...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...Roar of the Ocean...
...____________________...
..._________...
...____...
..._...
"Argh!" Tivana melenguh, kepalanya tiba-tiba saja merasakan sakit yang luar biasa. Alhasil gadis tersebut memilih membuka kedua kelopak mata miliknya dengan cepat, cahaya temaram menghiasi penglihatan Tivana.
Gadis yang semula berbaring kini mengubah posisi menjadi duduk setengah bersandar. Diedarkannya pandangan, terlihat pemandangan dari teman-teman sekamarnya yang masih tampak terlelap dengan tampang lelah termasuk gadis disampingnya—Rachel.
Mereka baru saja bisa tidur setelah serentetan kegiatan praktikum lapangan. Hah~ ini melelahkan, keluh Tivana sembari mengangkat tangannya menuju kening agar bisa memijit benda tersebut.
Rasa sakit seperti ditimpa berton-ton besi membuat Tivana kesal. Gadis tersebut lalu beranjak dari tempatnya tidur, mungkin segelas air putih dapat meredamkan rasa sakit di kepalanya ini. Kira-kira itulah yang Tivana pikirkan.
Karena sudah terbiasa dengan keadaan remang, gadis tersebut tidak mengalami kesulitan dalam berjalan dikeadaan gelap minim pencahayaan.
Pukul berapa ini? Batin Tivana, mengedarkan pandangan. Selain gelap suasana penginapan tempat mereka menginap benar-benar senyap. Hal tersebut mengundang perasaan tidak enak, Tivana tiba-tiba merinding bukan main.
Lebih baik dia cepat-cepat mencari ransel Rachel yang selalu memiliki cemilan ataupun air mineral didalamnya. Tapi? Omong-omong di mana benda itu?
Cukup puas Tivana melihat kesekitar kamar hingga lorong luar kamar. Selain tas Rachel, tasnya juga menghilang.
"Di mana aku meletakan benda itu?!" gumam Tivana, mulai merasa gemas sendiri. Haruskah ia membangunkan Rachel untuk menemaninya mencari kedua benda tersebut? Setidaknya itu yang Tivana pikirkan sebelum sekelebat ingatan terlintas didalam benak.
Tak!
Tepuk Tivana pada keningnya. Gadis tersebut terkekeh hambar menertawakan kebodohan yang ia lakukan.
Dia ingat, tas yang sedang dicari-cari itu ada di ruang tengah. Karena konsep penginapan di sini adalah berbentuk rumah, jadi sebagaian besar barang ditinggalkan di ruang tengah agar tidak membuat kamar menjadi sempit.
Dengan keyakinan mantap tersebut Tivana akhirnya memilih keluar kamar, berjalan di lorong panjang sampai dia menjumpai ruangan besar berisikan berbagai macam tas milik teman-teman seangkatannya. Tak perlu waktu lama, gadis ini sudah dapat menjumpai ransel milik Rachel—tanpa pikir panjang Tivana langsung membukanya. Mencari sebotol air mineral lalu meminum beda cair tersebut.
Dahaga hilang, tapi sakit kepala yang dirasa masih ada. Tivana menghela napas lelah.
"Hah..."
Haruskah dia ke kamar lalu kembali tidur? Atau—?
BRAK!
DEGH!
Tivana terperanjat, kaget bukan main. Suara gaduh yang baru saja terdengar membuatnya takut, cepat-cepat Tivana menoleh—kearah sumber suara yang menghasilkan dentuman keras tersebut.
Tak jauh dari tempat ia berdiri, terdapat sebuah jendela yang lumayan besar. Gorden-gorden penutup dari jendela tersebut berkibar kedalam, angin kencang beraroma laut tercium disana.
Sebelah alis Tivana menukik, antara takut dan bingung. Mengapa benda tersebut terbuka? Ujarnya dalam hati saat ia benar-benar yakin bahwa sebelumnya jendela tersebut tertutup cukup rapat.
Alih-alih pergi dari sana, Tivana malah melangkahkan kaki menuju jendela tersebut. Menilik keluar benda itu yang menyajikan pemandangan gelap bibir pantai juga lautan.
Surai-surai rambut milik Tivana yang tidak dikuncir melambai, mengikuti arus angin yang berembus cukup kencang.
Digapainya jendela; ingin menutupnya.
Namun sebelum Tivana menutup kembali benda tersebut, dia melihat siluet aneh dari kejauhan.
"Apa itu?" gumamnya. Penasaran.
...***...
Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan disini? Dewi batin Tivana berucap, gadis yang hanya mengenakan baju kaos berwarna putih dengan celana kargo tersebut menghentikan langkah tepat di bibir pantai. Udara dingin seakan menggigit permukaan kulitnya.
Tivana menggigil.
Hanya karena rasa penasaran, gadis tersebut dengan bodohnya berani keluar dari penginapan lalu berjalan seorang diri menuju tepi pantai tempat dia melihat siluet aneh barusan. Bahkan tanpa pikir panjang.
Lucunya, berkat rasa penasaran yang Tivana miliki rasa sakit kepala yang ia alami sebelumnya seakan lenyap—digantikan oleh keingintahuan yang sangat tinggi terhadap objek janggal tersebut. Alhasil berakhirlah Tivana di sini, berdiri seorang diri memandangi lautan tepat di tepi pantai.
Suara deburan ombak menghiasi keadaan. Daun dari pohon-pohon kelapa melambai, angin berembus sangat kencang.
Tidak ada apapun di sana. Itu yang Tivana dapatkan.
"Apa aku tadi salah lihat?" gumamnya. Meneliti dalam riak ombak lautan di depan sana. Tak puas dengan apa yang Tivana dapat, gadis tersebut lantas melepaskan sendal miliknya lalu berjalan kearah pasir yang tengah dijilat oleh lautan. Kaki-kaki telanjang itu perlahan basah, rasa dingin dari air laut tak menggentarkan langkah Tivana untuk tetap berjalan hingga akhirnya air tersebut melahap dirinya sampai kearea paha.
Bermodalkan pantulan cahaya bulan yang baru saja muncul, Tivana menyipitkan matanya.
Ada sesuatu disana. Dia membatin, menemukan kejanggalan berjarak 10 meter dari tempat ia berpijak.
Bayangan aneh, berwarna terang seperti—
"Sisik."
Hmmm~
Hmmm... hm~
Deg!
Tivana mendengok, nyanyian kembali terdengar bahkan kali ini terasa lebih jelas. Gadis tersebut lantas mengedarkan pandangannya kesetiap jengkal pemandangan. Hanya lautan dan cuma lautan. Itu saja! Tidak apapun disana yang dapat memicu suara semacam nyanyian.
Sudut bibir Tivana berkedut, sekarang dia benar-benar sangat yakin bahwa nyanyian tersebut nyata. Meski ia tak tahu penyebab dari nyanyian tersebut apa atau lebih tepatnya siapa.
Haruskah Tivana beranjak dari sini? Pikir gadis itu yang siap-siap ingin keluar dari air laut namun tiba-tiba nyanyian aneh bersuara merdu itu berhenti.
Hal ini membuat langkah Tivana berhenti. Suasana berubah menjadi sangat senyap, gadis tersebut ikut mematung—entah kenapa tapi ia merasa ada sesuatu seperti tengah memperhatikan dirinya. Dari kejauhan atau? Dari kedalaman?
Glek!
Tivana menelan saliva kasar. Membalikkan tubuh kembali menghadap lautan. Embusan angin yang sebelumnya kencang kini berubah menjadi pelan, membelai geli pipi Tivana; membuat si empunya meremang.
Sial!
Tivana rasa ia mulai takut.
"Lebih baik pergi dari sini." gumamnya, bersiap berbalik lalu lari dari sana. Namun sebelum ide tersebut terealisasikan, kaki Tivana tiba-tiba saja oleng. Hal ini membuat dirinya jatuh tersungkur kedalam air.
Mata gadis tersebut menjadi perih, berkat air garam memasuki matanya. Tivana terpejam, menahan napas. Gelembung udara sesekali keluar dari sela bibir gadis itu, dia mencoba untuk tidak panik. Kedalaman air tempatnya berpijak cukup dangkal. Hanya ada pasir dan beberapa kerang disana, ya setidaknya itu yang Tivana pikirkan sebelum dia merasakan sesuatu menarik kakinya.
Kasar dan aneh.
Spontan Tivana membuka kedua kelopak mata, sesuatu menyambutnya; di kedalaman air laut tersebut.
Cukup mengejutkan.
Apa itu?
Deg?!
"Hmmp!"
MONSTER?
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Author15🦋
omaygat, putri duyung kah atau siren, atau nyai roro kidul
2023-07-03
2
Author15🦋
pengen jga
2023-07-03
1
Author15🦋
untuk aku bkn penakut
2023-07-03
1