Di suatu malam hari, setelah Charlotte selesai makan malam. Alamanda segera memberesi alat alat makan Charlotte. Sang pengasuh yang sudah selesai makan malam juga sudah masuk ke dalam kamar Charlotte, untuk bergantian menjaga Charlotte.
“Ners, kalau sudah selesai makan malam datang ke sini ya.. temani aku belajar.” Pinta Charlotte sambil menatap Alamanda. Mata Charlotte kini berbinar binar, kedua pipinya pun kini sudah berwarna merah jambu dan lebih berisi tidak tirus lagi.
“Baik Nona Cantik...” ucap Alamanda sambil tersenyum, kini Alamanda sudah tidak dilarang lagi tersenyum oleh Charlotte bahkan Charlotte pun membalas senyuman Alamanda.
Dan waktu pun berlalu, setelah selesai makan malam Alamanda kembali datang ke kamar Charlotte. Alamanda sudah tidak lagi memakai baju seragam perawat karena sudah waktunya dia selesai bekerja sebagai perawat. Alamanda sudah memakai baju piama panjang.
“Nanny silakan keluar dulu dari kamarku, aku mau berdua saja dengan Ners Alamanda.” Suara Charlotte saat Alamanda sudah masuk ke dalam kamarnya. Tampak Alamanda dan Sang pengasuh sedikit heran, akan tetapi sang pengasuh itu hanya menuruti perintah dari Nona kecilnya.
Setelah sang pengasuh keluar dari kamar, Charlotte minta Alamanda menurunkan dari tempat tidurnya dan menuntunnya untuk menuju ke sofa yang ada di dalam kamarnya itu.
“Ners.. apa Ners Alamanda masih memiliki Mama?” tanya Charlotte saat dia sudah duduk di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya.
“Masih Nona, Mama dan Papa saya masih ada. Saya bekerja untuk membantu mereka karena saya masih punya dua adik yang masih sekolah.” Jawab Alamanda sambil mendudukkan juga pantatnya di sofa di samping Charlotte karena Charlotte yang menghendaki.
“Oooo senang jika masih punya Mama dan Papa..” gumam Charlotte lirih namun didengar oleh Alamanda. Terlihat ekspresi sedih pada raut muka Charlotte. Alamanda mengusap usap punggung mungil Charlotte mencoba untuk memberi ketenangan pada Charlotte karena dia bisa merasakan kesedihan Charlotte yang ditinggal mati Mamanya.
“Aku takut punya Mama tiri Ners.. pasti Mama tiri akan jahat kepada aku anak yang penyakitan dan merepotkan ini.” Ucap lirih Charlotte dan air mata pun mulai mengalir dari ujung kedua matanya.
Alamanda yang paham jika keadaan psikologis pasien kanker sangat mempengaruhi perkembangan sel kanker. Alamanda pun segera bangkit dari tempat duduknya dan berjongkok di depan Charlotte.
“Nona... dengar saya Nona jangan bersedih jangan memikirkan hal hal yang belum terjadi. Percaya pada Papa Marcel yang akan terus menjaga Nona.” Ucap Alamanda sambil memegang kedua telapak mungil Charlotte ditaruh di pangkuan Charlotte.
“Tapi Oma menjodohkan Papa dengan Tante Millie yang jahat.. Oma sangat sayang pada Tante Millie karena dia anak sahabat Oma katanya sudah seperti anaknya sendiri. Oma tidak percaya pada aku yang katanya tidak bisa move on dari Mama Patricia.. hiks.. hiks...hiks...” ucap Charlotte yang kini mulai terisak isak menangis. Alamanda pun lalu bangkit berdiri, dia kembali duduk di sofa di samping Charlotte dia peluk tubuh mungil Charlotte dari samping, Alamanda tidak ingin Charlotte terus bersedih hatinya.
“Nona berdoa saja semoga Allah menempatkan Mama Patricia di surga dan Charlotte berdoa agar jika mempunyai Mama tiri mendapat Mama tiri yang baik, yang sayang pada Charlotte. Allah pasti akan mendengar doa dan permintaan Charlotte.” Ucap Alamanda sambil mengusap usap puncak kepala Charlotte dan Charlotte pun menyandarkan tubuh mungilnya pada tubuh Alamanda. Ada perasaan nyaman di hati Charlotte.
“Apa doa anak kecil didengar oleh Allah, Ners?” tanya Charlotte sambil mendongak menatap wajah Alamanda.
“Pasti Allah akan mendengarkan doa hamba Nya. Baik yang anak anak, remaja, dewasa atau pun yang tua renta semua didengarkan. Kadang doa permintaan langsung dikabulkan namun kadang ditunda, atau diganti dengan hal yang dirasa tepat oleh Allah. Karena Allah yang lebih tahu segala keperluan hamba Nya...” ucap Alamanda sambil terus mengusap usap kepala Charlotte, dia mengucapkan hal itu karena itu bisa menenangkan hatinya sendiri yang sebenarnya dia pun juga memiliki masalah hidup.
“Terima kasih Ners, aku akan rajin berdoa agar Mama Patricia bahagia di surga dan aku mendapatkan Mama tiri yang baik hati.” Ucap Charlotte yang kini menegakkan tubuhnya tidak lagi bersandar pada tubuh Alamanda.
“Aku ingin punya Mama tiri yang baik seperti Ners Alamanda.” Ucap Charlotte sambil menatap wajah Alamanda.
“Iya Nona, ada banyak orang yang lebih baik dari saya.” ucap Alamanda sambil tersenyum menatap wajah cantik dan imut yang ada di depannya itu.
“Apa Ners Alamanda sudah punya pacar?” tanya Charlotte yang masih menatap wajah Alamanda. Alamanda tampak kaget dengan pertanyaan Charlotte, akan tetapi Alamanda tahu jika Nona kecil itu tidak bisa dibohongi. Akhirnya Alamanda pun berterus terang pada Charlotte.
“Saya sudah memiliki calon suami Nona. Bukan pacar dan saya tidak pernah pacaran dengan calon suami saya itu.” Ucap Alamanda dengan nada suara datar dan tersirat suatu kesedihan di balik ucapannya. Charlotte yang mendengar ucapan kalimat Alamanda tampak kaget lalu menatap wajah Alamanda dengan tatapan mata dan ekspresi wajah serius.
“Bagaimana bisa Ners, calon suami tetapi bukan pacar. Mama Patricia dan Papa Marcel pacaran sejak sekolah, mereka teman waktu sekolah terus menikah dan lahir aku. Papa sangat mencintai Mama begitu pun dengan Mama. Tetapi sayang Mama dipanggil oleh Allah, kata Papa cinta Allah pada Mama lebih besar jadi Allah memanggil Mama lebih dulu...” ucap Charlotte yang masih menatap wajah Alamanda, kini ekspresi wajah dan nada suaranya kembali sendu karena teringat akan kepergian Sang Mama untuk selama lamanya.
“Calon suami saya adalah laki laki pilihan orang tua saya Non. Saya sebagai anak harus menurut pada kemauan orang tua, sebagai wujud bakti saya pada orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan saya.” Ucap Alamanda masih dengan nada suara datar dan pandangan mata yang menerawang jauh. Karena tidak tahu bagaimana nasib pernikahannya nanti. Alamanda hanya bisa berdoa untuk diberi kekuatan dan kesabaran.
“Tapi Ners, tidak semua kemauan orang tua harus dituruti, harus dilihat dulu seperti apa kemauannya, baik atau tidak karena orang tua juga punya keterbatasan informasi dan wawasan.” Ucap Charlotte dengan nada dan ekspresi wajah serius menatap Alamanda. Alamanda tampak tersenyum mendengar ucapan Charlotte lalu mengusap usap punggung mungil Charlotte.
“Benar Nona, sekarang saya temani Nona mau belajar apa.” Ucap Alamanda untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Aku sudah belajar Ners, aku hanya ingin ngobrol dengan Ners saja.” Ucap Charlotte sambil tersenyum dan akhirnya mereka pun melanjutkan obrolannya dengan tema tema ringan. Charlotte dan Alamanda pun sudah bisa tertawa di sela sela obrolan ringan mereka. Hingga tidak terasa jam tidur Charlotte pun tiba.
“Ners tidur di kamarku ya..” pinta Charlot sambil berjalan menuju ke tempat tidurnya. Alamanda yang sudah memakai baju piama panjang pun tidak bisa menolak keinginan Charlotte. Setelah mengantar Charlotte ke tempat tidur dan membaringkan tubuh Charlotte, memasang selimut dan juga boneka teman tidur Charlotte, Alamanda menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu terang. Saat Alamanda akan melangkah menuju ke sofa panjang di mana dia akan tidur di sana.
“Ners.. tidur di sini di atas tempat tidurku dan peluk aku.” Ucap Charlotte yang sudah berbaring sambil menatap wajah Alamanda dengan ekspresi penuh permohonan. Alamanda pun naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Charlotte dengan perasaan yang masih canggung dia memeluk tubuh mungil Charlotte dengan hati hati.
Sementara Itu pintu kamar Charlotte yang belum dikunci tampak sedikit terbuka dan satu pasang mata melihat dua sosok yang terbaring di atas tempat tidur itu, dari balik pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
neng ade
Charlotte udah semakin dekat dngn Alamanda dan udah merasa nyaman juga
2024-12-13
0
Nit_Nit
siapa tuh.. lanjut tor
2023-07-09
0
✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT
pasti papa marcel yang ngintip atw si ulat keket millie🤔🤔🤔
2023-07-08
0