“Demam. Kurasa terlalu lama mandi air dingin,” ucap Tuan Fenn. Walaupun ia bukan seorang tabib tapi pengetahuannya tentang pengobatan sudah diakui dan sangat banyak membantu rombongan pedagang saat dalam perjalanan. “Biarkan beristirahat. Beri air madu jika ia bangun nanti,” pesannya sebelum pergi. Ia sempat menoleh ke arah Fiona yang masih tidur pulas. Tidak biasanya Fiona sakit, pikirnya.
“Yang satu ini tertidur karena mabuk. Jangan pedulikan,” ucap Ronald. Ronald mencubit pipi Fiona yang tidur seperti batu, tidak bergerak sama sekali. “Hahaha badai pun takkan mampu membangunkannya.”
Tuan Fenn mengelus-elus jenggotnya. “Perempuan muda yang berbahagia,” cetusnya lalu meninggalkan kamar.
Ronald menggelengkan kepala melihat Emune dan Fiona. Emune kehilangan kesempatan untuk melihat bazar perhiasan dan Fiona tidak bisa membantunya membereskan sisa barang pesanan kota berikutnya. Ia berpesan pada Maddy, anggota rombongan yang menginap di sana, untuk merawat keduanya. Maddy mengangguk. Menurut perkiraannya keduanya akan tidur sampai siang jadi ia mengambil kotak sulaman berisi sulaman setengah jadi, benang warna-warni dan jarum sulam lalu mulai menyulam bentuk daun dengan benang berwarna hijau.
Ronald keluar dari rumah inap ditemani Anzei. Keramaian yang tiada henti sudah biasa bagi mereka. Tighourt adalah salah satu perhentian terbaik di Arsyna. Para pelancong dan pedagang memanfaatkan waktu mereka dengan baik di sini.
Perjalanan yang tertunda tidak selamanya membawa kerugian bagi para pedagang. Tertahan satu hari di Tighourt membuat mereka bisa berniaga lebih lama. Dalam sekejap barang dagangan yang dibawa tinggal setengah. Ia yakin akan habis sebelum mereka berangkat ke Ungran besok pagi. Jika tidak ada hambatan dan jika semua mau makan siang singkat sambil mengistirahatkan kuda-kuda, mereka bisa sampai di Dastu sore hari. Memaksakan diri bepergian dalam situasi yang tidak aman akan membahayakan seluruh anggota rombongan.
Derap kaki kuda menyela keramaian di jalan utama kota. Keramaian segera terpecah ke sisi-sisi jalan. Ronald mengenali seragam itu. Pasukan berkuda kerajaan Arsyna. Sepertinya kelompok kurir kedua berhasil menyampaikan berita perampokan ke istana, pikir Ronald.
Ia berbisik memberi instruksi kepada Anzei yang mengangguk dan tetap tinggal di rumah inap sementaa Ronald bergegas ke rumah sekaligus kantor ketua Persatuan Pedagang yang ia yakin adalah tujuan utama pasukan berkuda tadi.
Di dalam kamarnya, Emune membuka mata. Kepalanya masih pening seperti ada yang menghantamnya. Tangannya mencengkeram mencoba bangun tapi tubuhnya masih lemah. Samar-samar ia melihat Maddy mendekat dan membantunya duduk.
“Apa yang terjadi?” tanyanya pelan sekali.
“Kau terjatuh di jalanan kota. Anzei membawamu kemari.” Maddy meletakkan bantal di belakang Emune agar ia bisa bersandar. “Pelan-pelan, kau masih lemah.”
“Aku merepotkan semua orang. Ronald .…”
“Ronald sudah tahu. Ia tadi di sini lalu menyuruhku untuk merawatmu.”
“Ah, terima kasih, Maddy.”
Emune menyalahkan dirinya yang lemah dan tidak hati-hati. Terjatuh di jalanan bukanlah contoh gadis yang sehat dan menjadi pilihan pria waras.
“Minumlah dulu agar kau merasa segar.” Maddy menyodorkan gelas berisi air madu kepada Emune.
Emune meminum air madu pelan-pelan. Seumur hidupnya baru kali ini seteguk air madu terasa begitu lezat. Perlahan pandangannya berangsur pulih. Fiona yang meringkuk dengan posisi sama seperti saat ia tinggalkan tadi pagi membuatnya meringis. Berapa banyak minuman keras yang ia minum sampai terkapar seperti ini?
“Apa dia selalu begini?” tanya Emune pada Maddy.
Maddy tertawa kecil. “Hanya kalau bermalam lama. Dia baik-baik saja, jangan khawatir. Kau yang perlu dikhawatirkan. Terjatuh di jalanan seperti itu .... Untung Anzei ada di dekat sana.”
“Entahlah, aku merasa pening dan kakiku kaku. Sebaiknya aku tidak ke mana-mana.” Emune menyimpan cerita tentang si pembaca garis tangan untuk dirinya sendiri. Ia ingat pesan Urndie untuk tidak membicarakan hal-hal yang berbau Orsgadt kepada siapa pun.
Siapa pula yang akan mempercayai ramalan aneh itu? Siapa sih orang itu? Tiba-tiba menyuruhku ke Orsgadt lalu marah-marah dan berteriak seperti itu, gerutu Emune dalam hati. Ia tidak mau rencanyanya untuk kembali ke Alder berantakan hanya karena sebuah omong kosong seorang pembaca garis tangan.
“Kau terlalu lama mandi air dingin, begitu kata Tuan Fenn.” Madi tersenyum.
“Aduh Tuan Fenn ikut kurepotkan. Sepertinya begitu. Apa orang-orang membicarakanku? Ah, memalukan!” Emune menutup mukanya dengan kedua tangan.
“Jangan khawatir. Di Tighourt, orang-orang tidak akan perduli kecuali seekor gajah yang terjatuh di jalanan kota,” canda Maddy. “Aku sudah belasan tahun ikut rombongan ini jadi tahu betul seperti apa kota besar.”
“Benarkah? Lega rasanya. Apa ada yang bisa kubantu hari ini?”
“Tidak ada. Anzei tadi datang menyampaikan pesan kepada semua orang untuk menjauhi keramaian. Pasukan istana sudah datang.”
“Bagus sekali. Perjalanan akan lebih aman jika mereka segera menangkap perampok-perampok itu.” Emune merasa ada harapan bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan.
“Seandainya bisa semudah itu. Pasukan kerajaan sudah disebar tapi meskipun kerajaan Arsyna adalah yang terkecil di Artamea, wilayahnya cukup luas.” Maddy mendesah pelan.
“Sepertinya butuh waktu untuk menumpas semua perampok.” Emune menarik pelan rambutnya yang berantakan.
Maddy berdiri. “Aku akan bawakan sup. Kau harus makan supaya kuat kembali.”
Emune berterima kasih. Maddy gadis yang baik. Laki-laki mana pun akan beruntung jika mempunyai istri seperti Maddy. Perawakannya seperti Bibi Mary dan senyumnya saja bisa membuat orang merasa nyaman di dekatnya.
Emune mencari tas kecilnya. Ia lega saat menemukan tas itu di bawah selimut dan isinya lengkap. Ia sebal pada Fiona yang membalikkan badan dan melanjutkan tidurnya sambil mendengkur halus. Tangannya cepat menyambar bantal dan melemparnya ke punggung Fiona.
“Dia tidak akan bangun meski tombak menancap di punggungnya,” gurau Emune.
Di luar dugaan, Fiona bangun dan mencoba duduk. “Apa aku melewatkan sesuatu?” gumamnya diikuti kuapan berkali-kali. Matanya sembab, rambutnya seperti surai singa dan pakaian dalamnya semakin kusut.
Emune tertawa. Setelah segelas air madu tadi, tenaganya telah kembali sebagian sehingga bisa tertawa lepas. “Kau berantakan. Ya, kau melewatkan mandi pagi dan sarapan. Sekarang sudah jam makan siang.”
“Oh, tidak. Aku harus membantu Ronald,” ucapnya panik.
“Tidak perlu. Ronald sudah melihatmu terkapar tadi jadi ia mengurus semuanya sendiri.”
“Kau bercanda bukan?”
“Tidak. Tanya saja pada Maddy,” ucap Emune santai tepat saat Maddy masuk dengan sup dan roti untuk Emune. Nampan berisi makanan dan segelas air madu hangat diletakkannya di atas meja.
“Apa itu? Ah iya, Ronald berpesan agar kau menyusulnya ke Rumah Amery setelah makan siang.” Maddy menyampaikan dengan tegas.
“Baik, aku akan segera ke sana,” ucap Fiona sambil mengusap wajah dan merapikan rambut. Ia mengambil sup, mencelupkan roti kemudian memakannya tanpa berkata-kata sampai tidak ada sup lagi yang tersisa. Berikutnya adalah air madu hangat yang menyegarkan kerongkongannya. Ia sama sekali tidak memperhatikan Emune dan Maddy yang menatapnya dengan mata terbelalak.
“Oke, aku sudah siap,” ucap Fiona senang.
Maddy dan Emune tertawa terpingkal-pingkal. Maddy sampai membungkuk memegangi perutnya. Giliran Fiona yang membelalak. Setelah puas tertawa, Emune dan Maddy duduk di pinggir tempat tidur Emune.
“Itu makan siangku,” ucap Emune ketus.
“Kau sebaiknya mandi dan berganti pakaian sebelum keluar rumah,” Maddy menambahkan.
“Sial, ini gara-gara anggur baru dari Eimersun. Maaf soal makan siangnya, Emune. Maddy, maukah ….”
“Ya, aku akan bawakan yang baru untuk Emune,” potong Maddy.
“Terima kasih,” ucap Fiona. Ia melenggang pergi membawa keranjang mandi berisi handuk dan pakaian gantinya.
Makanan yang dibawakan oleh Maddy sangat enak. Pantas saja Fiona tak menyisakan sedikitpun di piringnya. Maddy sangat baik hati menambahkan buah anggur dan apel untuk Emune. Karena Emune harus beristirahat, Maddy meninggalkannya sendirian di kamar.
Emune meraih tas kecilnya dan meletakkan tas itu di pangkuan. Ia ingat pada hadiah yang diberikan Mineda dan Daniea yang belum sempat dibuka. Hadiah mereka adalah sebuah kotak kayu dengan ukiran yang bagus. Sekilas kotak itu mirip dengan kotak yang diberikan oleh mendiang ayahnya melalui Arrand, hanya beda bahannya saja.
Sebuah surat dan gelang perak ada di dalamnya. Isi suratnya sangat singkat, gelang itu adalah pemberian Daniea dan hadiah dari Mineda ada di dalam ruang rahasia pada kotak itu. Tidak ada petunjuk cara membukanya karena itu adalah misteri yang harus Emune temukan sendiri jawabannya. Emune tersenyum. Mineda memang suka teka-teki dan hal-hal yang berbau misteri.
“Baiklah, coba lihat misteri apa yang ada di kotak ini,” gumam Emune.
Jari-jarinya menelusuri permukaan kotak yang terbuat dari kayu. Ukiran putri duyung menghias bagian atasnya. Emune mengetuk-ngetuk dan menekan-nekan namun tidak ada yang terjadi. Emune selanjutnya menyusuri bagian samping kotak. Hanya ada deretan ukiran kerang-kerang kecil berderet rapi di setiap sisi.
Emune putus asa. Bayangannya tentang laci rahasia menguap sudah. Pasti karena sakit, kepalanya tidak mampu memikirkan apa pun. Emune menepuk-nepuk pipinya. Sekali lagi dicobanya untuk lebih teliti melihat keempat sisi berhiaskan ukiran kerrang. Ia terdiam seketika saat menyadari ada satu sisi yang jumlah kerangnya lebih banyak dari yang lain. Emune sangat bersemangat.
Ia menggeser jari telunjuknya menyusuri deretan kerrang namun seperti tadi, tidak ada yang terjadi. Ia menekan kerang yang ada di bagian tengah karena bentuk kerangnya lebih besar. Sekali, dua kali, tiga kali. Masih tidak terjadi apa pun.
Emune menyerah dan meletakkan kotak kayu itu di atas meja. Ia akan mencari orang yang bisa membongkarnya nanti. Matanya terpejam, ia mengantuk. Tiba-tiba suara ‘klik’ terdengar. Emune menoleh dan melihat bagian tengah kotak kayu itu terbuka. Ia langsung duduk di tepi tempat tidur.
Kotak itu sekarang punya bukaan kecil. Karena jari-jari Emune terlalu besar, ia tidak bisa meraih isinya. Ia memiringkan kotak itu agar isinya jatuh. Sebuah gelang perak berdenting di atas meja. Tawa tidak bisa Emune bendung karena gelang pemberian Mineda sama dengan gelang pemberian Daniea. Bagaimana bisa mereka memilih gelang yang sama? Kalau mereka ada di sini, ingin rasanya memeluk mereka, pikir Emune.
Emune memasukkan surat dan gelang-gelang hadiahnya ke dalam kotak. Kotak kayu ia simpan di dalam tas. Sesuatu mengusiknya dan karena penasaran, ia mengeluarkan kotak pemberian ayahnya.
“Apa mungkin kotak ini juga punya ruang rahasia?” ucap Emune sambil memutar-mutar kotak itu. Emune membalik kotak dan meraba permukaannya. “Mungkinkah ada bagian yang harus kutekan?”
Emune membalik kotak itu ke posisi semula lalu menekan bagian bawah kotak. Tanpa suara, bagian bawah kotak terbuka. Kantong kecil terjatuh ke pangkuan Emune. Emune menganga melihat kantong itu. Terbuat dari beludru berwarna biru tua, sulaman benang emas menghias bagian tengahnya.
Jantung Emune berdegup kencang. Emune tahu pasti itu adalah lambang kerajaan Orsgadt yang lama karena ada sulaman burung Phoenix. Dengan hati-hati ia menarik tali dan mengintip isinya. Tak puas dengan penglihatan yang terbatas, Emune menumpah isi kantong ke telapak tangannya. Sebuah benda jatuh ke telapak tangan Emune.
Emune menatap tak berkedip. Benda itu adalah sebuah kalung emas dengan rantai yang lebih tebal dari kalung biasa yang pernah Emune lihat. Bandulnya adalah sebuah zamrud yang ukurannya lebih besar dari jempol Emune.
“Kenapa Ayah punya perhiasan ini? Apa ini untukku?” tanya Emune dengan suara pelan.
Bila semua milik mereka di Alder dijual, tidak akan mungkin bisa membeli perhiasan ini. Tidak mungkin itu hasil curian. Ayahnya bukan orang kaya tapi ia adalah orang yang jujur. Apa mungkin seorang bangsawan memberikannya kepada Ibu saat bekerja di istana dulu? Kenapa Ayah tidak menulis pesan apa pun tentang kalung ini?
Ia membalik bandul kalung itu, tidak ada tulisan apa pun. Emune melihat ke arah kantongnya. Iseng ia membalik kantong itu dan menjadi sangat terkejut. Ada tulisan dengan benang biru yang hampir mirip dengan warna kain beludru.
“Elizai Murisie Nezca Orsgardt, pewaris tahta Orsgadt,” gumam Emune. Orsgadt. Orsgadt lagi. Apa yang sebenarnya terjadi?
Emune mendengar suara kaki mendekati pintu kamarnya. Ia segera memasukkan kalung ke dalam kantung lalu mengamankannya di tempat aslinya. Tidak seorang pun boleh tahu apa yang ia lihat barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments