Elric

Pria muda berpakaian rapi turun dari pelananya dan memberikan sebuah apel yang ia simpan di tas kulit kepada si kuda tangguh. Kuda yang ditungganginya itu memang tahan banting, ia masih bugar walaupun sudah berhari-hari melewati perbukitan dan lembah.

"Tunggu di sini Draxe, aku segera kembali," ucapnya santai pada kuda hitam itu. Si kuda meringkik seakan-akan mengiyakan ucapan tuannya.

Pintu rumah itu terbuat dari kayu yang tebalnya hampir dua kali pintu rumah lainnya di desa itu. Si pria muda mengetuknya dua kali. Ia berharap seseorang akan segera membukakan pintu untuknya. Ia sedang mencari perempuan muda yang membuatnya menderita hanya dengan satu pertemuan.

Pintu terbuka, seorang perempuan berwajah bulat muncul dengan rambut tertutup selendang dan pakaian yang kotor.

"Kami tidak membeli apa pun. Terima kasih," ucapnya lalu membanting pintu.

Terkejut dengan kejadian barusan, si pria muda meringis geli. Ia mengetuk pintu sekali lagi. Kali ini ia mendengar suara perempuan tadi berteriak menyuruh seseorang untuk membuka pintu.

Seorang gadis berpipi tembam muncul. Ia memperhatikan si pria muda dari atas ke bawah. Seorang lagi muncul, gadis yang wajahnya mirip dengan gadis yang pertama. Ia juga melakukan hal yang sama. Kedua gadis yang bisa dipastikan kembar itu saling menatap kemudian melihat ke arah si pria muda dan serempak membuka mulut mereka.

"Elric!" seru keduanya.

Si pria muda terkejut hingga mundur satu langkah. Kedua gadis kembar ini pasti Clarice dan Clemence Grantea. Elric hendak membuka mulutnya tapi kedua gadis itu sudah mengapit dan menariknya ke dalam rumah.

Keduanya berbicara bersamaan kepada perempuan yg tadi membanting pintu.

"Ibu, ini Elric. Dia yang berdansa dengan Emune di Perayaan Ulrych."

Ibu si kembar langsung berdiri dan merapikan dirinya.

"Apa Anda yang tadi kubantingkan pintu? Oh maaf, saya tidak bermaksud tidak sopan."

"Saya tidak bermaksud mengganggu." Elric tersenyum tipis.

"Silahkan duduk.” Ucap Mary Grantea. “Akhir-akhir ini banyak orang asing berkeliaran. Bukan para pedagang yang biasa mendatangi Ulrych. Kemarin ada yang datang ke rumah tetangga kami. Saat mengambilkan air minum yang diminta, tahu-tahu orang itu sudah ada di kamarnya, membongkar laci-laci dan lemari. Kepala desa mengingatkan agar warga berhati-hati pada semua orang asing."

"Saya rasa begitu. Pantas saja orang-orang melihat saya tadi," ucap Elric.

"Itu karena kau tampan," celetuk si kembar disertai cekikikan.

"Huss, kalian ini berisik," tegur ibu mereka. "Ada yg bisa kami bantu?"

"Saya mencari Emune. Apa dia ada di rumah?" tanya Elric.

"Emune tidak ada d rumah. Dia tidak memberitahumu?" tanya Mary Grantea.

"Tidak. Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Elric dengan nada cemas yg disembunyikan.

"Emune dalam perjalanan ke Alder, rumah ayahnya. Ia berangkat pagi buta setelah Perayaan Ulrych." Mary Grantea menjelaskan. Ia sedikit heran karena Emune tidak memberi tahu pria muda yang  tampan itu tentang kepergiannya ke Alder.

Elric diam sesaat. Bagaimana bisa malam itu Emune tidak mengatakan apa pun soal rencananya ke Alder? "Emune akan kembali?"

"Tidak, ia berencana menetap dan akan mengelola tanah warisan ayahnya."

"Dengan siapa dia pergi?" tanya Elric heran.

"Rombongan pedagang yang dipimpin oleh Ronald. Kemungkinan mereka sudah keluar dari Tighourt." Mary Grantea membaca ketertarikan di suara Elric. Aha! Emune, Bibi berani bertaruh kalau pemuda tampan ini akan mengejarmu sampai ke ujung langit sekalipun.

"Terima kasih. Saya sebaiknya pergi sekarang."

"Anda akan menyusul Emune?" tanya Clarice.

"Dia pasti senang sekali kalau bisa bertemu lagi denganmu," Clemence menambahkan.

"Ya. Saya akan menyusulnya. Oh iya, ini untuk kalian," ucap Elric. Ia menyerahkan kantong kecil yang setengahnya terisi sesuatu. "Saya rasa kalian memerlukan ini. Saya berhutang pada Emune malam itu. Jangan khawatir, saya akan membayarnya langsung saat bertemu dengannya. Sampai jumpa."

Elric keluar dari rumah lalu menaiki kudanya. Ia mengangguk pada tiga perempuan Grantea yang berdiri di depan pintu mengantar kepergiannya.

Mary Grantea dan putri kembarnya masuk dan mengunci pintu rumah. Ia duduk di bangku dan membuka kantong kecil itu. Alangkah terkejutnya mereka bertiga saat melihat begitu banyak keping perak dan beberapa keping emas di dalam kantong itu.

Elric berkuda keluar dari alun-alun Ulrych. Ia menuju belokan jalan tempat ketiga temannya menunggu. Sorak-sorai terdengar saat derap kuda Elric terdengar dan kepulan debu mengikuti di belakangnya.

"Selamat datang wahai kekasih tercinta. Kukejar matahari demi menemukan ...." Lagu sambutan ketiga pria yang saling rangkul sambil berdansa terhenti saat melihat Elric datang sendiri.

"Mana gadismu?"

"Kau ditolak ya? Wah, Elric ditolak perempuan Ulrych!"

"Sudah kubilang cari perempuan di Imperia saja. Kau memaksa untuk kemari."

"Elric yang malang ...."

Elric menyeringai. "Perempuanku dalam perjalanan ke Alder. Karena kalian adalah sahabatku yang setia dan sangat perhatian, kalian akan menemaniku ke Alder." Elric tersenyum jahil. "Oh, aku rasa gadis-gadis di Eimersun harus bersabar menunggu kalian kembali."

Elric berkedip pada tiga pria yang sekarang terbengong-bengong. Mereka ribut mengomel dan meneriakkan protes pada Elric tapi terlambat, Elric sudah berkuda jauh di depan sana.

Alder, tempat yang sangat jauh. Butuh sekitar dua minggu berkuda dan dengan kereta kuda bisa jadi tiga minggu. Elric mengkhawatirkan Emune yang akan menempuh rute berbahaya menuju Alder.

Perampokan yang terjadi di wilayah Arsyna masih dalam penanganan pasukan kerajaan. Para perampok ini sangat lihai. Mereka membantai tanpa ampun lalu menghilang. Elric tidak mau Emune celaka. Ia harus segera menemukannya.

Dalam situasi tidak aman seperti ini, para pedagang pasti akan menghindari perjalanan malam hari. Semoga rombongan yang diikuti Emune cukup bijak untuk melakukannya, dengan begitu ia bisa menyusul mereka. Elric rasanya ingin segera sampai di Tighourt secepatnya tapi mereka berempat baru saja tiba dari Kota Ghant di barat Ulrych, mereka butuh istirahat begitu juga kuda-kuda mereka.

Elric tidak ingin merepotkan sahabat-sahabatnya tapi ia yakin ketiganya tidak akan mau membiarkannya mengejar Emune sendirian dan kembali ke Eimersun tanpanya. Mereka akan bermalam di desa terdekat yang bisa mereka capai sore ini lalu melanjutkan perjalanan besok pagi. Semoga bisa menjumpainya, harap Elric.

Pikiran Elric tertuju pada Emune. Gadis cantik yang lugu itu pasti sudah gila. Kenapa tiba-tiba dia memutuskan untuk kembali ke Alder dan meninggalkan kedamaian Ulrych? Tidak banyak yang diketahuinya tentang Emune tapi seorang gadis tinggal sendiri di perbukitan Alder sama saja bunuh diri. Kehidupan di sana sangat keras dan seorang perempuan memerlukan laki-laki untuk melindunginya.

Malam itu ia mencium bibir Emune. Ia memang terdengar kasar dan mendominasi saat mengatakan bahwa Emune adalah perempuannya tapi ia bersungguh-sungguh. Ia memilih Emune di antara banyak gadis di perayaan itu. Satu-satunya yang terlihat bersinar dan sangat 'hidup'.

