Marcel segera mengusap usap layar hand phone miliknya, dia mencari nama kontak Ners Alamanda, setelah mendapatkannya Marcel segera melakukan panggilan video agar Alamanda bisa melihat kondisi Charlotte saat ini.
Sementara itu Alamanda yang sedang berada di dalam kamarnya, mata Alamanda masih terlihat sembab sebab dia habis menangis. Calon suaminya tetap melarang dia bekerja dan harus segera keluar dari pekerjaannya. Calon suaminya akan mengganti semua uang yang sudah diterima oleh Alamanda termasuk juga siap jika harus membayar denda. Alamanda sudah meminta agar menyelesaikan dahulu kontrak kerjanya. Akan tetapi calon suami yang keras kepala tetap berpegang teguh pada kemauannya, mungkin juga karena khawatir dan cemburu Alamanda bekerja di mansion seorang Duda muda keren dan kayanya melebihi dirinya.
Alamanda bermaksud besok pagi akan datang menemui pak dokter agar mencarikan pengganti dirinya baru dia akan pamit pada Marcel dan Charlotte. Di saat Alamanda masih menyusun rencana esok hari. Tiba tiba dia mendengar dering hand phone miliknya yang sudah tidak di mode senyap. Dan betapa kagetnya Alamanda saat di layar hand phone tertera nama kontak Tuan Marcel.
“Ada apa Tuan Marcel malam malam menghubungi aku, apa Nona....” gumam Alamanda lalu segera menggeser tombol hijau karena khawatir dengan keadaan pasien yang ditinggalkannya.
“Ners.. tolong kami, temani Charlotte ke rumah sakit, saran dari Dokter harus segera dioperasi agar sel kanker tidak menyebar lebih banyak karena akan membahayakan bagi dirinya.” Ucap Marcel dengan nada sedih dan penuh permohonan. Marcel pun tidak begitu menghiraukan mata sembab Alamanda sebab pikirannya hanya tertuju pada kesehatan puterinya.
“Tapi Tuan...” ucap Alamanda yang ingat kalau dia akan mengundurkan diri akan tetapi tidak tega mengucapkan jika mengingat Charlotte.
“Ners lihat Charlotte dia mau ke rumah sakit jika ditemani oleh Ners Alamanda.” Ucap Marcel lalu dia mengarahkan layar kamera depan hand phone nya pada wajah Charlotte yang kembali tampak pucat dan lesu tidak bersemangat.
“Sopir akan menjemput Ners malam ini juga.” Ucap Marcel lalu memutus sambungan teleponnya.
Alamanda di dalam kamarnya tampak bingung. Akan tetapi dia segera bergantian pakaian dan merias sedikit wajahnya agar tidak terlihat sembab matanya. Alamanda pun segera meraih tas tangannya dan keluar dari kamar untuk memberi tahu pada orang tuanya. Kedua orang tuanya yang berada di ruang tamu tampak heran melihat Alamanda yang siap pergi.
“Pa.. Ma.. ini demi menyelamatkan jiwa seorang anak piatu. Aku akan ke rumah sakit Nona Charlotte dalam keadaan kritis. Terserah Mama dan Papa mau bilang apa pada calon menantu Papa dan Mama.” Ucap Alamanda saat sudah berada di ruang tamu sambil menatap wajah Papa dan Mamanya.
“Tapi Al...” ucap Papa dan Mamanya Alamanda secara bersamaan. Belum juga kalimat Papa dan Mamanya Alamanda berlanjut ada dering suara di hand phone Alamanda. Alamanda pun segera mengambil hand phone dan ternyata pak sopir keluarga Hanson yang menghubungi yang mengatakan jika dia sudah berada menunggu di mulut gang. Mungkin karena perjalanan malam hari lebih cepat sampai.
“Pamit Ma.. Pa.. ingat demi nyawa seorang anak..” ucap Alamanda sambil mencium tangan kedua orangnya. Lalu dia segera melangkah menuju ke luar dari rumah dan berjalan menuju ke mulut gang di mana mobil keluarga Hanson sudah siap menjemput dirinya.
Sementara itu, di dalam Mansion Hanson suasana tampak huru hara, karena kini Nyonya Hanson dan Millie sudah tahu jika Charlotte akan dibawa ke rumah sakit untuk menjalani operasi. Mereka berdua pun sudah siap siap akan mengantar Charlotte.
Tampak Marcel sudah keluar dari kamar sambil menggendong tubuh Charlotte yang terlihat sangat lemah. Pak Dokter sudah lebih berangkat menuju ke rumah sakit untuk menyiapkan segala keperluan Charlotte.
“Pa .. Aku mau diantar dan ditemani Ners Alamanda.” Suara lirih Charlotte, akan tetapi Nyonya Hanson dan Millie yang sudah berada tidak jauh dari mereka mendengar ucapan Charlotte itu tampak tidak suka.
“Sebentar lagi Ners akan tiba, ayo kita keluar menuju mobil.” Ucap Marcel sambil terus berjalan menuju ke pintu utama. Tampak Nyonya Hanson dan Millie saling pandang tampak kaget saat mendengar ucapan Marcel. Nyonya Hanson dan Millie terus berjalan di belakang Marcel. Dalam hati Millie sangat senang dan berharap kondisi Charlotte semakin memburuk.
Saat mereka sudah keluar dari pintu utama, terlihat mobil yang menjemput Alamanda sudah masuk ke dalam halaman. Dan mobil itu tidak lama kemudian berhenti di belakang mobil milik Marcel.
“Itu Ners Alamanda sudah datang.” Ucap Marcel dengan lega sebab yang ditunggu tunggu akhirnya datang. Charlotte pun menegakkan kepalanya untuk melihat Alamanda yang baru keluar dari mobil.
“Nerss.....” Suara Charlotte sambil mengulurkan kedua tangannya minta digendong oleh Alamanda. Dan Alamanda pun segera berlari untuk menerima tubuh Charlotte yang minta digendongnya.
“Nersss temani aku, aku takut.” Ucap lirih Charlotte di dalam gendongan Alamanda.
“Kita berdoa Nona semoga Nona diberi kesembuhan..” ucap Alamanda lalu berjalan mengikuti Marcel yang sudah membuka pintu mobil. Nyonya Hanson dan Millie juga terus mengikuti akan tetapi ekspresi wajahnya tampak cemberut tidak suka dengan kehadiran Alamanda.
Mobil terus melaju menuju ke rumah sakit. Charlotte pun tampak tenang dalam pangkuan Alamanda. Demikian juga Marcel yang mengemudikan mobil tampak tenang karena Charlotte mau di bawa ke rumah sakit.
Waktu pun terus berlalu, setelah melewati segala prosedur yang berlaku. Di keesokan harinya di waktu yang sudah ditentukan oleh tim Dokter yang akan melakukan operasi pada Charlotte.
“Papa aku takut.” Ucap Charlotte di atas brankar yang siap didorong oleh Alamanda menuju ke ruang operasi. Ekspresi wajah Charlotte terlihat sangat takut.
“Yang kuat ya Sayang..” ucap Marcel yang berdiri di dekat brankar Charlotte sambil menatap wajah anaknya. Ekspresi takut dan sedih Marcel semakin membuat Charlotte semakin takut. Alamanda terus mendorong brankar itu menuju ke rumah sakit bersama dengan beberapa perawat yang bertugas. Brankar terus berjalan air mata Charlotte terus mengalir. Marcel dan Nyonya Hanson yang ikut mengantar ke dalam ruang operasi juga terlihat sedih, beberapa kali Nyonya Hanson menghapus air mata Charlotte dan juga air matanya sendiri.
“Papa... aku takut mati... Papa aku tidak mau meninggalkan Papa... aku mau menemani Papa....” teriak Charlotte dan brankar pun kini telah masuk ke dalam ruang operasi. Suara tangis histeris Charlotte masih terdengar di luar ruang operasi. Alamanda yang tidak tega ikut masuk ke dalam ruang operasi itu dia akan memberikan pemahaman pada Charlotte. Dan lama kelamaan tidak lagi terdengar suara tangis Charlotte. Alamanda pun keluar dari ruang operasi itu, karena dia tidak ikut dalam tim medis yang bertugas mengoperasi Charlotte.
Marcel, Nyonya Hanson dan Alamanda menunggu di luar ruang operasi. Marcel dan Nyonya Hanson tampak cemas dan gelisah. Berkali kali Marcel mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kita berdoa semoga operasi Nona Charlotte berjalan lancar.” Ucap Alamanda yang duduk di kursi tidak jauh dari mereka.
“Tidak usah sok sokan memberi nasehat kamu, aku sebagai Oma nya sudah berdoa setiap waktu untuk cucuku.” Ucap Nyonya Hanson dengan ketus, dan membuang muka dari Alamanda. Akhirnya Alamanda hanya diam saja. Dan mereka terus menunggu proses operasi yang sedang dijalani oleh Charlotte. Beberapa saat kemudian Millie yang tidak ikut tidur di rumah sakit datang dengan membawa banyak makanan. Dia pura pura ikut bersedih akan tetapi dalam hati senangnya bukan main, dia berharap operasi Charlotte gagal total.
Setelahnya menunggu satu jam lebih tiba tiba ruang operasi terbuka. Dan seorang petugas medis keluar sambil memanggil Tuan Marcel Hanson orang tua dari pasien yang bernama Charlotte Hanson.
Marcel pun dengan segera bangkit berdiri. Millie yang duduk di samping Marcel juga turut bangkit berdiri. Marcel terus berjalan menuju ke petugas medis yang memanggilnya.
“Tuan Marcel, Nona Charlotte kekurangan darah, dan persediaan darah di rumah sakit kosong. Keluarga bisa segera mengusahakan darah buat Charlotte.” Ucap petugas medis itu. Marcel yang mendengar tampak bingung dan khawatir sebab dia dan Nyonya Hanson memiliki darah yang berbeda dengan Charlotte, karena Charlotte memiliki golongan darah langka golongan AB negatif .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT
semoga ga kenapa kenapa charlot
2023-07-11
1
Nit_Nit
semoga charlot dpt donatur darah dan operasi berhasil
2023-07-11
2