Voispir

Air mata mengalir dari ujung mata Emune. Ia berduka atas apa yang terjadi pada semua korban pemberontakan. Hati Emune sakit melihat derita yang telah ia timpakan pada semua orang. Kelahiran yang seharusnya disambut suka cita malah berakhir jadi bencana.

Kabut hitam yang bergelung berangsur-angsur berubah menjadi abu begitu juga bola mata Emune. Semua kejadian yang berubah-ubah telah lenyap berganti kehampaan. Emune lalu melihat dirinya melayang dan di dekatnya ada sosok hitam menjulang yang berubah-ubah bentuk seperti kabut tertiup angin.

Sosok itu berkali-kali mendekati wajah Emune lalu menjauh. Emune merasakan kulit wajahnya sangat dingin setiap kali kabut itu mendekatinya. Emune gusar, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Seingatnya ia tertidur setelah bermandi embun malam saat melihat bintang-bintang bersama Fiona.

Sosok itu mendekat lalu menghembuskan angin dingin yang membuat Emune merinding. Segala usahanya untuk menggerakkan tangan dan kaki tidak membuahkan hasil. Ia sadar namun seperti diikat oleh kekuatan magis.

“Aku Voispir. Manusia, kisahmu sudah diceritakan. Bangun atau kau akan mati.”

Suara yang mengerikan, pikir Emune. Lebih mirip bisikan jahat para penyihir seperti dalam kisah-kisah lama yang pernah didengarnya. Pelan, setengah berbisik dan bernada mengancam.

“Sedikit lagi. Ayah asuhku, apa yang terjadi padanya?” tanya Emune. Meskipun sudah mendengarkan penuturan Arrand, ia ingin melihat sendiri kondisi ayahnya di saat-saat terakhirnya. Ia merasa berdosa karena tidak bisa menemaninya.

“Apa yang akan kau berikan sebagai imbalannya?” tanya Voispir.

Emune kebingungan. Ia tidak punya benda yang cukup berharga untuk ditukarkan dengan kisah yang ia minta. Ia teringat pada kalung zamrud namun ia tidak mungkin memberikannya kepada makhluk ini. Jangan kalung itu, pikirnya.

“Kau memiliki sesuatu yang berharga. Kantong biru, aku mau isinya sebagai ganti kisah ayah asuhmu.” Voispir telah menentukan imbalannya sendiri.

“Ambil saja,” ucap Emune. Ia tidak punya pilihan lain

Voispir dalam bentuk kabut hitam menunjuk ke arah kotak perak pemberian ayah asuh Emune. Kotak itu mengambang lalu ruang rahasianya terbuka. Ketika kantong biru terbuka dengan sendirinya, kalung zamrud keluar dan di luar perkiraan Emune, bandulnya bersinar.

Cahaya hijau berpendar, semakin terang dan meluas hingga menembus sosok Voispir. Voispir terlempar ke dinding dan langit-langit setiap kali sinar hijau itu menyentuhnya.

“Sihir peri! Jauhkan itu dariku!” raungnya.

Cahaya itu sedikit lagi akan memenuhi kamar. Emune seperti terbebas dari ikatan magis. Ia tiba-tiba bisa melayang tegak.

Emune menggerakkan tangannya pelan. Kalung dan kantongnya melesat dan jatuh di atas telapak Emune. Setelah kalung aman berada di dalam kantongnya, Emune menatap Voispir yang melekat di sudut ruangan menghindari cahaya hijau.

“Turun dan lanjutkan kisahku,” perintah Emune. Ia ada di atas angin karena Voispir tidak akan berani melawan kekuatan peri pada kalung zamrudnya.

Voispir merayap turun. Sosoknya berubah dan membaur dengan kabut abu. Kabut abu itu bergerak menyelimuti Emune, membuatnya kembali terbaring melayang. Suara melengking tinggi memekakkan telinga terdengar sebentar lalu menghilang bersamaan dengan berubahnya kabut dan bola mata Emune yang menjadi putih.

Emune melihat kejadian-kejadian yang bergerak cepat. Dua kesatria, Arthen dan Hemworth, bersembunyi di Lorong gelap di salah satu sudut pasar di Imperia.

“Arthen, mereka ada di mana-mana. Dengar, aku akan menjemput paket itu. Kau alihkan mereka. Jika aku tidak kembali, lanjutkan rencana kita.”

“Baik. Jaga dirimu, Saudaraku,” sahut Arthen.

“Kau juga, Saudaraku.”

Tiba-tiba latarnya berubah menjadi perbukitan yang Emune kenal. Alder, itu jalur perbukitan menuju Alder!

Hemworth berdiri di tengah jalan dengan pedang terhunus, dikelilingi oleh orang-orang berpakaian hitam. Mereka adalah para pembunuh yang melakukan pemberontakan Orsgadt. Kejadian di istana Orsgadt masih segar dalam ingatannya. Ia tidak melihat langsung bagaimana keluarga kerajaan dan seisi istana dibantai namun kekejian itu tersebar di seluruh Artamea.

“Menyerahlah Kesatria Hemworth. Kau sudah tidak punya apa-apa. Bukankah kematian lebih baik?” Pembunuh berpakaian serba hitam menunjuk sang kesatria dengan pedangnya.

“Bangsat! Babi-babi pemberontak! Kalian akan berhadapan dengan pedangku,” raung Hemworth.

Hemworth tidak menunggu lagi, ia maju menyerang orang terdekat dengan satu sabetan maut. Serangan yang tidak terduga membuat orang itu menjadai sasaran mudah. Ia terjengkang dengan luka menganga di dadanya. Melihat rekannya meregang nyawa, keempat pembunuh lainnya langsung menyerang.

Pertarungan awalnya berjalan tidak seimbang namun Kesatria Hemworth adalah pengawal raja yang tangguh. Ia bergerak cepat dan dengan tangkas menangkis semua serangan lawan. Para pembunuh satu per satu berhasil ia kalahkan.

Pembunuh terakhir, pria bermulut besar, mulai kehilangan nyali. Ia membalikkan badan dan mencoba melarikan diri dengan menunggangi kudanya. Kesatria Hemworth tidak memberinya kesempatan.

Tangan Hemworth menyambar busur dan anak panah yang tergeletak di semak-semak lalu mengarahkannya ke pembunuh yang berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan dirinya aman. Sebuah anak panah melesat sangat cepat dan menancap tepat di dada si pembunuh. Pembunuh itu terjatuh dari kudanya yang terus saja berlari meninggalkannya dengan kepulan debu. Hemworth mendekatinya.

“Kau pasti mati. Katakan semua yang kau tahu, aku mungkin akan berbaik hati.”

“Kalian hanya sampah, sejarah. Tidak ada tempat untukmu di Orsgadt,” ucap pembunuh itu dengan nafas tidak beraturan.

“Baiklah. Sebenarnya kau bisa saja kubiarkan hidup, jika kau mau memberitahuku tentang pemberontakan itu.”

“Bunuh saja aku!” teriak pembunuh itu.

“Baiklah.” Kesatria Hemworth meninju wajah si pembunuh. “Kau boleh kembali ke markasmu. Mungkin mereka yang akan membunuhmu karena kau gagal menjalankan tugas. Sampaikan pesanku kepada pemimpinmu, Hemworth akan mengejarnya sampai ke neraka.”

Kesatria Hemworth menaiki kudanya lalu memacunya pergi. Ia memastikan dirinya cukup jauh dari pembunuh tadi lalu berbelok ke kiri. Ia mengendarai kudanya pelan-pelan kembali ke tempat penyerangan. Tersembunyi oleh semak-semak dan pepohonan rimbun, ia yakin tidak akan terlihat oleh pembunuh itu.

Pembunuh itu rupanya sudah berhasil naik ke kuda lain yang tadinya jadi tunggangan rekannya. Ia memacunya seperti orang gila. Ia harus segera sampai ke markas sementara mereka untuk mengabarkan kejadian ini dan mengobati lukanya.

Setelah pembunuh itu pergi, Kesatria Hemworth menulis sesuatu di selembar kertas. Lipatan kertas ia masukkan ke dalam tabung yang terbuat dari kayu lalu ia sembunyikan di belakang batu besar. Itu adalah tempat rahasia mereka. Salah seorang anggota jaringan Arthen akan memeriksanya dan jika ada, akan meneruskannya ke Arthen. Mereka punya kode sendiri yang orang lain tidak akan bisa membacanya. Usai meletakkan pesan, ia menaiki kudanya dan mengikuti jejak pembunuh tadi.

Kejadian berikutnya yang dilihat oleh Emune adalah kejadian sepuluh tahun lalu saat Ayahnya tiba-tiba mengajaknya meninggalkan Alder lalu ia dititipkan di keluarga Grantea. Seperti cerita Arrand, Ayahnya yang sakit-sakitan lalu meninggal juga tergambar jelas. Edmund Steggar, ayah asuhnya sangat kurus dan lemah. Terbaring di tempat tidur dan hanya sesekali keluar pondok. Di saat terakhirnya, ayahnya yang merawatnya sejak kecil hanya bisa mengangkat tangan dan memanggil-mangil namanya sebelum nyawa meninggalkan raganya.

Emune ingat ia harus melihat kejadian lain sebelum Voispir menghilang. “Perlihatkan Kesatria Arthen,” perintah Emune pada Voispir. Ia tahu makhluk gaib ini takut pada kekuatan kalung zamrudnya.

Seketika Emune bisa melihat Kesatria Arthen membuka tingkap di lantai dapur yang kotor. Seharusnya lubang itu adalah tempat pembuangan sampah dapur namun tangga yang menuju ke bawah menunjukkan fungsinya yang lain. Setelah menuruni tangga, Kesatria Arthen sampai di ruangan kecil. Ia berjalan ke arah meja kecil di sudut dan menendang tombol bulat yang tersembunyi di belakangnya. Dinding kayu tebal terbuka dan ia masuk.

Empat orang berjubah dengan tudung yang menutupi wajah duduk mengitari meja kayu. Arthen bergabung di kursi kelima. Mereka tidak berbicara, kelimanya meletakkan kepingan logam yang hampir menjadi sebuah koin emas dengan lambang Orsgadt di atasnya. Seharusnya Hemworth melengkapi keeping keenam namun Arthen yakin ada yang menghalanginya datang.

“Paket telah dikirim ke Arsyna.”

“Arsyna tenang.”

“Imperia tenang.”

“Eimersun tenang”

“Dunia gaib tenang.”

Setelah masing-masing selesai berbicara, mereka mengambil kepingan masing-masing lalu bergilir keluar dari pintu lain di ruangan itu.

Arthen mengambil keping miliknya, menyelipkannya di lipatan jubah lalu mengikuti yang lain keluar dari pintu yang sama.

Tubuh Emune yang melayang bergetar keras. Voispir membungkusnya dan mengangkatnya tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit kamar. Voispir berubah warna dari putih ke hitam lalu ke abu dan terus berubah-ubah sampai menghilang.

Tubuh  Emune yang melayang bergerak turun dan jatuh perlahan di atas tempat tidur. Mata Emune tertutup rapat.

“Emune, bangun.” Seseorang berusaha membangunkannya.

Emune membuka matanya. Cahaya matahari dari jendela membuatnya silau. Sudah pagi. Apakah semuanya hanya mimpi? Kalau benar hanya mimpi, rasanya terlalu panjang.

Dada Emune terasa sakit. Apa yang dilihatnya tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Brutal, sadis dan tak bisa dimaafkan.

“Aku bermimpi tentang Ibu. Kabut hitam menyelubungiku dan membuatku melayang.” Emune berbicara sekenanya. Tidak semua kisahnya boleh diketahui orang lain. Ia harus berhati-hati di mana pun dan dengan siapa pun.

Fiona ternganga. “Oh, kau bertemu Voispir!” serunya terperangah. Ia segera duduk di samping tidur Emune. “Ya ampun, Emune, untung kau bisa bangun pagi ini.”

“Seburuk itukah Voispir?” tanya Emune meski ia sudah bertemu sendiri dengannya.

“Dia hanya memberimu sedikit kisah lalu menawarkan lanjutannya dengan imbalan macam-macam. Ada yang tidak bangun sama sekali setelah bertemu Voispir.”

“Aku beruntung kalau begitu,” ucap Emune.

“Sangat beruntung. Dengar, efek bertemu Voispir berbeda-beda pada masing-masing orang. Orang yang tidak kuat bisa gila karena mengingat masa lalu. Sebaiknya kau segera mandi dan sarapan. Setelah itu ceritakan mimpimu padaku, kalau kau mau.” Fiona mengulurkan segelas air minum pada Emune.

“Ya. Tentu. Baiklah, aku akan mandi dulu.” Emune meneguk air dari gelas pelan-pelan.

Emune menunggu Fiona keluar dari kamar baru ia berani memeriksa tas kecilnya. Semua masih lengkap. Di alam kehampaan itu, ia ingat bagaimana Voispir ketakutan karena sinar hijau yang keluar dari bandul zamrudnya. Emune lega karena harta berharganya tidak hilang. Ia bersiap untuk mandi.

Biasanya Emune selalu mandi seperlunya, tidak berlama-lama, tapi setelah melihat sejarahnya melalui kisah Voispir, ia jadi ingin mengulasnya. Kamar mandi sebenarnya bukan tempat yang tepat tapi ia tidak bisa tenang jika ada orang lain meskipun hanya Fiona.

Emune menyiramkan air hangat ke tubuhnya. Fiona baik sekali meminta pelayan menyiapkan air hangat untuk mandinya. Mungkin ia khawatir Emune akan pingsan seperti kejadian di Tighourt. Pipi Emune memerah, ia masih saja malu jika teringat kejadian itu.

Dulu ia selalu berharap bisa mengenal ibunya, mengetahui sejarah kehadirannya di dunia. Apakah ia mirip ibunya atau lebih mirip ayahnya? Apakah ia punya kakek dan nenek? Apakah mereka menyayanginya? Pertanyaan-pertanyaan yang begitu menyiksanya hingga Voispir pun terpanggil.

Elizai Murisie Nezca Orsgadt. Emune. Dia adalah seorang putri kerajaan. Putri yang sejak lahir tidak memiliki kerajaan bahkan keluarga karena pemberontakan Goenhrad.

Di mata Emune mulai muncul wajah-wajah ayah dan ibu kandungnya, kakeknya, orang-orang yang membelanya dengan nyawa mereka sendiri. Emune tidak kuat menahan beban itu. Ia menangis sejadinya.

“Maafkan aku ... maafkan aku,” ucapnya pelan di sela tangisnya.

Kebencian Emune kepada Goenhrad semakin besar. Manusia kejam itu merenggut semuanya dari Emune, yaitu kehidupan orang-orang yang menyayangi Emune dan kedamaian Orsgadt. Emune berpikir keras bagaimana bisa orang yang tak pernah terdengar atau diketahui sejarahnya tiba-tiba memimpin pemberontakan dan menjadi raja baru? Walaupun Urndie pernah bercerita tentang penyihir dan naga Anthura, mengapa tidak seorang pun yang tahu tentang Goenhrad?

Emune sudah menguatkan tekad. Ia tidak akan lari dari takdirnya. Emune bersumpah akan membalaskan dendam keluarganya dan seluruh rakyat Orsgadt.

“Hari ini, apa pun yang terjadi, aku harus menyampaikan niatku ke Eimersun pada Ronald,” putusnya tegas.

Episodes
1 Ulrych
2 Urndie
3 Legenda Orsgadt
4 Kepedihan
5 Air Terjun Penyesalan
6 Gadis-Gadis Ceria
7 Kabar Duka
8 Keputusan Emune
9 Perayaan Ulrych
10 Malam Perpisahan
11 Menuju Alder
12 Tighourt
13 Zamrud
14 Kahurrseig
15 Di Kastil Berham
16 Sejarah Kelam
17 Voispir
18 Buku Ajaib
19 Elric
20 Kerusuhan di Darfin
21 Selamatkan Emune!
22 Proner
23 Galvei
24 Penguntit
25 Api dan Es
26 Eufrack Sialan!
27 Horeen
28 Farclere
29 Elric dan Emune
30 Toure
31 Keturunan Raja
32 Lengan, Pedang dan Belati
33 Petaka Hitam
34 Serangan
35 Di Tepi Hutan Dumina
36 Memasuki Hutan Dumina
37 Goenhrad
38 Putri Mahkota Orsgadt
39 Berlari dan Terbang
40 Suara-Suara Gaib
41 Selangkah Lagi
42 Memasuki Orsgadt
43 Olevander dan Ramalan Kuno
44 Amukan Peri
45 Sebelum Berpisah
46 Lingkaran Killgins
47 Duyung-Duyung Kigurst
48 Pilar Artamea
49 Di Eimersun
50 Sebelum Moughty
51 Gunung Moughty
52 Malam di Hutan Ajaib
53 Raja Peri Drav
54 Sekutu
55 Kehangatan Eimersun
56 Peta Kekuatan
57 Serangan
58 Angin Peperangan
59 Cinta dan Logika
60 Perang
61 Pengkhianat
62 Mundur
63 Kemenangan Kecil
64 Korta dan Anthura
65 Melawan Kekuatan Kegelapan
66 Sang Penyihir
67 Dendam dan Pengorbanan
68 Makhluk Hebat
69 Elzenthum
70 Inti Elzenthum
71 Mata Hati Goenhrad
72 Musuh Terakhir
73 Orsgadt Baru
74 Bangsawan Malfice
75 Cinta di Udara
76 Kedamaian
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Ulrych
2
Urndie
3
Legenda Orsgadt
4
Kepedihan
5
Air Terjun Penyesalan
6
Gadis-Gadis Ceria
7
Kabar Duka
8
Keputusan Emune
9
Perayaan Ulrych
10
Malam Perpisahan
11
Menuju Alder
12
Tighourt
13
Zamrud
14
Kahurrseig
15
Di Kastil Berham
16
Sejarah Kelam
17
Voispir
18
Buku Ajaib
19
Elric
20
Kerusuhan di Darfin
21
Selamatkan Emune!
22
Proner
23
Galvei
24
Penguntit
25
Api dan Es
26
Eufrack Sialan!
27
Horeen
28
Farclere
29
Elric dan Emune
30
Toure
31
Keturunan Raja
32
Lengan, Pedang dan Belati
33
Petaka Hitam
34
Serangan
35
Di Tepi Hutan Dumina
36
Memasuki Hutan Dumina
37
Goenhrad
38
Putri Mahkota Orsgadt
39
Berlari dan Terbang
40
Suara-Suara Gaib
41
Selangkah Lagi
42
Memasuki Orsgadt
43
Olevander dan Ramalan Kuno
44
Amukan Peri
45
Sebelum Berpisah
46
Lingkaran Killgins
47
Duyung-Duyung Kigurst
48
Pilar Artamea
49
Di Eimersun
50
Sebelum Moughty
51
Gunung Moughty
52
Malam di Hutan Ajaib
53
Raja Peri Drav
54
Sekutu
55
Kehangatan Eimersun
56
Peta Kekuatan
57
Serangan
58
Angin Peperangan
59
Cinta dan Logika
60
Perang
61
Pengkhianat
62
Mundur
63
Kemenangan Kecil
64
Korta dan Anthura
65
Melawan Kekuatan Kegelapan
66
Sang Penyihir
67
Dendam dan Pengorbanan
68
Makhluk Hebat
69
Elzenthum
70
Inti Elzenthum
71
Mata Hati Goenhrad
72
Musuh Terakhir
73
Orsgadt Baru
74
Bangsawan Malfice
75
Cinta di Udara
76
Kedamaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!