Emune ceria, bersemangat dan lucu. Elric tidak bosan berlama-lama dengannya. Seandainya malam itu mereka tidak harus berangkat ke Ghant, ia dengan senang hati akan duduk manis di samping Emune dan mendengarkan ceritanya. Ia tidak pernah semanis itu pada seorang gadis sebelumnya.

Kedatangannya kali ini ke Ulrych adalah untuk membuat ikatan. Semacam pertunangan, tanpa upacara khusus, hanya janji antara lelaki dan perempuan yang saling menyukai dan bersedia menjaga kesetiaan. Ia sudah menyiapkan sebuah kalung untuk Emune.

Malam itu ia melihat Emune tidak mengenakan perhiasan emas maupun perak. Hanya sebuah gelang kulit yang melingkar di pergelangan tangannya. Jika dia memang tidak suka tampil dengan perhiasan maka kalung adalah pilihan yang sempurna karena dapat dipakai dan disembunyikan di balik pakaian.

Keputusan ini dianggap terlalu terburu-buru oleh sahabat-sahabatnya tapi mereka mendukung Elric. Mungkin karena ini pertama kalinya Elric terlihat bersemangat saat berbicara tentang seorang perempuan.

"Kita tidak bisa sampai sebelum malam di desa terdekat. Bagaimana kalau bermalam di bukit itu?" Elric berbicara kepada satu-satunya sahabatnya yang memelihara kumis dan cambang, Alfred.

"Kita bisa berteduh di ceruk itu. Angin agak kencang malam ini." Alfred menunjuk ceruk yang ia maksud.

Elric dan Alfred memacu kuda mereka meninggalkan jalan utama, menaiki kaki bukit di sebelah kiri. Ceruk yang ditunjuk Alfred cukup dalam, hampir seperti gua. Di belakang, dua sahabat mereka, Sean dan Aiden, mengikuti sambil memeriksa sekeliling.

Empat ekor kuda dibiarkan berkeliaran di sekitar ceruk. Mereka bisa makan rumput segar di perbukitan dan beristirahat malam ini. Sementara itu keempat penunggangnya membagi diri menjadi dua kelompok agar mereka bisa beristirahat dan berjaga bergiliran.

Api unggun kecil menyala menerangi sekitar. Bayang-bayang pepohonan yang tertiup angin terlihat seperti menari. Elric dan Alfred mengambil giliran berjaga pertama. Elric tidak akan bisa tidur karena memikirkan Emune. Kemarin mereka berpapasan dengan pasukan kerajaan yang mengejar para perampok ke barat Arsyna. Kemungkinan mereka baru saja dari Tighourt.

Elric memainkan ranting kayu. Ia mengguratkan ujung ranting ke tanah berkali-kali. Alfred tertawa melihat Elric menuliskan nama Emune di tanah.

"Kau sungguh-sungguh terjebak cinta, Tuan Muda," ucap Alfred.

Elric ingin menghapus goresan itu tapi mengurungkannya. "Kau pernah seperti ini?"

"Nah, seingatku tidak sampai menuliskan namanya di tanah," jawab Alfred.

"Hei, aku masih muda. Ini berbeda dengan romansa pria empat puluhan tahun." Elric menyeringai.

"Hahaha, aku sedang membayangkan apa reaksi ayahmu jika melihatmu seperti ini." Alfred tertawa.

Elric menyeringai. "Aku tidak mau memikirkannya."

"Jangan cemas, rombongan pedagang adalah orang-orang yang cerdas dan penyintas yang tidak bisa dianggap enteng. Emune pasti baik-baik saja," ucap Alfred berusaha menenangkan Elric.

Alfred tiba-tiba memberi tanda untuk diam kepada Elric. Elric waspada. Setelah mendapat tanda untuk membangunkan yang lain, ia mendekati Sean dan Aiden yang setengah tertidur. Ia menepuk keduanya pelan lalu memastikan mereka melihatnya memberi tanda untuk diam. Sean dan Aiden meraih senjata mereka, bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tujuh orang berpakaian hitam bermunculan mengepung mereka. Dari gerak-geriknya saja sudah jelas mereka bukan orang baik-baik.

"Katakan mau kalian agar kalian tidak mati penasaran!" seru Alfred.

Orang-orang berbaju hitam itu tidak menjawab. Masing-masing mengeluarkan senjata andalannya. Pedang, kapak, rantai berbandul besi berat siap menghantam lawan. Mereka bergerak beraturan, mengancam dan akan menyerang.

Alfred tahu mereka kalah dari segi jumlah tapi ia yakin kemampuan bertarung mereka berempat bisa mengalahkan penyerang mereka. Tiga anak muda yang bersamanya sangat terlatih menghadapi serangan baik di saat terang maupun gelap. Tidak menunggu lebih lama, Alfred memulai serangan dengan satu raungan keras. Penjahat biasa akan lari terbirit-birit mendengarnya tapi melihat para penyerangnya yang tidak gentar sedikitpun, ia tahu siapa yang sedang mereka hadapi.

Elric, Sean dan Aiden tidak tinggal diam. Keheningan malam pecah oleh suara teriakan dan senjata yang beradu. Pertarungan hidup mati pun tidak terelakkan.

Ketika jumlah masing-masing kubu sudah seimbang, Elric berteriak menyuruh lawannya untuk menyerah tapi tidak dipedulikan. Elric menangkis dan menyerang tanpa ragu. Lawannya tersungkur setelah sebuah tebasan fatal mengenai dadanya. Elric melihat yang lain bisa mengatasi lawan mereka jadi ia berjaga-jaga.

Tiba-tiba dari arah selatan sebuah anak panah menyambar lengan Aiden. Aiden terjatuh ke belakang namun segera berdiri dan menangkis serangan lawannya. Lengan kanannya yang terserempet anak panah terasa kebas. Ia harus segera menyelesaikan pertarungannya. Aiden bergerak cepat menangkis pedang lawannya, membungkuk lalu menusuk dadanya yang tidak terlindungi. Lawannya berlutut menjelang ajal, Aiden mencabut pedangnya.

Elric yang melihat anak panah tadi mengenai Aiden segera menyambar busur dan anak panah milik Sean. Busur dan anak panah bukanlah senjata pilihannya tapi di saat genting sangat berguna untuk menjatuhkan lawan yang ada di tempat jauh. Anak panah melesat menuju kegelapan dari busur yang dipegang oleh Elric. Tidak ada suara apa pun terdengar setelah itu.

"Kau mengenainya?" tanya Sean. Lawannya sudah terkulai tanpa nyawa di bawah bukit.

"Aku akan memeriksanya." Sean berjalan ke arah kudanya.

"Tunggu," cegah Alfred. "Kita tidak tahu berapa orang yang ada di sana." Alfred menarik kerah baju lawannya yang sudah tidak bisa bergerak. "Berapa orang yang datang bersamamu?"

Orang itu tidak menjawab. Alfred melepas kain yang menutupi wajahnya. Alfred mengerutkan kening melihat wajah pria itu yang memiliki tiga guratan luka diagonal dari kening ke ujung telinganya.

"Berapa orang yang kau bawa untuk menyerang kami?" tanya Alfred dingin. "Aku berjanji akan mempermudah kematianmu."

Pria itu menyeringai. Ia membuka mulutnya dan memperlihatkan lidahnya yang terpotong. Elric, Sean dan Aiden segera memeriksa mayat-mayat di sekitar mereka. Semuanya sama, seseorang sengaja memotong lidah mereka agar mereka tidak bisa berbicara. Alfred tidak berlama-lama, ia segera memenuhi janjinya pada lawannya, yaitu kematian yang cepat.

Aiden dan Sean menaiki kuda mereka dan bergegas memacunya ke arah anak panah yang dilepaskan oleh Elric. Mereka menemukan si pemanah telah mati, tertusuk tepat di lehernya. Setelah memeriksa mayat itu dan tidak menemukan apa pun yang bisa menunjukkan identitas maupun tujuannya menyerang mereka, Sean dan Aiden kembali ke ceruk.

Luka di lengan Aiden tidak parah, Alfred menggodanya dengan mengatakan bahwa bekas lukanya akan menarik para gadis. Aiden meringis karena ia yang  jadi olok-olokan sekarang. Malam yang berat telah mengawali perjalanan Elric untuk menemukan Emune, gadis yang dicintainya. Ia tidak menyerah meski itu berarti ia harus menghadapi banyak rintangan. Angin kencang bertiup membuat api unggun meredup lalu mati.

Malam masih merayap. Mentari masih lama baru muncul. Elric dan sahabat-sahabatnya mencoba beristirahat bergantian. Masih ada waktu untuk mengumpulkan tenaga.

Episodes
1 Ulrych
2 Urndie
3 Legenda Orsgadt
4 Kepedihan
5 Air Terjun Penyesalan
6 Gadis-Gadis Ceria
7 Kabar Duka
8 Keputusan Emune
9 Perayaan Ulrych
10 Malam Perpisahan
11 Menuju Alder
12 Tighourt
13 Zamrud
14 Kahurrseig
15 Di Kastil Berham
16 Sejarah Kelam
17 Voispir
18 Buku Ajaib
19 Elric
20 Kerusuhan di Darfin
21 Selamatkan Emune!
22 Proner
23 Galvei
24 Penguntit
25 Api dan Es
26 Eufrack Sialan!
27 Horeen
28 Farclere
29 Elric dan Emune
30 Toure
31 Keturunan Raja
32 Lengan, Pedang dan Belati
33 Petaka Hitam
34 Serangan
35 Di Tepi Hutan Dumina
36 Memasuki Hutan Dumina
37 Goenhrad
38 Putri Mahkota Orsgadt
39 Berlari dan Terbang
40 Suara-Suara Gaib
41 Selangkah Lagi
42 Memasuki Orsgadt
43 Olevander dan Ramalan Kuno
44 Amukan Peri
45 Sebelum Berpisah
46 Lingkaran Killgins
47 Duyung-Duyung Kigurst
48 Pilar Artamea
49 Di Eimersun
50 Sebelum Moughty
51 Gunung Moughty
52 Malam di Hutan Ajaib
53 Raja Peri Drav
54 Sekutu
55 Kehangatan Eimersun
56 Peta Kekuatan
57 Serangan
58 Angin Peperangan
59 Cinta dan Logika
60 Perang
61 Pengkhianat
62 Mundur
63 Kemenangan Kecil
64 Korta dan Anthura
65 Melawan Kekuatan Kegelapan
66 Sang Penyihir
67 Dendam dan Pengorbanan
68 Makhluk Hebat
69 Elzenthum
70 Inti Elzenthum
71 Mata Hati Goenhrad
72 Musuh Terakhir
73 Orsgadt Baru
74 Bangsawan Malfice
75 Cinta di Udara
76 Kedamaian
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Ulrych
2
Urndie
3
Legenda Orsgadt
4
Kepedihan
5
Air Terjun Penyesalan
6
Gadis-Gadis Ceria
7
Kabar Duka
8
Keputusan Emune
9
Perayaan Ulrych
10
Malam Perpisahan
11
Menuju Alder
12
Tighourt
13
Zamrud
14
Kahurrseig
15
Di Kastil Berham
16
Sejarah Kelam
17
Voispir
18
Buku Ajaib
19
Elric
20
Kerusuhan di Darfin
21
Selamatkan Emune!
22
Proner
23
Galvei
24
Penguntit
25
Api dan Es
26
Eufrack Sialan!
27
Horeen
28
Farclere
29
Elric dan Emune
30
Toure
31
Keturunan Raja
32
Lengan, Pedang dan Belati
33
Petaka Hitam
34
Serangan
35
Di Tepi Hutan Dumina
36
Memasuki Hutan Dumina
37
Goenhrad
38
Putri Mahkota Orsgadt
39
Berlari dan Terbang
40
Suara-Suara Gaib
41
Selangkah Lagi
42
Memasuki Orsgadt
43
Olevander dan Ramalan Kuno
44
Amukan Peri
45
Sebelum Berpisah
46
Lingkaran Killgins
47
Duyung-Duyung Kigurst
48
Pilar Artamea
49
Di Eimersun
50
Sebelum Moughty
51
Gunung Moughty
52
Malam di Hutan Ajaib
53
Raja Peri Drav
54
Sekutu
55
Kehangatan Eimersun
56
Peta Kekuatan
57
Serangan
58
Angin Peperangan
59
Cinta dan Logika
60
Perang
61
Pengkhianat
62
Mundur
63
Kemenangan Kecil
64
Korta dan Anthura
65
Melawan Kekuatan Kegelapan
66
Sang Penyihir
67
Dendam dan Pengorbanan
68
Makhluk Hebat
69
Elzenthum
70
Inti Elzenthum
71
Mata Hati Goenhrad
72
Musuh Terakhir
73
Orsgadt Baru
74
Bangsawan Malfice
75
Cinta di Udara
76
Kedamaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!