Saat mobil sudah mendekati sebuah mall yang besar. Marcel menoleh sekilas pada Charlotte yang duduk manis di sampingnya, bibir Charlotte sejak tadi terus melengkung membentuk sebuah senyuman. Mata Charlotte pun berbinar binar. Marcel pun tersenyum bahagia lalu dia kembali fokus ke depan dan menjalankan mobil menuju ke tempat parkir.
Setelah mobil terparkir mereka berdua turun dari mobil. Marcel menggendong tubuh mungil Charlotte agar puterinya tidak capek dan juga agar cepat langkahnya. Mereka pun lalu sibuk belanja macam macam Marcel menyuruh karyawan karyawan toko mall di mana dia berbelanja untuk mengantar belanjaan ke tempat mobilnya terparkir.
“Sudah ya Sayang sudah banyak.” Ucap Marcel sambil menatap Charlotte dan Charlotte pun mengangguk setuju.
“Tapi masih ada yang belum dibeli Pa..” ucap Charlotte yang masih dalam gendongan Marcel.
“Apa?” tanya Marcel sambil melangkah menuju ke tempat parkir.
“Bunga. Biar Ners Alamanda suka ke Papa.” Ucap Charlotte dengan serius.
“Memang Ners Alamanda suka bunga?” tanya Marcel sambil terus berjalan.
“Ihhh Papa itu gimana sih.. kan ada pepatah, katakan cinta dengan bunga...” ucap Charlotte dengan bibir cemberut.
“Jangan sekarang Sayang lain kali saja.” Ucap Marcel sambil terus melangkah. Karena baginya itu terlalu cepat jika pakai acara memberi bunga apalagi Alamanda statusnya sudah punya calon suami.
“Papa enggak asyik!” ucap Charlotte dengan bibir cemberut.
“Sudah keburu malam Sayang. Nanti kita ajak saja Ners Alamanda dan orang tuanya makan malam di luar.” Ucap Marcel sambil terus melangkah. Dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di dekat mobil para karyawan yang membawakan barang belanjaan Marcel dan Charlotte sudah menunggu mereka. Marcel segera membuka pintu bagasi dan para karyawan itu memasukkan barang belanjaan Marcel dan Charlotte. Tidak lupa Marcel memberi tip pada para karyawan itu.
Marcel kembali mendudukkan Charlotte di jok samping kemudi, lalu dia pun juga duduk di jok kemudi dan mobil kembali berjalan meninggalkan tempat parkir mall menuju ke rumah Alamanda. Marcel sudah mendapat share lokasi rumah Alamanda dari pak sopir.
“Pa, cepat dikit napa?” ucap Charlotte sambil menoleh menatap Sang Papa yang fokus mengemudikan mobil namun bibirnya tersenyum.
“Sudah tidak sabar ya..” goda Marcel malah memperlambat laju kemudinya.
“Papa... katanya mau mengajak Ners Alamanda dan orang tuanya makan malam di luar. Biar tidak terlambat Pa.” Ucap Charlotte dengan nada serius sambil masih menatap wajah Sang Papa.
“Iya Sayang...” ucap Marcel sambil tersenyum dan terus fokus pada kemudi mobilnya.
“Pa, nanti aku duduk di depan dipangku Ners Alamanda. Terus orang tua Ners Alamanda di belakang ya...” ucap Charlotte dengan bibir tersenyum bahagia.
“Hmmm...” gumam Marcel sambil tersenyum juga dan dia terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, meskipun kadang macet karena lalu lintas ramai. Saat macet tampak Charlotte gelisah dan memarahi Sang Papa yang katanya salah dalam mengambil jalur.
Waktu pun terus berlalu, jam yang ada di dash board mobil menunjukkan pukul sembilan belas nol nol. Mobil sudah mendekati lokasi rumah Alamanda. Akan tetapi Marcel tampak kaget saat di tempat tanah kosong di dekat mulut gang, sudah ada tiga buah mobil yang terparkir, hingga Marcel kesulitan untuk memarkirkan mobilnya. Selain tiga buah mobil yang parkir juga ada beberapa buah motor terparkir di tanah kosong itu.
“Kata Pak sopir tempat parkirnya di situ, terus kita jalan kaki.” Ucap Marcel yang sudah menghentikan mobilnya di tepi jalan sebelum tanah kosong tempat parkir.
“Kok sudah penuh begitu ya...” gumam Marcel kemudian. Sedangkan Charlotte tampak menoleh noleh melihat situasi di luar mobil.
Sesaat kemudian ada satu orang laki laki berpakaian hitam hitam, membawa satu buah peluit bertali yang terdampar di pundak lengannya berwarna merah. Laki laki itu berjalan mendekati mobil Marcel.
Saat sampai di dekat kaca jendela mobil Marcel, laki laki itu menganggukkan kepala. Marcel pun membuka kaca jendela mobilnya.
“Selamat malam Tuan, apa tamu acara keluarga Irawan?” tanya laki laki berpakaian hitam hitam itu.
“Saya akan ke rumah Ners Alamanda.” Ucap Marcel dengan nada sopan.
“Ooo ya betul Tuan, orang tua Neng Alamanda namanya Irawan. Silahkan Tuan, parkir mobil di tepi jalan tidak apa apa.” Ucap laki laki berpakaian hitam hitam itu.
“Acara sudah akan dimulai.” Ucap laki laki itu selanjutnya.
Marcel dan Charlotte tampak saling pandang.
“Ada acara apa ya Pak? Maaf saya tidak tahu, tidak mendapat undangan. Saya tadi hanya akan main berkunjung saja mengantar anak saya.” Ucap Marcel dengan ekspresi dan nada kaget.
“Ooo acara lamaran Neng Alamanda.” Jawab laki laki berpakaian hitam hitam yang bertugas untuk menjaga kendaraan tamu acara lamaran Alamanda yang berparkir.
“Ooo kalau begitu kami lain kali saja main berkunjungnya.” Ucap Marcel dengan nada sopan dan ada rasa kecewa.
“ Papa ayo kita turun dan tetap datang ke rumah Ners Alamanda.” Ucap Charlotte lalu dia membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil.
“Charlotte...” teriak Marcel yang mau tak mau dia pun membuka pintu mobilnya dan segera turun dari mobil untuk menyusul langkah kaki mungil Charlotte yang sudah berjalan cepat meninggalkan mobil menuju ke jalan yang kecil.
Marcel segera menggandeng tangan mungil Charlotte yang berjalan dengan cepat. Saat mereka berjalan kira kira sepuluh meter sudah banyak orang orang yang duduk di kursi di pinggir pinggir jalan.
“Sayang kita pulang saja.” Ucap lirih Marcel akan tetapi Charlotte tidak memedulikan, dia terus melangkah melewati orang orang yang duduk di kursi kursi yang berjejer berderet deret. Charlotte terus melangkah beberapa meter lagi di depannya ada tenda yang dipasang di jalan yang kecil itu. Ekspresi wajah Charlotte tampak kaku tidak ada lagi senyum di bibirnya. Sedangkan Marcel tetap berusaha untuk tersenyum menyapa orang orang yang duduk duduk di kursi yang menatap sosok Marcel dan Charlotte.
Kaki Charlotte pun sudah menginjak pada jalan yang dipasangi tenda, suara seorang laki laki sebagai master of Ceremony yang sedang menyampaikan susunan acara sudah terdengar di telinga Charlotte dan Marcel.
“Sayang kita duduk di sini saja.” Suara Marcel saat melihat ada satu kursi kosong. Dia pun tidak apa apa memangku Charlotte sampai acara selesai. Tapi Charlotte menggeleng gelengkan kepalanya dan terus melangkah....
“Charlotte.” Ucap Marcel lagi dengan suara pelan sambil menarik tangan mungil anaknya agar menurut pada dirinya, untuk duduk di kursi luar saja. Beberapa tamu yang ada di luar sudah tampak penasaran melihat kehadiran laki laki tampan yang memakai baju casual di acara lamaran resmi Alamanda apalagi dengan membawa satu anak balita yang tampak cemberut wajahnya. Charlotte terus saja berjalan cepat menuju ke pintu rumah Alamanda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
neng ade
ya Allah. kasihan Charlotte.. jika boleh ku berharap lamaran nya batal dan berganti dngn lamaran Marcel
2024-12-13
0
Deliza Yuseva
seru nich ...lamaran mana yg di pilih ortunya maanda ...
2024-02-19
1
✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT
lanjut kak author alamanda Terima marcel sj😂🤣
2023-07-19
0