Tak Berdaya

...Perhatian!...

...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....

...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....

...Terima kasih,...

...selamat membaca....

...__________________________...

...Roar of the Ocean...

...___________________________...

..._____________...

...____...

..._...

"Ayo Ana, tusuk saja..." Òsedian diam, manik matanya memperhatikan sosok Tivana dengan sangat lekat.

Jemari panjang yang Òsedian miliki menyusuri garis rahang Tivana, gerakannya cukup sensual, berakhir diarea insang gadis tersebut. Kambali lagi makhluk setengah ikan itu bicara.

"Tusuk, lalu aku akan langsung mengawini mu tanpa ampun Ana—" ucapnya gantung, Òsedian lihat tangan Tivana gemetar. Dia terpengaruh dengan nada bicara rendah yang makhluk itu gunakan; jelas seperti tengah mengancam. Siapa yang tidak takut diancam?

Tivana manusia normal (mungkin); entahlah kalau sekarang. Bertatap muka dengan Òsedian tanpa pingsan saja sudah termasuk pencapaian yang luar biasa.

Tanpa sadar Tivana menelan saliva kasar.

Glek!

Sial! Rutuknya dalam hati, benar-benar merasa ngeri.

Masih dengan bisikan, Òsedian melanjutkan apa yang ingin dia katakan.

"Tak perlu harus menunggu wujudmu berubah secara sempurna, aku penasaran berapa banyak telur yang dapat kau kandung di dalam perut mu ini."

DEGH!

Jantung Tivana berdetak sangat kencang, rasanya seperti benda itu berada tepat di samping gendang telinganya. Terlalu jelas! Tivana menggigit pipi bagian dalam. Dia gugup.

Haruskah dia mempertahankan posisi mengancam Òsedian dengan mata pisau lalu menusuk salah satu matanya dengan benda itu? Ataukah menyerah saja? Membiarkan dirinya berubah menjadi Siren selama sisa hidupnya.

Ini konyol! Kedua hal tersebut bahkan bukan sebuah pilihan?! Sama-sama zonk, tidak menguntungkan untuk Tivana.

Tivana benar-benar gelisah. Otaknya berputar.

PIKIRKAN SESUATU! APA SAJA—YANG BISA MENYELAMATKAN DIRIMU! TIVANA!

Jerit dewi batin gadis tersebut.

Sial! Sial! SIAL!

"Haruskah kita mencoba?"

Deg?

Pikiran Tivana menjadi kosong, beberapa detik setelah perkataan Òsedian memasuki gendang telinga. Gadis tersebut melirik horor, kepalanya mendongak dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu.

Kejadian selanjutnya sangatlah di luar dugaan.

Jlep!

"Ergh?!"

Tivana, tanpa pikir panjang menusuk manik berwarna emerald yang berada di hadapan. Òsedian shock, hal ini jelas di luar perkiraan makhluk itu. Ana adalah sosok penyayang, dia tidak mungkin menyakiti makhluk lain yang tidak berdaya. Huh!

Betapa teganya kau Ana.

Òsedian lalu mendesis, tangannya terangkat—makhluk itu sedikit mundur kebelakang; menutupi mata yang sudah terkena tusukan. Cairan tubuh atau sederhananya 'darah' tapi bukan berwarna merah keluar dari sana.

Banjir menyatu dengan air laut.

Melihat celah tersebut, Tivana langsung menendang tubuh Òsedian; tepatnya menjadikan makhluk setengah ikan tersebut sebagai pijakan awal sebelum melompat keatas lalu berenang dengan cepat.

Satu-satunya hal yang tertanam di dalam benak Tivana saat ini adalah—PERGI DARI SINI!

Persetan dengan semuanya. Entah itu masalah janji bodoh yang Òsedian ucapkan soal dia ataupun tentang transformasi tubuh Tivana saat ini.

Yang terpenting—menjauh sejauh mungkin dari makhluk tersebut.

Òsedian mendongak, menggunakan sebelah matanya yang masih berfungsi. Diantara darah berwarna biru gelap tersebut dia melihat sosok Tivana yang berenang menjauh.

Urat-urat marah muncul, menghiasi leher serta kening makhluk itu. Òsedian menggerem. Gigi taringnya terlihat.

Makhluk itu lalu membuka mulutnya, berbarengan dengan hal tersebut suara teriakan nyaring terdengar.

"ÆÆÆÆÆÆNNNNNNÀÀÀÀÀÀ!!!!!"

Tivana tersentak, dia menutup telinga dengan kuat dan erat. Dengungan dari teriakan seekor Siren nyaris membuat gendang telinga Tivana pecah. Meski begitu gadis tersebut bahkan tidak menoleh kebelakang. Dia tahu, Òsedian pasti tengah menampilkan ekspresi wajah yang sangat mengerikan—untuk saat ini.

Dari pada membuang-buang waktu karena rasa penasaran, lebih baik terus berenang. Seperti kata Dori, ikan dari salah satu film kartun yang menemani masa kecilnya.

Terus berenang! Terus berenang! TERUS BERENANG!!

Atau aku akan mati!

Anehnya setelah teriakan panjang tersebut, Tivana tidak merasakan tanpa-tanda bahwa Òsedian akan menyusul. Malah suasana terlihat berubah menjadi sangat senyap secara tiba-tiba.

Ini tidak bagus!

Firasat-nya berkata akan ada badai.

Badai mengerikan yang membuat Tivana menyesali keputusannya.

Dan benar saja.

"Bisa kita akhiri kejar-kejaran ini Ana?"

Deg!

Sosok Òsedian sudah berdiri tepat di hadapan gadis itu.

...***...

Bagaimana ini bisa terjadi?

Tivana tidak tahu. Dimana letak kesalahannya sehingga ia harus mengalami semua kejadian tak masuk akal semacam ini.

Ingin tertawa hambar, dalam batin.

Gadis yang saat ini terkulai lemas didasar lautan hanya dapat menampilkan raut lelah, rona mata dari gadis tersebut terlihat seperti ikan yang sudah mati.

Kepalanya kosong. Tak mampu lagi digunakan untuk berpikir. Hanya ada serentetan kilas balik dari kejadian yang baru saja terjadi atau tepatnya baru dialami?

Entahlah, Tivana tidak tahu lagi.

Kapan dan bagaimana Òsedian bisa berada tepat dihadapan Tivana, menjulang tinggi dengan sirip yang mengembang. Setelah hal tersebut, Tivana ingat tubuhnya tiba-tiba terempas begitu saja; kembali ke dasar lautan.

Dikarenakan mengalami benturan yang cukup keras, Tivana merasakan shock mental yang luar biasa hingga membuat gadis tersebut pingsan untuk beberapa saat. Lalu ketika dia baru saja membuka kedua kelopak mata Tivana malah disuguhkan oleh pemandangan yang mengerikan.

Tak pernah terbayang dia akan mengalami hal seperti ini. Tidak sekalipun! Demi Tuhan.

Tivana rasa ia ingin menangis darah, bagaimana tidak? Saat dia mengetahui fakta bahwa dirinya tengah diperkosa oleh seekor ikan. Secara harfiah bukan ikan. Kalian paham 'kan?

"Argh~"

Òsedian melenguh, seperti sapi. Tivana jijik mendengarnya. Gadis? Atau tepatnya sekarang seorang wanita bernama Tivana tersebut melirik, menampilkan ekspresi benci.

Jika saja dia tidak mengalami lemas disekujur tubuh akibat gempuran binatang di atasnya ini, mungkin Tivana akan berpikir untuk menikam sosok tersebut hingga mati.

Persetan soal keselamatan diri. Saat ini Tivana benar-benar benci. Dia ingin membunuh Òsedian. Makhluk setengah ikan yang menurutnya biadab.

Berbanding terbalik dengan suasana hati Tivana, Òsedian justru terlihat sangat bahagia. Junior yang jarang sekali keluar kecuali saat dia benar-benar dilanda rangsangan kuat ketika masa birahi datang ataupun musim kawin—sekarang tampil dengan tegaknya. Begitu bangga. Bahkan tak mau layu padahal sudah beberapa kali menyemburkan benih tepat kedalam rahim milik Tivana.

Tak bosan-bosan, simpelnya seperti itu.

Lagi dan lagi, Òsedian ketagihan hingga membuat Tivana menjadi sangat lemas. Tidak berdaya.

"Hah~" lenguhnya.

Diantara kabut nafsu yang menutupi pandangan makhluk tersebut, Òsedian berbisik.

"Aku tak sabar, berapa banyak telur yang akan kita miliki. Ana~"

...***...

...T b c...

...Ingat!...

...Cerita ini hanyalah fiksi belaka, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun itu murni karena ketidaksengajaan semata....

...Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, ataupun comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....

...Terima kasih,...

...ketemu lagi nanti....

...Bye...

...:3...

Terpopuler

Comments

Lisa Z

Lisa Z

mencoba gundul muu

2023-10-09

0

Author15🦋

Author15🦋

telur😭

2023-07-29

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!