...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Perhatian!...
...Cerita mungkin akan mengandung unsur yang dapat menyebabkan sebagian pembaca trauma, harap bijaksana dalam membacanya. Konten cerita disini tidak membenarkan apalagi mewajarkan suatu tindakan, sekali lagi dihimbau agar menjadi pembaca yang bijaksana....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...________________________...
...Roar of the Ocean...
...________________________...
...__________...
...____...
..._...
"Òse-di... an—!"
"Ber... henti-i..." bisikan lirih dari mulut Tivana kembali terdengar.
Òsedian mengulum sebuah senyuman yang sangat lebar, dia merasa begitu senang. Seperti seseorang yang telah hidup dengan ribuan kebahagian. Lantas makhluk itu kemudian berkata—tepat disamping daun telinga Tivana.
"Baiklah Sayang~" ucapnya. Berbisik halus dengan nada membelai manja. Òsedian merengkuh lembut tubuh wanita yang selalu ia panggil dengan sebutan Ana tersebut, Tivana tanpa sadar mengalungkan kedua tangan lalu bersandar pada pundak Òsedian.
Hal ini jelas membuat sang empunya tubuh yang tengah dipeluk tersentak, Òsedian panas dingin. Dia ingin melanjutkan kegiatan yang ia lakukan tadi tapi tak bisa—karena Ana sudah meminta dirinya secara khusus untuk berhenti. Mau tak mau makhluk setengah ikan tersebut menurut.
Òsedian kembali membuka suaranya.
"Mari kita lanjutkan nanti."
Deg!!!
Tivana yang mendengar menggeleng, dia lelah.
"Aku ingin ke-darat." pinta wanita itu cepat secara spontan. Òsedian tampak enggan menanggapi permintaan yang Tivana ajukan, mendapati respon semacam itu—membuat Tivana merengek.
"Antar aku ke-darat! Aku ingin istirahat?!" ucapnya, berhenti bersandar lalu mengguncang kedua bahu Òsedian dengan kuat. Dia tidak tahan! LELAH! Dia ingin kedaratan, ke-gua tempat dia mendekam sebelumnya. Setidaknya disana Tivana tahu Òsedian tak akan bisa melakukan apapun seenak jidatnya.
Mendengar perkataan itu, Òsedian melenguh panjang. Agaknya dia harus menyerah.
"Baiklah... Baiklah Ana." sahutnya sembari berenang keatas. Tivana yang saat ini sangatlah lemas kembali bersandar, membiarkan Òsedian membawa dia bergerak menuju kearah permukaan.
Begitu sampai, Tivana lantas mendongak. Ilda tampak terlihat menyambut manik mata mereka. Tanpa pikir panjang wanita tersebut melepaskan diri secara sepihak—berenang mendekati pinggiran kolam lalu naik kedaratan.
Ilda spontan menyerahkan sebuah jubah besar yang beberapa waktu lalu ia dapati mengambang di atas air. Tivana melirik benda itu sebentar lalu merampasnya dengan kasar, kemudian melenggang pergi menuju pojok gua tanpa menoleh sedikitpun kearah belakang.
Itu membuat Ilda beranggapan bahwa Òsedian pasti melakukan sesuatu yang sudah kelewatan batas dan tidak berakhir bagus. Sial! Dia sebagai teman Òsedian merasa malu. Lelaki itu lalu berbalik, dia mendapati Òsedian yang berusaha untuk naik kepermukaan dengan menyeret ekor besar miliknya.
Tampak tidak ingin berpisah dengan sosok Tivana.
Sudut alis Ilda menukik tajam, batinnya bergejolak. Bukankah ini; bukan waktu yang tepat untuk bermanja ria?! Sekilas melihat raut wajah Tivana tadi Ilda sudah dapat mengambil sebuah kesimpulan—bahwa wanita itu tengah merasa sangat KETAKUTAN.
Dengan cepat dan tanpa jeda Ilda melafalkan mantra, dia lalu melompat sambil menyeret Òsedian masuk kembali kedalam air garam.
Byurr!
Mendapati tindakan kurang ajar tersebut Òsedian menggerutu.
"Tungg—! Apa yang kau lakukan?!"
Ilda mendesis. Seakan menantang Òsedian, makhluk dari keturunan bangsa mermaid itu hendak bicara meski kata-katanya hanya bisa tertahan di tenggorokan—setalah mereka mendengar sebuah teriakan panjang.
"AAAAARRRRGGGGGHHHHHHH!!!" yang berhasil membuat kedua makhluk setengah ikan tersebut terdiam.
Merinding bukan main.
Mereka tahu, siapa pemilik dari raungan mengerikan tersebut.
"ANA?!" panggil Òsedian panik, dia mencoba berenang keatas namun ditahan kuat oleh sosok Ilda. Ilda menggeleng, dia berucap.
"Beri dia waktu Òsedian! Tivana sekarang benar-benar TAKUT dengan MU!!"
Mendengar hal itu Òsedian membeku, dengan wajah pucat—dia menuruti saran dari satu-satunya teman terdekatnya. Ilda.
...***...
Tivana termenung, menatap lurus dinding gua dengan manik mata yang sudah kehilangan hasrat untuk hidup. Bersandar seperti benda mati dengan jubah besar yang menutupi seluruh tubuhnya.
Pergerakan dari hela napas wanita tersebut terdengar lemah, bibirnya sangat kering dengan tenggorokan sakit. Jejak air mata yang beberapa waktu lalu membasahi kedua pipi perlahan mengering, hanya menyisakan bekas kemerahan tajam.
Puas meraung Tivana sekarang tampil seperti boneka usang yang tidak terjual di toko antik hingga membuat sosoknya tertimbun debu lalu berakhir jatuh disudut ruangan—menyaksikan boneka-boneka baru silih berganti karena dibeli.
"Andai saja... aku tidak ke Pantai itu..." Tivana bergumam, tiba-tiba menyalahkan keadaan yang membawa dirinya bertemu dengan sosok Òsedian. Berandai-andai jika dia tidak mengikuti kegiatan praktikum lapangan yang diselenggarakan oleh pihak kampus, mungkin saja Tivana tidak akan bertemu dengan makhluk setengah ikan laknat tersebut. Tapi—!
Sekarang nasi sudah menjadi bubur.
Ini bagian dari takdir mu! Bisik para iblis, seakan meminta Tivana untuk menyalahkan Tuhan atas semua kemalangan yang ia terima sampai saat ini. Detik ini.
Kebencian dan kemarahan ternyata tidak cukup kuat untuk melawan ketakutan. Niat balas dendam sirna, entah pergi kemana—digantikan perasaan lelah yang muncul begitu saja.
Tivana muak.
Dia muak berlagak sok tegar seperti artis berbakat yang tampil didepan kamera.
"Aku ingin mati." bisik Tivana kemudian. Wanita tersebut membenturkan pelan bagian belakang dari kepalanya kearah dinding gua lalu terkekeh hambar.
Dasar bodoh! Hardik batinnya. Merasa bahwa pemikiran itu sangatlah konyol. Tapi!
T i d a k - b u r u k - j u g a.
Akan lebih bagus jika seandainya Tivana bisa mati tenggelam, meski jelas sekarang hal tersebut tidak mungkin. Alih-alih tenggelam, dia justru dapat bernapas di bawah air. Begitu juga dengan mati kelaparan.
Andai saja dia bisa.
Ilda pernah berkata, selama ada sisa cairan didalam tubuh Tivana—wanita itu tidak akan pernah merasa kelaparan, kecuali saat Tivana sudah berubah secara sempurna menjadi seekor siren.
Bukankah itu lucu?
Berarti 'tadi' bisa dikatagorikan sebagai MAKAN karena Òsedian banyak sekali mensuplai cairan miliknya kedalam tubuh Tivana.
"He... hahaha..." Tivana tiba-tiba tertawa. Titikan air mata kembali jatuh. Dia merasa kasihan.
Kasihan terhadap dirinya sendiri.
Betapa malang nasip mu Tivana, batin wanita itu—mengejek sembari mendongak kearah langit-langit gua dengan ribuan air mata yang berjatuhan dari arah pelupuk mata.
Beberapa detik dalam situasi mengenaskan tersebut, perasaan aneh muncul. Kedua kelopak mata Tivana terbelalak lebar, cepat-cepat dia menyingsing jubah.
Melihat sesuatu yang janggal terjadi dengan kedua kakinya.
Itu menyatu.
ITU MENYATU?!
Tivana menggeleng, tak percaya. Dia mencoba menyangkal perubahan yang sedang terjadi pada tubuhnya.
"T-Tidak!"
Jantung dari wanita tersebut berdetak sangat kencang, seolah benda itu tergeletak tepat disamping gendang telinganya—terdengar sangat jelas. Dia merasa ketakutan.
Tubuh yang awalnya hanya diisi oleh sisik tidak lebih dari setengah kini nyaris seluruhnya, ditambah kedua kaki yang perlahan-lahan merapat satu sama lain. Membentuk seperti ekor.
"Apa yang harus aku lakukan?!" Tivana bertanya, dalam keadaan panik. Dia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sebentar lagi akan berubah menjadi seekor siren.
Makhluk setengah ikan itu!
TIDAK!
"Mati!"
"LEBIH BAIK AKU MATI?!" Secara impulsif dengan mental kacau Tivana menajamkan kukunya. Membelah kedua kaki yang menyatu tadi hingga darah bercucuran kemana-mana.
Napas wanita tersebut terengah, sekuat tenaga mengembalikan bentuk asli dari kedua kakinya.
Seakan lupa dengan rasa sakit, terus-terus dan terus dia berusaha membelahnya. Darah yang belum berubah menjadi biru banjir di lantai gua.
Tivana menampilkan senyuman puas, ia berhasil menciptakan sayatan panjang pada ekornya. Seperti kaki manusia?
"Eh?"
Deg!
Wanita itu tiba-tiba tertegun, dia lalu kembali menangis. Betapa kacaunya pikiran Tivana saat ini. Dia—dia TIDAK bisa berpikir jernih.
"A-apa yang tela... h aku lakukan?"
Tivana terlihat semakin ketakutan, dia tampak seperti seekor monster.
Mencengkeram kuat kepala dengan kedua tangan seperti gelagat orang yang sudah kehilangan kewarasan.
Lalu—!
Setelah itu kejadian luar biasa terjadi.
Berlangsung sangat cepat.
Dia secara tidak sadar mengarahkan tangan berkuku tajam menuju dada lalu memecahkan jantungnya. Tivana kemudian tersenyum lebar, saat kedamaian aneh tiba-tiba muncul; menjemput dirinya menuju kearah ruangan yang dipenuhi oleh—
K e g e l a p a n. |
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Sri Supeni
bagus
2023-09-12
1
Queen Yeol
😢 ㅠㅠ
2023-07-27
1