...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._______________________...
...Roar of the Ocean...
..._______________________...
...__________...
...____...
..._...
Tivana tahu, jika dia mempercayai secara gamblang semua cerita—itu akan membuat dirinya terlihat seperti wanita polos yang mudah untuk dipermainkan. Hanya saja seandainya kalian jadi dia, apa yang akan kalian lakukan? Saat bukti-bukti semacam terpampang jelas di depan mata secara nyata.
Mau tak mau ia harus percaya, itulah yang coba Tivana terapkan terhadap segala situasi magis dalam tanda kutip tak masuk akal yang saat ini menimpa dirinya. Baik itu mermaid, siren, ataupun sesuatu seperti sihir hingga kehidupan tersembunyi yang ada di bawah laut.
Eksistensi mereka ada, hanya saja tidak pernah terekspos oleh media. Begitu Tivana berasumsi.
"Hah~" jawaban yang Ilda berikan sama sekali tidak menghilangkan rasa dahaga miliknya yang bersarang didalam otak.
Lelaki itu; kita panggil saja begitu karena Ilda sangat mirip dengan manusia—bilang 'jika kau ingin tahu tentang Siren, tinggal tanyakan saja pada Òsedian' semacam itu. Tapi demi Tuhan Tivana benar-benar engga bertanya pada makhluk setengah ikan dengan akhlak biadab tersebut. Lagi pula sepertinya Òsedian pingsan di bawah air gara-gara lemparan kerang yang Tivana lakukan, terbukti dari sosoknya yang tidak menampakkan wujud hingga sekarang.
Haruskah Tivana bertanya lagi?
Setidaknya dia bisa mendapatkan barang secuil informasi yang dapat dia manfaatkan.
Misal, kelemahan makhluk bernama Siren contohnya? Agar Tivana bisa membunuh makhluk itu nanti.
Omong-omong, dari apa yang Ilda ucapkan tadi ada satu point menarik yang baru saja Tivana sadari. Tanpa pikir panjang wanita tersebut langsung bertanya.
"Kau bilang kalau kau dari bangsa Mermaid sedangkan makhluk itu Siren, memang apa bedanya?" tanya Tivana sembari menunjuk lokasi terakhir dari Òsedian yang tenggelam.
Ilda sedikit tersentak ketika Tivana tiba-tiba saja bertanya, ia pikir wanita itu ingin menutup percakapan mereka secara sepihak; rupanya tidak.
"Menarik..." respon lelaki itu tanpa sadar. Dia terpancing.
"Kau bertanya perbedaan dari bangsa kami berdua bukan?" Ilda mengulangi kembali rumusan masalah yang Tivana ajukan.
Tivana yang mendengar hal tersebut mengangguk. Dia sedikit penasaran, sedari tadi Ilda selalu membahas soal 'bangsa'. Mengapa bangsa kedua makhluk tersebut berbeda, argh! Begini lho maksud Tivana—kalau dilihat dari sisi manapun Ilda maupun Òsedian sama-sama makhluk yang memiliki wujud setengah ikan. Mau itu Siren ataupun Mermaid. Apa yang menjadi pembeda diantara mereka?
Apakah ini sama seperti yang ada pada tingkatan takson dalam kingdom Animalia? Dilihat dari ciri fisik mereka saja secara sekilas. Mereka itu tampak seperti makhluk yang berada pada class Pisces tapi ordo mereka berbeda. Dalam ilmu biologi sendiri sebutan ordo sama dengan bangsa. Jadi bisakah Tivana beranggapan seperti itu? Untuk memudahkan dirinya dalam memahami perbedaan yang akan Ilda jelaskan setelah ini. Baiklah, kita anggap saja begitu. |
"Boleh aku memanggil mu Tivana? Agar aku bisa sedikit lebih nyaman dalam menjelaskan."
Tivana bergumam, iya tanpa suara. Mendapat persetujuan tersebut membuat Ilda menarik napas panjang. Okay, dari mana dia harus memulai percakapan? Asal usul mereka 'kah? Atau ciri khas yang menjadikan kedua bangsa tersebut berbeda dan saling bertolak belakang.
Setelah cukup puas memikirkan apa yang ingin Ilda sampaikan, lelaki itu akhirnya buka suara. Tivana memasang baik-baik telinganya, agar wanita tersebut dapat mendengar dengan jelas semua perkataan dari sosok itu ketika dia melihat Ilda menggerakan bibirnya.
"Baik Tivana, aku mulai dari perbedaan secara umum saja. Mungkin karena kau jarang mendengar dongeng soal Siren makanya kau kurang tahu, berbanding terbalik dengan dongeng putri duyung."
Apa yang Ilda ucapkan benar. Dia memang tahu ada makhluk yang serupa dengan Mermaid—hanya saja dia kurang mengingatnya.
"Mermaid dikenal sebagai makhluk ramah yang akan menolong manusia ketika kapal mereka terjebak badai ataupun terempas ombak hingga karam di lautan. Beda dengan Siren, mereka memilik sifat sebaliknya. Siren adalah makhluk yang memiliki hobi memikat sesuatu dengan nyanyian mereka, jika ada satu manusia saja berhasil terpikat oleh nyanyian mereka—Siren akan membuat manusia itu mendekat lalu melahap mereka. Aku yakin ku pernah mengalaminya juga Tivana," ucap Ilda gantung. Lelaki tersebut melihat wajah Tivana dengan tatapan lekat. Reaksi apa yang akan wanita di depannya ini tunjukan.
Alih-alih panik, Tivana terlihat seperti sudah menduganya. Wanita itu ingat kalau Òsedian memilik gigi taring yang lumayan mengerikan dengan kuku tajam—ini menjelaskan bahwa makhluk tersebut adalah karnivora.
Ilda memilih melanjutkan kembali ucapannya.
"Ukuran antara Mermaid dan Siren pun berbeda, kau lihat 'kan Òsedian dia memiliki tubuh yang lumayan besar, tinggi rata-rata mereka 3-4 meter. Sedangkan bangsa Mermaid memiliki tubuh kecil menyerupai manusia. Mengapa? Itu karena 'kami' (merujuk kearah bangsa Mermaid) mempunyai kemampuan untuk naik kedaratan dengan wujud seperti manusia."
Gotcha!
Itu artinya siren tidak, ucap dewi batin Tivana. Ini masuk kelemahan. Pantas saja Òsedian selalu melompat ketika dia berusaha mendekati wanita tersebut. Tak salah Tivana beranggapan bahwa Òsedian memiliki kelemahan ketika dia naik kepermukaan. Ternyata makhluk itu sebelas dua belas dengan ikan.
"Mermaid juga memiliki sihir," ungkap Ilda yang membuat lagi-lagi kening Tivana berkerut ketika mendengarnya.
Tivana memang sempat menduga itu, siapa sangka ternyata dugaannya benar. Sihir? Di dunia modern seperti ini? Haruskah Tivana merasa kagum atau semacamnya?
"Kau sudah pernah melihatnya bukan Tivana?" jelas Ilda. Tivana mematung, dia mencoba mengingat kembali sejenak semua yang pernah dia lihat. Mungkin maksud Ilda adalah cahaya-cahaya aneh yang muncul entah dari mana beberapa waktu lalu.
Ternyata itu sihir.
Okay, baiklah—lanjut.
Ilda ingin kembali menjelaskan, kali ini lebih kearah Siren tapi tidak terlalu mendalam. Seperti yang dia katakan sebelumnya, jika Tivana ingin benar-benar tahu dia bisa bertanya pada Òsedian langsung namun saat Ilda membuka bibirnya sesuatu muncul dari arah dalam kolam. Siapa lagi kalau bukan Òsedian. Makhluk itu akhirnya memunculkan batang hidungnya, sambil menyela—dia berkata.
"Jangan mendoktrin Ana ku Ilda, dengan semua omong kosong yang kau miliki..." ucapnya. Membuat sang pemilik nama bersama Tivana menoleh secara bersamaan. Mereka melihat Òsedian sudah duduk di pinggir kolam dengan sirip ekor yang masih berada di dalam air.
Tivana lihat Ilda tampak bereaksi lemas. Dia menghela napas lelah.
"Aku hanya ingin sedikit menjelaskan soal Siren pada Tivana..." sahut Ilda mencoba memasang wajah tenang. Tivana rasa sosok itu sedikit kesal akibat kemunculan Òsedian secara tiba-tiba.
Tivana kemudian mendengar, makhluk setengah ikan yang memperkenalkan dirinya sebagai Òsedian tersebut mendengus.
Huh!
"Memangnya tahu apa kau Ilda? Soal Siren padahal kau jelas-jelas merupakan bagian dari bangsa Mermaid. Ingat Ilda, kita dua bangsa yang sering kali berperang." ucap Òsedian, membuat gurat marah pada Ilda semakin terlihat jelas.
Tivana memicingkan mata, sebenarnya?
A p a - y a n g - s e d a n g - t e r j a d i ? |
...***...
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, ataupun comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments