Kahurrseig

Derap kaki yang mendekat terdengar semakin jelas. Emune merapikan selimutnya dan berpura-pura tidur.  Anzei dan Maddy muncul dari balik pintu yang terbanting.

Maddy berbicara sambil menghampiri Emune. Kata-katanya sangat cepat dan hampir tidak bisa Emune cernas. Ia sedang berjuang menormalkan detak jantungnya setelah penemuan kalung zamrud tadi.

“Cepat Emune, tidak ada waktu. Anzei, kotak itu dan yang di sana.”

Anzei dengan sigap Menyusun kedua kotak yang ditunjuk oleh Maddy. “Ada lagi yang harus kubawa?” tanya pemuda itu. Tidak banyak barang terlihat di kamar ini dan karena mereka hanya bermalam sebentar, tidak perlu membongkar semua bawaan.

“Coba periksa sekali lagi agar tidak ada yang tertinggal,” jawab Maddy. “Emune, kau bisa berdiri? Kau sanggup berjalan?” tanya Maddy.

Emune tersadar dari kehampaan yang mengurungnya saat mendengar suara Maddy di depan wajahnya.

“Bisa, aku rasa bisa. Ada apa ini? Kenapa kita harus bergegas?” Emune membaca kegusaran di wajah Maddy dan Anzei.

“Pasukan kerajaan memeriksa semua rombongan. Kabarnya ada mata-mata perampok di antara rombongan yang tiba di Tighourt. Kita harus keluar dari Tighourt sebelum gerbang kota ditutup.” Anzei menyambar semua yang bisa dibawa oleh tangannya.

“Tapi tidak ada mata-mata di rombongan kita, bukan?” tanya Emune lugu.

“Meskipun tidak ada, jika kita salah bereaksi, hanya ada hukuman mati di tempat. Kita harus ke Kahurrseig. Di sana lebih aman,” jawab Anzei.

Emune tidak merasa perlu mengganti pakaiannya. Nanti saja di kereta, pikirnya. Ia menyambar tas kecilnya selagi Maddy membereskan barang-barang milik Fiona. Fiona pasti tertahan bersama Ronald di suatu tempat di kota ini, pikirnya lagi.

Anzei lebih dulu keluar dari kamar. Anggota rombongan yang lain yang masih ada di lantai dua mengikutinya menuruni tangga. Emune dibantu oleh Maddy, mencoba untuk mengikuti Anzei.

Sesampainya di pintu, Tuan Willard memberi tanda aman lalu satu persatu keluar dengan tenang seakan-akan kepanikan di dalam rumah tadi hanya sebuah sandiwara. Setelah semua keluar dan bergerak menuju kereta-kereta yang diparkir di dekat gerbang kota, Tuan Willard mengunci rumah inap dan menyerahkan kuncinya pada anak laki-laki berambut merah untuk diteruskan ke Nenek Amery. Anak itu segera menghilang dalam keramaian kota sementara Tuan Willard menyusul yang lain dengan langkah cepat.

Kelompok terakhir berhasil melewati gerbang kota. Bergegas mereka menaiki kereta masing-masing. Emune lega karena Ronald dan Fiona sudah ada di kereta. Fiona membantu Emune naik ke kereta. Ia tahu Emune belum sehat benar dari wajahnya yang pucat dan keringat di telapak tangannya.

“Istirahatlah, Emune. Kau pasti lelah berjalan kemari.” Fiona sudah menyiapkan tempat untuk Emune.

“Tidak apa.” Emune ini sangat mendebarkan. Kalung itu yang sebenarnya lebih menyita perhatiannya.

“Kita berangkat.” Ronald mengumumkan kepada keduanya.

Kereta Ronald kali ini berada di barisan paling belakang. Ronaldlah yang akan menghadapi siapa pun yang mengejar mereka dari arah Tighourt. Secepatnya mereka harus sampai di Kahurrseig. Tidak ada tempat berlindung yang lebih baik daripada kediaman Bangsawan Berham.

Ronald hapal semua orang di rombongannya dan merasa mustahil ada yang menjadi mata-mata perampok. Kepercayaan adalah hal yang mahal di antara para pelancong. Tidak bisa dibeli, hanya bisa didapatkan dengan pembuktian. Sejauh ini tidak satu orangpun yang terlihat mencurigakan karena jika ada, Ronald pasti tahu.

“Kau pasti terkejut. Ini kejadian luar biasa. Tidak setiap saat kami harus kabur seperti tadi,” ucap Fiona.

“Anzei menjelaskannya padaku. Apa segawat itu?” tanya Emune penasaran.

“Kami mendapat kabar bahwa tiga orang pengawal yang diberi tugas menyampaikan berita perampokan ditemukan tewas mengenaskan beberapa mil dari wilayah istana. Bisa dipastikan itu ulah para perampok yang ingin mencegah campur tangan istana. Karena itu kemarin Ronald meminta ketua Persatuan Pedagang untuk mengirimkan merpati pos. Jalan itu jauh lebih mudah dan terbukti berhasil.”

“Soal mata-mata, bagaimana bisa dipastikan bahwa .…” Emune tidak menyukai ide bahwa ada orang jahat di dalam rombongan pedagang apalagi jika ada di rombongan mereka.

“Karena para perampok selalu tahu setiap kali ada utusan yang berangkat ke istana,” ucap Fiona.

“Begitu. Apakah sudah tertangkap?” tanya Emune sambil meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Bisa bahaya kalau ia digeledah dan mereka menemukan benda milik Orsgadt.

“Sayangnya belum. Karena itulah lebih baik kita segera pergi.” Fiona mengulurkan segelas air. Wajah Emune masih pucat.

“Anzei bilang kita akan ke Kahur … uuh … Karru ….”

“Kahurrseig. Kediaman Bangsawan Berham. Beliau adalah sahabat baik Arrand. Sebagai salah satu penasihat Raja Arsyna, dia sangat disegani. Pasukan kerajaan sekalipun tidak akan berani bertindak gegabah di kediaman Beliau.” Fiona sengaja menjelaskan panjang lebar agar Emune tidak khawatir.

Emune manggut-manggut. Hari kedua di luar Ulrych sudah penuh hal menegangkan seperti ini, bisakah jantungnya bertahan? Emune membayangkan betapa beratnya perjuangan para pelancong.

Rombongan pedagang harus menempuh puluhan bahkan ratusan mil wilayah Artamea untuk menjual barang dagangan mereka. Kota-kota persinggahan menjadi tempat bernaung terbaik namun perjalanan menuju kota bukannya tanpa resiko seperti kecelakaan karena medan yang sulit, wabah penyakit dan perampok.

Seharusnya aku tidak keluar dari Ulrych, batinnya. Bayangannya tentang perjalanan kembali ke Alder tidak termasuk kejadian dengan peramal aneh dan kabur dari kota saat sedang sakit.

Kahurrseig hanya berjarak 20 mil dari Tighourt, tidak butuh waktu lama untuk sampai. Untung kuda-kuda dan kereta mereka dalam kondisi prima sehingga tidak ada hambatan berarti di perjalanan.

“Kita sudah sampai, itu gerbang kastilnya,” ucap Fiona yang duduk di samping Ronald.

Emune menjengukkan kepalanya hingga bisa melihat kekejauhan dengan lebih baik. Ia terkagum-kagum pada bangunan kastil terlihat megah menjulang di atas daratan kecil di tengah-tengah sebuah danau. Hijaunya latar belakang kastil membuatnya semakin takjub.

Kereta kuda melaju di jembatan, satu-satunya pintu masuk yang menghubungkan kastil dengan tepi danau. Dua orang pengawal memeriksa kereta terdepan. Begitu nama Ronald disebut, salah satu dari mereka berjalan ke kereta paling belakang. Ia berbicara sebentar dengan Ronald lalu memberi tanda pada rekannya agar membiarkan rombongan itu masuk.

Kereta-kereta kuda diparkir rapi. Seorang pelayan pria berlari tergopoh-gopoh menghampiri Ronald disusul beberapa pelayan wanita yang kemudian berbaris rapi di belakangnya. Rombongan di bagi-bagi lalu mereka diantar oleh para pelayan wanita ke tempat mereka beristirahat di sayap kanan kastil.

Emune ingin mengikuti rombongan Maddy dan Anzei yang berjalan teratur mengikuti pemandu mereka tapi ditahan oleh Fiona. Pelayan pria tadi mengumumkan bahwa Lord Berham akan menemui Ronald. Fiona dan Emune akan diantar ke kamar mereka di sayap kiri yang menjadi wilayah kediaman keluarga bangsawan. Roland mengangguk pada Fiona dan Emune sebagai tanda setuju.

Albert, pelayan pria tadi, mengantar Ronald ke ruang kerja Lord Berham. Seorang pelayan wanita datang dan mengantar kedua gadis ke kamar mereka. Melalui Lorong yang panjang dan luas, Emune mengingat-ingat hiasan dinding dan lukisan yang ia temui. Ia tidak mau tersesat di kastil ini, pikirnya.

Langit-langit kastil adalah sebuah karya indah para pemahat terbaik Arsyna. Lukisan Keajaiban, Ia pernah melihat replika kecilnya di pondok Urndie. Patung prajurit berdiri di setiap belokan seakan-akan diperuntukkan sebagai penjaga tetap di sana.

Sebuah tangga membawa mereka ke lantai dua. Sama seperti di lantai bawah, selasar diterangi sinar matahari yang masuk melalui jendela-dendela besar. Emune penasaran seperti apa pemandangan di luar sana jika dilihat dari jendela di lantai dua. Pelayan wanita bernama Agnes membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Fiona dan Emune masuk.

“Jika ada yang dibutuhkan, silahkan tarik tali ini. Kamar para pelayan ada di bawah, salah seorang pelayan akan membantu Anda,” ucapnya sopan. Usai membungkuk, Agnes keluar dan menutup pintu kamar.

“Kamar yang mewah. Terlalu mewah untukku.” Fiona meletakkan bokongnya di atas tempat tidur.

“Kamar ini sangat bagus. Besar dan mewah. Apakah ini kamar putri bangsawan?” tanya Emune.

“Hmm…seingatku Lord Berham tidak punya anak perempuan.”

“Sayang sekali, kastil sebesar ini tapi sepi.”

“Itulah yang menyebabkan Lord berham senang menampung rombongan Arrand. Coba kau lihat rombongan kita penuh laki-laki, perempuan, orang tua dan anak-anak. Dulu hanya tiga kereta yang berangkat mengelilingi Artamea dan sekarang bertambah terus setiap beberapa tahun.” Fiona tersenyum melihat Emune yang lemas dan kelelahan.

“Apa pernah ada yang bosan dan berhenti berdagang?” tanya Emune. Aku mungkin akan mati sebelum hari ketiga kalau bepergian sendiri.

“Biasanya mereka mengenal gadis atau pria setempat lalu memilih untuk menetap. Hai, bagaimana rasanya mengikuti perjalanan ini?” tanya Fiona.

“Luar biasa! Aku suka sekali tempat-tempat baru, orang-orang dan budaya yang belum pernah kulihat sebelumnya.”

“Kau rindu Ulrych?”

“Tentu saja. Aku baru dua hari meninggalkan Ulrych. Apa menurutmu aku terlihat lemah?”

“Kau terjatuh di jalanan, itu lemah. Tapi … kau berani mengambil keputusan ini dan berjuang menjalaninya, itu sangat kuat. Tidak semua gadis berani melakukannya.” Jujur saja Fiona mengagumi tekad Emune.

“Kau tiba-tiba baik, apa yang kau inginkan?” Emune menggerak-gerakkan mulutnya dan mengerutkan kening tanda curiga.

“Apa? Ah, kau pikir aku akan menggodamu ya? Jangan khawatir, aku selalu bersikap baik di sini. Lord Berham sangat ketat soal tata krama.”

Emune ingat pelajaran tata krama yang ia dapat dari Urndie. Ya, ampun, aku memang tidak boleh menganggap remeh ilmu apa pun!

“Apa Beliau akan mengusir kita kalau kita membuat keributan?”

“Keributan ya?” Fiona tertawa geli. “Setahuku rombongan ini selalu ribut terutama usai makan malam. Beri mereka satu tong bir dan anggur, mereka akan berubah seperti kumpulan kera yang membuat kekacauan.”

“Atau tertidur seperti batu sampai siang hari?” goda Emune.

Fiona menganga. “Kau ….”

Emune tertawa puas karena bisa membalas keusilan Fiona.

“Fiona, apa kau tahu bagaimana caranya mengetahui masa lalu?”

“Masa lalu? Maksudmu sejarah hidupmu sendiri atau kejadian di masa lalu?”

“Kisahku sendiri.” Emune menunduk dan memainkan jari-jarinya.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanya Fiona dengan nada menyelidik.

Emune tidak mungkin mengatakan ia ingin tahu tentang sejarah Orsgadt. Apakah ia bagian dari sejarah Orsgadt? Bagaimana kalung itu bisa dimiliki oleh Ayahnya? Mengapa Ayahnya tidak memberi catatan apa pun padanya soal kalung itu? Masih ada setumpuk pertanyaan lagi tapi ia ingin membatasi pengetahuannya tanpa melibatkan orang lain.

Emune menarik nafas berat. “Ibuku. Aku ingin tahu tentang Ibuku.”

“Sepenting itukah untuk tahu masa lalumu? Kau hidup, kau berjuang untuk hidup, itu yang terpenting.” Nada getir terdengar dari suara Fiona.

Emune meringis. Ia tidak tahu sejarah Fiona tapi ia tahu gadis ini, yang hanya berbeda beberapa tahun dengannya, adalah gadis yang sangat kuat. “Ah, hanya keinginan semata. Kau benar, kita hidup dan berjuang adalah yang terpenting.”

Fiona menatapnya serius. “Voispir. Hantu masa lalu. Dia akan bercerita tentang masa lalumu sampai ke bagian-bagian terkecil.”

“Voispir? Di mana aku bisa menemukannya?”

“Di belakang kastil,” jawab Fiona dengan santai.

Jawaban Fiona membuat Emune kesal. “Kau mau mempermainkanku lagi ya? Aku bertanya sungguh-sungguh.”

“Oh, aku bersungguh-sungguh. Apa perlunya aku berbohong. Coba saja kau ke sana? Gadis kecil yang ingin tahu ibunya seperti apa. Apa Cuma kau yang harus diperhatikan?” sembur Fiona pada Emune. Emune sampai tak bisa bicara karena terkejut. Ia ingin minta maaf tapi Fiona sudah keluar dari kamar dengan langkah-langkah besar.

Emune mengejar Fiona. Ia masih ingat beberapa lorong tapi sisanya seperti kabut di kepalanya. Ia tidak bisa menemukan Fiona dan ia yakin dirinya tersesat. Langit-langit yang ditatapnya juga tidak sama dengan tadi. Emune memejamkan mata mencoba mengingat di mana ia berada saat ini. Buntu, ia tidak tahu. Celaka!

“Anda sedang apa, Nona?” tanya seorang gadis kecil yang membawa boneka.

“Oh! Oh, syukurlah. Aku Emune dan aku tersesat. Bisa tunjukkan jalan ke kamar tidur tamu di sayap kiri? Apa aku masih di sayap kiri?”

Gadis kecil itu mengedipkan matanya yang indah. Warnanya hijau, seperti zamrud itu, pikir Emune.

“Lewat sini,” ucap gadis kecil itu singkat.

Emune heran karena gadis kecil ini tidak berbicara sama sekali padahal ia sudah mengoceh tentang banyak hal.

“Ah, itu Fiona. Fiona!” seru Emune. Ia harap tidak ada yang mendengarnya berteriak.

Fiona menoleh. Emune melambaikan tangan, dibalas oleh Fiona. Fiona menghampirinya.

“Kau hilang ke mana? Aku mencarimu sejak tadi. Maaf aku membentakmu tadi.”

“Tidak apa-apa. Oh iya, aku tersesat dan ditolong oleh .…” Emune terkejut saat gadis kecil itu sudah berjalan menjauh darinya. “Hai, Gadis kecil, kau mau ke mana?” tanya Emune.

Gadis kecil itu membalikkan badan lalu melambai sambil mengucapkan selamat tinggal kepada Emune.

“Gadis kecil itu yang menolongku. Dia cantik sekali. Aku selalu ingin punya rambut keemasan seperti itu.”

Fiona menyentuh kening Emune. Tidak panas. Tidak mungkin ia mengigau.

“Gadis kecil? Tidak ada gadis kecil di sini.”

“Kau tidak melihatnya? Sungguh? Tapi tadi ada gadis kecil. Dia membantuku kembali ke sini.”

“Tidak ada gadis kecil, Emune.”

“Apa kau pikir aku mengada-ngada?”

“Tidak. Kau sudah bertemu dengan yang kau cari.” Fiona menyeringai.

“Maksudmu dia itu .…” Emune tertegun.

“Hantu,” ucap Fiona pelan. “Kau akan segera bertemu Voispir.”

“Hantu,” desis Emune. Ia memegang lengan Fiona. Hantu? Di sore hari? Tidak mungkin! Voispir!

Episodes
1 Ulrych
2 Urndie
3 Legenda Orsgadt
4 Kepedihan
5 Air Terjun Penyesalan
6 Gadis-Gadis Ceria
7 Kabar Duka
8 Keputusan Emune
9 Perayaan Ulrych
10 Malam Perpisahan
11 Menuju Alder
12 Tighourt
13 Zamrud
14 Kahurrseig
15 Di Kastil Berham
16 Sejarah Kelam
17 Voispir
18 Buku Ajaib
19 Elric
20 Kerusuhan di Darfin
21 Selamatkan Emune!
22 Proner
23 Galvei
24 Penguntit
25 Api dan Es
26 Eufrack Sialan!
27 Horeen
28 Farclere
29 Elric dan Emune
30 Toure
31 Keturunan Raja
32 Lengan, Pedang dan Belati
33 Petaka Hitam
34 Serangan
35 Di Tepi Hutan Dumina
36 Memasuki Hutan Dumina
37 Goenhrad
38 Putri Mahkota Orsgadt
39 Berlari dan Terbang
40 Suara-Suara Gaib
41 Selangkah Lagi
42 Memasuki Orsgadt
43 Olevander dan Ramalan Kuno
44 Amukan Peri
45 Sebelum Berpisah
46 Lingkaran Killgins
47 Duyung-Duyung Kigurst
48 Pilar Artamea
49 Di Eimersun
50 Sebelum Moughty
51 Gunung Moughty
52 Malam di Hutan Ajaib
53 Raja Peri Drav
54 Sekutu
55 Kehangatan Eimersun
56 Peta Kekuatan
57 Serangan
58 Angin Peperangan
59 Cinta dan Logika
60 Perang
61 Pengkhianat
62 Mundur
63 Kemenangan Kecil
64 Korta dan Anthura
65 Melawan Kekuatan Kegelapan
66 Sang Penyihir
67 Dendam dan Pengorbanan
68 Makhluk Hebat
69 Elzenthum
70 Inti Elzenthum
71 Mata Hati Goenhrad
72 Musuh Terakhir
73 Orsgadt Baru
74 Bangsawan Malfice
75 Cinta di Udara
76 Kedamaian
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Ulrych
2
Urndie
3
Legenda Orsgadt
4
Kepedihan
5
Air Terjun Penyesalan
6
Gadis-Gadis Ceria
7
Kabar Duka
8
Keputusan Emune
9
Perayaan Ulrych
10
Malam Perpisahan
11
Menuju Alder
12
Tighourt
13
Zamrud
14
Kahurrseig
15
Di Kastil Berham
16
Sejarah Kelam
17
Voispir
18
Buku Ajaib
19
Elric
20
Kerusuhan di Darfin
21
Selamatkan Emune!
22
Proner
23
Galvei
24
Penguntit
25
Api dan Es
26
Eufrack Sialan!
27
Horeen
28
Farclere
29
Elric dan Emune
30
Toure
31
Keturunan Raja
32
Lengan, Pedang dan Belati
33
Petaka Hitam
34
Serangan
35
Di Tepi Hutan Dumina
36
Memasuki Hutan Dumina
37
Goenhrad
38
Putri Mahkota Orsgadt
39
Berlari dan Terbang
40
Suara-Suara Gaib
41
Selangkah Lagi
42
Memasuki Orsgadt
43
Olevander dan Ramalan Kuno
44
Amukan Peri
45
Sebelum Berpisah
46
Lingkaran Killgins
47
Duyung-Duyung Kigurst
48
Pilar Artamea
49
Di Eimersun
50
Sebelum Moughty
51
Gunung Moughty
52
Malam di Hutan Ajaib
53
Raja Peri Drav
54
Sekutu
55
Kehangatan Eimersun
56
Peta Kekuatan
57
Serangan
58
Angin Peperangan
59
Cinta dan Logika
60
Perang
61
Pengkhianat
62
Mundur
63
Kemenangan Kecil
64
Korta dan Anthura
65
Melawan Kekuatan Kegelapan
66
Sang Penyihir
67
Dendam dan Pengorbanan
68
Makhluk Hebat
69
Elzenthum
70
Inti Elzenthum
71
Mata Hati Goenhrad
72
Musuh Terakhir
73
Orsgadt Baru
74
Bangsawan Malfice
75
Cinta di Udara
76
Kedamaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!