Kerusuhan di Darfin

Dalam keremangan malam gerbang kota Darfin sudah terlihat. Emune dan Fiona senang karena perjalanan menuju Darfin jadi lebih cepat dengan bantuan dari  rombongan pedagang yang akan menuju Darfin. Karena mereka sedang membawa barang-barang pesanan yang sangat penting jadi mereka menyewa beberapa pengawal agar bisa segera sampai.

Salah satu anggota rombongan yang Fiona kenal, Greg, menawarkan diri untuk mengemudikan kereta sementara agar mereka aman sampai di Darfin. Fiona tentu saja menyetujuinya. Ia bisa beristirahat di kereta dan sesampainya di kota nanti ia akan lebih segar dan siap untuk ronde minum-minum yang panjang.

Sesampainya di kota Viona dan Emune memasuki  sebuah penginapan kecil bernama Stavehass. Penginapan ini terjepit di antara dua penginapan besar dan karena bangunannya sudah tua dan lama tidak diperbaiki, suara-suara dari jalanan masuk ke kamar-kamar di bagian depan. meskipun begitu, Fiona dan Emune memilih satu dari kamar di depan seperti yang Greg sarankan.

“Kalau ada apa-apa kalian tinggal membuka jendela dan berteriak,” gurau Greg.

Fiona langsung mengeluarkan belatinya dan berkata, “Berteriak? Bagaimana kalau aku lempari saja penjahat itu dengan belatiku?”

Greg meringis. “Baiklah, aku tunggu di rumah minum. Fiona, maksudku. Emune, selamat beristirahat,” ucapnya manis dan melenggang pergi.

“Dia lucu, ya. Kau akan langsung ke rumah minum?” tanya Emune.

“Sebaiknya begitu. Aku harus mengumpulkan informasi tentang jalur yang kita lalui besok. Kalau ada rombongan yang membawa pengawal seperti rombongan Greg, akan lebih aman untuk kita.” Fiona melihat sekeliling ruangan dan memeriksa pintu dan jendela. Cahaya lampu minyak di atas meja dan satu lagi yang digantung di dinding membuat ruangan itu cukup terang. “Ini penginapan khusus perempuan jadi laki-laki tidak diizinkan masuk. Aku rasa aman. Kunci saja pintunya. Aku bisa minta pengurusnya untuk membukaakan saat aku kembali nanti,” ucap Fiona sambil berganti pakaian.

“Tunggu, kau tidak mandi dulu?” tanya Emune.

“Untuk apa mandi? Apa kau pikir para pemabuk itu tahu bedanya perempuan mandi dan tidak mandi?” Fiona tertawa.

“Tapi bagaimana dengan laki-laki yang tidak mabuk?” tanya Emune polos.

“Apa aku bau?” Fiona mengendus-endus lengan dan ketiaknya.

“Tidak-terlalu-bau, kurasa,” goda Emune.

“Gadis konyol. Nah, aku berangkat. Oh iya, Greg akan mengantarkan makanan untukmu. Sampai nanti.” Fiona melambai lalu menghilang di balik pintu kamar.

“Hati-hati dan selamat bersenang-senang!” seru Emune walau yakin suaranya tidak didengar oleh Fiona.

Emune heran kenapa ia merasa lelah padahal tidak melakukan apa-apa di kereta. Ia hanya duduk, tidur, makan dan tidur lagi sementara Fiona terus mengemudikan kereta sampai Nogg. Perjalanan dari Nogg ke Darfin malah lebih santai karena kereta mereka ada di barisan tengah rombongan berpengawal dan Gregg yang menjadi sais kereta.

Emune membuka salah satu daun jendela untuk melihat situasi di alun-alun. Seketika berbagai macam suara yang masuk membuat Emune terkejut. Setelah telinganya terbiasa, ia bisa sedikit santai melihat keramaian di bawah sana. Lampu-lampu jalan di sekeliling alun-alun memberi penerangan yang baik bagi arus manusia yang datang dan pergi. Suara musik dan gelak tawa dari rumah minum beberapa meter di seberang penginapan Emune terdengar samar.

Emune merasa sudah cukup melihat kehidupan malam kota Darfin dari jendelanya. Ia menutupnya rapat-rapat lalu menguncinya. Ia memeriksa kamarnya dan menyukainya. Meskipun kecil kamar ini layak ditempati, pikirnya.

Fiona yang menghilang dari kamar memberi Emune kesempatan untuk membersihkan diri dan nanti ia akan memeriksa buku ajaibnya. Pemandian umum khusus perempuan itu ada di belakang Stavehass. Pemandian yang satu itu terbilang kecil dan hanya bisa menampung lima orang di pancuran yang berjajar dengan sekat kain berwarna cokelat tua.

Sebuah kolam air hangat untuk berendam juga ada dan sedang diisi oleh tiga perempuan yang berukuran dua kali badan Emune. Ketiganya berbisik-bisik melihat Emune yang masuk ke bilik mandi dengan membawa keranjang berisi perlengkapan mandinya. Dia tidak ingin berendam jadi ia mandi dengan cepat dan segera kembali ke penginapan.

Saat kembali, kamar Emune terkunci dengan baik dan tidak ada yang berkurang termasuk tas kecilnya yang ia lempar ke bawah tempat tidur. Fiona tidak akan kembali cepat jadi Emune bisa bersantai. Ketukan di pintu kamarnya menghentikan Emune dari rencananya membaca buku ajaib. Ia menarik selimut untuk menutupi tas kecilnya.

“Siapa?” tanya Emune.

“Gwenda, pelayan kamar.”

Emune membukakan pintu. Seorang perempuan gendut bercelemek cokelat menatap kesal pada Emune. Ia seharusnya sudah di rumah kalau saja pria berambut jabrik itu tidak menyuruhnya mengantarkan titipan ke lantai dua. Sungguh merepotkan!

“Titipan dari pria berambut jabrik,” ucapnya datar. Begitu barang berpindah tangan, ia langsung berbalik pergi sambil menggerutu.

Emune tidak memedulikan pelayan itu. Ia menutup pintu lalu cepat-cepat membuka kantong besar yang berat itu. Pria jabrik yang disebut si pelayan pasti Greg, pikirnya. Dia satu-satunya pria berambut jabrik yang Emune kenal.

“Waaah … terima kasih, Greg.” Emune menemukan apel, anggur, sebotol sari madu dan sepotong keik keju yang disimpan di dalam kotak kayu beralaskan daun anggur kering. Emune langsung menyambar keik keju dan membuka botol sari madu. “Lezaaat!” Rasa lelah Emune hilang seketika dengan berbagai rasa yang menari-nari di lidahnya.

Buku kecil itu sudah ada di pangkuannya. Ia tahu bahwa Fiona tidak bisa melihatnya tapi apa hanya Fiona? Bagaimana dengan orang lain? Haruskah ia mencoba membawanya di tengah keramaian? Emune menyimpan pikiran itu untuk sementara.

Hal ajaib pertama yang Emune temukan adalah sampul buku yang awalnya polos sekarang memiliki ukiran burung phoenix berwarna emas di bagian depan. Emune membalik buku itu dan menemukan ukiran emas lainnya, bukan burung phoenix tapi peta Artamea. Emune menelusuri permukaan sampul dengan jari telunjuknya. Lekukan-lekukan dari ukiran di atas bahan kulit tebal terasa jelas jadi ini bukan ilusi semata.

Terakhir kali Emune membuka-buka buku itu, halaman-halamannya berisi puisi dan cerita-cerita pendek. Sekarang semuanya hilang, yang ada hanya kertas kosong.

“Tidak,” desis Emune. Ada yang salah dengan buku ini, pikirnya. Emune membalik-balik halamannya sekali lagi dengan harapan sesuatu akan muncul. Tidak terjadi apa pun.

“Buku yang aneh. Apa gunanya sebuah buku kalau tidak ada isinya untuk dibaca? Apa kali ini aku harus menulis sesuatu? Hmmm … apa perlu pena khusus?”

Emune membuka halaman pertama dan meletakkan telapak tangannya di atasnya. Ia teringat Urndie. Dia pasti akan bilang betapa konyolnya aku karena melakukan ini, pikir Emune. Tanpa sadar ia menyebutkan nama Urndie.

Tiba-tiba dada Emune terasa sesak. Tubuhnya terasa panas dan meleleh. Sesaat kemudian kabut putih menyelimuti Emune. Kabut itu terus bertambah dan naik ke langit-langit, berputar-putar lalu berhenti di udara. Di sekeliling Emune hanya ada dunia berwarna putih.

Mata Emune melihat sebuah rumah minum dengan patung-patung binatang dari kayu berderet di meja barnya. Di sudut ruangan seorang laki-laki berjubah abu-abu duduk sambil memegang tongkat kayu di antara kedua kakinya. Emune tidak akan pernah melupakan tongkat kayu itu. Tongkat kayu milik Urndie! Apakah itu Urndie?

Laki-laki itu tiba-tiba berteriak sangat keras, “Hentikan, Emune!” Tangannya kemudian menghentakkan tongkat kayunya ke lantai.

Emune menutup kedua telinganya karena suara teriakan itu menyakiti telinganya. Dadanya sesak lagi lalu tubuhnya terangkat ke udara dan terhempas ke atas tempat tidur. Kabut putih sudah hilang tanpa bekas.

Kepalanya pening dan keringat mengalir deras membasahi gaun tidurnya. Apa itu tadi? Ilusi atau dia benar-benar melihat Urndie?

Emune meletakkan tangannya di atas jantungnya yang berdegup kencang. Tidak, ini bukan ilusi, pikirnya. Ia mencari buku kecil itu dan menemukannya terbalik di atas lantai. Sungguh ajaib, sampulnya kembali polos dan saat membaliknya, halaman-halamannya sekarang berisi puisi dan cerita pendek.

Perlahan ia menutup buku kecil itu dan memasukkannya ke tasnya. Ia segera meminum air dengan tegukan-tegukan besar. Kerongkongannya terasa sejuk setelah air masuk.

Rasa lelah yang tadi sempat hilang setelah mandi dan makan muncul lagi bahkan menjadi berlipat-lipat. Emune tak sanggup berjalan ke sisi lain untuk mematikan lapu minyak yang digantung. Ia hanya meniup lampu minyak yang ada di meja di sampingnya dan segera tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal.

***

Hanya beberapa puluh langkah dari Stavehass, berdiri tegak Harregu, rumah minum terbesar di Darfin. Bangunan yang memanjang ke belakang itu memiliki dua lantai yang setengah bagian di lantai atas digunakan sebagai penginapan. Itulah yang terlihat di luar. Sangat sedikit yang tahu bahwa Harregu memiliki sebuah ruang bawah tanah tempat transaksi perdagangan gelap berlangsung. Sebut saja perdagangan barang curian, hewan eksotik, budak bahkan senjata.

Fiona dan Greg duduk di meja kecil untuk tiga orang. Mereka berdua tidak menanti siapa pun. kursi ketiga hanya hiasan bagi mereka. Sudah dua botol anggur Imperia dan satu gelas besar bir habis oleh Fiona sendiri. Greg malah hanya minum segelas bir ukuran biasa. Ia sudah tahu Fiona seperti apa kalau sedang mabuk jadi ada baiknya ia yang menahan diri. Bagaimana pun juga ia akan butuh kesadarannya dan sedikit tenaga untuk membawa pulang Fiona ke penginapannya.

Keduanya sedang asyik berbincang tentang perjalanan besok ketika keributan terjadi di dalam Harregu. Orang-orang yang tidak mabuk atau setengah mabuk berhamburan keluar dari Harregu. Fiona dan Greg melompat berdiri karena meja mereka berkali-kali ditabrak.

Greg menarik Fiona ke bagian ruangan yang tidak dilalui orang-orang yang panik berdesakan keluar. Greg menarik salah seorang pemuda yang menurutnya cukup waras untuk diajak bicara. Pemuda itu berontak tapi tidak bisa mengalahkan kekuatan cengkeraman Greg.

“Ada apa di sana?” tanya Greg.

Pemuda itu terengah-engah. “Rombongan pedagang ribut dengan kesatria-kesatria yang mengawal rombongan budak ke Orsgadt. Sudah tiga orang mati. Lepaskan aku … lepaskan .…”

Greg melepaskan pemuda itu yang langsung menyusup dalam keramaian orang-orang yang meninggalkan rumah minum. “Kita harus pergi,” ucapnya lalu menarik Fiona sambil mendesak maju mengikuti yang lain. Ia merangkul Fiona, berusaha melindunginya dari tubrukan.

Keriuhan di Harregu menarik perhatian semua orang di alun-alun. Pasukan pengaman kota berlarian menuju Harregu dengan senjata lengkap. Perintah untuk menutup gerbang kota sudah diteruskan ke pos depan.

Greg dan Fiona berhasil keluar dari Harregu setelah Greg berkali-kali meninju dan menendang untuk membuat ruang kabur bagi mereka berdua. Begitu sampai di luar, pasukan keamanan kota sudah bersiap dengan tombak-tombak mengarah ke dada mereka.

“Berlutut! Berlutut!” teriak para prajurit sambil memukul siapa saja yang melawan.

Greg menahan tangan Fiona yang hendak menarik keluar belatinya. Tidak bijaksana melakukan itu saat ujung tombak siap menusuk dada mereka. “Tenang. Mereka hanya akan memeriksa kita,” ucapnya pelan.

Pemimpin pasukan yang sudah dari tadi menyerbu masuk sepertinya telah meredakan masalah di dalam Harregu. Ia keluar bersama kesatria-kesatria yang wajah dan tubuhnya bercipratan darah.  Kesatria-kesatria itu melangkah pergi seakan-akan tidak ada yang terjadi.

“Harregu ditutup malam ini. Kembali ke tempat menginap masing-masing. Jangan ada yang membuat keributan lagi!” teriak sang pemimpin pasukan.

Setelah mendengar teriakan pimpinan pasukan keamanan kota, anggota pasukannya menegakkan tombak mereka. Mereka masuk ke dalam Harregu secara bergiliran dan orang yang masuk terakhir langsung menutup pintu.

Fiona dan Greg berdiri. Wajah Fiona memerah karena marah. Ia berjalan cepat-cepat ke arah Stavehass.

“Aku harus memeriksa Emune. Semoga saja dia tidak keluar saat kerusuhan tadi. Greg, bisakah kau ke pos depan berjaga-jaga jika Emune terbawa arus orang-orang yang keluar dari Darfin?” pinta Fiona.

“Aku akan memeriksanya.” Greg melesat pergi.

Fiona menggebrak meja pengurus penginapan yang bisa-bisanya tertidur lelap padahal di luar ada kerusuhan. Pengurus penginapan yang bertubuh ceking dan bermata besar terbangun.

“Lantai dua kamar ketiga, kunci,” ucap Fiona dingin. “Cepat!” teriaknya.

Setelah menerima kunci dari pengurus yang gemetaran mendengar teriakannya, Fiona menaiki tangga buru-buru. Pintu kamar masih terkunci, Fiona sedikit lega. Hanya sesaat sampai ia masuk dan menemukan kamarnya kosong. Emune tidak ada di sana.

Fiona berteriak-teriak memanggil Emune meski ia tahu itu sia-sia. Tidak ada tempat untuk bersembunyi di kamar itu. Melihat jendela yang terbuka lebar, Fiona menyimpulkan bahwa Emune pasti melihat kerusuhan di Harregu lalu keluar dari kamar dan membawa tas kecilnya untuk mencarinya.

“Sialan!” teriaknya marah.

Fiona membanting pintu kamar dan segera turun ke lantai satu. Ia mengabaikan pengurus penginapan yang bersembunyi di balik meja dan langsung berlari ke arah pos depan. Ia berharap Greg menemukan Emune.

Sesampainya di pos depan, Greg tidak ada. Seorang petugas jaga menghampirinya dan memberikan selembar kertas terlipat.

Dia terbawa arus keluar Darfin. Aku mengejarnya. Bertemu di Elvoa. Fiona membelalak membaca pesan itu. Ia menyumpah-nyumpah dalam hati. Ia menyalahkan dirinya yang tidak awas. Harusnya dia tidak pergi ke Harregu dan membiarkan Emune sendirian.

“Sial, sial, sial! Kau bodoh, Fiona!” teriaknya mengejutkan para petugas jaga.

Episodes
1 Ulrych
2 Urndie
3 Legenda Orsgadt
4 Kepedihan
5 Air Terjun Penyesalan
6 Gadis-Gadis Ceria
7 Kabar Duka
8 Keputusan Emune
9 Perayaan Ulrych
10 Malam Perpisahan
11 Menuju Alder
12 Tighourt
13 Zamrud
14 Kahurrseig
15 Di Kastil Berham
16 Sejarah Kelam
17 Voispir
18 Buku Ajaib
19 Elric
20 Kerusuhan di Darfin
21 Selamatkan Emune!
22 Proner
23 Galvei
24 Penguntit
25 Api dan Es
26 Eufrack Sialan!
27 Horeen
28 Farclere
29 Elric dan Emune
30 Toure
31 Keturunan Raja
32 Lengan, Pedang dan Belati
33 Petaka Hitam
34 Serangan
35 Di Tepi Hutan Dumina
36 Memasuki Hutan Dumina
37 Goenhrad
38 Putri Mahkota Orsgadt
39 Berlari dan Terbang
40 Suara-Suara Gaib
41 Selangkah Lagi
42 Memasuki Orsgadt
43 Olevander dan Ramalan Kuno
44 Amukan Peri
45 Sebelum Berpisah
46 Lingkaran Killgins
47 Duyung-Duyung Kigurst
48 Pilar Artamea
49 Di Eimersun
50 Sebelum Moughty
51 Gunung Moughty
52 Malam di Hutan Ajaib
53 Raja Peri Drav
54 Sekutu
55 Kehangatan Eimersun
56 Peta Kekuatan
57 Serangan
58 Angin Peperangan
59 Cinta dan Logika
60 Perang
61 Pengkhianat
62 Mundur
63 Kemenangan Kecil
64 Korta dan Anthura
65 Melawan Kekuatan Kegelapan
66 Sang Penyihir
67 Dendam dan Pengorbanan
68 Makhluk Hebat
69 Elzenthum
70 Inti Elzenthum
71 Mata Hati Goenhrad
72 Musuh Terakhir
73 Orsgadt Baru
74 Bangsawan Malfice
75 Cinta di Udara
76 Kedamaian
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Ulrych
2
Urndie
3
Legenda Orsgadt
4
Kepedihan
5
Air Terjun Penyesalan
6
Gadis-Gadis Ceria
7
Kabar Duka
8
Keputusan Emune
9
Perayaan Ulrych
10
Malam Perpisahan
11
Menuju Alder
12
Tighourt
13
Zamrud
14
Kahurrseig
15
Di Kastil Berham
16
Sejarah Kelam
17
Voispir
18
Buku Ajaib
19
Elric
20
Kerusuhan di Darfin
21
Selamatkan Emune!
22
Proner
23
Galvei
24
Penguntit
25
Api dan Es
26
Eufrack Sialan!
27
Horeen
28
Farclere
29
Elric dan Emune
30
Toure
31
Keturunan Raja
32
Lengan, Pedang dan Belati
33
Petaka Hitam
34
Serangan
35
Di Tepi Hutan Dumina
36
Memasuki Hutan Dumina
37
Goenhrad
38
Putri Mahkota Orsgadt
39
Berlari dan Terbang
40
Suara-Suara Gaib
41
Selangkah Lagi
42
Memasuki Orsgadt
43
Olevander dan Ramalan Kuno
44
Amukan Peri
45
Sebelum Berpisah
46
Lingkaran Killgins
47
Duyung-Duyung Kigurst
48
Pilar Artamea
49
Di Eimersun
50
Sebelum Moughty
51
Gunung Moughty
52
Malam di Hutan Ajaib
53
Raja Peri Drav
54
Sekutu
55
Kehangatan Eimersun
56
Peta Kekuatan
57
Serangan
58
Angin Peperangan
59
Cinta dan Logika
60
Perang
61
Pengkhianat
62
Mundur
63
Kemenangan Kecil
64
Korta dan Anthura
65
Melawan Kekuatan Kegelapan
66
Sang Penyihir
67
Dendam dan Pengorbanan
68
Makhluk Hebat
69
Elzenthum
70
Inti Elzenthum
71
Mata Hati Goenhrad
72
Musuh Terakhir
73
Orsgadt Baru
74
Bangsawan Malfice
75
Cinta di Udara
76
Kedamaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!