Belati itu melesak ke tanah di sebelah kiri kepala Emune. Seekor kalajengking beracun mati tertusuk di ujung pisau. Kalajengking itu bergerak-gerak sesaat meregang nyawa lalu diam. Sosok itu melepaskan kalajengking yang sudah mati dan melemparnya ke arah semak-semak.
Sosok hitam itu menunduk di belakang Emune dan mulai membongkar tas kecil milik Emune. Ia sepertinya tidak menemukan yang dicarinya. Sosok itu bergegas pergi ketika mendengar suara dari tempat Daniea dan Mineda berjemur sambil tidur.
Mineda yang terbangun lebih dulu. Ia membuka matanya dan melihat Daniea masih tidur. Kepalanya terasa berat tapi haus dan lapar memaksanya untuk duduk. Pakaiannya yang basah kuyup sudah kering sempurna begitu juga badannya. Sambil bersila bahu Dania diguncangnya pelan.
“Daniea, bangun.”
Daniea hanya menguap sebagai jawaban. Ia membalik badannya memunggungi Mineda. Mineda menepuk pantat Daniea sambil terus berkata “bangun,bangun,bangun” di telinga temannya itu sampai akhirnya Daniea membuka matanya dan mencoba duduk.
“Oh…aku pasti tertidur lama sekali.” Ia melihat mineda memamerkan seringai nakalnya. “Ya, seperti batu tapi mengorok,” goda Mineda. Daniea melotot, “Aku tidak mengorok. Sangat tidak sopan kalau seorang gadis sampai tidur mengerok,” protesnya.
Mineda tertawa. Ia bangkit meninggalkan Daniea yang masih cemberut.
“Aku tidak mengorok bukan?” tanya Daniea lagi dengan suara lebih kencang. Mineda tidak menjawabnya. Ia sudah setengah sampai ke tempat Emune berada. Daniea bangun terhuyung-huyung. Sambil menguap tangannya menyambar kain yang jadi alas tidur kemudian berjalan ke tempat Emune.
“Coba lihat, Emune tertidur lelap. Bagaimana kalau kita hias wajahnya dengan arang kayu?”
“Kau ini nakal sekali. Hari sudah sore dan kita melewatkan makan siang. Pantas saja aku lapar sekali.”
“Emune tidak biasanya tidur seperti ini. Pasti karena berendam lama,” ucap Mineda. Ia mengguncang bahu Emune. Emune tidak bergerak sama sekali. Mineda mengguncangnya lagi. Masih tidak ada respon dari Emune.
“Kenapa Emune tidak bergerak?” tanya Daniea. Ia melepaskan kantung airnya begitu saja. Daniea mencoba merasakan nafas Emune dengan meletakkan punggung tangan di depan hidung Emune. Ia menghela nafas, “Dia cuma tertidur pulas,” ucapnya lega.
Sambil menunggu Emune bangun, kedua gadis itu berganti pakaian dan minum air madu. Mereka merasa lebih segar sekarang. Mineda sudah meletakkan semua bekal di atas alas duduk mereka. Roti, mentega, keju dan buah-buahan terlihat begitu enak. Tepat ketika Daniea menggigit rotinya, Emune bangun diiringi erangan. Sama seperti Mineda dan Daniea tadi, ia kelihatannya berat untuk membuka matanya.
Mineda menyodorkan cangkir kayu berisi air madu pada Emune. “Minumlah agar kau merasa lebih segar.”
Emune membuka mata, tersenyum pada Mineda. “Aku pasti ketiduran,” gumamnya sambil meraih cangkir lalu meneguk air madu. “Aaaah...enaaak. Secangkir lagi, kumohon,” pintanya.
Kedua temannya tertawa. Mereka seakan melihat perjuangan mereka mengusir kantuk saat melihat Emune. Ini pertama kalinya mereka semua tertidur sampai sore. Untung saja tidak ada yang mau datang ke air terjun ini selain mereka bertiga. Para penduduk terlalu takut tertimpa nasib sial seperti peri pada legenda Air Terjun Penyesalan.
“Sebaiknya kita makan bekal dulu lalu segera pulang. Aku masih mengantuk dan ingin tidur cepat malam ini.”
“Aku juga. Untuk pertama kalinya aku tidur lama tapi tidak bermimpi.”
“Kau selalu bermimpi dalam tidurmu?”
“Seingatku iya.”
“Apa saja yang muncul di mimpimu?”
“Macam-macam. Gunung, danau, bunga dan kelinci. Masih banyak lagi yang lain.”
“Apa? Hahaha, kalau kau memimpikan semua hal, kau bisa membuat buku tentang mimpimu dan memberikannya pada Urndie untuk tambahan koleksi perpustakaannya,” seloroh Mineda. Daniea sebal dan langsung melemparinya dengan sebutir anggur hijau.
Mendengar nama Urndie disebut, Emune merasa tengkuknya meremang. Ia ingat dan ia tidak akan pernah mengingkari janjinya pada Urndie. Kedua temannya ini sangat ia sayangi dan percaya tapi Urndie sudah memperingatkannya bahwa tidak boleh ada yang tahu tentang cerita Orsgadt, termasuk teman-temannya.
“Emune, kau sudah selesai?” tanya Daniea.
“Ah, iya. Aku sudah kenyang. Kita pulang sekarang?”
“Ayo, aku rasanya ingin segera berbaring di ranjangku.”
Ketiganya menyudahi piknik hari ini. Mereka berjalan beriringan sambil saling menggoda. Daniea memetik bunga-bunga liar lalu memasangkannya di rambut Mineda dan Emune. Dia sendiri lebih suka menggunakan dedaunan.
Mineda menggumamkan puisi Peri Therenia, legenda Air Terjun Penyesalan yang sejak dulu diceritakan oleh orang-orang tua pada anak-anaknya.
Bulan telah datang menyapa malam
Warnanya pucat seperti kesedihan kunang-kunang
Penghuni hutan terbuai oleh alam
Semua begitu damai dan tenang
Peri Therenia menangis menyesali pengkhianatannya
Geoffrey terkasih tak lagi mencintainya dengan sungguh
Ia lepaskan semua keinginannya
Lalu terciptalah air terjun di tempat ia terjatuh
“Tunggu, bagaimana dia bisa terjatuh? Dia seorang peri. Peri bisa terbang.”
“Apa ibumu tidak menceritakannya padamu, Daniea? Peri Therenia melepaskan semua keinginannya. Saat peri melakukan itu, dia akan kehilangan semua kekuatannya. Dia jatuh ke tanah kemudian tubuhnya lenyap. Sebagai gantinya, terciptalah sebuah air terjun.”
“Oh, baiklah. Aku rasa aku melewatkan bagian itu saat ibuku bercerita.”
Emune tertawa mendengar kedua temannya yang selalu saja ramai. Mineda yang sebaik ibu peri dan Daniea yang seramah putri dalam dongeng adalah teman terbaiknya. Emune bisa melupakan semua kesedihannya saat bersama mereka.
Langkah ketiganya terhenti oleh seorang perempuan berjubah merah yang memotong jalan mereka. Tutup kepalanya terbuka memperlihatkan rambut kemerahan yang digelung rapi.
“Nyonya Bretien! Anda mengejutkan kami!” seru Mineda
Nyonya Bretien mendengus. “Gadis-gadis nakal! Kaki-kaki kalian seharusnya diikat di rumah. Kalian seharusnya malu. Tidak ada yang boleh ke Air Terjun Penyesalan. Kalian akan dikutuk!” jeritnya sekuat tenaga. Matanya membelalak, kedua tangannya terangkat ke udara seakan-akan sedang mengumpulkan seluruh kekuatan dari langit.
Emune dan kedua temannya merapatkan diri. Rasa kantuk yang menyerang mereka sejak tadi tiba-tiba hilang berganti kepanikan. Ketiganya langsung ambil langkah seribu menjauhi Nyonya Bretien yang masih mengomel, kali ini sambil menghentak-hentakkan kakinya. Emune, Daniea dan Mineda tidak mau ambil resiko jadi mereka terus berlari dan berpisah di persimpangan menuju rumah masing-masing.
Emune tiba di rumah dengan napas terengah-engah. Gila! Apa yang merasuki Nyonya Bretien? Tidak biasanya dia seperti itu. Emune duduk di bangku kecil untuk beristirahat. Ia yakin akan tidur cepat malam ini setelah berenang seharian dan berlari ketakutan seperti tadi.
“Hari yang sangat melelahkan,” gumamnya. Emune menepuk tangannya. Senyum terkembang di bibirnya, “Tapi menyenangkan!” serunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments