Deretan kereta kuda di luar alun-alun menandakan bahwa kemeriahan Perayaan Ulrych sudah dimulai. Musik dan tari-tarian sudah dimulai sejak sore. Berbagai permainan dan stan pedagang telah ramai oleh pengunjung.
Perayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun sebagai tanda syukur pada kedamaian dan hasil bumi yang melimpah. Konon sang raja dulu sering menyempatkan hadir di perayaan ini namun setelah terjadi usaha pembunuhan sekitar lima tahun yang lalu, sang raja tidak lagi datang ke Ulrych maupun tampil di tempat umum.
Urutan perayaan dimulai dari mengheningkan cipta sebelum matahari terbenam, yaitu saat semua orang akan berdiri menatap langit yang berubah warna. Begitu gelap, tiga api unggun besar di luar alun-alun akan dinyalakan. Obor-obor akan dibawa berkeliling oleh para pemuda untuk diletakkan di tiang-tiang penerangan di sekeliling alun-alun. Adapun para gadis masing-masing membawa lilin menyala yang nantinya akan diletakkan di tepian air mancur.
Acara selanjutnya adalah pesta dansa. Hanya pria dan wanita lajang yang boleh menari di lingkaran air mancur. Penduduk desa percaya bahwa jika orang yang menikah menari di lingkaran itu, ia akan mendapat kesukaran hidup.
Sore itu Thomas, Clarice dan Clemence kembali dari rumah sepupu mereka. Mereka senang sekali melihat keramaian. Ketiganya ingin langsung membaur namun ibu mereka sudah mengingatkan untuk pulang ke rumah dulu.
Rumah masih sama saja, anak pungut itu masih ada, gerutu Thomas dalam hati. Ia akan melakukan sesuatu agar anak pungut itu malu seumur hidupnya, pikir Thomas. Ia sibuk membuat rencana jahat untuk Emune sampai tidak sadar kalau Emune sedang melewatinya.
“Mana anak pungut itu? Suruh dia angkat semua barang-barang ke dalam rumah,” Thomas mulai ingin menyerang Emune.
“Dia sudah pergi. Kau tidak melihatnya melewatimu?” sahut Clemence.
“Apa?” Thomas menghentak-hentakkan kakinya. Ia ingin mengamuk rasanya.
“Angkat sendiri barang-barang kalian dan jangan ada yang coba-coba mengganggu Emune,” tegas ayah mereka.
Ketiga anak tengil itu terbengong-bengong. Tidak biasanya Ayah mereka berbicara tegas seperti itu dan jika sampai terjadi maka siapa pun yang melanggarnya akan mendapat bencana. Thomas mendorong adik-adiknya keluar rumah. Barang-barang yang mereka bawa sangat banyak. Sebagian besar titipan untuk ibu mereka. Sambil mendesah ketiganya bergiliran mengangkut barang-barang itu ke dalam rumah.
Tiba di rumah Daniea, Emune menceritakan tentang ayahnya dan rencana perjalanannya kembali ke Alder. Mineda dan Daniea menangis tersedu-sedu. Daniea memintanya untuk tinggal.
“Tinggal di sini saja, di rumahku. Ayah dan Ibu tidak keberatan. Kau pasti Lelah terus-menerus dijahati oleh Thomas dan adik-adiknya bukan? Aku akan senang sekali punya saudara perempuan sepertimu, Emune.” Mineda mendesah sedih karena nasib tragis Emune.
“Coba pertimbangkan lagi. Kau juga bisa tinggal di rumahku. Kau tahu kan kalau keluargaku menyayangimu. Nenek akan senang kalau kau tinggal bersama kami.” Mata Daniea berbinar menunjukkan kegembiraannya jika Emune mau tinggal bersamanya.
Emune menggenggam tangan teman-temannya. Ia tahu bagaimana sakitnya saat ditinggalkan ayahnya dulu namun situasinya tidak semudah yang mereka kira.
“Aku menyayangi keluarga angkatku. Meskipun Thomas dan si kembar sering mengganggu tapi paman dan Bibi sangat baik. Aku juga menyayangi kalian. Keluarga kalian sangat baik padaku. Aku ingin kembali ke Alder karena itu satu-satunya tempat milik keluargaku. Kumohon mengertilah. Hanya aku penerus mereka.”
“Apa kau sanggup tinggal sendiri di pegunungan itu? Apa kau bisa bertahan hidup tanpa dibantu orang lain?” tanya Mineda.
Daniea memekik, “Oh, aku tidak bisa membayangkannya!”
“Aku tidak sendiri. Ada desa kecil di kaki gunung. Tuan Arrand bilang ia menitipkan rumah pada salah seorang penduduk desa. Tuan Arrand juga akan membantuku membuat ladang dan beternak seperti di sini.”
“Emune … bagaimana jika ada yang jahat padamu. Tidak ada laki-laki yang menjagamu di sana,” ucap Daniea penuh nada cemas.
“Aku kenal beberapa penduduk di sana. Aku ingin mencobanya. Aku ingin merawat warisan keluargaku.” Emune berbicara denagn nada yakin.
Mineda menghapus air matanya. Dia sangat yakin bahwa tekad Emune sudah bulat. Emune bukan gadis lemah jadi ia akan berjuang keras untuk cita-citanya.
“Baiklah, aku akan beranggapan bahwa kau sudah siap menghadapi apapun saat pergi dari sini, Emune. Jika kau berubah pikiran, jika terjadi sesuatu, kembalilah. Berjanjilah untuk mengabari kami.”
“Kau harus berjanji, Emune,” Daniea menuntut pada Emune.
“Aku berjanji. Oh, aku sangat menyayangi kalian,” ucap Emune. “Bisakah kita pergi ke perayaan malam ini? Jangan melihatku dengan tatapan sedih selama pesta nanti.”
“Tentu saja. Kami berjanji. Ayo berganti pakaian. Para pemuda dari desa lain pasti sudah berdatangan,” ucap Mineda.
“Ya! Bergembira malam ini!” seru Daniea.
“Bergembira malam ini!” sahut Emune.
Emune dan teman-temannya tiba di alun-alun tepat saat pembukaan akan dimulai. Mereka membaur di antara orang-orang yang telah berdiri, siap mengheningkan cipta. Suara tiupan cangkang kerang terdengar keras sebagai tanda dimulainya mengheningkan cipta.
Semua orang menengadah ke arah matahari terbenam. Semburat matahari yang berubah dari kuning terang hingga akhirnya semakin gelap membawa suasana mistis. Ketika langit benar-benar gelap, suara tiupan cangkang kerrang terdengar lagi.
Tiga api unggun di luar alun-alun dinyalakan bersamaan. Derak suara kayu yang terbakar dan tarian api yang tertiup angin menambah antusias semua orang. Muda-mudi yang bertugas membawa obor dan lilin telah berbaris rapi. Semua orang menepi memberi jalan bagi dua rombongan itu.
Emune, Mineda dan Daniea sangat gembira. Prosesi ini memang sangat layak ditunggu. Satu per satu obor diletakkan pada tiangnya dan alun-alun menjadi terang benderang. Lilin-lilin juga sudah tertata rapi di tepi air mancur.
Muda-mudi tadi kini berhadap-hadapan, bersiap untuk membuka pesta dansa. Musik riang memenuhi udara, mengiringi mereka pasangan-pasangan muda yang berdansa. Awalnya hanya rombongan pembuka, lama-kelamaan muda-mudi lain bertambah banyak yang masuk ke lingkaran.
“Maukah berdansa denganku, Nona?” tanya seseorang pada Daniea.
Seorang pemuda menyapa Daniea. Daniea kebingungan melihat pada Emune dan Mineda seakan meminta pendapat mereka. Mineda dan Emune tentu saja mengangguk-angguk setuju.
“Tentu,” jawab Daniea. Keduanya mendekat ke dalam lingkaran dan mulai berdansa. Emune dan Mineda memandang iri sekaligus bahagia. Sekarang keduanya harus bersabar menanti giliran mereka.
Tak lama kemudian, seorang pemuda yang mereka kenal, Oliver, mengajak Mineda berdansa. Emune senang sekali, ia mendorong Mineda agar mendekat pada Oliver. Setelah keduanya masuk ke lingkaran, Emune tinggal sendiri. Ia tidak tahu apakah ada yang akan mengajaknya berdansa malam ini tapi ia sudah lebih dari bahagia saat melihat kedua temannya yang berdansa sambil tersenyum bahagia bersama pasangan masing-masing.
Emune mundur pelan-pelan menjauhi kerumunan dan terhenti saat seseorang tiba-tiba muncul di hadapannya. Thomas! Apa? Jangan bilang kalau dia mau mengajakku berdansa, pikir Emune. Dia akan senang hati berdansa dengan pria mana pun selain Thomas.
“Kau pikir aku mau mengajakmu berdansa? Jangan mimpi. Untuk apa akau berdansa dengan anak pungut sepertimu? Seperti tidak ada gadis lain saja.” Thomas mengeje sambil merapikan pakaiannya.
“Aku juga tidak berniat untuk berdansa denganmu,” sahut Emune ketus. Ia membalik badannya ingin menjauhi pria menyebalkan ini tapi lengannya dicengkeram oleh Thomas. “Lepaskan! Kau menyakitiku.”
Clarice dan Clemence yang melihat kejadian itu segera mendekat.
“Thomas, apa yang kau lakukan?” tanya Clarice.
“Ayah sudah mengingatkan ….” Clemence meringis.
“Diam! Jangan ikut campur. Aku akan membuatnya menyesal pernah datang ke keluarga Grantea.” Thomas terus menarik tangan Emune.
“Thomas, lepaskan aku! Lepaskan atau ….”
“Atau apa? Kau akan memanggil ayahmu yang sudah mati untuk menolongmu? Kasihan, dia sudah mati. Sia-sia kau menunggunya. Dia tidak pernah peduli padamu!” Thomas dengan kasar menarik Emune hingga wajah mereka hampir menempel.
“Thomas,” desis Emune. Lengannya terasa perih. Dia ingin terbebas dari pemuda jahat itu. Teganya ia berkata seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments