Dari petunjuk GPS, Firman mengendarai motornya mencari keberadaan Dewi. Hasil yang Firman tangkap, Dewi berada di sekitar bukit. Otak cerdas Firman langsung menangkap. Jangan-jangan yang menangis di kali tadi adalah Dewi. "Kenapa aku bodoh sekali!" Rutuk Firman pada dirinya sendiri.
Firman mempercepat laju kendaraan roda dua itu sesekali menekan klakson. Mencari celah jalan agar cepat tiba sampai tujuan. Firman kesal kepada dirinya sendiri. Mengapa tidak bisa mengenali tangis Dewi.
Firmansyah lagi-lagi kesal memukul stang motor kala motornya berhenti dengan terpaksa. Ada saja halanganya, ingin cepat justeru di depan jalanan macet entah apa yang menyebabkan kemacetan itu.
"Ada apa Pak," Tanya Firman kepada pria yang sedang berjalan kaki di sebelah kirinya.
"Di depan tadi ada wanita yang sedang menyeberang tetapi pingsan di tengah jalan Mas." Tutur bapak itu.
"Pingsan?" Firman meyakinkan. Pikiranya lalu menjurus kepada Dewi. Ia turun dari motor berjalan diantara motor dan mobil berhenti. Firman membelah kerumunan tampak seoarang pria tangan kirinya ia masukan ke tengkuk wanita itu setelah tangan kanan mengangkat kepalanya.
"Tunggu" Cegah Firman ketika tangan kanan pria ia masukan ke bawah kaki hendak mengangkat tubuh wanita.
"Ini istri saya, biar saya yang urus." Ujar Firman menghentikan gerak tangan pria asing. Firman pun membopong wanita yang masih utuh mengisi hatinya itu dibawa ke pinggir jalan. Semua mata beralih kepada Firman. Klakson bersahutan membubarkan kerumunan.
"Mari saya antar Mas." Kata salah satu pengendara mobil. Melihat Firman yang sedang mengedarkan pandanganya mencari taksi melintas. Pria baik entah siapa namanya itu inisiatif membantu.
"Terimakasih Pak." Jawab Firman, tidak ada penolakan dalam keadaan darurat begini, apa salahnya. Lagi-lagi Firman meninggalkan motornya di pinggir jalan.
Malam berganti pagi di atas ranjang pasien, Dewi membuka mata. "Dimana aku" Ia dibuat bingung, melihat botol infus di sampingnya. Kenapa bisa berada di rumah sakit.
Pikiranya berputar mengingat tadi malam, karena terlalu banyak berpikir hingga lupa jika ia melewatkan waktu maghrib. Bahkan Dewi mengabaikan panggilan telepon entah siapa orangnya.
Dewi baru sadar jika malam sudah larut lalu memutuskan keluar dari bukit. Dengan pendar senter handphone, tak gentar ia lalui jalanan yang banyak rumput dan batu. Hingga akhirnya tiba di pinggir jalan. Namun, ketika sedang menyeberang tiba-tiba pandanganya kabur hingga terjatuh di tengah jalan.
Dewi sadar garis hidup manusia sudah di tentukan Allah. Nyatanya ketika dirinya jatuh di tengah jalan bukan mati kelindas ban mobil. Justru ada orang yang menolongnya dan membawa ke rumah sakit.
Dewi lantas ingat bayi dalam perutnya ia usap perlahan. Mungkin inilah salah satu garis hidup si jabang bayi akan terlahir ke dunia ini melalui dirinya, walaupun dengan cara yang menyakitkan.
Dewi berusaha bangun hendak shalat subuh, jangan sampai terlewatkan seperti magrib dan isya tadi malam. Dewi miring kanan hendak bangun, tetapi tatapanya tertuju kepada pria yang sedang tidur dalam posisi duduk berbantalkan tangan.
"Astagfirullah..." Ujar Dewi menutup mulutnya dengan telapak tangan. Jadi Firman yang menolong dirinya dan juga menuggui.
Andai kamu tahu bahwa aku sudah mengandung Mas, apa kira-kira kamu masih mau menolong aku.
Dewi tidak tahu jika Firman memang sudah mengetahuinya. Perlahan Dewi turun dari ranjang agar tidak mengganggu tidur Firman. Ia menyadak infus hendak ke toilet, sekalian ambil air wudhu.
Klonteng!
Kaki Dewi kesandung penyangga infus, seketika tangan kekar itu menahan tuhuh Dewi agar jangan sampai jatuh. Dewi terkesiap secepatnya melepas tangan Firman. "Aku bisa sendiri!" Ketus Dewi, lalu berjalan lambat ke toilet.
Firman membiarkan Dewi jalan sendiri, namun tetap mengikutinya dan menunggu di luar. "Hati-hati Wi?" Ucapnya. Namun tidak ada jawaban, hingga lima menit kemudian.
Kriitt!
Suara pintu terbuka Dewi sudah keluar sekilas menatap Firman yang sedang bersandar di tembok. Begitu melihat Dewi, Firman hendak membantu.
"Awas! Aku sudah wudhu." Tolak Dewi, tetapi memang benar, sudah wudhu.
"Okay... tapi tunggu ya kita shalat bareng." Kata Firman.
Hening, suara di ruang rawat, saat Dewi sudah kembali berbaring lalu Firman membetulkan posisi penyangga infus. Terdengar suara pintu dibuka wanita masuk ruangan membawa nampan. "Sarapan dulu Mbak" Ucapnya.
"Terimakasih." Jawab Dewi. Hidungnya menghirup aroma masakan menelan ludah. Perutnya terasa lapar, ia hanya makan rawon sedikit kemarin siang bersama ibu dan bapak. Padahal ada bayi yang membutuhkan makanan juga.
"Makan ya, aku suapi." Firman ambil piring mendekatkan kepada Dewi.
"Aku bisa sendiri." Jawab Dewi ambil tempat makan dari tangan Firman. Dewi menyendok makanan memasukan ke dalam mulut sedikit demi sedikit hingga makanan habis. Tidak memperdulikan Firman yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Sebaiknya Mas Firman pulang, aku bisa sendiri. Terimakasih karena sudah menolong aku membawa ke rumah sakit." Tutur Dewi, setelah selesai makan, sembari menutup tempat makan tanpa menatap lawan bicara.
Firmansyah menarik napas berat, tidak menyangka hubungannya dengan Dewi akan seperti ini. "Aku tidak mau pulang, akan menunggui kamu sampai sehat." Tegas Firman.
"Jangan keras kepala Mas, apapun yang Mas Firman lakukan kepadaku sudah tidak ada gunanya. Bukankah sudah aku katakan, jika kita sudah putus!" Dewi tak kalah tegas. Sebenarnya ia tidak pernah bicara dengan nada tinggi kepada pria yang dicintainya itu. Tetapi hanya ini yang bisa Dewi lakukan agar Firman mencari wanita sempurna.
"Tidak Wi, aku tidak mau berpisah, aku akan tetap mencintai kamu sampai kapanpun." Jujur Firman.
"Kamu akan menyesal Mas, jalan kedepanmu masih panjang. Maafkan aku, karena aku sudah memberi harapan palsu," Air mata Dewi tumpah.
"Mas, sekarang aku percaya kepada takdir, yang awalnya kita anggap yakin jika kita berjodoh, tenyata tidak. Karena ada dinding tebal yang menutup jalan kita dan tidak bisa kita terobos supaya kita bersatu" Dewi terisak.
"Dewi..." Firman berjongkok di depan Dewi. "Tidak Wi, takdir kita memang berjodoh, aku akan tetap memegang janji aku, dan akan menikahi kamu apa adanya." Tekat Firman sudah bulat.
"Andai Mas Firman tahu jika aku sudah..." Dewi menunduk menatap perutnya.
"Karena kamu sudah mengandung anak orang? Gitu kan, maksudnya." Potong Firman.
"Jadi... Mas Firman sudah tahu?" Dewi mengangkat kepalanya, menatap Firman lekat.
"Wi, aku sudah tahu semuanya, maafkan aku jika kemarin meninggalkan kamu sendiri di rumah sakit. Saat itu aku kaget, setelah mendengar dari Dokter jika kamu telah hamil. Tetapi aku menyesal Wi. Aku percaya sama kamu, semua ini terjadi di luar kehendak kamu." Tulus Firman.
"Tapi Mas" Dewi menitikan air mata terharu mendengar ucapan Firman.
"Tidak ada tapi-tapian, kita tetap akan menikah. Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggu kamu hingga anak itu lahir dan kita akan menikah lagi nantinya." Tekat Firman sudah bulat.
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
titian pirman 2
baiknya firman yang mau menerima dewi
2024-09-17
1
Elisanoor
Kesian gw aduh ya Allah Firman, andai aku masih perawan aku rela menggantikan Dewi, tapi sayang seribu sayang,aku pun sudah tak perawan lagi karena aku sdh punya 2 buntut 😆😆😆
2023-09-30
2
linda sagita
baru nyadar Lo fir kalau itu bukan kunti
2023-07-16
1