“Tuan, maaf saya mau masuk. Tadi saya disuruh keluar dulu oleh Nona Charlotte, sekarang saya lihat lampu sudah redup mungkin Nona Charlotte sudah tidur.” Ucap pengasuh Charlotte dengan suara pelan akan tetapi mengagetkan bagi Marcel yang sedang mengintip kamar Charlotte. Marcel tadi bermaksud untuk masuk ke dalam kamar anaknya, dia ingin mengucapkan selamat tidur buat Charlotte. Akan tetapi saat baru membuka sedikit daun pintu dilihat dan didengar ucapan dan suasana yang membuat hatinya terharu, hingga Marcel mengintip dari balik pintu itu.
“Kamu mengagetkan saja.” Ucap Marcel lalu dia membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan pintu kamar Charlotte untuk menuju ke kamarnya.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Dan hari pun juga mulai berganti, esok hari pun telah tiba. Alamanda kaget saat membuka matanya. Kaget karena tidur di kamar Charlotte, dan kaget saat tangan mungil Charlotte masih memeluk tubuhnya. Alamanda pelan pelan mengambil tangan mungil Charlotte yang berada di atas perutnya, lalu dia ambil boneka teman tidur Charlotte dan dia taruh tangan mungil Charlotte pada tubuh boneka itu. Aman. Charlotte yang masih terlelap tidak merengek atau protes.
Alamanda segera bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan tempat tidur Charlotte untuk segera keluar dari kamar Charlotte itu, menuju ke kamarnya dia akan memulai segala aktivitasnya dan segera bekerja sebagai perawat Charlotte. Dengan langkah cepat dia segera menuju ke kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, hand phone Alamanda yang tadi tidak dibawa ke kamar Charlotte, sekarang tampak berkedip kedip. Alamanda segera berjalan menuju ke tempat tidur di mana hand phone miliknya itu berada. Dia memang memasang mode senyap tidak ada suara deringnya.
“Papa.” Gumam Alamanda saat melihat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Papa, orang tuanya. Alamanda pun segera menggeser tombol hijau.
“Al, sejak tadi malam Papa menghubungi kamu tetapi tidak kamu angkat. Kamu sedang di mana?” Suara Papanya Alamanda dibalik hand phone milik Alamanda.
“Maaf Pa aku tidak membawa hand phone, aku harus menemani Nona Charlotte.” Jawab Alamanda jujur.
“Al, kamu pulang dulu hari ini, calon suami kamu akan datang. Akan ada pembicaraan serius.” Ucap Papanya Alamanda dengan nada serius.
“Bagaimana kalau tidak mendapat izin Pa?” tanya Alamanda.
“Harus kamu usahakan, kalau tidak mendapatkan izin kamu datang sore hari selesai pekerjaan kamu. Sudah begitu ya, aku tutup. Pokoknya hari ini kamu harus pulang.” Ucap Papanya Alamanda dengan tegas lalu sambungan telepon itu pun terputus. Alamanda segera menaruh lagi hand phone miliknya. Dan dia pun segera memulai aktivitas pagi hari, membersihkan tubuh, sembahyang lalu pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan Nona Charlotte.
Beberapa waktu kemudian sarapan buat Charlotte pun selesai dimasak. Alamanda segera membawa makan pagi buat Charlotte itu ke dalam kamar Charlotte.
Saat sampai di dekat kamar Charlotte tampak Marcel juga ke luar dari kamarnya dan sudah berpenampilan pakaian lengkap siap berangkat kerja.
“Selamat pagi Tuan.” Sapa Alamanda dengan tangan membawa nampan berisi menu sarapan Charlotte.
“Hmmm.” Gumam Marcel tanpa menatap Alamanda satu tangannya membenarkan letak dasinya.
“Tuan, saya hari ini izin pulang ada keperluan keluarga.” Ucap Alamanda dengan takut takut dia pun tidak berani menatap wajah Marcel. Alamanda malah menatap menu makanan yang dia bawa.
“Kamu minta izin pada Charlotte.” Ucap Marcel lalu melangkah pergi karena dia sudah pamit untuk pergi kerja lebih awal pada puteri semata wayangnya.
“Terima kasih Tuan.” Ucap Alamanda lalu melangkah menuju ke pintu kamar Charlotte. Alamanda pun segera masuk ke dalam kamar itu dan segera menjalankan tugasnya. Dan setelah selesai memberikan obat pada Charlotte, Alamanda pun minta izin pulang pada Charlotte.
“Nona, hari ini saya minta izin pulang lebih dulu ada keperluan penting, besok saya ke sini lagi.” Ucap Alamanda sambil membereskan alat alat makan Charlotte.
“Ners.. pulang saja sekarang dan nanti sore datang lagi ke sini. Siang aku makan buah dan roti saja. Sore Ners masakkan buat makan malamku dan Ners temani aku tidur.” Ucap Charlotte sambil menatap wajah Alamanda.
“Baik Nona, kalau begitu saya buatkan sup sayur dan ikan buat Nona untuk makan siang nanti.” Ucap Alamanda yang tidak tega jika Charlotte hanya makan roti dan buah, karena Charlotte tidak mau makan kalau bukan masakan Alamanda.
“Ners, biar nanti diantar oleh Pak Sopir.” Suara Charlotte dengan lantang saat Alamanda membuka pintu kamarnya.
Dan singkat cerita, Alamanda pun sudah selesai memasak untuk makan siang Charlotte dan dia taruh di kamar Charlotte agar aman dari tangan jahil Millie. Alamanda lalu segera pamit pada Charlotte dan pengasuh tidak lupa juga pada Nyonya Hanson dan oleh Nyonya Hanson, Alamanda malah disuruh pulang untuk selamanya.
Sesuai perintah dari Charlotte, Alamanda pun diantar oleh Pak Sopir keluarga Hanson. Setelah perjalanan kira kira satu jam lebih mobil pun telah sampai di dekat rumah Alamanda karena lokasi rumah Alamanda agak berada di pinggir kota.
“Pak berhenti di sini, karena jalan gang kecil, mobil tidak bisa masuk Pak.” Ucap Alamanda saat mobil sudah di dekat mulut yang.
“Apa aman parkir di sini Ners?” tanya Pak Sopir saat Alamanda menyuruh mobil parkir di lahan kosong dekat mulut gang.
“Aman dan boleh Pak, ini tanah milik Pak Erte boleh dipakai untuk parkir mobil tamu warganya.” Jawab Alamanda sambil membuka pintu mobil yang sudah berhenti di lahan kosong dekat mulut gang itu. Pak sopir yang tidak berani meninggalkan mobil milik Tuannya itu, tetap berada di dalam mobil untuk menunggu Alamanda selesai acaranya.
Sementara itu Alamanda terus berjalan melewati jalan gang kecil yang menuju ke rumahnya. Beberapa orang warga kampung yang berpapasan atau yang ada di depan rumah mereka saling sapa dengan Alamanda, karena di kampung itu pun Alamanda dikenal sebagai gadis yang baik.
Tidak lama kemudian Alamanda sudah sampai di rumahnya. Rumah yang tidak ada halamannya, hanya ada lantai teras sempit. Dan ada satu warung kecil sumber penghasilan kedua orang tuanya, yang tidak cukup untuk menghidupi keluarga apa lagi tetangga sering utang. Alamanda segera menginjakkan kaki di lantai teras rumahnya itu. Sesaat kemudian pintu sudah terbuka dan muncul sosok Mamanya Alamanda.
“Cepat sampai kamu Al, aku kira kamu akan datang sore hari.” Ucap Mamanya Alamanda. Setelah menjabat tangan sang Mama dan mencium punggung tangan Sang Mama, Alamanda segera masuk ke dalam ruang tamu yang tidak luas itu.
“Ada perlu apa Ma, Papa menyuruh aku segera pulang. Bukannya aku sudah menurut dengan segala rencana Papa.” Ucap Alamanda lalu melangkah menuju ke salah satu kursi yang ada di dalam ruang tamu itu.
“Al, calon suamimu nanti akan datang. Dia minta acara lamaran dipercepat.” Suara laki laki dari dalam yang tidak lain adalah suara Papanya Alamanda sambil melangkah masuk ke ruang tamu itu.
“Dan dia minta kamu berhenti dari kerja.” Ucap Papanya Alamanda kemudian sambil mendudukkan pantatnya tidak jauh dari Alamanda. Ucapan Sang Papa yang tidak keras itu akan tetapi sangat mengagetkan buat Alamanda. Karena tidak pernah menyangka jika acara lamaran dipercepat apalagi dia harus keluar dari pekerjaannya.
“Pa bukannya kita butuh uang untuk biaya sekolah Jasmin dan Iqbal?” tanya Alamanda dengan nada tinggi, dan sebenarnya dia belum tega untuk meninggalkan Charlotte pasiennya.
“Semua kebutuhan keluarga kita akan ditanggung oleh calon suamimu itu.” Jawab Papanya Alamanda.
“Tapi Pa, kontrak kerjaku belum selesai..” ucap Alamanda dengan nada sedih sambil menatap Sang Papa.
“Bisa kamu bicarakan hal itu dengan calon suamimu nanti.” Ucap Papanya Alamanda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
neng ade
dasar orang tua pemaksa dan egois
2024-12-13
0
✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT
bagaimana ya charlot d tinggal alamanda pasti charlot akan berusaha mempertahan kan alamanda
2023-07-09
1
Nit_Nit
kasihan Charlot kalo Alamanda berhenti kerja 😭😭😭 Charlot lg suka suka dg alamanda apalagi blm sembuh juga
2023-07-09
3