Tidak mau banyak berpikir tentang harga handphone, Dewi memilih melanjutkan membuka kotak kemudian mengisi ponsel dengan data-data pribadi hingga handphone menyala.
Yang pertama Dewi lakukan memesan tiket pesawat seperti saran Ratri, agar lebih cepat. Niat hati hendak memesan tiket kereta pun urung. Benar juga saran Ratri Dewi mengecek harga tiket antara pesawat dan kereta tidak terlalu jauh beda.
Tidak ada nomor ponsel yang Dewi ingat selain nomor Firman, dan Surti sahabat yang ia benci. Ingat Surti dia berharap ketika pulang besok akan bertemu dengannya dan akan membuat perhitungan.
"Sudah siap?" Tanya Ratri, menyembulkan kepalanya di pintu bermaksud mengajak Dewi ke rumah Banuwati, seperti yang sudah mereka rencanakan.
"Siap Kak," Dewi menoleh ke pintu sebelum akhirnya ambil jaket, kemudian ia pakai agar bisa menghalangi angin malam yang akan menembus pori-pori kulitnya.
"Ayo Kak." Ajak Dewi mengait lengan Ratri yang berdiri memegangi anak tangga menatap ke lantai bawah.
"Kalian mau berangkat?" Tanya Mak Ningrum, ia sedang ngobrol dengan suaminya.
"Iya Bu." Dewi salim tangan Ningrum lalu ke garasi mengeluarkan motor milik Ratri dengan cara menarik. Tiba di halaman, kemudian Dewi setarter sebelum Ratri akhirnya membonceng.
Rumah mewah berlantai dua halaman luas itu yang Dewi tuju.
"Kalian kesini kok tidak mau telepon Mama dulu. Tahu begitu kan, Mama menyuruh supir, agar menjemput kalian." Sesal Banuwati ketika mereka sudah berada di dalam.
"Sekali-kali apa Ma, aku kan sudah lama tidak naik motor." Bantah Ratri lalu bergelayut manja di pundak mama tirinya. Dewi menatap dua wanita berbeda usia itu tersenyum. Ia terharu melihat kedekatan Banuwati dengan Gayatri.
"Dewi, kamu besok jadi berangkat?" Tanya Banuwati lembut.
"Jadi Nyoya, kedatangan saya kesini mau pamit, sekaligus mengucapkan terimakasih atas kebaikan Nyonya. Nyonya juga sudah repot-repot memberi saya hadiah."
"Iya Wi, besok di jalan hati-hati. Jika suatu saat nanti suami kamu mengijinkan kamu bekerja lagi, tidak usah sungkan sebaiknya melamar pekerjaan di kantor kami lagi." Pesan Banuwati.
"Baik Nyonya," Dewi merasa tersanjung akan perhatian Banuwati.
Banuwati pun memberi petuah Dewi beberapa hal. Selama kurang lebih satu jam Dewi di rumah itu kemudian pamit pulang. Banuwati menyarankan agar mereka di antar supir, tetapi Ratri menolak.
Gadis itu memilih berboncengan dengan Dewi, karena besok mereka akan berpisah. Malam hari adalah dunia gelap itu sebutan orang dulu. Tetapi kini Malam pun seperti siang. Sorot lampu di sepanjang jalan tidak ada bedanya siang maupun malam, memudahkan laju kendaraan yang di jalankan Dewi salah satunya.
"Kok sudah sepi ya, Kak." Kata Dewi ketika tiba di rumah Mak Ningrum.
"Sudah tidur kali, biar saja." Potong Ratri. Mereka lantas ke kamar masing-masing. Dewi menatap Jesi sudah pulas di ranjang sambil memeluk guling. Dewi pun kemudian ikut tidur.
Pagi hari saat matahari belum muncul, Dewi sudah pamit kepada keluarga besar Ningrum. Pagi ini keluarga Ningrum menjalankan shalat subuh berjamaah, pak Agus yang menjadi imam.
Masih di tempat itu pula Dewi mengucap terimakasih atas kebaikan keluarga Ningrum. Bukan saudara hanya pertemuan yang tidak sengaja tetapi menjadi saudara sungguhan.
"Dewi... saya tidak bisa datang saat pernikahan kamu nanti, saya hanya bisa memberikan ini untuk bekal kamu di jalan Nak," Ningrum memberikan amplop, rupanya sudah Mak Ningrum siapkan.
"Tidak usah repot Bu, dengan saya diijinkan tinggal disini pun sudah merupakan anugerah yang luar biasa." Dewi menangis mengingat kala di penyekapan wanita di depanya ini yang menghibur.
"Tidak boleh menolak," Ningrum meletakan amplop di telapak tangan Dewi.
"Aku juga hanya bisa memberikan ini Wi semoga pernikahan kamu lancar," Jesi pun memberi amplop.
"InsyaAllah, nanti aku datang bersama Mas Arga, Wi," Imbuh Ratri. Pak Agus hanya diam saja, mendengarkan obrolan.
"Terimakasih Kak. Oh iya, kalau boleh... saya mau minta nomor ponsel."
Semua pun memberikan nomor ponsel masing-masing. Setelelah pamit kepada keluarga Ningrum, dengan semangat Dewi berangkat. Dengan handphone barunya, ia memesan taksi.
Dua jam kemudian, besi terbang pun akhirnya membawa Dewi melayang-layang di udara. Di pinggir kaca ia bersedekap. Di situlah pikiran Dewi campuraduk. Senang sedih menjadi satu.
Tentu senang karena akan bertemu dengan keluarga, tetapi sedih bagaimana nanti ia akan merangkai kata, agar bisa menjelaskan kepada Firmansyah.
Dewi menengadah menatap langit-langit peasawat, menyadarkan kepala di jok. Ia hanya pasrah akan jalan hidupnya. Semua kembali kepada sang pencipta, jodoh rezeki dan maut sudah ditentukan. Selama hampir satu jam perjalanan otaknya dipenuhi pikiran, kini ia tiba di bandara kota asal. Dengan menggendong rangsel dan menarik koper menuruni tangga berjalan ke pinggir jalan menunggu taksi.
"Mau kemana Mbak? Mari saya antar" Belum Dewi minta, supir taksi sudah menghampirinya.
"Ke desa Mengger Pak." Jawab Dewi. Supir taksi segera membuka bagasi. Ia masukan koper, sementara Dewi sudah duduk di tengah.
Saat ini sudah jam sembilan pagi, matahari bersinar terang. Melalui kaca taksi, Dewi menatap pinggiran jalan yang biasa ia lalui ketika sekolah dulu, tetapi belum ada yang berubah.
"Sudah sampai Mbak."
"Terimakasih Pak." Dewi turun dari taksi, bola matanya mengerling ke segala arah. Rumah sederhana yang di bangun tempo dulu itu sudah menanti kehadirannya.
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Sharon
Pokoknya dewi semua d sediakan ama bang bram🫰🏻
2024-08-14
2
Nur Hidayah
Yeeeyyy,,, tinggal nunggu hari H nya, Dewi😁
2023-07-11
1
linda sagita
akhirnya Dewi pulang kampung
2023-07-10
1