Air Terjun Penyesalan

Suara burung dan angin terdengar samar-samar di antara deburan air yang jatuh dari ketinggian lima puluh meter. Kolam alami di bawah air terjun itu cukup dalam dan berbahaya untuk diselami namun tepiannya yang dangkal menjadi tempat berendam yang nyaman di musim semi. Air Terjun Penyesalan, begitulah nama yang diberikan dan diteruskan dari generasi ke generasi.

Hampir setiap tempat di Ulrych punya legenda yang dipercayai oleh para penduduk. Gunung Pengasingan, Bukit Perpisahan dan Danau Patah Hati adalah tempat-tempat lain yang juga memiliki legenda sendiri.

“Sungguh menyedihkan. Nama-nama sedih itu membuatku patah hati. Seharusnya mereka ganti saja nama air terjun ini jadi ‘Air Terjun Pelangi’ atau ‘Air Terjun Kebahagiaan’. Coba pikir, keindahan alam ini rasanya sia-sia jika disandingkan dengan nama ‘Air Terjun Penyesalan’,” celoteh Daniea. Rambutnya yang berwarna keemasan dijalin rapi di bagian depan. Ia sedang memperhatikan bayangannya yang ada di permukaan air. “Aku rasa mataku terlalu besar hingga para pemuda enggan mendekatiku,” gumamnya.

“Tidak ada yang salah dengan matamu. Mereka hanya tidak melihat betapa cantiknya hatimu,” sahut Mineda. Ia mengambir sebuah batu kecil dan melemparnya tepat mengenai bayang Daniea. Daniea menjerit karena air terciprat ke wajah dan pakaiannya.

Daniea menggeram marah. Tanpa berpikir panjang ia masuk ke dalam air dan menarik Mineda. Mineda menjerit, terkejut karena ia tahu-tahu sudah ada di dalam kolam dan tentu saja basah. Keduanya saling siram tanpa mempedulikan tubuh dan pakaian lengkap mereka yang kini basah kuyup. Rambut hitam Mineda yang tidak dijalin jadi awut-awutan.

“Kau! Coba lihat yang kau lakukan.”

“Oh ayolah, kita ada di air terjun jadi kita harus bermain air.”

Sesosok perempuan berdiri sambil berkacak pinggang di tepi kolam. Ia memakai pakaian renang yang tampak seperti gaun mini. Rambutnya berkibar terkena angin.

“Kalian melupakanku!” serunya kencang. Ia ingin menyaingi suara air terjun itu.

Daniea dan Mineda menoleh dan berseru gembira, “Emune!”

Emune datang belakangan karena ia harus menggantikan Clarice mengumpulkan telur-telur ayam. Bibi Mary sudah menyuruhnya pergi menemui Mineda dan Daniea tapi Emune berkeras untuk membantu.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Kenapa mereka tidak bisa seperti kau yang manis dan rajin membantu? Bertengkar sampai saling dorong dan terluka. Apa mereka tidak punya hal lain untuk diributkan? Aku akan sangat bahagia kalau mereka segera menikah tapi aku juga akan sangat kasihan pada suami mereka. Mungkin aku kurang keras pada mereka. Bagaimana menurutmu, Emune?” tanya Bibi Mary di akhir omelannya.

Emune meringis, “Aku rasa Bibi sudah cukup tegas pada mereka,” jawabnya.

“Ah Emune, tolong kumpulkan telur-telur ayam setelah itu susul teman-temanmu. Mereka pasti sudah menunggu.”

Akhirnya Emune selesai dengan telur-telur dan ia melesat pergi ke arah air terjun. Pagi ini penduduk desa mulai membersihkan dan menghias alun-alun. Perayaan desa memang masih satu hari lagi tapi karena banyaknya pengunjung dari desa-desa tetangga, mereka bersiap lebih awal.

“Apa kau akan diam saja di sana?” teriak Daniea dari dalam kolam.

Emune melompat masuk ke air. Ia bergabung dengan kedua temannya. Mereka seperti peri-peri penguasa air terjun. Jika ada orang asing yang lewat dan melihat mereka, ia pasti mengira mereka benar-benar peri. Ketiganya cantik dan berperawakan tinggi langsing. Daniea dan Mineda menepi sebentar untuk melepas gaun mereka yang basah kuyup di bebatuan di tepi kolam agar bisa mereka pakai saat pulang.

“Emune, jangan ke tengah. Terlalu dalam di sana,” Mineda mengingatkan Emune yang berenang semakin ke tengah.

“Aku tidak ke tengah. Di sini saja. Punggungku terasa nyaman saat kaki tak menyentuh dasar kolam.”

“Sepertinya seru. Aku akan mencobanya,” ucap Daniea.

Daniea berenang diikuti Mineda. Ketiganya kini sibuk berceloteh dan tertawa riang. Setiap bulan mereka selalu menyempatkan untuk piknik dan berenang di tempat ini. Mereka menyukai tempat ini karena selalu sepi. Sebenarnya para gadis tidak diperbolehkan datang ke tempat ini karena akan membawa sial namun Emune dan teman-temannya tidak peduli. Mereka sudah sangat sering bermain di sini dan tidak ada hal buruk yang terjadi. Ketiganya percaya bahwa itu hanya khayalan penduduk desa belaka.

Setelah beberapa saat, mereka lelah juga bermain di air. Ketiganya keluar dari kolam dan berjemur di bawah sinar matahari. Pakaian Mineda dan Daniea belum kering jadi mereka harus bersabar berjemur lebih lama dengan pakaian renang yang mereka kenakan saat ini.

“Aku tidak tahu denganmu tapi aku merasa sangat mengantuk,” gumam Mineda.

“Aku juga. Aku rasa sebaiknya kita berjemur di sebelah sana. Emune, kau ikut?”

“Aku akan ganti pakaian dan menunggu kalian di sini.”

Emune menatap punggung kedua temannya yang sedang mencari tempat berjemur. Ia tersenyum melihat keduanya menghamparkan sebuah kain lalu berbaring di bawah sinar matahari yang tidak terlalu terik. Ia sendiri segera mengganti pakaian renangnya. Walaupun tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain selain mereka bertiga, Emune menggunakan sehelai kain untuk menutupi tubuhnya.

Emune memeriksa kedua temannya yang sedang berjemur. Ia tertawa geli, mereka tertidur pulas. Setelah yakin keduanya aman, Emune kembali ke tempat semula. Ia meneguk air madu dari botol kulit perbekalan mereka. Ia juga merasa sedikit mengantuk tadi tapi air madu itu membuat kantuknya hilang. Ada sepotong keju dan apel pemberian Urndie kemarin. Ia berjanji akan membaginya dengan yang lain. Mereka harus merasakan kelezatan apel dari Imperia.

Emune melepas jalinan rambutnya. Ia mencari sisir namun tidak bisa ia temukan. Emune menggunakan permukaan air kolam sebagai cermin. Jari-jarinya menyisir rambut panjang berwarna coklat. Bibi Mary sering mengatakan bahwa rambutnya sangat indah. Bibi Mary juga mengajarinya membuat jalinan rambut sederhana saat ia berusia sembilan tahun. Ia masih menyukai jalinan itu sampai hari ini.

Di atas permukaan air, Emune melihat bentuk wajahnya yang oval. Rambut coklatnya sudah terjalin rapi dan ia sampirkan di bahu kiri. Alisnya tumbuh rapi dan melengkung membentuk karakter wajahnya. Matanya terlihat biasa-biasa saja, warna coklat yang lebih tua dari warna rambutnya. Hidungnya mancung, sama seperti wanita-wanita lain di desa. Lalu Emune melihat ke arah bibirnya. Tanpa sadar ia menyentuhnya.

Semenjak tinggal dengan Paman dan Bibi, ia perlahan bisa menerima kepergian ayahnya. Sampai saat ini Emune tidak tahu alasan kepergian ayahnya. Paman Henry dan Bibi Mary juga tidak pernah membicarakannya. Tidak padanya dan tidak pada orang lain.

Emune bertanya dalam hati, apakah ia mirip dengan ibunya? Ia tidak tahu ibunya seperti apa. Apakah ia sehangat dan selembut Bibi Mary? Ayahnya tidak pernah bercerita tentang ibunya. Sudah meninggal, kata ayahnya saat itu dengan wajah sedih. Emune tidak mau melihat Ayahnya bersedih jadi ia tidak pernah lagi bertanya tentang ibunya.

Emune Steggar, nama lengkapnya. Kenangan masa kecil selalu membuncah di benaknya setiap kali nama itu ia sebut dalam hati. Pegunungan Alder di utara Arsyna adalah tempat ia dibesarkan. Ayahnya menjadi penggembala dan berburu binatang liar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sepetak tanah menjadi kebanggaan dan kebahagiaan kecil mereka. Emune menyayangi ayahnya. Ayahnya adalah lelaki yang kuat. Ia merawat Emune seorang diri dan selama itu pula ia tidak pernah mau untuk menikah lagi.

Emune tiba-tiba merasa sangat mengantuk. Matanya terasa berat, ia samar-samar bisa melihat air terjun yang terus jatuh menghantam permukaan kolam tapi telinganya tidak mendengar apapun. Setelah menguap tiga kali berturut-turut, ia membaringkan diri dan tertidur.

Dari ballik deretan batu besar, sosok hitam mendekati Emune yang tertidur lelap. Sosok itu menyingkap sebagian rambut yang menutupi wajah Emune. Ia mengamati wajah gadis itu tanpa berkedip. Tangannya meraih belati yang tersarung di pinggang, mengangkat belati itu tinggi-tinggi lalu menghunjamkannya.

Terpopuler

Comments

Dewi

Dewi

Jadi pengen makan keju itu juga

2023-09-05

0

Dewi

Dewi

Biasanya urban legend juga terlibat

2023-09-05

0

lihat semua
Episodes
1 Ulrych
2 Urndie
3 Legenda Orsgadt
4 Kepedihan
5 Air Terjun Penyesalan
6 Gadis-Gadis Ceria
7 Kabar Duka
8 Keputusan Emune
9 Perayaan Ulrych
10 Malam Perpisahan
11 Menuju Alder
12 Tighourt
13 Zamrud
14 Kahurrseig
15 Di Kastil Berham
16 Sejarah Kelam
17 Voispir
18 Buku Ajaib
19 Elric
20 Kerusuhan di Darfin
21 Selamatkan Emune!
22 Proner
23 Galvei
24 Penguntit
25 Api dan Es
26 Eufrack Sialan!
27 Horeen
28 Farclere
29 Elric dan Emune
30 Toure
31 Keturunan Raja
32 Lengan, Pedang dan Belati
33 Petaka Hitam
34 Serangan
35 Di Tepi Hutan Dumina
36 Memasuki Hutan Dumina
37 Goenhrad
38 Putri Mahkota Orsgadt
39 Berlari dan Terbang
40 Suara-Suara Gaib
41 Selangkah Lagi
42 Memasuki Orsgadt
43 Olevander dan Ramalan Kuno
44 Amukan Peri
45 Sebelum Berpisah
46 Lingkaran Killgins
47 Duyung-Duyung Kigurst
48 Pilar Artamea
49 Di Eimersun
50 Sebelum Moughty
51 Gunung Moughty
52 Malam di Hutan Ajaib
53 Raja Peri Drav
54 Sekutu
55 Kehangatan Eimersun
56 Peta Kekuatan
57 Serangan
58 Angin Peperangan
59 Cinta dan Logika
60 Perang
61 Pengkhianat
62 Mundur
63 Kemenangan Kecil
64 Korta dan Anthura
65 Melawan Kekuatan Kegelapan
66 Sang Penyihir
67 Dendam dan Pengorbanan
68 Makhluk Hebat
69 Elzenthum
70 Inti Elzenthum
71 Mata Hati Goenhrad
72 Musuh Terakhir
73 Orsgadt Baru
74 Bangsawan Malfice
75 Cinta di Udara
76 Kedamaian
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Ulrych
2
Urndie
3
Legenda Orsgadt
4
Kepedihan
5
Air Terjun Penyesalan
6
Gadis-Gadis Ceria
7
Kabar Duka
8
Keputusan Emune
9
Perayaan Ulrych
10
Malam Perpisahan
11
Menuju Alder
12
Tighourt
13
Zamrud
14
Kahurrseig
15
Di Kastil Berham
16
Sejarah Kelam
17
Voispir
18
Buku Ajaib
19
Elric
20
Kerusuhan di Darfin
21
Selamatkan Emune!
22
Proner
23
Galvei
24
Penguntit
25
Api dan Es
26
Eufrack Sialan!
27
Horeen
28
Farclere
29
Elric dan Emune
30
Toure
31
Keturunan Raja
32
Lengan, Pedang dan Belati
33
Petaka Hitam
34
Serangan
35
Di Tepi Hutan Dumina
36
Memasuki Hutan Dumina
37
Goenhrad
38
Putri Mahkota Orsgadt
39
Berlari dan Terbang
40
Suara-Suara Gaib
41
Selangkah Lagi
42
Memasuki Orsgadt
43
Olevander dan Ramalan Kuno
44
Amukan Peri
45
Sebelum Berpisah
46
Lingkaran Killgins
47
Duyung-Duyung Kigurst
48
Pilar Artamea
49
Di Eimersun
50
Sebelum Moughty
51
Gunung Moughty
52
Malam di Hutan Ajaib
53
Raja Peri Drav
54
Sekutu
55
Kehangatan Eimersun
56
Peta Kekuatan
57
Serangan
58
Angin Peperangan
59
Cinta dan Logika
60
Perang
61
Pengkhianat
62
Mundur
63
Kemenangan Kecil
64
Korta dan Anthura
65
Melawan Kekuatan Kegelapan
66
Sang Penyihir
67
Dendam dan Pengorbanan
68
Makhluk Hebat
69
Elzenthum
70
Inti Elzenthum
71
Mata Hati Goenhrad
72
Musuh Terakhir
73
Orsgadt Baru
74
Bangsawan Malfice
75
Cinta di Udara
76
Kedamaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!