Udara dingin menyelimuti Ulrych. Hari masih gelap tapi Emune sudah ada di luar alun-alun. Rombongan kecil yang mengantarnya terdiri dari seluruh anggota keluarga Grantea, Mineda dan Daniea. Semua barang bawaan Emune sudah ada di dalam kereta.
Ronald, ketua rombongan yang akan menunju Imperia sudah berpesan agar Emune membawa barang secukupnya. Mereka akan berhenti di kota untuk mengisi perbekalan. Fiona, sahabat Ronald juga sudah menyiapkan selimut hangat untuk Emune. Emune sangat berterima kasih pada Tuan Arrand yang mempertemukan mereka kemarin sore sebelum ia berangkat ke Eimersun.
Dalam keheningan, tangis Bibi Mary tak juga berhenti. Berkali-kali ia memeluk Emune, berpesan macam-macam lalu menangis lagi. Ia memberi Emune sebuah tas kecil baru buatannya sendiri yang di dalamnya sudah ada sisir dan sekantung uang perak. Meski tidak banyak, ia berharap akan bisa membantu Emune dalam perjalanannya nanti.
Paman Henry memberikan sebuah belati kecil untuk berjaga-jaga padanya. Emune memasukkannya ke dalam tas pemberian Bibi Mary. Emune terharu, ini pertama kalinya ia akan meninggalkan keluarga Grantea yang telah merawatnya bertahun-tahun. Ia sedih karena tidak bisa memberi apa-apa pada Paman Henry dan Bibi Mary.
Thomas menyerahkan sebuah bros berbentuk kupu-kupu pada Emune. Awalnya bros itu akan ia berikan pada Patricia tapi ia pikir lebih baik mendahulukan Emune yang akan pergi jauh.
“Kau akan sehat-sehat dan mengabari kami bukan? Mungkin kelak kami bisa mengunjungimu.” Thomas pagi ini adalah Thomas yang baik dan menyenangkan.
“Tentu saja, Thomas. Terima kasih.” Emune tersenyum.
“Kami tak tahu apa yang sebaiknya kami berikan padamu, Emune. Ini, semoga kau menyukainya,” ucap Clarice. Emune menerima selendang sutra berwarna biru tua dari Clarice dengan terkesima. Ia ingin menolaknya tapi Clarice sudah menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
“Dan ini dariku,” ucap Clemence. Emune ragu untuk mengambil cermin dengan ukiran perak yang diberikan Clemence. Clemence memeluknya. “Semoga kau selalu sehat,” ucap Clemence.
Giliran Mineda dan Daniea tiba. Hanya satu kotak kecil yang mereka berikan. Daniea memintanya membuka kotak itu saat di perjalanan nanti sebagai kejutan.
“Kau harus berkabar, Emune.” Mineda mengusap air matanya.
“Jaga kesehatanmu ya.” Daniea menutup wajahnya dengan satu tangan.
“Terima kasih, kalian teman-teman terhebat,” ucap Emune.
Emune, Mineda dan Daniea berpelukan. Isak tangis sudah tidak bisa dibendung.
“Pergilah, Sayang. Sehat dan berbahagialah,” ucap Bibi Mary disertai sebuah pelukan dan kecupan di kepala Emune. Bibi Mary menggandeng kedua kawan baik Emune agar Emune bisa berangkat dengan tenang.
Emune naik ke kereta dan duduk di samping Ronald yang memegang kendali. Fiona sedang beristirahat karena nanti harus menggantikan Ronald. Kuda-kuda penarik kereta mulai bergerak. Perjalanan panjang sudah dimulai.
Hati Emune terasa sakit karena harus berpisah dengan semua yang ia kenal selama ini. Terlebih lagi ia bisa melihat rombongan pengantar tak juga mau beranjak dari tempat mereka walaupun kereta tadi akan membelok di tikungan jalan menuju Nord, kota terdekat.
“Apa kau mau kuantar kembali ke sana?” goda Ronald.
“Ah, tidak. Hahaha, maaf, ini pertama kalinya aku keluar dari Ulrych.” Emune meringis.
“Matahari segera terbit. Jika bergegas kita bisa sampai di Tera siang ini. Simpan energimu dan nikmati perjalanan ini, Emune.” Ronald mengendalikan tali kekang kuda denagn sigap.
“Terima kasih, Ronald. Apa Arrand akan menyusul ke Imperia?” tanya Emune penasaran.
“Dia akan lama di Eimersun. Dia tidak suka musim dingin jadi dia selalu berlama-lama di Eimersun,” jawab Ronald.
“Aku harap suatu saat aku bisa ke sana. Negeri yang bermandikan cahaya matahari,” ucap Emune. Bayangan tentang Eimersun yang hangat oleh melimpahnya sinar matahari membuat Emune nyaman.
Hangat. Nyaman. Elric. “Kenapa harus mengingatnya? Tidak, tidak!” Emune berseru seperti kerasukan.
“Emune, kau kenapa?” Fiona mengguncang-guncang tubuh Emune dari belakang. Rupanya teriakan Emune telah membangunkan Fiona yang sedang beristiraha.
“Oh, a-apa yang telah kulakukan? Akumembangunkanmu?” gagap Emune.
Fiona membanting badannya ke tempat tidur kecil beralaskan kain tebal. “Astaga, aku pikir ada perampok yang menyerang kita,” ucapnya sambil mengusap wajahnya yang kusut.
“Maaf, aku teringat sesuatu. Maaf.” Emune menunduk malu.
Fiona dan Ronald tertawa terbahak-bahak. Perjalanan kali ini akan lebih seru, pikir keduanya.
Nord. Semua hal baru yang Emune lihat membuatnya sangat takjub. Nord adalah kota yang ramai. Jalan kota yang mereka lalui ramai oleh para pedagang dan pembeli yang sibuk bertransaksi. Buah-buahan, sayuran dan hewan ternak punya tempat khusus.
Keju dan susu segar membuat Emune teringat pada keluarga Grantea. Pagi ini mereka pasti sudah mulai bekerja. Emune yakin ia bisa mengelola ladang dan beternak kecil-kecilan di Alder nanti karena ia sudah terbiasa melakukannya sejak kecil.
Satu lagi yang ia sukai dari Nord adalah daging asapnya. Ia membeli beberapa iris untuk tambahan bekal makan siangnya. Semua harus cepat-cepat karena mereka memang tidak berhenti lama di Nord.
Tera. Kota ini indah! Padang rumput hijau dan bunga-bunga yang bermekaran seperti salah satu lukisan di pondok Urndie. Rumah-rumah penduduk tidak sebesar di Ulrych tapi masing-masing punya taman yang terawat baik. Alun-alun yang megah berkali-kali lebih besar dari Ulrych menyambut mereka di pusat kota. jangan lupakan air mancur raksasa dengan tiga patung peri di puncaknya yang sempat menyita perhatian Emune.
Ronald mengurus beberapa barang pesanan dan menemui teman-temannya jadi Emune berkeliling ditemani Fiona. Itu pun hanya sebentar. Fiona juga punya urusan di sisi lain alun-alun jadi Emune akhirnya bertualang seorang diri.
Kaki-kaki Emune tak mau berhenti berjalan. Tanpa ia sadari ia sudah sampai di pasar raya yang tidak terlalu jauh dari alun-alun. Wanita-wanita berpakaian indah ditemani oleh para pesuruh mereka.
“Mereka terlihat seperti merak yang angkuh,” gumam Emune. Ia mencoba berjalan seperti mereka tapi segera menyerah di langkah kelima. “Ini konyol,” desisnya.
Anak-anak kecil berlarian menghampiri Emune. Bermacam-macam barang disodorkan kepadanya. Apel, bunga, hiasan rambut dan pernak-pernik lainnya. Emune tersenyum kepada mereka dan bertanya apa yang akan ia dapatkan dengan satu keping perak. Seperti lebah, semua mengerubutinya.
Salah seorang anak yang lebih besar, sepertinya dialah pimpinan mereka, menyuruh teman-temannya berbaris rapi. Ia mengambil sebuah kantung kain dan menyuruh teman-temannya memasukkan barang dagangan mereka satu per satu. Setelah semua masuk ke dalam kantong, ia menyerahkannya pada Emune.
Emune melihat isi kantong dan merasa puas. Ia menyerahkan satu keping perak yang diterima dengan gembira. Secepat datangnya, secepat itu pula anak-anak tadi menghilang. Emune tertawa geli.
Rombongan pedagang berkumpul di rumah minum Orland. Ronald dan empat anggota rombongan sedang berbicara serius di salah satu meja. Emune duduk di meja di sudut ruangan. Ia ingin kaki-kakinya beristirahat sebelum perjalanan dilanjutkan. Ia tidak melihat Fiona. Mungkin urusannya belum selesai, pikir Emune.
Lelaki tua bertubuh kurus dan berpakaian lusuh masuk ke rumah minum Orland. Ia mengabaikan pelayan yang menawarkan minuman dan langsung saja berjalan ke arah meja di samping meja Emune. Wajahnya yang pucat menyiratkan kegusaran. Ia duduk di kursi dengan gugup. Tangannya tidak berhenti bergetar.
“Perampok! Rombongan dari Regis dibantai! Tidak ada yang tersisa,” ucapnya cepat.
Tiga laki-laki lain yang lebih dulu datang dan duduk di meja itu terkejut. Salah seorang yang badannya paling kekar menggebrak meja. Tindakannya itu mengundang perhatian pengunjung lainnya.
“Kurang ajar! Perampok-perampok itu semakin menjadi. Membantai seluruh rombongan seperti membantai anjing liar. Biadab!” raung pria itu karena marah.
Para pengunjung yang sebagian besar adalah para pedangang keliling yang melintasi batas kerajaan mulai berbisik-bisik dan akhirnya menjadi ramai.
“Di mana perampok itu beraksi?” tanya sebuah suara. Pemilik suara itu adalah laki-laki setinggi hampir dua meter. Rambutnya yang panjang dan wajahnya yang sebagian tertutup jenggot tebal membuatnya terlihat seperti raksasa Gallows.
“Mereka ada di mana-mana. Rombongan dari Regis dibantai di jalur Tebing Hatqee. Rombongan penghibur dari Siujad dihabisi di jalur perbukitan dekat Alder. Hanya berselang tiga hari.” Laki-laki kurus pembawa berita tadi berjuang keras mengambil nafas di antara ketakutannya.
“Kalau semua dibantai, bagaimana kau bisa tahu?” tanya si pria besar penuh curiga.
“Rombongan kami waktu itu berkumpul di Flawk. Sebelum berpisah kami berjanji akan mengirim merpati pos ke Tighourt jika terjadi sesuatu yang menghambat perjalanan. Itu setelah berita tentang perampokan marak terdengar.” Pria itu memegang dadanya dan berusaha mengatur napasnya.
Orang-orang ramai berbisik dan berkeluh kesah. Perampok adalah musibah bagi para pedagang dan pelancong. Tidak ada seorang pun yang ingin terjebak bersama mereka.
“Aku baru saja tiba dari Tighourt. Kepala perkumpulan pedagang di sana mengingatkan seluruh orang yang melakukan perjalanan agar berhati-hati. Belasan kurir juga sudah dikirim ke seluruh wilayah Arsyna untuk menyampaikan berita ini,” lanjut pria tadi.
“Apakah pihak istana tahu mengenai hal ini?”
“Apakah perampok itu hanya ada di Arsyna?”
“Raja tidak pernah terlihat selama beberapa tahun. Apa Yang Mulia sakit?”
“Apa sebaiknya kita batalkan perjalanan rombongan kita?”
Cemas dan panik menguasai para anggota rombongan yang hendak menuju dua rute maut. Mereka bergumam, mendesah, bergumam lagi lalu akhirnya sepi. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Ronald menghampiri si pembawa kabar. “Pak Tua, apakah ada yang mengirim berita ke istana?”
“Tiga pengawal dari Persatuan Pedagang Arsyna sudah dikerahkan tapi belum ada kabar sampai saat ini.”
Semua orang mendesah. Wilayah Arsyna sudah tidak aman. Kerajaan yang tidak aman adalah tempat yang buruk untuk berniaga.
Emune mengingat peta tua yang ditunjukkan oleh Urndie beberapa waktu lalu. Tebing Hatqee dan perbukitan di dekat Alder terpisah jauh, butuh lebih dari dua minggu perjalanan. Ia bisa menyimpulkan bahwa ada dua kelompok perampok yang beraksi di Arsyna.
“Apakah ada rombongan lain yang dirampok?” tanya Ronald.
“Ada satu rombongan di Duru dan dua rombongan di Yamar.” Pria itu menekan tangannya yang gemetar di atas meja.
“Apa semuanya dibantai?” tanya Fiona yang tahu-tahu sudah duduk di samping Emune.
“Seluruh barang bawaan mereka dirampas tapi tidak ada yang dilukai.” Sekali lagi ia mengatur napasnya.
Si pria raksasa angkat suara. “Kita harus melakukan sesuatu. Jika perampok-perampok itu merajalela, kita tidak akan bisa melintasi jalur perdagangan dengan aman.”
Para pedagang menjawab dengan *******. Kalau para perempuan anggota rombongan ada di Orland, mereka pasti sudah menjerit dan menangis ketakutan.
“Untuk saat ini sebaiknya hindari jalur-jalur yang beresiko. Bermalamlah di desa atau kota agar lebih aman,” ucap Ronald.
Para pedagang satu per satu keluar dari Orland. Muka mereka kecut. Perjalanan yang puluhan tahun mreka lakukan dengan suka cita sekarang menjadi penuh kecemasan.
“Kita harus bergegas kalau mau sampai di Tighourt sebelum malam. Fiona, Emune, kita harus lebih berhati-hati.”
Fiona dan Emune mengangguk. Ketiganya berjalan ke tempat rombongan mereka berkumpul. Delapan kereta dengan gerbong besar telah siap. Kuda-kuda mereka sudah cukup beristirahat jadi mereka bisa berangkat sekarang.
Hampir tidak ada yang berbicara. Ronald berkonsentrasi dan berjaga-jaga. Ia tidak mau ambil resiko merasa aman di wilayah yang tidak didatangi perampok. Setelah berita tadi, baginya semua tempat sudah tidak aman. Ia yakin para pengawal yang dikirim untuk menyampaikan kabar ke istana pasti terhambat oleh sesuatu, bisa jadi ketiganya sudah mati diserang oleh para perampok.
Kereta-kereta kuda melaju dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya. Ronald ingin mereka segera tiba di Tighourt. Rombongan itu berpapasan dengan beberapa kereta dari arah berlawanan. Dari kecepatannya, Ronald yakin pemikiran mereka sama, yaitu menghindari bermalam di luar pemukiman penduduk.
“Jangan khawatir, seperti inilah perjalanan jauh. Kau akan terbiasa.” Fiona menawarkan sepotong daging asap pada Emune.
“Ya. Aku rasa aku hanya belum terbiasa,” sahut Emune. Ia mengambil daging asap itu dan menggigitnya. Emune membersihkan sebuah apel dengan saputangannya dan memberikannya kepada Fiona. Emune terkejut ketika Fiona tiba-tiba mengeluarkan belati kecil dari kantong roknya. Apa ia selalu membawa belati? Belati itu sangat tajam.
Fiona memotong apel dengan santai. “Perempuan harus bersiap untuk segala kemungkinan,” ucap Fiona sambil menyeringai.
Emune meringis. Ia tahu Fiona suka menggodanya, gadis desa yang tidak pernah bepergian. Sebentar lagi ia pasti akan menertawakan Emune. Benar saja, Fiona tertawa keras-keras mengabaikan Emune yang cemberut.
Matahari bergulir, panas terik mulai berkurang dan hembusan angin kian terasa. Perjalanan masih jauh tapi masih ada waktu untuk menjumpai sore di Tighourt.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments