“Ma...” suara Marcel tidak kalah keras dari Nyonya Hanson. Marcel pun menutup layar lap top miliknya. Nyonya Hanson terus melangkah menuju ke pintu.
“Ma tidak usah Mama pergi. Biar aku dan Charlotte yang pergi. Kalau aku dan Charlotte pergi otomatis perawat itu juga pergi.” Ucap Marcel dengan keras sambil menoleh ke arah Sang Mama.
“Hei kamu sudah berani sama Mama ya!” teriak Nyonya Hanson membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Marcel. Nyonya Hanson masih berdiri di dekat pintu ruang kerja Marcel, namun belum jadi membuka pintu ruang itu.
“Karena Mama juga memaksakan kehendak aku tidak suka dengan Millie. Millie pun juga tidak suka sama Charlotte, kenapa Mama memaksa agar aku nikah sama Millie.” Suara Marcel dengan nada tinggi.
“Cel, aku kenal betul dengan orang tua Millie, mereka keluarga terpandang. Dan Millie sangat mencintai kamu sejak kamu belum mengenal Patricia. Kalau kamu sudah menikah dengan Millie lama lama kamu juga akan suka. Millie sudah berusaha untuk mendekati Charlotte. Cuma masalahnya Charlotte belum bisa move on dari Patricia, kamu itu juga sama saja.” Ucap Nyonya Hanson tidak mau kalah keras dari suara Marcel.
“Sampai sampai perawat itu kalian jadikan sosok Patricia, kalian pakaikan baju Patricia. Kalian belikan pakaian pakaian mahal agar menjadi Patricia. Dasar dia juga perempuan matre dan gatal. Katanya sudah punya calon suami mau juga kamu bawa bawa...” ucap Nyonya Hanson kemudian masih dengan suara keras.
“Ma jangan berprasangka buruk, perawat itu mau karena demi Charlotte. Perawat itu tidak minta kami yang memberi sebagai ujud rasa terima kasih.” Ucap Marcel yang tidak rela Alamanda dituduh perempuan matra dan gatal.
“Helleh.. kamu malah membelanya, pasti kalian berdua sudah diguna guna..” ucap Nyonya tidak mau kalah.
“Ma!” teriak Marcel yang sudah kehabisan kata kata untuk memberi pemahaman pada Mamanya yang semakin ngelantur.
Sementara tahu, di luar ruang kerja Marcel itu. Alamanda yang baru saja keluar dari kamar Charlotte dan akan menuju ke kamarnya. Mendengar pertengkaran Marcel dan Nyonya Hanson itu. Saat mendengar ucapan Nyonya Hanson yang menuduhnya sebagai perempuan matre dan gatal. Alamanda terus melangkah meninggalkan tempat itu dan dengan cepat dia menuju ke kamarnya. Alamanda segera memberesi barang barang penting miliknya. Semua barang hadiah dari Marcel dan Charlotte dia tinggal. Dengan segera Alamanda keluar dari kamarnya. Saat dia keluar dari kamar dia bertemu dengan Nyonya Hanson.
“Bagus kalau kamu tahu diri, segera pergi jauh jauh dari keluargaku. Jangan kamu ingat ingat kalau kamu sudah memberikan darah kamu pada cucuku. Kamu sudah dibayar oleh Marcel.” Ucap Nyonya Hanson dengan sinis. Alamanda hanya diam saja dan terus melangkah pergi sebelum Marcel melihatnya.
Dengan setengah berlari Alamanda terus menuju ke pintu utama Mansion. Dengan cepat dia membuka kunci pintu utama Mansion itu. Saat keluar dari pintu utama, seorang petugas keamanan yang duduk tidak jauh dari tempat itu tampak kaget.
“Ners, ada masalah apa?” tanya Pak Satpam yang bertugas menjaga pintu utama Mansion, saat melihat Alamanda membawa travel bag dan wajahnya tampak kacau.
“Pak saya harus pulang ada masalah penting.” Ucap Alamanda terus berjalan menuju ke pintu gerbang. Petugas penjaga pintu gerbang pun juga menanyakan hal yang sama seperti petugas keamanan di dekat pintu utama. Alamanda pun memberikan jawaban yang sama.
Alamanda segera memesan taxi on line untuk mengantar ke rumahnya. Sesaat kemudian mobil taxi yang dipesan datang, dan Alamanda pun segera masuk ke dalam mobil taxi itu. Dan mobil terus melaju meninggalkan Mansion Hanson.
“Lebih baik aku keluar dari Mansion itu dari pada Tuan Marcel dan Nyonya Hanson terus bertengkar gara gara aku. Dan aku dituduh sebagai perempuan matre dan gatal. Amit amit...” gumam Alamanda dalam hati dan lehernya pun terasa sakit macam ada benda mengganjal di dalamnya. Mobil terus melaju menuju ke rumah orang tua Alamanda.
Sementara itu, Marcel yang ada di dalam Mansion tidak tahu jika Alamanda sudah pergi dari Mansion Hanson. Marcel keluar dari ruang kerjanya dan terus melangkah menuju ke kamarnya untuk pergi tidur.
Keesokan paginya. Di kamar Charlotte. Charlotte bangun dan sudah dimandikan oleh pengasuhnya. Dia akan berangkat sekolah karena tadi malam sudah berencana pagi ini dia akan diantar ke sekolah oleh Alamanda.
“Ners Alamanda apa belum selesai memasak buat aku ya Nanny.. kok dia belum ke sini mengatakan kalau sarapan pagi ku sudah siap di meja makan.” Ucap Charlotte saat Sang pengasuh nya memakaikan baju seragam sekolah dan mendandaninya. Sejak Charlotte sudah dinyatakan sembuh, dia sudah tidak lagi makan di dalam kamarnya, sudah ikut bergabung makan di ruang makan. Akan tetapi Charlotte masih mau Alamanda yang memasakkan makanan untuknya, Marcel pun juga senang jika dimasukkan oleh Alamanda.
“Mungkin Ners Alamanda sudah selesai memasak lalu dia bersiap siap di kamarnya. Bukannya dia akan mengantar Nona Charlotte ke sekolah.” Ucap sang pengasuh sambil terus menyelesaikan pekerjaannya.
“Owhhh iya juga... Ya sudah cepat aku akan melihat dirinya.” Ucap Charlotte sambil tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian Charlotte sudah tampil cantik, tas sekolah pun sudah menempel di punggungnya. Dia segera berlari menuju ke kamar Alamanda.
Dan saat pintu kamar Alamanda dibuka. Mata Charlotte melotot karena melihat meja di depan kaca rias sudah bersih tidak ada barang barang milik Alamanda. Sepatu dan tas milik Alamanda juga sudah tidak ada.
Charlotte lalu membuka lemari di kamar itu, sebagian baju Alamanda sudah tidak ada. Hanya ada barang barang baru hadiah hadiah pemberian Marcel dan Charlotte. Air mata Charlotte tiba tiba meleleh, apalagi tidak melihat sosok Alamanda di dalam kamar.
“Ners.......” teriak Charlotte dengan keras. Akan tetapi tidak ada satuan suara Alamanda.
“Ners.... kamu di mana?” teriak Charlotte lagi dengan keras sambil melangkah menuju ke kamar mandi. Saat di kamar mandi kosong tidak ada orang. Charlotte sudah mulai menangis histeris sambil memanggil manggil Alamanda.
Marcel yang baru keluar dari kamar, mendengar teriakan anaknya. Langsung berlari menuju ke sumber suara anaknya. Marcel pun terus berlari menuju ke kamar Alamanda. Pengasuh Charlotte pun juga berlari menuju ke kamar Alamanda.
“Charlotte apa yang terjadi?” teriak Marcel sambil melangkah masuk ke dalam kamar Alamanda saat mendapati anaknya menangis histeris sambil memanggil manggil Alamanda.
“Jangan menangis dulu, mungkin Ners sedang di dapur.” Ucap Marcel sambil meraih tubuh mungil anaknya lalu digendongnya.
“Iya Non, mungkin belum selesai memasak. Itu baju baju bagus Ners Alamanda masih ada di lemari.” Ucap sang pengasuh yang melihat isi di dalam lemari Alamanda yang yadi dibuka oleh Charlotte dan belum ditutup.
“Tapi sepatu dan tas Ners Alamanda tidak ada, barang barang Ners juga tidak ada hiks... hiks... hiks....Papa... Ners pergi meninggalkan kita...hua.... hua.... hua....” ucap Charlotte dan pecah lagi tangisnya dengan keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
neng ade
nyonya Hanson perlu dikasih pelajaran tuh biar dia kapok
2024-12-13
0
🎐Tsubaki
yg semangat thoorrr
2023-10-24
2
Nit_Nit
lanjut kak othor
2023-07-15
0