alamanda
27
Bab. 27. Charlotte Meretas Hand Phone Kevin
28
Bab. 28. Transferan Buat Marcel
29
Bab. 29. Bukti
30
Bab. 30. Alamanda di Mansion Ernestan
31
Bab. 31. Menunggu Waktu
32
Bab. 32. Ditolak
33
Bab. 33. Membuka Rahasia Millie
34
Bab. 34. Membatalkan Perjodohan Marcel dan Millie ( Ancaman Buat Nyonya Hanson)
35
Bab. 35. Ke Rumah Sakit
36
Bab. 36.. Siapa Alamanda?
37
Bab. 37. Karena Charlotte
38
Bab. 38. Suasana Romantis yang Terganggu
39
Bab. 39. Mencari Informasi Keluarga Alamanda
40
Bab. 40. Terpaksa Merestui
41
Bab. 41. Hak Asuh Charlotte
42
Bab. 42.
43
Bab. 43.
44
Bab. 44.
45
Bab. 45.
46
Bab. 46.
47
Bab. 47.
48
Bab. 48.
49
Bab. 49.
50
Bab. 50.
51
Bab. 51.
52
Bab. 52.
53
Bab. 53.
54
Bab. 54.
55
Bab. 55.
56
Bab. 56.
57
Bab. 57.
58
Bab. 58.
59
Bab. 59.
60
Bab. 60.
61
Bab. 61
62
Bab. 62.
63
Bab. 63.
64
Bab. 64.
65
Bab. 65.
66
Bab. 66.
67
Bab. 67.
68
Bab. 68.
69
Bab. 69.
70
Bab. 70.
71
Bab. 71.
72
Bab. 72.
73
Bab. 73.
74
Bab. 74.
75
Bab. 75.
76
Bab. 76.
77
Bab. 77.
78
Bab. 78.
79
Bab. 79.
80
Bab. 80.
81
Bab. 81.
82
Bab. 82.
83
Bab. 83.
84
Bab. 84.
85
Bab. 85.
86
Bab. 86.
87
Bab. 87.
88
Bab. 88.
89
Bab. 89.
90
Bab. 90.
91
Bab. 91.
92
Bab. 92.
93
Bab. 93.
94
Bab. 94.
95
Bab. 95.
96
Bab. 96.
97
Bab. 97.
98
Bab. 98.
99
Bab. 99.
100
Bab. 100.
101
Bab. 101.
102
Bab. 102
103
Bab. 103.
104
Bab. 104.
105
Bab. 105.
106
Bab. 106.
107
Bab. 107.
108
Bab. 108.
109
Bab. 109.
110
Bab. 110.
111
Bab. 111.
112
Bab. 112.
113
Bab. 113.
114
Bab. 114.
115
Bab. 115.
116
Bab. 116.
117
Bab. 117.
118
Bab. 118.
119
Bab. 119.
120
Bab. 120.
121
Bab. 121.
122
Bab. 122.
123
Bab. 123.
124
Bab. 124.
125
Bab. 125.
126
Bab. 126.
127
Bab. 127.
128
Bab. 128.
129
Bab. 129.
130
Bab. 130.
131
Bab. 131.
132
Bab. 132.
133
Bab. 133.
134
Bab. 134.
135
Bab. 135.
136
Bab. 136.
137
Bab. 137.
138
Bab. 138.
139
Bab. 139.
140
Bab. 140.
141
Bab. 141.
142
Bab. 142.
143
Bab. 143.
144
Bab. 144.
145
Bab. 145.
146
Bab. 146.
147
Bab. 147.
148
Bab. 148.
149
Bab. 149.
150
Bab. 150. Ngidam
151
Bab. 151.
152
Bab. 152.
153
Bab. 153.
154
PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
155
Promo Novel Dipecat Malah Jadi Juragan
156
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!