“Nona, kontrak kerja saya sudah selesai.” Ucap Alamanda sambil berusaha mengambil kunci lemari yang digenggam erat oleh Charlotte.
“Aku kan sudah bilang bisa diperpanjang lagi kontrak kerjanya.” Ucap Charlotte sambil masih menggenggam erat kunci lemari.
“Ners coba ambil saja kunci ini dari genggaman tanganku ha... ha.... ha..... ha....” ucap Charlotte sambil tertawa riang karena Alamanda tidak bisa membuka genggaman tangan Charlotte yang membawa kunci lemari.
“Saya kilikitik ....” ucap Alamanda sambil mengelikitik perut Charlotte dan Charlotte tertawa kegelian namun masih menggenggam erat kunci lemari.
“Papa tolong aku anakmu ini Pa.. ha.... ha....ha....” teriak Charlotte yang masih kegelian karena dikilikitik perutnya oleh Alamanda. Marcel yang masih berdiri di depan pintu, terus tersenyum melihat tingkah Charlotte dan Alamanda lalu Marcel pun melangkah masuk ke dalam. Melihat Marcel yang masuk ke dalam kamarnya Alamanda langsung menghentikan tangannya yang mengitik-itik perut Charlotte.
“Maaf Tuan.” Ucap Alamanda sambil tertunduk takut menatap wajah Marcel, takut jika mendapat marah dari Marcel.
“Ha.... ha..... ha.... “ Charlotte masih saja tertawa sambil menggenggam kunci lemari.
“Kamu tinggal dulu di sini beberapa hari, sampai Charlotte siap kamu tinggalkan.” Ucap Marcel sambil menatap wajah Alamanda yang tertunduk tidak berani menatap dirinya. Kini Marcel pun bisa melihat dengan jelas wajah cantik Alamanda, wajah cantik alami tanpa make make. Hidung mancung Alamanda, bulu bulu lentik matanya yang berkedip kedip dan bibir merah ranum segar tanpa polesan lipstick.
“Tapi Tuan...” ucap Alamanda belum berlanjut sebab Charlotte sudah memutus ucapannya.
“Tidak ada tapi tapinya. Nanti malam kita jalan jalan ya... Pa...” ucap Charlotte sambil mendongak menatap Papanya. Dan Marcel menganggukkan kepalanya.
“Asyikkkkk....” teriak Charlotte sambil berlari keluar dari kamar Alamanda sambil masih membawa kunci lemari Alamanda.
“Nona... “ teriak Alamanda sambil ikut berlari mengejar Charlotte. Marcel geleng geleng kepala sambil tersenyum dan melangkah meninggalkan kamar Alamanda, mengikuti langkah kaki mungil puteri yang berlari lari sambil tertawa senang.
Charlotte terus berlari dan dia masuk ke dalam kamar Marcel. Melihat Charlotte masuk ke dalam kamar Marcel Alamanda tidak berani ikut menyusul ke dalam. Alamanda akhirnya masuk ke dalam kamar Charlotte.
Charlotte yang di dalam kamar Marcel membuka buka lemari pakaian milik orang tuanya. Jari jari mungil Charlotte membongkar bongkar baju baju milik almarhumah sang Mama yang masih disimpan di dalam lemari itu.
Sesaat kemudian pintu kamar Marcel terbuka, Marcel masuk ke dalam kamarnya, dan dia tampak kaget saat melihat Charlotte membongkar bongkar baju baju Patricia.
“Charlotte apa yang sedang kamu lakukan Nak?” tanya Marcel dengan nada kaget dan heran sambil melangkah cepat mendekati puterinya.
“Papa... aku cari baju yang bagus buat Ners Alamanda. Nanti kita kan jalan jalan, kita makan malam ya Pa untuk mengucapkan terima kasih pada Ners Alamanda.” Ucap Charlotte sambil tangannya mungilnya sibuk membongkar bongkar baju Patricia .
“Sayang kita belikan baju baru yang bagus buat Ners Alamanda, jangan baju bekas Mama ..” ucap Marcel sambil mengusap dengan lembut kepala Charlotte.
“Tapi aku kangen Mama.. Pa. Nanti dech aku jelasin ke Ners Alamanda agar dia tidak tersinggung.” Ucap Charlotte masih memilih milih baju.
“Tubuh Ners Alamanda lebih gemuk dari Mama, Sayang...” ucap Marcel.
“Sebelum Mama sakit kan juga seperti Ners Alamanda, Pa.. maka aku cari gaun Mama sebelum Mama sakit.” Ucap Charlotte sambil masih membongkar bongkar baju milik almarhumah Sang Mama. Dan akhirnya setelah mendapat bantuan dari Sang Papa untuk memilihkan gaun buat Alamanda, mereka pun mendapatkan satu buah gaun yang cantik, bagus, sopan dan terlihat elegan.
“Pa, kunci lemari Ners Alamanda biar Papa yang bawa.” Ucap Charlotte lalu dia keluar dari kamar Marcel sambil membawa gaun yang sudah dipilihnya, mulutnya teriak teriak memanggil Ners Alamanda.
Alamanda pun lalu keluar dari kamar Charlotte. Charlotte segera memberikan gaun milik Mamanya itu pada Alamanda. Charlotte mengucapkan minta maaf karena memberi baju bekas, bukan karena menghina Alamanda, akan tetapi karena Charlotte sangat kangen dengan Mamanya. Charlotte pun menyampaikan jika nanti malam mereka bertiga akan makan malam di luar, sebagai ucapan terima kasih Papa Marcel dan Charlotte pada Alamanda. Alamanda tidak tersinggung mendapat baju bekas almarhum Patricia, dia justru terharu dan tersanjung diizinkan memakai baju bagus dan mahal milik Nyonya Marcel Hanson.
Malam hari pun telah tiba, sehabis Maghrib Charlotte sudah tampil cantik dengan gaun yang senada dengan gaun yang akan dipakai oleh Alamanda. Marcel juga sudah tampil keren dan gagah dia pun juga memilih baju dengan warna senada. Secara tidak dia sadari bibir Marcel pun tersenyum. Dengan cepat dia melangkah keluar dari kamarnya. Saat keluar dari kamar tampak Charlotte yang sudah tidak sabar berlari lari menuju ke kamar Alamanda. Dan tidak lama kemudian Marcel sudah melihat Charlotte menggandeng tangan Alamanda. Tampak Alamanda berjalan dengan malu malu, sedangkan Marcel tampak tidak berkedip menatap sosok Alamanda yang kini tampak berubah menjadi lebih cantik, sexy dan berkelas.
“Pa, Ners Alamanda menjadi cantik kayak Mama kan?” ucap Charlotte dengan senyum lebarnya. Marcel pun tampak menganggukkan kepalanya dengan kikuk. Karena memang Alamanda menjadi sangat cantik.
Mereka bertiga lalu berjalan ke luar dari mansion utama untuk menuju ke mobil. Acara dinner ucapan terima kasih pun berjalan dengan lancar ketiga orang itu tampak bahagia. Selesai dinner Marcel dan Charlotte membelikan banyak hadiah buat Alamanda.
Selama beberapa hari sepulang Marcel bekerja dari kantor, mereka bertiga jalan jalan ke luar. Charlotte pun menginginkan Alamanda masih lebih lama tinggal di Mansion. Charlotte minta Sang Papa memperpanjang kontrak kerja Alamanda, akan tetapi Marcel belum melakukan, karena Alamanda tidak ingin memperpanjang kontrak kerja dengan alasan dia akan menikah dengan calon suaminya.
Di lain pihak Nyonya Hanson tidak suka melihat keakraban mereka bertiga. Di suatu malam hari Nyonya Hanson mendatangi Marcel yang sedang berada di ruang kerja.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
Nyonya Hanson mengetuk ngetuk pintu ruang kerja Marcel, lalu memutar handel pintu ruang kerja itu.
“Cel, aku mau omong penting ke kamu.” Ucap Nyonya Hanson sambil melangkah masuk.
“Aku malu Cel, melihat kalian yang akrab dengan perawat itu. Bukannya pekerjaan dia sudah selesai. Kenapa juga tidak pulang pulang.” Suara Nyonya Hanson dengan nada tinggi sambil mendudukkan pantatnya di sofa dengan kasar.
“Ma, Charlotte yang belum siap ditinggal. Biarlah untuk beberapa hari dia tinggal di sini dulu.” Ucap Marcel yang pandangan matanya masih fokus pada layar lap topnya. Dan yang sesungguhnya Marcel pun juga di ruang hatinya mendapatkan kebahagiaan dengan hadirnya Alamanda di dalam Mansion.
“Aku malu Cel. Bisa mendatangkan fitnah. Kamu tahu kan semua orang sudah tahu kalau kamu aku jodohkan dengan Millie. Kamu malah sering pergi dengan perawat itu. “ teriak Nyonya Hanson dengan emosi. Nyonya Hanson tidak setuju jika punya menantu Alamanda gadis dari keluarga biasa.
“Kalau perawat itu tidak kamu suruh pergi, aku yang akan pergi!” teriak Nyonya Hanson lagi lalu dia bangkit berdiri.
..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
neng ade
ayo Charlotte udah saat nya km sekarang kasih tau oma mu itu siapa sebentar si Millie itu
2024-12-13
0
Alfia Amira
iiihhh pergi ajah , sapa yg nahan /Chuckle//Chuckle/
2025-01-19
1
harwanti unyil
ibu yg egois
2023-09-16
0