Urndie

Secangkir madu hangat dan pai buah terhidang di atas meja.  Emune sudah tidak sabar menunggu aba-aba dari Urndie untuk menyantapnya. Sementara itu Urndie, pria tua berjenggot putih dan berjubah panjang sedang sibuk membongkar sebuah kotak di meja kerjanya. Benda-benda yang tidak diinginkan sekarang tertumpuk di atas meja. Gulungan perkamen, pena bulu, baling-baling kayu dan benda lainnya ia dorong ke tengah meja.

Emune mengenal Urndie sejak ia masih kecil. Awalnya ia takut karena pondok Urndie ada di dekat hutan dan agak jauh dari pemukiman penduduk. Anak-anak di Ulrych menyebutnya penyihir karena ia selalu memakai jubah panjang dan membawa tongkat kayu yang kepalanya melengkung.

Waktu itu ia dan teman-temannya bermain di dekat hutan. Kaki Emune tergores ranting hingga berdarah dan karena sakit, Emune tidak bisa mengimbangi lari teman-temannya hingga akhirnya ia tertinggal. Hari mulai gelap dan ia tidak bisa lagi berjalan.

Saat itulah Urndie yang hendak kembali ke pondok melihatnya duduk di atas batu sambil membersihkan darah yang mengering di sekitar lukanya dengan daun. Ia takut pada Urndie tapi lelaki tua itu memberinya setangkai bunga rumput dan berkata akan mengobati lukanya sebelum mengantarnya pulang. Paman Henry dan Bibi Mary sangat khawatir namun mereka menjadi sangat lega saat tahu bahwa Urndie yang telah menolongnya.

“Urndie itu orang yang pintar. Kau tidak perlu takut padanya. Dia bukan penyihir.” Bibi Mary mengagumi Urndie dan ia suka jika Emune mau belajar dari pria tua itu.

“Apa aku boleh ke pondoknya dan berterima kasih karena telah ditolong?” tanya Emune.

“Tentu saja. Setelah kau sembuh, kau boleh ke sana. Bawakan ia roti dan keju terbaik yang kita punya,” jawab Bibi Mary.

Izin dari paman dan bibinya membuat Emune mempercayai Urndie. Ketika ia membawa sekeranjang kecil keju dan roti sebagai ucapan terima kasih pada Urndie, ia dipersilahkan masuk dan langsung tertegun melihat betapa rapinya pondok Undrie. Pondok itu tidak seperti pondok penyihir yang diceritakan orang-orang padanya. Ada meja besar, rak-rak berisi gulungan kertas dan bunga-bunga dalam pot kecil.

Urndie menawari Emune untuk belajar membaca dan menulis. Awalnya Emune tidak begitu suka karena harus menghafal dan menulis huruf-huruf yang terlihat seperti deretan benang kusut tapi setelah beberapa waktu ia jadi terbiasa. Setiap kali Urndie kembali dari perjalanannya, ia selalu membawakan oleh-oleh dan cerita yang seru. Jika diingat-ingat, cerita-cerita Urndielah yang membuatnya kuat dan bersemangat terutama saat berhadapan dengan bocah-bocah Grantea.

“Ah, bersabarlah denganku, Emune. Ada yang ingin kutunjukkan padamu. Oh, kau boleh memakan painya. Cobalah madu hangat itu. Aku membelinya di Beva. Kau tahu Beva itu dimana?”

“Eimersun,” jawab Emune singkat. Ia buru-buru menyambar pai buah yang tampak begitu menggoda. Pai itu sangat lezat. Indera pencernaannya seperti sedang menari-nari. Ia jamin tidak semua penduduk desa ini pernah memakannya. “Enak sekali. Aku belum pernah makan pai seperti ini.”

“Ya, penduduk desa ini pencinta roti dan keju. Kau tahu Tuan Hendell? Ia pernah membawa pulang pai seperti ini sekembalinya dari Imperia. Keluarganya hanya menonton pai itu. Mereka pikir itu semacam hiasan dan ya, pai itu akhirnya berjamur lalu dibuang.”

“Kalau mereka tahu betapa lezat rasanya, mereka pasti akan sangat menyesal.”

“Aha, ini dia!” seru Urndie. Sebuah gulungan perkamen ada di tangannya. Ia membawanya dan meletakkan di atas meja. “Ini adalah perkamen tua. Aku hampir saja melewatkannya.”

“Memang terlihat sangat tua,” ucap Emune sambil meringis.

Sejak mengenal Urndie, dia sudah disodorkan berbagai hal menakjubkan. Mulai dari belajar membaca dan menulis, menggambar, menjahit dan satu-satunya yang Emune anggap konyol adalah tata cara makan formal. Ia tak habis pikir untuk apa ia mempelajari yang satu itu. Ia jelas-jelas bukan bangsawan dan tidak ada lelaki bangsawan yang akan mau menikahi anak pungut sepertinya.

Ia ingat Urndie berkata padanya, “Tidak ada ruginya untuk tahu. Kelak kau mungkin akan menemukan manfaatnya”.

Urndie membuka gulungan perkamen dengan hati-hati. Perkamen itu pasti sudah berusia ratusan tahun namun bahan kulitnya sangat kuat. Matanya berbinar saat melihat sebuah peta tergambar di atas lapisan kulit.

“Kau tahu ini apa, Emune?”

“Peta?”

“Ya, ini peta asli Dunia Artamea. Hanya ada sau peta asli dan lima salinannya.”

“Bagaimana kau tahu kalau ini asli?” Tanya Emune penuh rasa ingin tahu.

“Karena di bawah sini ada tulisan asli Raja Agung Osgardt.” Urndie menunjuk bagian bawah peta. Sebuah kalimat tertulis indah dengan tinta emas. “Bisakah kau membacanya?”

“Artamea, dunia yang damai.” Emune membaca pelan-pelan bukan karena ia tidak bisa membaca cepat tapi karena tulisan itu sangat rapi, bersih dan indah. Seperti inikah tulisan seorang raja? Ia langsung membayangkan seperti apa rupa Raja Agung Orsgadt.

“Benar sekali. Raja Agung Orsgadt mengesahkan peta ini ratusan tahun lalu.”

“Kenapa peta asli bisa ada di luar istana? Apakah tidak berguna lagi?”

Urndie menghela nafas. “Sejak pemberontakan Goenhrad, setelah semua keluarga istana dieksekusi di tempat ia memerintahkan untuk memusnahkan semua catatan kerajaan. Sudah belasan tahun dan dia masih saja mengerahkan pasukannya untuk mencari para pengikut setia Raja Agung Orsgadt. Para pengikut setia sepertinya berhasil menemukan cara menyeludupkan beberapa benda keluar dari istana.”

“Sungguh mengerikan. Mengeksekusi seluruh anggota kerajaan. Apakah ada anak-anak juga? Kenapa aku tidak pernah mendengar cerita ini?” Emune terperangah.

“Orang tua, anak-anak, semuanya dibunuh. Tentu saja kau tidak pernah mendengarnya. Seluruh rakyat Orsgadt dilarang membicarakan apapun yang terkait dengan Raja Agung Orsgadt. Mereka bahkan tidak boleh menyebut namanya, hukuman mati bagi yang melanggar. Jadi setelah belasan tahun, sudah tidak ada lagi jejak masa keemasan pemerintahan sang Raja Agung.” Urndie tersenyum miris.

“Apa kau akan ditangkap jika membicarakan sejarah itu meskipun kau bukan penduduk Orsgadt?” tanya Emune.

“Meskipun kita ada di luar wilayah Orsgadt, kita tetap harus berhati-hati. Sudah lama diketahui bahwa Goenhrad menyebar mata-mata ke seluruh Artamea. Begitulah ketakutan seorang pemberontak bahwa kelak ia akan mengalami nasib yang sama dengan raja yang ia khianati.”

“Maukah kau menceritakannya padaku?”

“Hanya jika kau berjanji tidak menyebut dan membicarakannya kepada orang lain.” Urndie melihat telapak tangan kirinya. Ia mengepalkan tangannya lalu membukanya lagi.

“Aku berjanji,” ucap Emune dengan sungguh-sungguh. ”Aku rasa sebaiknya kita tunda lain hari ceritanya. Hari ini aku akan mengajarimu cara membaca peta ini. Kau harus mengingatnya, Emune. Mungkin kelak kau satu-satunya yang mengetahui sejarah Orsgadt yang sesungguhnya.”

Emune menatap wajah Urndie. Lelaki tua itu biasanya penuh canda namun hari ini semua terdengar serius. Urndie satu-satunya orang terpelajar di Ulrych. Setahu Emune, hanya beberapa orang yang lancar membaca dan menulis di desa ini. Sekolah ada di kota namun penduduk desa tidak mampu membayar biaya pendidikan yang mahal. Pendidikan hanya untuk para bangsawan dan rakyat jelata lebih baik belajar bagaimana bertahan hidup sehari-hari.

“Peta ini adalah peta lama Artamea namun tidak banyak yang berubah selain Orsgadt. Coba lihat, di utara Arsyna ada tiga kerajaan manusia, yaitu Imperia, Orsgadt dan Eimersun. Setiap perbatasan dijaga ketat dan tidak sembarang orang bisa masuk ke wilayah suatu kerajaan tanpa izin.” Urndie mengeluarkan sebuah kertas kecil dari kantung jubahnya. “Ini adalah cap masuk yang diberikan saat memasuki gerbang utama Orsgadt. Hanya berlaku satu minggu dan harus diserahkan saat keluar dari Orsgadt. Kerajaan lain tidak menerapkan system ini tapi mereka punya petugas khusus yang akan memeriksa setiap orang yang keluar-masuk wilayah kerajaan. Menarik bukan?”

“Sangat menarik. Aku berharap suatu saat bisa pergi ke kerajaan-kerajaan itu. Apakah seramai Arsyna?”

“Lebih ramai dari Arsyna. Arsyna adalah kerajaan terkecil dan Ulrych adalah desa terjauh dari Orsgadt.”

“Aku jadi merasa seperti orang yang dibuang. Apa sih yang dipikirkan oleh Ayah saat menyerahkanku pada Paman Henry?” Emune menggaruk pelipisnya dan mendesah berat.

“Ayahmu pasti menginginkan yang terbaik untukmu. Kulihat Henry dan Mary merawatmu dengan baik. Kau ada di sini, sehat, ceria dan berpakaian layaknya gadis baik-baik.”

“Ya, Paman dan Bibi memang baik. Entah apa jadinya kalau mereka tidak merawatku.”

Urndie tersenyum. Kumis dan janggutnya yang beruban terlihat lucu menutupi sekeliling bibirnya. “Kau mau tambah pai dan madu hangatnya?”

“Mau.” Emune tidak mungkin menolak. Pai yang lezat, madu hangat yang beraroma lembut dengan sedikit rasa asam hanya ada di pondok Urndie.

“Jadi hari ini kau boleh bermain sampai sore?”

“Iya. Senangnya terbebas dari bocah-bocah Grantea. Mereka sangat merepotkan. Pagi ini aku disiram dan disuruh mengerjakan tugas mereka. Untunglah ada Bibi Mary yang menyelamatkanku.”

“Henry dan Mary adalah orang-orang yang baik. Ayahmu tidak akan menyerahkanmu jika ia tidak mempercayai mereka. Keluarga Grantea sudah membaik sekarang. Sayang sekali harta mereka hampir habis karena kelakuan kakek buyutnya.”

“Ya, aku mendengar tentang itu dari Thomas. Ia suka sekali membual pada gadis-gadis.” Emune tertawa geli.

“Sudah saatnya dia menikah bukan?”

“Aku tahu beberapa gadis yang menyukainya tapi mereka pasti akan kecewa saat tahu bahwa dia tidak sehebat ceritanya. Apa semua pemuda selalu membual?”

“Itu pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Tanyakan langsung pada Thomas.” Urndie tertawa.

“Tidak mungkin. Aku bahkan tidak mau melihatnya. Si kembar juga menyusahkanku. Apa jadinya jika tak ada Paman Henry dan Bibi Mary? Aku pasti akan jadi babu dan pelampiasan kemarahan mereka,” ucap Emune ketus.

“Tidak ada yang tidak bisa kau atasi. Kau bisa bertahan hidup dengan mereka selama ini. Itu luar biasa.”

“Aku berjuang keras untuk tetap hidup,” seloroh Emune. “Oh iya, apa cerita tentang Orsgadt sangat panjang? Haruskah aku membatalkan makan siang dengan teman-temanku?”

“Tidak … tidak perlu. Datanglah setelah makan siang. Ingat, ini rahasia kita berdua, jangan bercerita kepada siapa pun.”

“Aku mengerti.”

Urndie meminum madu hangatnya. “Imperia saat ini sedang sibuk menyiapkan diri mengadapi badai pasir yang menimbun sebagian wilayah mereka setiap tahun. Kita di Arsyna cukup beruntung karena ada Hutan Dumina yang menahannya. Jika kau kelak berkeliling Artamea, sempatkanlah berkeliling Imperia. Kerajaan itu punya bukit-bukit dan danau yang indah. Berkebun dan beternak menjadi mata pencaharian utama rakyatnya. Raja Imperia yang sekarang, Raja Leoric, adalah keturunan kesebelas. Masih lebih muda jika dibandingkan sejarah Eimersun dan Orsgadt. Beliau memimpin dengan baik. Mengutamakan keamanan kerajaan dan kesejahteraan rakyatnya.”

“Aku suka raja yang baik. Goenhrad terdengar sangat tidak baik,” ucap Emune setengah berbisik.

“Dia memang tidak baik,” balas Urndie, ikut berbisik seperti Emune.

Keduanya tertawa karena merasa konyol harus berbisik-bisik seperti itu. Emune meneguk madu hangat yang baru dibuatkan oleh Urndie.

“Bagaimana dengan Orsgadt dan Eimersun?”

“Eimersun. Negeri yang luar biasa. Kerajaan terdekat dengan wilayah kerajaan peri. Pedang dan baju zirah terbaik berasal dari Eimersun. Kerajaan itu sedang bersiap untuk Festival Matahari yang akan diadakan di musim panas. Apa kau tahu bahwa Eimersun adalah satu-satunya kerajaan dengan dua musim? Musim panas dan musim hujan. Rajanya saat ini adalah Raja Duncan, keturunan kelima belas. Ia memiliki seorang putra yang tampan. Dua atau tiga tahun lebih tua darimu. Aku rasa ia akan menyukaimu.”

“Huh, itu hanya khayalan. Mana ada pangeran yang mau pada perempuan desa sepertiku? Dia pasti mengira aku hanya seorang pembantu yang kebetulan tersesat di kerajaannya.”

“Begitukah? Emune, tanpa menjadi seorang putri raja sekalipun kau adalah gadis yang hebat.”

“Terima kasih, aku bisa meleleh jika dipuji terus.” Emune meneguk sisa madu hangat kemudian bangkit dari kursi kayu yang didudukinya. “Baiklah, aku akan pergi sekarang dan kembali setelah makan siang. Kau masih hutang satu cerita. Terima kasih untuk hidangan pagi ini.”

“Hati-hati di jalan, Emune.”

Urndie tersenyum melihat sosok Emune yang menghilang di balik pintu pondoknya. Ia suka pada gadis itu. Emune mengingatkannya pada putrinya yang telah meninggal. Ia berjanji akan melindunginya dengan cara apapun selama ia masih hidup. Gadis itu pantas untuk bahagia.

Terpopuler

Comments

Dewi

Dewi

Setuju

2023-08-01

1

lihat semua
Episodes
1 Ulrych
2 Urndie
3 Legenda Orsgadt
4 Kepedihan
5 Air Terjun Penyesalan
6 Gadis-Gadis Ceria
7 Kabar Duka
8 Keputusan Emune
9 Perayaan Ulrych
10 Malam Perpisahan
11 Menuju Alder
12 Tighourt
13 Zamrud
14 Kahurrseig
15 Di Kastil Berham
16 Sejarah Kelam
17 Voispir
18 Buku Ajaib
19 Elric
20 Kerusuhan di Darfin
21 Selamatkan Emune!
22 Proner
23 Galvei
24 Penguntit
25 Api dan Es
26 Eufrack Sialan!
27 Horeen
28 Farclere
29 Elric dan Emune
30 Toure
31 Keturunan Raja
32 Lengan, Pedang dan Belati
33 Petaka Hitam
34 Serangan
35 Di Tepi Hutan Dumina
36 Memasuki Hutan Dumina
37 Goenhrad
38 Putri Mahkota Orsgadt
39 Berlari dan Terbang
40 Suara-Suara Gaib
41 Selangkah Lagi
42 Memasuki Orsgadt
43 Olevander dan Ramalan Kuno
44 Amukan Peri
45 Sebelum Berpisah
46 Lingkaran Killgins
47 Duyung-Duyung Kigurst
48 Pilar Artamea
49 Di Eimersun
50 Sebelum Moughty
51 Gunung Moughty
52 Malam di Hutan Ajaib
53 Raja Peri Drav
54 Sekutu
55 Kehangatan Eimersun
56 Peta Kekuatan
57 Serangan
58 Angin Peperangan
59 Cinta dan Logika
60 Perang
61 Pengkhianat
62 Mundur
63 Kemenangan Kecil
64 Korta dan Anthura
65 Melawan Kekuatan Kegelapan
66 Sang Penyihir
67 Dendam dan Pengorbanan
68 Makhluk Hebat
69 Elzenthum
70 Inti Elzenthum
71 Mata Hati Goenhrad
72 Musuh Terakhir
73 Orsgadt Baru
74 Bangsawan Malfice
75 Cinta di Udara
76 Kedamaian
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Ulrych
2
Urndie
3
Legenda Orsgadt
4
Kepedihan
5
Air Terjun Penyesalan
6
Gadis-Gadis Ceria
7
Kabar Duka
8
Keputusan Emune
9
Perayaan Ulrych
10
Malam Perpisahan
11
Menuju Alder
12
Tighourt
13
Zamrud
14
Kahurrseig
15
Di Kastil Berham
16
Sejarah Kelam
17
Voispir
18
Buku Ajaib
19
Elric
20
Kerusuhan di Darfin
21
Selamatkan Emune!
22
Proner
23
Galvei
24
Penguntit
25
Api dan Es
26
Eufrack Sialan!
27
Horeen
28
Farclere
29
Elric dan Emune
30
Toure
31
Keturunan Raja
32
Lengan, Pedang dan Belati
33
Petaka Hitam
34
Serangan
35
Di Tepi Hutan Dumina
36
Memasuki Hutan Dumina
37
Goenhrad
38
Putri Mahkota Orsgadt
39
Berlari dan Terbang
40
Suara-Suara Gaib
41
Selangkah Lagi
42
Memasuki Orsgadt
43
Olevander dan Ramalan Kuno
44
Amukan Peri
45
Sebelum Berpisah
46
Lingkaran Killgins
47
Duyung-Duyung Kigurst
48
Pilar Artamea
49
Di Eimersun
50
Sebelum Moughty
51
Gunung Moughty
52
Malam di Hutan Ajaib
53
Raja Peri Drav
54
Sekutu
55
Kehangatan Eimersun
56
Peta Kekuatan
57
Serangan
58
Angin Peperangan
59
Cinta dan Logika
60
Perang
61
Pengkhianat
62
Mundur
63
Kemenangan Kecil
64
Korta dan Anthura
65
Melawan Kekuatan Kegelapan
66
Sang Penyihir
67
Dendam dan Pengorbanan
68
Makhluk Hebat
69
Elzenthum
70
Inti Elzenthum
71
Mata Hati Goenhrad
72
Musuh Terakhir
73
Orsgadt Baru
74
Bangsawan Malfice
75
Cinta di Udara
76
Kedamaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!