Ronald bernafas lega saat rombongannya tiba di Tighourt dengan selamat hanya beberapa saat sebelum matahari terbenam. Beberapa kereta kuda dari rombongan lain tampaknya terlalu memaksakan diri hingga kuda-kudanya kelelahan. Ia menyuruh Anzei mengatur agar semua kuda bisa istirahat dan siap untuk perjalanan esok hari.
Fiona mengajak Emune ke rumah kecil di tengah kota. Pemiliknya berhutang budi pada Arrand beberapa waktu lalu dan sebelum pindah ke Imperia, ia memberikan rumah itu kepada Arrand.
“Santai saja Emune. Kita akan habiskan 2 malam di Tighourt. Setelah perampokan menggila, sebaiknya kita tunda dulu perjalanan. Apa kau sudah sangat ingin tiba di Alder?” tanya Fiona.
“Tentu saja tidak. Aku tidak pernah ke mana-mana jadi lebih baik mengikuti apa yang kalian putuskan.” Emune tidak mungkin memaksa. Ia hanya anak bawang yang tidak tahu apa-apa.
“Lihat sisi baiknya, kau akan puas berkeliling Tighourt. Siapa tahu ada pemuda yang membuatmu jatuh cinta dan memutuskan untuk tinggal di sini,” goda Fiona. Ia berkedip nakal pada Emune.
“Fiona, kau menggodaku terus. Kau sendiri bagaimana?”
“Aku? Ada apa denganku?”
“Jangan bilang kalau tidak ada apa-apa antara kau dan Ronald. Pasti ada sesuatu bukan?”
Fiona melempar selimut ke muka Emune. “Gadis sok tahu, agar kau puas, akan kukatakan sekali saja. Tidak ada apa-apa antara aku dan Ronald. Hanya teman karib. Lagipula Ronald sudah punya kekasih.”
“Tidak bisa dipercaya! Bagaimana bisa kalian melakukan perjalanan sangat jauh berdua saja?” tanya Emune.
“Hei, bertiga. Asal kau tahu, ini pertama kalinya Arrand pergi lebih dulu ke Ulrych lalu ke Eimersun.” Fiona meringis.Urusan dengan Emune begitu penting hingga Arrand merubah kebiasaannya.
“Maaf, aku tidak tahu kalau ....” Emune menunduk. Jadi Arrand merubah jadwal rutin perjalanan mereka hanya demi mencariku, pikir Emune.
“Tidak ada masalah dengan itu. Senang punya teman seperjalanan selucu dirimu.” Fiona tersenyum.
Emune tersenyum. “Ronald akan tidur di sini? Bagaimana dengan anggota rombongan yang lain?”
“Ronald akan bermalam di rumah ketua Perkumpulan Pedagang. Mereka bersahabat. Hanya para perempuan yang tinggal di sini. Anggota lain akan tinggal di rumah teman-teman atau keluarga jauh mereka. Oh iya, Anzei dan Tuan Willard akan berjaga-jaga di lantai bawah.”
“Bagus kalau begitu.” Emune lega ada yang menjaga mereka.
“Bersihkan diri lalu kita keluar. Kau perlu menyegarkan diri supaya tidurmu nyenyak.”
“Kita akan pergi ke mana?” tanya Emune.
“Makan malam,” jawab Fiona.
“Bekalku masih ada. Aku rasa aku harus berhemat.” Ia ingat tadi sudah membelanjakan satu keping perak.
Fiona mengambil alih sisir di tangan Emune. Tubuh Emune diputarnya sedikit lalu ia merapikan rambut Emune dengan cepat. Segenggam kecil helai rambut ia kuncir rapi lalu di lilitkan melingkari sisa rambut Emune yg berwarna coklat.
“Nah, sangat cantik. Ayo, kita pasti sudah ditunggu. Jangan membuat Nenek marah,” Fiona menarik Emune keluar kamar, menuruni tangga dan keluar dari rumah, membaur dengan keramaian.
Tunggu dulu, siapa yang menunggu kami? Nenek? Nenek siapa? Emune geleng-geleng kepala. Ia mengikuti Fiona dengan patuh. Setiap kali ia berhenti karena ada yang menarik perhatiannya, Fiona akan mengomel dan menyeretnya pergi.
Rumah itu kecil tapi halamannya sangat luas. Ada banyak orang duduk mengelilingi meja-meja kayu di halaman. Sebuah api unggun ditambah lentera-lentera menerangi malam yang penuh bintang.
Fiona dan Emune disambut oleh gadis kecil berusia sekitar tujuh atau delapan tahun. Ia mengantar mereka ke dalam rumah. Dua meja besar telah terisi oleh puluhan perempuan dan anak-anak. Mereka terlambat, ya, karena semua orang melihat ke arah mereka sekarang.
“Duduklah. Kau selalu terlambat Fiona. Tidak bisakah kau datang lebih cepat lain kali? Rasanya sudah dua puluh kali aku mengatakan ini,” ucap seorang nenek yang berkeliling meja.
Fiona berdeham. Dengan wajah serius ia menjawab sang nenek. “Maaf, Nenek, ada sedikit hambatan tadi. Aku ....”
“Maaf, aku yang membuat terlambat. Aku sangat lamban,” potong Emune. Ia tidak enak hati karena dirinya Fiona jadi disalahkan.
“Ah, kita kedatangan tamu rupanya. Siapa namamu?”
“Emune.”
“Gadis yang cantik. Selamat datang di rumah Amery. Singgahlah kapanpun kau suka.”
“Terima kasih”
Nenek Amery menepuk tangan sekali. “Baiklah, selamat datang untuk semua. Aku yakin perjalanan kalian sangat melelahkan. Kalian perlu beristirahat cukup nanti jadi silahkan makan,” ucapnya mempersilahkan semua orang untuk mulai menyantap hidangan.
Emune tidak pernah melihat makanan menumpuk di meja seperti itu. Ia hanya terbiasa dengan roti, keju, telur, daging asap dan air madu serta sedikit kudapan mewah saat berkunjung ke pondok Urndi sementara di atas meja ada begitu banyak jenis makanan yang terlihat enak.
“Makan yang kau mau. Kita bisa bawa sebagian saat pulang,”bisik Fiona.
“Dari mana makanan-makanan ini?” tanya Emune, ikut berbisik seperti Fiona.
“Para pedagang selalu mengirimkan berbagai macam benda dan bahan makanan kepada Nenek Amery. Terlalu banyak untuk dimakan ataupun disimpan jadi Nenek Amery memutuskan untuk membagikannya seperti ini.”
“Baik sekali. Bagaimana aku membalasnya?”
“Bernyanyilah untuknya. Kau bisa menyanyi? Gadis cantik biasanya bisa menyanyi,” bisik Fiona.
“Aku tidak cantik tapi aku bisa menyanyi. Sedikit saja,” balas Emune.
***
Kamar yang ditempati Emune dan Fiona cukup besar. Dua buah tempat tidur berderet mengapit sebuah jendela dan meja kecil di bawahnya. Emune meringkuk di kasur sambil menutup kepalanya dengan bantal. Suara tawa Fiona menyakiti telinganya.
Fiona duduk di atas tempat tidur, terguncang-guncang oleh tawanya sendiri. Ia bangun lalu menarik bantal penutup kepala Emune. Emune berusaha mempertahankannya tapi sia-sia. Sebal karena Fiona terus mengusiknya, Emune akhirnya duduk cemberut di tepi tempat tidur.
“Maaf. Aku hanya bercanda.” Fiona menepuk bahu Emune.
“Itu tidak lucu!”
“Oh, itu lucu sekali,” Fiona tertawa kecil.
“Seharusnya aku tidak melakukannya. Menyanyi di depan begitu banyak orang. Ah, aku malu sekali. Kau jahat!”
“Aku tidak tahu kau mau melakukannya. Kau begitu bersemangat dan nyanyianmu bagus. Coba ingat, Nenek Amery menyukainya. Tamu-tamu lainnya juga bertepuk tangan.”
Emune selalu kalah berdebat dengan Fiona. Aku akan lebih berhati-hati, pesannya pada diri sendiri.
“Terserah kau saja,” ucap Emune ketus.
Fiona tersenyum. “Maaf kalau aku keterlaluan. Ini pertama kalinya aku melakukan perjalanan dengan sesama perempuan. Seru rasanya, seperti punya seorang adik yang manis. Kau benar-benar manis dan lucu.”
Emune mencoba mengira apakah ini bagian dari lelucon baru Fiona atau bukan. Tidak seperti lelucon, pikirnya. “Aku selalu dibilang lucu oleh orang-orang. Padahal menurutku tidak.”
Fiona tersenyum lagi. “Ngomong-ngomong, apa ada di antara para pemuda tadi yang kau suka?”
“Bagaimana aku bisa melihat pemuda mana pun setelah kejadian memalukan tadi?” gerutu Emune.
“Aah … maaf. Besok malam, kau akan melihat mereka dengan jelas.” Fiona menyeringai geli.
“Oh, tidak lagi. Aku akan makan roti, keju dan daging asap di sini saja.”
“Tidak bisa. Nenek Amery sangat menyukaimu. Dia berpesan kau harus datang lagi besok. Ada yang ingin ia bicarakan. Penting, katanya.”
Emune menghela nafas. “Tolong carikan aku topeng. Aku rasa aku akan pakai cadar saja besok malam.”
“Hahaha, santai saja. Nah, istirahatlah. Aku harus memeriksa beberapa hal penting malam ini. Selamat tidur.”
Emune meringis. Fiona menghilang lagi. Entah apa yang harus ia lakukan di malam selarut ini.
Kedua mata Emune menatap lampu minyak di atas meja. Lidah api berwarna merah dan kuning bergantian meliuk-liuk pelan. Emune teringat pada semua yang ia tinggalkan dan ia sekarang tahu rasanya rindu. Rindu karena kesedihan seperti ia merindukan seorang ibu, merindukan ayahnya yang meninggalkannya dulu dan rindu karena bahagia memiliki orang-orang yang baik padanya di Ulrych.
Elric? Apakah ia juga bagian dari sesuatu yang bisa disebut ‘rindu’? Emune rasa semua perasaan yang tercurah pada Elric semata karena dia adalah lelaki pertama yang menciumnya. Elric sangat tampan, dia pasti punya banyak pengagum. Lebih parah lagi, dia pasti punya banyak kekasih.
“Huh, pemuda tampan memang suka mempermainkan perempuan,” gerutu Emune sinis. Ia langsung membayangkan Elric memakai pakaian kesatria dan membawa pedang sambil tersenyum genit. Emune mengibas-ngibaskan kedua tangannya seolah-olah ingin menghapus bayangannya tadi.
Tapi, dia memilihku di antara sekian banyak perempuan di perayaan malam itu, Emune membantin. Mereka berdansa, makan bersama bahkan kabur bersama dari pemandangan tidak senonoh di dekat bangku itu. Apakah itu tidak termasuk ‘istimewa’?
Emune merasa tak perlu melanjutkan pembahasan tentang Elric. Ia tidak tahu apa-apa tentang pemuda itu jadi tidak ada jaminan apapun bahwa ia serius dengan kata-katanya saat itu. Emune bahkan tidak sempat menanyakan asalnya. Pasti suatu keajaiban jika suatu saat mereka bertemu lagi.
Emune meniup api yang menyala dari lampu minyak. Kamar jadi gelap gulita, sempurna untuk tidur lelap setelah perjalanan jauh.
“Untuk Ayah, Ibu dan Ulrych, terima kasih,” ucap Emune sambil memejamkan mata.
Entah sudah berapa lama Emune tertidur ketika suara pintu dibuka membangunkannya. Pintu terbuka lebar dan Fiona terhuyung-huyung masuk ke dalam kamar. Emune melompat dari tempat tidurnya saat melihat Fiona hampir jatuh.
“Astaga kau mabuk. Berapa banyak kau minum semalam?” tanya Emune gusar.
“Hai, Emune, anggur … enak .…” Fiona tersenyum konyol karena mabuk.
Emune membantu Fiona ke tempat tidurnya. Fiona ambruk, tertidur pulas. Emune merapikan posisi tidur Fiona. Membuka pakaiannya yang tebal, melepaskan sarung kulit dengan tiga belati kecil yang terikat di paha Fiona dan melepaskan kedua sepatu botnya. Emune menyelimuti Fiona yang tidur hanya dengan pakaian dalam.
Emune menatap belati-belati kecil yang masih aman di dalam sarungnya. Mungkin Fiona membutuhkannya untuk berjaga-jaga saat melakukan perjalanan jauh, pikir Emune.
Rumah mandi sudah buka sejak tadi tapi Fiona berpesan untuk menjauhi tempat itu karena tidak aman bagi gadis seperti Emune. Emune bisa mandi di kamar belakang di lantai satu. Ada pipa kayu yang mengalirkan air jernih dari mata air. Sungguh segar rasanya mandi pagi dengan air yang sangat sejuk.
Kota Tighourt di pagi hari lebih ramai dibandingkan semalam. Emune tidak punya tujuan pasti. Ia hanya ingin berkeliling melihat suasana kota. Ia menyelinap di antara keramaian. Ia mencari seseorang yang ia lihat semalam. Hanya sekilas tapi ia seperti mengenalnya.
Di antara toko bunga dan toko daging ada gang buntu. Semalam ia melihat orang itu berdiri di sana. Emune tidak mau salah menegur orang namun ia percaya pada nalurinya sendiri. Ia memutuskan masuk ke gang itu. Di ujung sana hanya ada seseorang yang terlihat sedang duduk di balik meja. Pembaca Garis Tangan, tertulis ditembok di belakangnya.
Emune berbalik hendak pergi tapi orang itu berbicara kepadanya. “Kemarilah.” Si pembaca garis tangan mengulurkan tangannya yang keriput ke arah Emune. “Duduklah, akan kubacakan garis tanganmu, Nona,” ucapnya dengan suara bergetar.
Emune ragu-ragu tapi ia penasaran. Dulu pernah ada peramal datang ke Ulrych. Emune diramalkan akan mengalami kesialan jika ia meninggalkan Ulrych sebelum usianya mencapai tujuh belas tahun. Sungguh ramalan yang aneh, meskipun kenyataannya Emune memang sama sekali tidak meninggalkan Ulrych sampai kemarin. Emune penasaran, mungkin peramal ini akan menyuruhnya kembali ke Ulrych dan tidak meninggalkan Ulrych sampai ia jadi tua renta.
Si pembaca garis tangan membalik tangan kiri Emune agar telapaknya menghadap atas. Emune tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh penutup kepala yang tebal.
“Kau membawa garis nasib yang luar biasa. Kau tidak akan selamat jika kau tidak segera meninggalkan Tighourt. Orsgadt adalah tempatmu,” ucapnya pelan dan gemetaran. Ia melepas tangan Emune dengan kasar. “Pergi! Jangan pernah kemari lagi!” bentaknya.
“Tapi .…” Emune kebingungan. Apa yang salah dengan garis tanganku? Ramalan aneh lagi?
“Pergi!” raung orang tua itu.
Emune terkejut. Ia berbalik dan pergi menjauhi gang itu. Kepalanya terasa pening. Ia limbung menabrak seorang perempuan yang sedang menggendong bayinya.
“Maaf, maaf ….” gumam Emune. Ia melanjutkan berjalan kembali ke rumah inapnya. Beberapa langkah berikutnya, ia merasa kakinya kaku, ia terjatuh di dekat gerobak berisi kentang dan wortel.
Semuanya gelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments