Makan siang bersama Mineda dan Daniea tadi sangat menyenangkan. Mineda membuat sup wortel yang lembut dengan rempah dan sedikit susu kambing. Menurut Mineda, itu adalah resep neneknya.
Setelah sepotong roti dan beberapa irisan daging kambing, Emune merasa sangat kenyang. Daniea membawa anggur dan dua buah saputangan berwarna biru muda yang ia berikan masing-masing satu kepada Mineda dan Emune. Nama-mereka disulam rapi dengan benang biru tua. Emune sendiri seperti biasa hanya bisa membawa keju buatan keluarga Grantea namun karena keju itu sangat terkenal, itu menjadi hadiah yang mewah bagi teman-temannya.
Perbincangan siang itu lebih banyak tentang Ulrych. Kedua temannya tidak tertarik saat Emune menceritakan soal Imperia yang setiap tahun terkena badai pasir dan Eimersun yang akan mengadakan festival matahari.
“Aku tidak tertarik. Pertama, aku tidak akan pernah keluar dari desa ini. Kedua, untuk apa membicarakan kerajaan yang jauh? Kita harus bersiap untuk acara kita sendiri, Emune,” tegas Mineda.
“Betul. Perayaan Ulrych. Masa kau tidak ingat? Purnama sebentar lagi,“ tambah Daniea
Emune mengernyitkan keningnya. “Ah, iya. Perayaan Ulrych. Terima kasih sudah mengingatkanku.”
Mineda meletakkan kedua sikunya di atas meja kayu, kedua tangannya menutupi pipi-pipinya yang bersemu merah alami. Matanya tertutup dan bibirnya bergerak-gerak seperti sedang mengucapkan sesuatu namun tanpa suara.
“Mantra apa yang sedang kau rapalkan?” Emune tiba-tiba menepuk bahu Mineda. Daniea tertawa melihat Mineda yang gelagapan.
“Aduh, bukan mantra. Aku sedang berpikir, pada perayaan nanti, siapa yang akan mengencani Neville?”
Emune dan Daniea saling melihat dan serempak bertanya dengan nada tinggi, “Neville?”
“Dia cukup tampan. Aku suka rambutnya yang rapi.”
“Hai, Nona, Tuan Berambut Rapi itu terakhir kali, tiga hari yang lalu kalau tidak salah, terlihat berkencan di semak-semak dekat mata air. Nyonya Beatrien yang menangkap basah mereka,” ucap Daniea.
“Apa? Siapa teman kencannya?”
“Maude,” jawab Emune. Ia tidak melihat langsung tapi sempat mendengar bisik-bisik ibu-ibu dalam perjalanannya ke rumah Mineda.
Mineda menepuk-nepuk pipinya tanda kesal mendengar berita itu.
“Hei, ada apa dengan Thomas? Bukankah Thomas sudah mengajakmu ke perayaan itu?” tanya Emune.
Mineda berdiri, bersedekap sambil memonyongkan bibirnya. “Huh, Thomas memang mengajakku tapi tidak hanya aku. Merry, Alice, Eren dan entah siapa lagi. Saudara angkatmu itu gila!”
“Tidak, jangan kaitkan denganku. Dia adalah masalah yang harus dihindari oleh siapa pun,” Emune membela diri. Ia selalu memastikan ada batasan khusus antara dirinya dan bocah-bocah Grantea.
“Setidaknya pemuda-pemuda dari desa sebelah akan datang jadi kita punya pilihan bukan?”
“Daniea benar. Ayolah Mineda. Kau seperti tidak tahu Thomas saja. Dia itu G-I-L-A!”
Ketiga gadis muda itu tertawa ramai. Mereka lalu sibuk membicarakan pakaian, bunga dan hiasan rambut untuk perayaan nanti. Karena mereka sudah berusia tujuh belas tahun, mereka bisa bebas pergi ke perayaan tanpa harus memohon-mohon pada orang tua mereka.
***
Emune kembali ke pondok Urndie sambil berlari. Ia mengangkat sedikit ujung bajunya agar bisa berlari lebih kencang. Ia hampir menubruk anak-anak kecil yang bermain di sekitar air mancur dan ayam-ayam berterbangan menghindarinya. Walaupun sedang berlari, Emune bisa melihat Tuan dan Nyonya Schulliz sedang beradu mulut di depan toko roti mereka. Beberapa meter berikutnya, Nyonya Beatrien terlihat sedang memberi makan seekor anak kucing.
“Halo Nyonya Beatrien!” serunya sambil terus berlari. Ia menoleh sebentar dan melihat Nyonya Beatrien melambaikan tangan padanya.
Urndie berdiri di depan pondoknya. Pot-pot kecil yang berderet di samping pintu bertambah lagi. Bunga-bunga musim semi mekar dengan indahnya. Ia sedang menunggu Emune. Gadis itu pasti sedang berlari-lari ke sini, pikirnya. Benar saja, ia mendengar derap kaki mendekat. Emune sampai dengan nafas terengah-engah.
“Apa aku terlambat? Aku tidak terlambat bukan?”
Urndie tertawa kecil. “Kau tidak terlambat. Ayo masuk dan beristirahat dulu.”
Emune duduk di kursi dengan nyaman. Nafasnya sudah kembali normal. Kali ini Urndie membuatkannya minuman dari sari buah delima. Rasa haus Emune hilang seketika hanya dengan satu tegukan. Urndie duduk di seberang, mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang. Emune menegakkan duduknya dan menunggu Urndie mulai bercerita.
“Selama ribuan tahun yang lalu, Artamea adalah dunia yang dihuni oleh manusia, hewan dan makhluk mistis seperti peri, raksasa dan lainnya. Tidak jauh berbeda dengan saat ini. Masa itu adalah masa kelam, tidak ada pemerintahan dan tidak ada aturan. Ibaratnya rimba belantara, hanya yang kuat yang bertahan dan berkuasa. Manusia hampir tidak punya kesempatan hidup karena mereka diburu oleh para pemangsa sepanjang waktu.”
Urndie meletakkan sebuah perkamen di atas meja. Ia sudah menimbang-nimbang sejak tadi pagi apakah ia perlu memperlihatkannya pada Emune atau tidak. Kali ini ada jawaban “ya” di kepalanya. Ia menyodorkan perkamen itu kepada Emune.
Emune yang penasaran langsung saja meraih lalu membuka perkamen dengan hati-hati. Matanya melotot ngeri.
“Naga, cerberus dan raksasa? Aku tak mau membayangkannya. Pasti sangat mengerikan,” ucap Emune lirih. Perkamen di tangannya menggambarkan masa kegelapan yang disebutkan oleh Urndie. Ia menggulung perkamen itu lalu mengembalikannya kepada Urndie.
“Kekacauan terus berlangsung sampai sebuah insiden merubah segalanya. Pada bulan purnama di musim semi, para peri melakukan perjalanan suci dari utara Artamae, dulu disebut Norkdarn, sekarang adalah wilayah Imperia. Mereka sampai di Gurun Harapan namun tidak mau mengambil resiko terjebak di sana dan jadi mangsa empuk para pemangsa. Para peri memiliki kekuatan luar biasa namun dengan kehadiran peri-peri kecil yang tak sekuat peri dewasa, mereka menjadi rentan. Raja Peri Dougraff memutuskan untuk membawa rombongannya melalui Eupher yang sekarang adalah wilayah Orsgadt.
Ketika hari mulai gelap, rombongan itu diperintahkan untuk beristirahat. Cucu raja peri yang masih kecil bermain sendiri dan terpisah jauh dari rombongan. Saat itu sekelompok penyihir hitam sedang mencari peri-peri muda untuk dijadikan ramuan sihir mereka. Mereka berhasil menangkap si peri kecil yang sayapnya belum kuat untuk terbang dan memberontak.”
Dari balik rerimbunan semak, seorang pemuda melompat keluar dan melawan mereka dengan mengibas-ngibaskan tongkat kayu yang sudah ia bakar ujungnya. Ia berhasil menyambar ujung pakaian seorang penyihir. Kejadiannya begitu cepat, para penyihir mencoba kabur dengan sapu terbang namun mereka bertabrakan di udara dan api menyebar membakar mereka. Untunglah si peri kecil yang hampir terjatuh ke lidah api berhasil ditangkap oleh pemuda itu. Si peri kecil akhirnya bisa dibebaskan dari benang sutra yang melilit tubuhnya.”
“Oh, syukurlah. Apa dia bisa bicara bahasa manusia?” tanya Emune. Ia tersenyum senang.
“Semua peri bisa berbahasa manusia namun peri kecil tidak diperbolehkan berbicara dengan manusia.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Jeritan para penyihir terdengar sampai jauh. Raja Peri Dougraff muncul bersama beberapa pengawalnya. Ia hampir saja mengamuk karena cucu kesayangannya hilang. Ia berterima kasih dan berjanji akan mengabulkan apapun permintaan pemuda itu.
Wilhelm Orsgadt, pemuda yang menolong cucunya, adalah pemuda yang baik hati dan pintar. Meskipun keluarganya miskin, ia tidak tergiur pada harta yang ditawarkan oleh sang raja peri. Ia meminta agar sang raja mengerahkan kekuatannya untuk membuat wilayah yang aman untuk ditinggali oleh manusia. Raja Peri Dougraff mengabulkan permintaan pemuda pemberani itu. Bagian utara menjadi wilayah huni manusia dan bagian selatan menjadi tempat tinggal bagi semua makhluk mistis.”
“Luar biasa! Benar-benar penyelamat manusia. Bagaimana bisa terbentuk kerajaan-kerajaan seperti sekarang?”
“Semua orang begitu menghormati dan mencintai Raja Agung Orsgadt yang telah membebaskan mereka dari masa kelam. Beberapa waktu kemudian raja menikah dan memiliki keturunan. Awalnya hanya ada satu kerajaan, yaitu Orsgadt, namun ketika manusia semakin banyak raja sendiri mengutus tiga orang temannya untuk mencari dan membuka wilayah baru yang bisa ditempati banyak orang.”
Rakyatnya diberikan kebebasan untuk pindah ke wilayah-wilayah baru tersebut. Kerajaan-kerajaan baru tumbuh pesat. Keempat kerajaan tersebut menjalin hubungan yang erat di segala bidang. Tidak ada pertumpahan darah dan semua berjalan damai.”
“Jika nenek moyang kita berteman, mengapa tidak ada yang membantu Orsgadt saat pemberontakan Goenhrad terjadi?”
“Pemberontakan itu benar-benar di luar nalar semua orang. Goenhrad tidak punya pasukan yang besar, hanya sekelompok kecil pembunuh bayaran, orang-orang rakus yang mau melakukan apapun demi harta. Mereka adalah makhluk rendah yang tidak berharga. Serangan itu terjadi malam hari, tepat saat istana sedang menantikan kelahiran cucu sang raja. Pertama mereka membantai seluruh pengawal, mengunci istana dan membunuh para penghuninya. Keluarga raja langsung dieksekusi. Hanya beberapa pengikut yang berhasil keluar melalui jalan rahasia. Mereka membawa semua yang bisa mereka ambil saat itu.”
“Cucu sang raja! Apakah … apakah ….” Emune tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Lidahnya terasa kaku dan matanya berkaca-kaca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Aozi Rie
Mengerikan. Waktu nulis juga sampai sesak napas 😓😮💨
2023-08-04
1
Dewi
Sejarah masa lalu yang kelam banget
2023-08-04
1