Sejarah Kelam

Kabut hitam turun dari langit-langit kamar tanpa suara. Awalnya hanya segaris lalu bertambah banyak membentuk lapisan bergelung-gelung turun ke lantai. Bergerak pelan seperti tentakel gurita, kabut hitam itu menaiki tempat tidur Emune. Emune yang tidur mengahdap samping tidak bergerak sama sekali saat kabut itu menutupi seluruh tubuhnya.

“Manusia, kau memanggilku. Lihatlah apa yang kau inginkan,” bisik sebuah suara di telinga Emune.

Manusia yang tersadar mungkin akan ngeri mendengar suara yang begitu mistis namun hanya Emune yang bisa mendengarnya. Fiona yang tidur di tempat tidur di seberang Emune bahkan tertidur lelap tanpa menyadari bahwa Emune sedang masuk ke alam yang berbahaya antara hidup dan mati. Seketika mata Emune terbuka namun hanya memperlihatkan bola mata yang berwarna hitam kelam. Ia dalam pengaruh kabut hitam.

Kabut hitam menipis lalu menampilkan sebuah kereta yang memasuki gerbang besar istana yang dijaga oleh beberapa orang prajurit. Setelah memarkir kereta dengan baik, pengemudinya turun dan membukakan pintu untuk penumpangnya.

Seorang perempuan berpakaian pelayan turun dari kereta sambil menggendong bayi kecil yang terlilit kain. Bayi itu baru berumur beberapa hari dan sedang tidur tenang. Ia tampak senang saat menatap langit malam yang disinari oleh purnama.

Perempuan itu memasuki istana. Pelayan-pelayan lain menyambutnya dengan senyuman dan sapaan hangat. Sebagian lagi bergerak cepat melintasi lorong lalu naik ke lantai dua.

“Bayi yang cantik, Emilia.” Seorang pelayan wanita memuji si bayi kecil.

“Terima kasih.” Emilia tersenyum gembira.

“Kau tunggu saja, kami akan memberitahumu jika saatnya tiba,” ucap seorang perempuan tua yang sedang membawa tumpukan kain.

“Baik, terima kasih. Aku harap semuanya berjalan lancar,” ucap Emilia.

Ia bergegas menepi agar tidak menghalangi orang-orang yang sibuk ke lantai atas. Ia melanjutkan berjalan dan membelok ke kiri lalu masuk ke kamar kedua. Setelah menutup pintu, ia membaringkan bayi perempuannya di atas tempat tidur dan mencium keningnya. Ia menyenandungkan lagu buaian untuk si bayi sambi menyulam.

Di lantai dua, dua orang prajurit berjaga di depan pintu sebuah kamar. Mereka membiarkan masuk pelayan-pelayan wanita yang membawa kain dan keranjang bunga. Di dalam kamar yang sangat luas, beberapa pria ada yang duduk dan ada yang berdiri. Para pria ini memakai pakaian dan atribut kerajaan. Wajah mereka terlihat cemas. Mereka menantikan sesuatu.

Tempat tidur mewah yang hanya bisa dimiliki oleh seorang putri raja dikelilingi oleh para pelayan dan seorang bidan. Seorang wanita berparas cantik dengan kulit yang bersih bersinar terbaring kesakitan. Keringat mengalir deras dari kening dan pelipisnya.

“Putri Erika akan segera melahirkan.” Sang bidan mengumumkan.

Waktu terasa berjalan lamban saat perjuangan Putri Erika untuk melahirkan buah hatinya berlangsung. Panduan dari sang bidan silih berganti dengan jeritan sang putri. Keheningan tiba-tiba meraja lalu digantikan tangisan bayi. Semua orang berseru gembira.

Bayi mungil yang cantik diserahkan kepada Putri Erika yang menggendongnya penuh kasih. Air mata bahagia menetes membasahi pipinya. Pangeran Cedric duduk di samping tempat tidur, mencium bergantian istri dan anaknya yang baru lahir. Ia berdiri, menggendong putrinya dan menyerahkannya pada pria tua bermahkota emas, sang raja.

“Elizai Murisie Nezca Orsgadt, pewaris tahta Orsgadt,” ucap Raja Agung Orsgadt mengumumkan kehadiran cucu tercintanya.

Sorak-sorai terdengar. Berita kelahiran sang putri menyebar ke seluruh penjuru istana. Seorang prajurit meniup terompet dari menara istana untuk mengabarkan berita suka cita.

Emilia menggendong bayinya dan segera keluar dari kamar dan setengah berlari ke lantai dua melalui tangga di ujung lorong. Dari jendela lantai dua ia melihat ada keramaian di luar istana. Ia tidak ambil pusing, ia ingin segera melihat sang putri kecil yang baru lahir.

Tiga orang kesatria berlari ke pintu masuk kamar sang putri. Ia memerintahkan kedua penjaga untuk menghalangi siapa pun untuk masuk ke kamar sang putri. Ia masuk dan menutup pintu.

“Yang Mulia, kita diserang. Ada kelompok tak dikenal sedang membantai orang-orang. Anda harus mengungsi sekarang juga.”

Semua orang di kamar sang putri terkesiap. Sang putri menjerit. Ia memeluk bayinya erat-erat. “Selamatkan putriku. Cedric, Ayah, selamatkan putriku!” serunya di antara tangis ketakutan.

Raja Agung Orsgadt memerintahkan seluruh pelayan dan bidan untuk keluar menyelamatkan diri. Hanya keluarga kerajaan, seorang penasehat dan 4 orang kesatria yang tersisa di kamar sang putri. Penasehat Drogean bersikeras agar seluruh keluarga kerajaan menyelamatkan diri namun ditolak oleh raja.

“Cedric, bawa Erika dan putrimu pergi sekarang juga. Menjauh dari Orsgadt. Drogean dan kau, Hemworth, jaga mereka.”

“Cedric, pergilah. Selamatkan putri kita. Tinggalkan aku. Aku hanya akan menghalangi gerak kalian,” ucap sang putri. Ia melepas kalung zamrud di lehernya, memasukkannya ke kantung beludru biru dan meletakkannya di dalam kain yang membungkus hangat bayinya.

Putri Erika berbisik pada sang bayi, mengulangi ucapan ayahnya yang bersiaga di dekat pintu bersama dua kesatria lain, mencium kening putri yang mungkin tidak akan pernah ia lihat lagi lalu menyerahkannya kepada suaminya. Ia menangis tanpa suara. Selamat tinggal putriku. Teruslah hidup, Elizai!

“Cedric, tidak ada waktu lagi. Pergi!” seru sang raja.

Dua kesatria berdiri di dekat perapian. Salah satunya menarik tuas yang ada di dalam perapian. Dinding di samping perapian terbuka dan sebuah lorong panjang terlihat.

Pangeran Cedric mencium kening putrinya yang masih bayi kemudian menyerahkan putrinya kepada kesatria yang berada di lorong. Ia menatap istri dan ayah mertuanya yang siap menyambut apa pun yang akan datang dari arah pintu.

Penasehat Drogean dan Komandan Rudick telah menghunus pedang mereka. Ia tidak bisa meninggalkan istrinya yang baru saja berjuang mati-matian demi kelahiran putri mereka. Ia menoleh pada kesatria yang membuka pintu menuju lorong rahasia.

“Aku serahkan putriku dalam pengawasan kalian. Jaga dia baik-baik. Kelak, ingatkan ia akan haknya sebagai pewaris sah tahta Orsgadt. Pergi,” ucap Pangeran Cedric.

Kesatria itu memberi hormat kepada sang pangeran lalu masuk ke lorong. Pangeran Cedric menutup pintu lorong rahasia dan mematahkan tuas pembukanya dengan pedang. Ia tidak mau ada yang membukanya, tidak sampai putrinya keluar dengan selamat dari istana.

“Erika, putri kita pasti selamat. Aku mencintaimu,” ucap sang pangeran. Ia mencium istrinya yang menatapnya dengan penuh cinta.

“Aku mencintaimu,” balas sang putri.

Kejadian berikutnya sangat mengerikan. Pintu didobrak dari luar. Orang-orang berpakaian hitam menyerbu masuk. Raja Agung Orsgadt  dan semua yang ada di dalam ruangan tidak bisa bertahan lama melawan para pembunuh beringas yang haus darah. Mereka dibantai habis.

Pangeran Cedric berusaha melindungi Putri Erika dengan tubuhnya namun ia gagal. Sebilah pedang menembus tubuh mereka berdua. Keduanya meninggal berpelukan. Senyum tersungging di bibir sang putri. Ia seolah lega karena putrinya sudah dibawa pergi.

Setelah semua orang di ruangan itu mati, pemimpin kelompok itu berteriak menyuruh anak buahnya untuk mencari cucu raja yang baru lahir. “Semua keturunan raja harus mati!” teriaknya.

Orang-orang berpakaian hitam menyebar keluar dari kamar.  Salah seorang berteriak saat melihat seorang pelayan yang baru muncul dari ujung lorong. “Itu bayinya!” teriaknya keras.

Emilia terkejut. Ia memeluk erat bayinya. Tubuhnya kaku dan gemetaran.

“Tidak! Jangan! Siapa kalian?” jerit Emilia saat dua orang laki-laki berpakaian hitam menyeretnya ke kamar sang putri. Ia tidak mau melepaskan bayinya. Ia mencoba melawan dengan menendang-nendang namun sia-sia. Ia bukan lawan sepadan mereka.

Emilia menjerit melihat pemandangan di hadapannya. Semua sudah mati. Sang raja, pangeran, putri, penasehat dan para kesatria terbujur kaku dengan luka-luka menganga. Darah ada di mana-mana.

Putri kecil, di mana putri kecil? Emilia bertanya sekaligus menangis dalam hati.

“Apakah ini cucu sang raja yang baru lahi?”

Emilia terhenyak mendengar pertanyaan itu. Orang-orang ini tidak tahu bahwa bayi yang ia gendong adalah putrinya sendiri. Di mana cucu sang raja?

“Jawab! Pelayan tolol, kau akan bergabung dengan mayat-mayat itu.”

“Raja yang kau agungkan hanya laki-laki tua yang bersembunyi di balik kejayaan leluhurnya,” ucap pimpinan kelompok yang berbicara keras lalu meludah ke lantai. “Dia sudah mati!”

Emilia memang hanya pelayan namun ayahnya adalah seorang terpelajar dan ia tahu banyak dari kisah-kisah yang dituturkan oleh ayahnya. Pemberontakan sedang terjadi. Orang-orang jahat itu ingin menghabisi seluruh garis keturunan Orsgadt.

Emilia tidak tahu di mana putri kecil berada tapi jika orang-orang ini mencarinya berarti entah bagaimana ia bisa dibawa keluar dari tempat ini. Air matanya menetes. Pandangannya beralih dari Pangeran Cedric dan Putri Erika yang meninggal berpelukan ke putri kecilnya yang tidak terusik sedikit pun oleh hingar bingar di sekelilingnya.

“Kumohon, jangan sakiti dia. Dia hanya bayi kecil yang tidak bersalah. Kumohon...” ucapnya menghiba.

Pemimpin kelompok yang berwajah bengis berdiri di depan Emilia yang berlutut sambil memeluk bayinya yang baru berusia beberapa hari.

“Perempuan bodoh. Salahkan Raja Orsgadt yang mengirimmu pada kematian, “ucapnya dingin. Tangannya bergerak cepat melakukan gerakan menusuk. Emilia dan bayi kecilnya meninggal seketika. Laki-laki itu menoleh pada anak buahnya. “Orsgadt telah jatuh. Kabarkan ke seluruh penjuru Artamea!”

Orang-orang berpakaian hitam bersorak-sorai. Seperti wabah, mereka berpencar dan menyisir setiap ruangan di istana. Tanpa ampun, mereka membunuh semua orang. Raungan kematian memenuhi udara bersamaan dengan darah yang tertumpah di lantai dan dinding istana.

Kedua kesatria yang diberi amanat oleh sang pangeran berlari melewati lorong panjang yang penuh belokan dan jebakan. Hanya kesatria pengawal raja yang tahu tentang lorong itu. Jika bergegas, mereka akan sampai di seberang hutan di belakang istana raja.

“Arthen, hati-hati.” Hemworth mengingatkan rekannya.

Arthen mendorong pintu kayu tebal di ujung lorong. Kegelapan menyambutnya. Ia menjulurkan tangan kirinya, menyibak apa pun yang menghalangi sinar bulan. Tanaman sulur telah tumbuh lebat menutupi pintu rahasia. Arthen tidak mau memotong tanaman itu dengan pedangnya, ia menyibaknya dengan tangan kirinya selagi tangan kanan bersiaga menggenggam pedang.

Tidak ada siapa pun di luar sana. Suara binatang malam bergiliran mengisi malam. Arthen takjub dengan kedamaian di tempat ini padahal hanya setengah mil jauhnya dari sini sedang terjadi pembantaian.

“Aman,” ucap Arthen. Ia memberi tanda agar Hemworth mengikutinya.

Hemworth merapatkan selimut yang membungkus bayi di gendongannya. Bayi itu kini tertutup oleh jubahnya yang tebal dan panjang.

“Kita harus mencari kuda.” Hemworth menatap miris bayi kecil yang terlelap selagi seluruh keluarganya menghadapi bahaya besar.

“Desa terdekat punya kuda-kuda yang kuat,” sahut Arthen.

Seperti kata Arthen, kuda-kuda desa memang kuat. Mereka berhasil meninggalkan wilayah istana dan sampai di dekat perbatasan Orsgadt dan Imperia. Sekarang atau tidak sama sekali. Tidak ada waktu untuk ragu karena sebentar lagi seluruh perbatasan pasti ditutup.

“Arthen, dengar, kita harus berpisah. Tujuh tahun dari sekarang kita akan bertemu di Eimersun. Kau inget kode yang kita buat dulu? Kita akan menggunakannya untuk berkomunikasi. Membaurlah dan bangun jaringan yang terpercaya. Masa kelam Orsgadt sudah datang.” Hemworth menepuk bahu rekan sekaligus sahabatnya itu.

“Aku akan mengumpulkan informasi. Semoga keluarga kerajaan selamat.” Meskipun kecil kemungkinannya, Arthen merasa harus mengucapkan harapannya akan keselamatan keluarga kerajaan.

“Jaga diri baik-baik, Arthen. Sampai jumpa,” ucap Hemworth.

“Sampai jumpa, Hemworth,” balas Arthen.

Kedua kesatria itu berpisah. Arthen menuju Imperia sementara Hemworth ke selatan. Masing-masing membawa beban berat di pundak mereka. Tugas berat yang akan terus mereka emban hingga tahta Orsgadt kembali kepada yang berhak.

Kabut hitam kembali bergelung seperti ombak kemudian menipis. Emune melihat seorang pria mengetuk pintu pondok kecil di tepi hutan. Walaupun sudah berganti pakaian dan wajahnya ditumbuhi jenggot tebal, Emune tahu itu adalah kesatria Hemworth.

Ayah Emune membukakan pintu. Keduanya masuk dan berbicara pelan. Hemworth menyerahkan bayi yang terbungkus selimut kepada ayahnya. Edmund memeluk bayi kecil itu sambil terisak.

“Rawatlah pewaris tahta ini seperti anakmu sendiri. Aku akan datang tujuh tahun lagi untuk menjemputnya,” pesan Hemworth.

Hemworth beranjak dari tempat duduknya. “Emune, beri ia nama Emune,” ucapnya. Ia keluar dari pondok lalu mengendarai kudanya ke arah utara.

Di dalam pondok, Edmund masih terisak. Berita yang dibawa Hemworth membuatnya patah hati. Emilia dan putri mereka, Nania, yang baru berusia beberapa hari telah menjadi korban pemberontakan. Sebagai gantinya, ia harus menjaga pewaris tunggal tahta Orsgadt yang kini ada di gendongannya.

“Emilia ... putriku Nania .... Emune ....” Ia bergumam sambil terisak.

Episodes
1 Ulrych
2 Urndie
3 Legenda Orsgadt
4 Kepedihan
5 Air Terjun Penyesalan
6 Gadis-Gadis Ceria
7 Kabar Duka
8 Keputusan Emune
9 Perayaan Ulrych
10 Malam Perpisahan
11 Menuju Alder
12 Tighourt
13 Zamrud
14 Kahurrseig
15 Di Kastil Berham
16 Sejarah Kelam
17 Voispir
18 Buku Ajaib
19 Elric
20 Kerusuhan di Darfin
21 Selamatkan Emune!
22 Proner
23 Galvei
24 Penguntit
25 Api dan Es
26 Eufrack Sialan!
27 Horeen
28 Farclere
29 Elric dan Emune
30 Toure
31 Keturunan Raja
32 Lengan, Pedang dan Belati
33 Petaka Hitam
34 Serangan
35 Di Tepi Hutan Dumina
36 Memasuki Hutan Dumina
37 Goenhrad
38 Putri Mahkota Orsgadt
39 Berlari dan Terbang
40 Suara-Suara Gaib
41 Selangkah Lagi
42 Memasuki Orsgadt
43 Olevander dan Ramalan Kuno
44 Amukan Peri
45 Sebelum Berpisah
46 Lingkaran Killgins
47 Duyung-Duyung Kigurst
48 Pilar Artamea
49 Di Eimersun
50 Sebelum Moughty
51 Gunung Moughty
52 Malam di Hutan Ajaib
53 Raja Peri Drav
54 Sekutu
55 Kehangatan Eimersun
56 Peta Kekuatan
57 Serangan
58 Angin Peperangan
59 Cinta dan Logika
60 Perang
61 Pengkhianat
62 Mundur
63 Kemenangan Kecil
64 Korta dan Anthura
65 Melawan Kekuatan Kegelapan
66 Sang Penyihir
67 Dendam dan Pengorbanan
68 Makhluk Hebat
69 Elzenthum
70 Inti Elzenthum
71 Mata Hati Goenhrad
72 Musuh Terakhir
73 Orsgadt Baru
74 Bangsawan Malfice
75 Cinta di Udara
76 Kedamaian
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Ulrych
2
Urndie
3
Legenda Orsgadt
4
Kepedihan
5
Air Terjun Penyesalan
6
Gadis-Gadis Ceria
7
Kabar Duka
8
Keputusan Emune
9
Perayaan Ulrych
10
Malam Perpisahan
11
Menuju Alder
12
Tighourt
13
Zamrud
14
Kahurrseig
15
Di Kastil Berham
16
Sejarah Kelam
17
Voispir
18
Buku Ajaib
19
Elric
20
Kerusuhan di Darfin
21
Selamatkan Emune!
22
Proner
23
Galvei
24
Penguntit
25
Api dan Es
26
Eufrack Sialan!
27
Horeen
28
Farclere
29
Elric dan Emune
30
Toure
31
Keturunan Raja
32
Lengan, Pedang dan Belati
33
Petaka Hitam
34
Serangan
35
Di Tepi Hutan Dumina
36
Memasuki Hutan Dumina
37
Goenhrad
38
Putri Mahkota Orsgadt
39
Berlari dan Terbang
40
Suara-Suara Gaib
41
Selangkah Lagi
42
Memasuki Orsgadt
43
Olevander dan Ramalan Kuno
44
Amukan Peri
45
Sebelum Berpisah
46
Lingkaran Killgins
47
Duyung-Duyung Kigurst
48
Pilar Artamea
49
Di Eimersun
50
Sebelum Moughty
51
Gunung Moughty
52
Malam di Hutan Ajaib
53
Raja Peri Drav
54
Sekutu
55
Kehangatan Eimersun
56
Peta Kekuatan
57
Serangan
58
Angin Peperangan
59
Cinta dan Logika
60
Perang
61
Pengkhianat
62
Mundur
63
Kemenangan Kecil
64
Korta dan Anthura
65
Melawan Kekuatan Kegelapan
66
Sang Penyihir
67
Dendam dan Pengorbanan
68
Makhluk Hebat
69
Elzenthum
70
Inti Elzenthum
71
Mata Hati Goenhrad
72
Musuh Terakhir
73
Orsgadt Baru
74
Bangsawan Malfice
75
Cinta di Udara
76
Kedamaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!