Pintu rumah terbuka, Bibi Mary berdiri di depan pintu sambil meletakkan tangan kirinya di dada. Rasa lega tampak jelas di wajahnya saat melihat Emune ada di sana. Ada hal lain yang membuatnya cemas namun lebih dari apapun, yang paling penting adalah membawa masuk Emune ke dalam rumah. Ada seseorang yang harus ia temui.
“Syukurlah kau sudah pulang. Ayo cepat masuk,” ajak Bibi Mary.
“Kami tadi dimarahi Nyonya Bretien. Dia mengamuk. Coba Bibi lihat wajahnya saat itu, mengerikan. Aku tidak mengerti kenapa ia seperti kerasukan. Apa Bibi tahu kalau dia senang sekali berkeliling desa? Beberapa hari lalu ia menangkap basah muda-mudi yang sedang berkencan. Maksudku, apa salahnya orang berkencan?” cerocos Emune.
“Sayang, sebaiknya kita bicarakan tentang itu lain kali ya. Ada hal penting yang harus kau ketahui.” Mary Granthea menggandeng Emune masuk ke rumah. Orang yang perasaannya peka pasti bisa merasakan kesuraman yang memenuhi rumah itu saat ini.
Emune masuk ke dalam rumah. Ruang tamu menjadi lebih gelap karena jendela-jendela samping ditutup. Emune melihat Paman Henry duduk di kursi di ujung meja makan. Di sisi yang lain seorang pria yang tidak Emune kenal bangkit dari duduknya saat keduanya mendekat.
“Emune, duduk di sini, Nak,” ucap Paman Henry.
Emune duduk di kursi di dekat Paman Henry. Bibi Mary memilih berdiri. Emune ingin bertanya tapi suasana ini terasa tidak menyenangkan. Entah apa yang sedang terjadi.
“Kenalkan ini Tuan Arrand, dia adalah salah satu sahabat ayahmu. Dia datang dari jauh untuk menyampaikan kabar langsung kepadamu.”
Emune terkesiap. Ia sangat gembira akhirnya ada kabar tentang ayahnya. Sudah lama sekali ia menunggu hari seperti ini datang.
“Tuan, apakah ayahku sehat? Di mana ia sekarang berada? Aku sangat ingin bertemu dengannya.” Emune tak sabar mendengar berita tentang ayahnya.
Arrand yang masih berdiri sejak kedatangan Emune tadi, menghela nafas pelan. Ia tidak tega tapi walau bagaimanapun ia harus menyampaikannya. Melihat Emune yang begitu bersemangat, ia khawatir gadis itu akan hancur mendengar berita ini. Arrand melepas topinya lalu dengan pelan menyampaikan bahwa ayah Emune telah meninggal dunia.
“Maaf, aku hanya membawa berita sedih itu, Emune,” ucap Arrand.
Emune terdiam. Tubuhnya bergetar tapi tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia bahkan tidak membantah perkataan Arrand. Kepalanya penuh dengan wajah dan kenangannya bersama sang ayah.
Arrand mendekati Emune. “Aku tahu ini berat terlebih lagi cukup lama kau menunggu ayahmu kembali namun aku harap kau tabah.” Arrand tidak tahan melihat gadis muda itu. Seandainya gadis itu menangis dan mengamuk, itu mungkin akan lebih wajar baginya. Arran berdeham. “Ini adalah barang-barang milik ayahmu. Ia ingin kau memilikinya.” Sebuah kotak berbahan perak ia letakkan di atas meja. Emune hanya melihat sebentar lalu menunduk.
“Terima kasih, Tuan Arrand. Anda sangat baik mau menyempatkan kemari,” ucap Emune lirih sambil berjuang menahan tangisnya.
“Aku rasa sebaiknya Emune beristirahat,” saran Bibi Mary. Ia tahu tamunya kikuk dengan situasi ini dan Emune perlu waktu untuk menerima berita sedih itu. “Ayo Nak, kau bisa beristirahat di kamar Clarice.” Bibi Mary membantu Emune berdiri dan membawakan kotak kecil tadi.
Emune tiba-tiba berbalik dan menatap Arrand. Ia mengusap matanya sebentar. “Tuan, apakah kau akan tinggal lama di Ulrych?” tanya Emune.
“Tidak. Aku akan tinggal malam ini tapi harus meneruskan perjalanan ke Eimersun besok. Apa ada yang kau butuhkan?” Arrand tersenyum tipis pada gadis yang sedang berduka itu.
“Aku mohon, sebelum kau pergi, tolong ceritakan semua tentang Ayah. Aku tidak tahu apakah kelak akan bertemu lagi dengan orang yang mengenalnya.”
“Ya, tentu. Beristirahatlah agar kau lebih tenang,” ucap Arrand.
“Terima kasih, Tuan Arrand,” ucap Emune sekali lagi.
Arrand mengangguk sembari *******-***** topinya. Ia sudah melewati masa krisis berkali-kali dalam perjalanan namun ternyata menyampaikan berita duka kepada seorang gadis yang ditinggalkan oleh ayahnya bertahun-tahun lalu jauh lebih mengerikan. Ia tidak menyukai perasaan campur aduk yang menyiksanya saat ini.
“Bukan salahmu, Tuan Arrand. Beritanya memang tidak menyenangkan. Ayo duduklah, sebaiknya kita minum-minum sebentar. Mary akan menyiapkan makanan untukmu. Kau pasti Lelah setelah berjalan jauh.” Henry Grantea menuangkan bir untuk tamunya.
“Aku tidak pandai dengan hal seperti ini. Terima kasih tapi aku tidak ingin merepotkan.” Arrand menolak halus tawaran itu.
“Tidak, tidak. Tinggallah di sini malam ini. Anak-anakku tadi pagi berangkat ke rumah sepupunya di desa sebelah. Mereka baru akan kembali besok sekitar siang atau sore hari. Jangan sungkan.”
“Terima kasih. Aku harap Emune bisa menerimanya.”
“Dia gadis yang kuat. Pasti bisa.” Henry Grantea tersenyum. “Emune bukan gadis biasa. Kalau tiba-tiba ada hujan batu besar di sini, aku yakin dia satu-satunya yang akan selamat,” ucapnya memuji tinggi-tinggi anak angkatnya itu.
“Ya, dia gadis yang istimewa,” sahut Arrand.
Arrand ikut tersenyum. Ia duduk di kursi di dekat sang tuan rumah yang ramah. Setidaknya selama ini Emune dijaga oleh dua orang yang sangat baik, bisiknya dalam hati.
Kesedihan Emune tertumpah di kamar Clarice. Dalam situasi biasa, ia akan ternganga melihat kamar yang dihias seperti kamar putri bangsawan namun karena berita kematian ayahnya, bagi Emune semuanya abu-abu. Bibi Mary membawakan makanan dan air madu untuknya. Bibi Mary memeluk dan menenangkannya sama seperti malam saat ia ditinggalkan oleh ayahnya. Emune yang tak pernah mengenal ibu kandungnya yakin bahwa ibunya pasti sebaik dan sehangat Bibi Mary.
“Beristirahatlah setelah makan malam, Emune. Kau akan lebih baik jika tidur cepat malam ini. Esok pagi usai sarapan, kau bisa berbincang-bincang dengan Tuan Arrand. Kau pasti ingin tahu banyak tentang ayahmu bukan?”
“Iya Bibi. Akhirnya aku benar-benar ditinggalkan oleh Ayah. Akhirnya ia bisa bertemu Ibu,” gumam Emune.
“Sayang, bersabarlah. Menangislah sepuasmu malam ini tapi esok kau akan tersenyum mengingat betapa hebatnya orang tuamu dan mereka sudah bersatu sekarang. Kau anak yang kuat, Emune,” ucap Bibi Mary. Ia mencium kening Emune dan meninggalkannya untuk beristirahat.
Air mata yang tadinya tak mau keluar kini mengalir deras di sela-sela isakan Emune. Ia sudah sering mengalami kesedihan dan ia hampir terbiasa mengatasinya dengan sugesti bahwa di balik semua kesedihan pasti akan ada hal baik yang menantinya.
Sapu tangan Emune basah oleh air mata. Ia merasa lapar. Sepotong roti dan keju dirasanya cukup untuk mengisi perutnya sementara. Lampu kamar mulai redup saat Emune hendak membuka kotak yang diberikan oleh Arrand.
Dibalik rasa ingin tahunya, Emune enggan membukanya. Ia ingin mengenang ayahnya lebih lama malam ini. Mungkin besok adalah waktu yang lebih baik. Emune meniup lampu minyak di atas meja lalu membaringkan diri.
“Ayah, Ibu, berbahagialah di sana,” ucap Emune. Matanya tertutup pelan dan kegelapan membuatnya tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments