Clarice tiba-tiba menarik Emune dan Clemence mendorong Thomas. Clarice memeriksa lengan Emune.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Clarice.
“Tidak, hanya tergores kurasa,” jawab Emune.
Thomas mendelik. Ia hampir jatuh didorong oleh Clemence. “Apa-apaan kalian? Berani-beraninya menggangguku.”
Thomas maju hendak menyambar lengan Emune tapi si kembar menghalanginya. Clarice dan Clemence lalu bergiliran menampar pipi Thomas. Thomas terkejut dan marah. Biasanya Clarice dan Clemence selalu ikut mengganggu Emune, kenapa sekarang mereka malah membelanya?
“Kalian .…”
“Aku juga tidak suka pada Emune karena Ayah dan Ibu sangat menyayanginya tapi aku tidak suka kau mengata-ngatainya seperti itu.” Clarice menyerobot ucapan Thomas sambil bersedekap.
“Kalau terjadi sesuatu pada Ayah dan Ibu, belum tentu aku bisa sekuat Emune. Apakah kau yakin bisa menjaga aku dan Clarice sebagai pengganti orang tua kita?” Clemence berkacak pinggang.
Thomas mundur selangkah. Perlawanan adik-adiknya bagai anak panah yang menghunjam jantungnya. Kata-kata mereka benar, ia sadar bahwa ia sudah keterlaluan pada Emune. Ia menunduk, malu pada dirinya sendiri dan tiga gadis yang seharusnya ia lindungi baik-baik.
“Maafkan aku,” ucap Thomas lirih.
Emune mendekat. Ia memeluk Clarice dan Clemence bergantian. “Kalian baik sekali. Terima kasih,” ucapnya tulus. “Thomas, tidak apa-apa. Aku yakin kau akan jadi laki-laki hebat yang akan menjaga gadis-gadis cantik ini dengan baik.” Emune tersenyum pada Thomas.
Keempatnya saling menatap bergiliran.
“Oh, ayolah. Ini malam Perayaan Ulrych. Tidak boleh ada tangis atau pun dendam. Ayo kita bergembira. Thomas, aku rasa Patricia sudah menunggumu di sana. Aku akan menemani Clarice dan Clemence.” Emune berkedip pada Thomas.
Thomas malu-malu, menggaruk kepalanya dan mengucapkan terima kasih sebelum melesat ke tempat Patricia menunggunya.
“Emune, jika kau mau membatalkan rencanamu ke Alder, kami janji akan baik padamu.” Clarice menyentuh bahu Emune.
“Ya, tinggallah dengan kami. Semua akan lebih baik,” janji Clemence.
“Kalian tahu, malam ini adalah malam yang luar biasa indah. Kalian sangat hebat. Aku harus pergi tapi aku ingin kalian berjanji untuk lebih baik pada orang tua kalian. Kalian harus bersyukur memiliki mereka. Ah, izinkan aku memeluk kalian sekali lagi. Sungguh, sudah lama aku ingin memeluk kalian seperti ini.” Emune sangat terharu. Semua kenakalan ketiga bersaudara itu segera sirna dari hatinya.
“Kau lucu dan sangat baik hati, Emune,” ucap Clarice.
“Ya, Clarice benar,” ucap Clemence menegaskan.
“Ah kalian ini. Ayo, aku akan kenalkan pada dua pemuda temanku. Mereka tampan, baik hati dan pandai berdansa.” Emune menarik kedua gadis kembar itu ke arena.
Emune sangat senang bisa mengenalkan Clarice dan Clemence pada Alan dan Aron. Alan dan Aron berasal dari desa sebelah dan mereka juga kembar. Keduanya sudah tiga kali datang ke Perayaan Ulrych dan akrab dengan Emune yang membantu mereka kembali ke alun-alun setelah tersesat di tepi hutan.
Clarice dan Clemence tampak menikmati dansa mereka. Ini pertama kalinya mereka berdansa lebih dari lima menit. Pesta dansa semakin meriah. Semua orang bergembira.
Emune berjalan pelan di antara para pengunjung. Tuan Dale, Tuan Bishops dan Tuan Grant tak mau beranjak dari Mogrum, rumah minum yang menyediakan berbagai macam minuman gratis selama perayaan berlangsung. Tuan Duarn, pemilik Mogrum, duduk santai di bangku kayu. Ia sedang menjaga para pemabuk itu agar tidak mengganggu perayaan.
“Minum terus,” gumam Tuan Dale. Ia terhuyung-huyung sambil memeluk sebotol anggur kelas tiga.
“Minum … minum … pesta ….” Tuan Grant menyahut.
“Mana pasanganmu, Emune? Berdansalah sepuasnya selagi muda.” Tuan Bishops menggoda Emune yang melintas tanpa pasangan. “Pemuda-pemuda bodoh itu melewatkan gadis tercantik di Ulrych!” Seruannya membuat orang-orang menoleh.
Pipi Emune memerah karena malu. Ia cepat-cepat kabur sebelum semua menjadi lebih kacau. Emune berhenti di dekat toko roti.
Untung saja Tuan Duarn berjaga di sana jadi mereka tidak mengikutinya. Emune merapikan rambutnya. Ini mimpi buruk! Bukannya berdansa dengan pemuda tampan yang baik hati, aku malah berlari-lari menghindari seruan para pemabuk.
Seseorang berjalan mendekat. Pemuda tampan berambut keemasan, sedikit panjang dari kebanyakan rambut pemuda-pemuda di Ulrych, melewati gadis-gadis bergaun cantik dengan garis dada rendah. Emune tidak pernah mau memakai gaun seperti itu karena tidak nyaman untuk bergerak.
Pemuda itu memakai kemeja putih, rompi dan celana berwarna biru tua. Seperti sebuah magnet, setiap orang yang dilewatinya langsung menoleh dan mengikuti arah perginya. Saat pemuda itu berhenti di hadapannya, Emune bergeser ke kanan. Ia yakin ada gadis secantik putri raja yang sedang berdiri di belakangnya.
“Bolehkah aku mengajakmu berdansa?” tanya pemuda tampan itu.
Jantung Emune seperti berhenti saat pemuda itu mengulurkan tangan ke arahnya, bukan seseorang yang ia kira ada di belakangnya. Ia menoleh sedikit dan melihat dinding toko roti yang terbuat dari kayu. Mana mungkin ada orang di belakangnya. Ah, konyol, pikir Emune. Pemuda itu memang mengajaknya dan masih menunggu jawaban Emune.
Emune sedikit membungkuk lalu mengulurkan tangannya. Tangannya digenggam erat dan ia dibawa berjalan ke arah lingkaran air mancur tempat para lajang berdansa. Semua gadis terlihat iri padanya. Ya, pemuda ini sangat tampan! Mineda dan Daniea terbengong-bengong lalu tersenyum senang melihat Emune dan pasangan dansanya.
“Apa aku pandai berdansa?” tanya pemuda itu.
“Ya, kau pandai,” jawab Emune gelagapan.
“Namaku Elric. Senang bertemu denganmu, Emune.”
“Ba-bagaimana kau tahu namaku?”
“Aku tadi kebetulan ada di dekat Mugrom. Mereka bilang kau gadis tercantik di Ulrych,” bisik Elric di telinga Emune.
Emune merasa tak hanya telinga tapi seluruh wajahnya memerah. Ia refleks mencoba melepaskan diri dari tangan-tangan Elric yang menghalangi geraknya. Elric menarik tangan Emune hingga tubuh mereka benar-benar menempel. Emune merasa sesak. Ia tidak pernah sedekat ini dengan pemuda mana pun.
“Aku rasa sebaiknya aku pergi. Istirahat dan ….” Emune mengatur napasnya.
Elric tersenyum. Ia berdansa dengan orang yang benar. Gadis manis yang belum pernah digoda pria mana pun. Cantik tapi tidak punya pasangan dansa, hmmm apa yang salah? Elric berbisik lagi pada Emune, “Sebentar lagi selesai. Jangan takut, aku tidak menggigit.”
Emune merinding mendengar suara dan hembusan nafas Elric yang begitu dekat. Usianya sudah 17 tahun tapi ia sangat tidak berpengalaman dalam hal ini. Ah, aku ingin menghilang saja rasanya.
Pelukan di pinggang Emune melonggar. Elric tidak lagi memeluknya. Pemuda itu menggenggam tangannya dengan lembut.
“Terima kasih untuk dansanya,” ucap Elric. Ia mencium punggung tangan Emune. Seperti tersadar dari pengaruh magis, Emune segera membungkuk sedikit sebagai penghoramatan pada pasangan dansanya.
Hore! Aku terbebas, pikir Emune. Bukannya ia tidak suka pada pemuda ini tapi Emune serasa meleleh jika didekatnya. Apa aku pulang saja dan bersiap untuk besok pagi? Dia pasti akan berdansa dengan gadis lain. Sangat mudah melupakan gadis sepertiku.
Musik dansa ceria sudah berhenti. Seorang penyanyi melantunkan lagu cinta dengan penuh perasaan. Emune melihat teman-temannya sedang berdansa mesra dengan pasangan masing-masing. Bagi mereka malam pasti masih sangat panjang, pikir Emune.
“Aku lapar, bisa tunjukkan di mana stan makanan?”
“Apa?” Emune gusar. Elric masih ada di dekatnya.
“Makanan. Roti, keju, buah? Sedikit minuman segar mungkin?” tanya Elric
Emune lemas. Ternyata ini belum berakhir. Meski sebal, egonya sebagai penduduk Ulrych telah memaksanya untuk beramah-tamah pada Elric.
“Akan kuantar,” jawabnya singkat.
Setelah mengambil sepotong besar roti, beberapa potong daging asap dan dua gelas air madu, Elric minta ditunjukkan tempat yang tenang untuk makan. Lagi-lagi Emune yang baik hati membawa tamu Ulrych ini ke ujung yang agak jauh dari alun-alun. Sebenarnya ini salah satu tempat favorit Emune karena tenang, teduh dan sejuk di siang hari.
Baru saja Elric hendak duduk di bangku, keduanya mendengar suara ******* dan erangan. Emune sempat mengira itu kucing tapi setelah erangan berubah menjadi teriakan seorang perempuan, Elric melompat ke samping Emune. Semak-semak di belakang bangku tersibak, tampak wajah dan rambut Nyonya Bretien yang acak-acakan sementara Tuan Bretien sibuk menarik semak-semak untuk menutupi tubuh mereka yang tanpa busana.
Emune menutup mata dengan kedua tangannya. Elric lekas meletakkan semua makanan dan minuman yang tadi dibawanya di atas bangku.
“Abaikan kami. Silahkan lanjutkan. Oh, makanannya untuk Anda,” ucap Elric.
Elric menarik Emune yang masih menutup mata. Ia tidak mau tahu apa yang selanjutnya terjadi pada pasangan tadi. Sambil mengumpat dalam hati ia terus saja menggenggam tangan Emune dan mengajaknya ke stan makanan untuk mengambil pengganti makanan dan minumannya yang ia tinggalkan.
“Kau boleh membuka mata, Emune,” ucapnya geli. Gadis ini lucu sekali, pikirnya.
Emune percaya saja pada kata-kata Elric. Ia membuka matanya. Menghela nafas lega karena ia sudah jauh dari bangku itu. Ya ampun, suami istri Bretien hampir membuat copot jantungku!
“Minumlah, kau pasti terkejut.”
Emune melihat Elric yang tersenyum geli padanya dan berusaha keras untuk tidak tertawa karena keluguan Emune. Emune cemberut tapi tidak menolak gelas yang diberikan Elric. Ia meneguk segelas air madu sampai habis.
“Ahhh … segar!” serunya tanpa sadar. Sungguh sial, ini kedua kalinya ia dibuat berolahraga oleh Nyonya Bretien.
Elric dan Emune bertatapan. Senyum terkembang di wajah keduanya lalu mereka tertawa. Emune lupa pada keinginannya menjauh dari pemuda ini. Ia merasa lebih santai sekarang. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk dan makan minum di dekat toko roti.
Saat sedang asyik berbincang, teman Elric mendekat dan mengajak Elric untuk pulang. Elric mengangguk dan menyuruh temannya untuk menunggu sebentar.
“Kau harus pulang,” ucap Emune. Sejujurnya, ia sedikit sedih.
“Ya. Aku harus pergi. Aku akan mencarimu. Aku berjanji,” ucap Elric.
“A-aku .…”
Emune ingin memberitahu Elric bahwa besok ia akan meninggalkan Ulrych tapi terhenti karena lengan Elric sudah melingkar di pinggang dan punggungnya. Mata Emune membelalak saat bibir pemuda itu menyentuh bibirnya. Elric menciumnya dengan lembut. Emune tersihir oleh ciuman singkat itu.
“Kau milikku. Aku akan menjemputmu. Jangan biarkan laki-laki lain menyentuhmu, Sayangku,” bisik Elric.
Emune membeku. Tidak hanya karena ciuman itu. Bisikan Elric tadi terdengar seperti pria yang sedang menunjukkan klaimnya atas seorang perempuan.
“Apa?” Emune memekik keras sementara Elric sudah berlalu bersama teman-temannya. Itu ciuman pertamaku!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments