“Ayahmu adalah pria yang baik. Dia selalu membantu kawan-kawannya meskipun ia sendiri hidup serba terbatas. Ibumu bekerja sebagai pelayan di istana dan meninggal beberapa hari setelah kau lahir.” Arrand bercerita pada Emune di pagi hari yang terbilang cerah.
“Apa kau mengenal ibuku?” tanya Emune.
“Ya, beberapa kali mengunjungi keluargamu sebelum kau lahir. Perempuan yang baik.”
“Apakah dia cantik?”
“Cantik. Ramah dan baik hati. Kau tahu, ayahmu dulu pernah berkata tidak akan menikah sebelum usianya 40 tahun tapi begitu bertemu ibumu, dia tidak berpikir panjang lagi untuk menikah. Seingatku saat itu ayahmu berusia 27 tahun, orang pertama yang menikah di kumpulan kami.”
Emune tertawa kecil. Arrand senang bisa membuat Emune tertawa. Gadis ini seperti bukan gadis yang semalam ia temui. Kesedihan masih terlihat namun pagi ini ia sudah bisa tersenyum dan tertawa dengan anggun.
“Kotaknya sudah kau buka? Ayahmu berpesan agar aku tidak membukanya.”
“Sudah. Ada surat dari Ayah yang menyuruhku untuk terus bersemangat. Ia mendoakan kebahagiaanku. Sebuah gelang kulit. Aku langsung memakainya,” Emune memamerkan gelang kulit pemberian ayahnya pada Arrand.
“Gelang yang bagus. Ngomong-ngomong, itu gelang ibumu. Ibumu melepasnya saat kau lahir. Ia dan ayahmu ingin kau memakainya saat dewasa jadi mereka menyimpannya dalam kotak itu.” Arrand tersenyum.
“Oh, benarkah? Ini gelang yang sangat berharga, aku akan menjaganya baik-baik.”
“Sudah seharusnya.”
“Tuan, bagaimana Ayah meninggal?”
Arrand tidak menyangka akan mendengar pertanyaan ini. Anak perempuan biasanya tidak bertanya sejauh itu. Arrand berdeham, tenggorokannya terasa kering.
“Ayahmu sakit dalam perjalanan berniaga di Imperia. Sebelum kembali ke Arsyna, ia menitip pesan pada seorang pedagang agar aku menemuinya di Alder. Kondisinya sudah parah. Ia berpesan agar aku mencarimu dan memberikan kotak ini jika terjadi sesuatu padanya. Jika … ya, jika dia meninggal.”
Arrand diam sesaat dan mendesah pelan.
“Aku berkeras untuk tinggal dan merawatnya. Malam ketiga ia seperti tahu bahwa ia tidak akan bisa bertahan sampai pagi. Ia perpesan agar aku menguburnya di halaman belakang.” Arrand berhenti sesaat. “Pagi harinya, ia sudah pergi. Sahabatku, Edmund Steggar sudah meninggal,” ucapnya sedih.
“Tuan Arrand, aku tahu kau menyayangi Ayahku. Kau melakukan perjalanan jauh hanya untuk mengabariku. Terima kasih.”
Arrand mengusap matanya yang sedikit basah. Ia lega bagian terberat sudah terlewati. Hari ini ia belajar satu hal penting bahwa perjalanan jauhnya tak hanya untuk menyampaikan berita pada putri Edmund tapi juga melepaskan beban perasaannya sendiri. Ia sadar bahwa kehilangan seseorang bisa membuat kita rentan pada kesedihan dan amarah namun setiap orang mempunyai kekuatan untuk bangkit dan menjadi lebih baik.
“Apa rencanamu setelah ini, Emune?”
Emune tersenyum. Rencananya sudah pasti, yaitu bertahan hidup. Mungkin Thomas dan si kembar akan lebih baik padanya seiring waktu. Mereka akan menikah dan keluar dari rumah Grantea. Aku akan merawat Paman dan Bibi dengan baik, pikirnya.
“Aku ingin kembali ke Alder. Ayah menyertakan surat tanah dan aku rasa aku harus kembali dan merawat warisan orang tuaku.” Emune terkejut dengan apa yang barusan ia ucapkan. Ia tidak habis pikir bagaimana pikirannya bisa berbeda dengan ucapannya. Mungkin alam sadarnya yang rindu pada pegunungan Alder yang membuat ide itu tercetus begitu saja.
“Wow, kau benar-benar hebat. Apa kau mau ditemani kembali ke Alder?”
“Aku kira Anda akan ke Eimersun.”
“Aku akan ke Eimersun tapi ada rombongan yang akan ke Imperia melalui Alder. Aku bisa meminta mereka untuk menjagamu.”
“Kapan rombongan itu berangkat?” tanya Emune antusias. Ide dadakan itu sudah menguasainya.
“Mereka akan datang siang ini untuk menyaksikan Perayaan Ulrych nanti malam dan berangkat ke Alder pada pagi hari. Kebetulan yang luar biasa. Aku akan mengenalkanmu pada mereka nanti. Apa kau yakin? Bagaimana dengan keluarga Grantea?” tanya Arrand.
“Aku yakin. Rasanya akan lebih baik jika aku membicarakan ini dengan Paman dan Bibi secepatnya. Malam ini Perayaan Ulrych, akan sulit mencari kesempatan berbicara dengan mereka. Thomas, Clarice dan Clemence akan sangat bahagia jika aku pergi,” jawab Emune.
“Ya, itu ide yang bagus.”
Emune berdiri. “Sampai nanti, Tuan Arrand. Terima kasih.” Ia tersenyum pada Arrand yang duduk sambil mematahkan jerami. Setelah melihat Arrand membalas senyumnya, Emune bergegas mencari suami istri Grantea.
Penasaran dengan reaksi suami istri Grantea, Arrand sembunyi-sembunyi mengikuti arah perginya gadis itu. Ia melihat Emune berhasil menemukan paman dan bibinya di dekat kandang ayam. Suara Emune tidak terdengar dari jauh tapi Arrand yakin ia sedang membicarakan rencananya ke Alder pada keduanya.
Begitu Emune selesai, kekacauan terjadi. Sekeranjang telur ayam terlepas dari tangan Mary Grantea, baju dan kakinya dipenuhi cairan dari telur-telur yang pecah. Sementara itu Henry, suaminya, menumpahkan susu kambing yang baru diperah. Emune berusaha membantu paman dan bibinya di tengah-tengah protes mereka akan rencananya ke Alder.
Arrand tertawa kecil dari tempatnya bersembunyi saat menyaksikan ketiganya kian larut dalam kepanikan. Arrand kembali ke lumbung. Semalam ia menolak tidur di kamar Thomas dan meminta agar diizinkan bermalam di lumbung.
Ia terkejut melihat lumbung yang rapi. Salah satu sudut diisi kotak kayu besar dan kotak-kotak yang diberi kain. Sudut itu jadi seperti benteng pertahanan kecil.
Henry bilang kalau Emune tidur di sana. Awalnya ia marah karena Emune dibiarkan tidur di lumbung tapi setelah mendengar cerita Mary, ia jadi menghormati suami istri Grantea. Pantas saja Edmund mempercayakan Emune kepada mereka.
Ia kagum pada kemandirian putri sahabatnya. Kemalangan bertubi-tubi tidak membuatnya lemah. Arrand sering menemui gadis-gadis muda yang mengalami kekecewaan hidup dan terpuruk tanpa sedikit pun keinginan untuk bangkit. Sebagian ditinggalkan oleh keluarga dan sebagian lagi dijual oleh keluarga mereka.
Kerajaan telah melarang perdagangan manusia namun pada kenyataannya, tuan-tuan tanah diam-diam melakukan jual beli dengan penduduk desa yang tidak berdaya untuk mendapatkan tenaga kerja murah. Dunia sangat tidak aman bagi para gadis muda.
Arrand menyambar kantung perjalanannya. Jubah menutupi badannya dengan baik dan penutup kepala sangat berguna melindunginya dari debu dan panas matahari. Ia akan ke Mogrum, rumah minum satu-satunya di Ulrych.
Ia minum bir semalaman dengan Henry dan tidak ingin menyesap minuman alkohol apa pun pagi ini. Ada beberapa barang untuk bekal yang harus dibeli jika ia mau selamat sampai wilayah timur Imperia. Perjalanan menuju Eimersun lebih sulit karena ia akan menyusuri perbatasan negeri manusia dan jika tidak bergegas, ia bisa terjebak badai gurun.
Arrand melewati air mancur di alun-alun dan langsung masuk ke Mogrum. Orang-orang melihatnya sesaat lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Arrand menyerahkan daftar belanja dan beberapa keeping perak pada pemilik Mogrum, laki-laki bertubuh gempal dan berkumis sangar.
“Perjalanan jauh, eh, Arrand?” tanya pemilik Mogrum.
“Ya. Jadikan satu. Aku akan mengambilnya sore ini,” jawab Arrand.
Seorang perempuan masuk membawa sekeranjang roti. Pemilik Mogrum mengangguk padanya. Perempuan itu menawarkan roti gandum pada siapa saja yang ditemuinya. Dua orang pengunjung Mogrum membeli untuk dibawa pulang. Ia sangat ceria dan semakin ceria saat rotinya terjual.
Perempuan itu mendekati Arrand dan menyodorkan keranjangnya. Arrand membeli satu untuk tambahan bekalnya. Lagi-lagi pedagang roti itu berseru ceria karena satu lagi yang terjual. Setelah sekali lagi berkeliling di dalam Mogrum dan tidak ada yang membeli, pedagang roti itu pergi. Suara teriakannya masih terdengar sebentar lalu hilang sama sekali.
Urusan Arrand di Morgum telah selesai. Ia menyempatkan berkeliling alun-alun. Orang-orang sibuk mengurus persiapan perayaan nanti malam. Kereta-kereta kuda dengan berbagai barang dagangan berderet di luar alun-alun. Rombongan pemusik dan penari juga berdatangan. Keramaian mulai menyesakkan dan itu menjadi tanda bagi Arrand untuk segera menjauh.
Arrand kembali ke lumbung. Ia duduk di kotak kayu dengan sebuah apel di tangan. Apel itu ada di kantong dalam jubahnya. Ia tidak ingat sudah membeli atau menerima apel dari seseorang. Apel itu sedikit berdebu, Arrand menggosok apel itu ke jubahnya. Ia memutarnya dan berhenti ketika matanya menangkap sesuatu. Ada tulisan kecil yang masih bisa dibaca diukir di kulit buah itu.
“Akhirnya dimulai juga,” ucapnya.
Arrand melempar apel itu ke udara dan menangkapnya sebelum jatuh ke tanah. Ia menghela nafas. Sekali lagi ia membaca tulisan tadi dan senyumnya terkembang.
Orsgadt.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments