Peluk

...Perhatian!...

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....

...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....

...Terima kasih,...

...selamat membaca....

...____________________...

...Roar of the Ocean...

...____________________...

...___________...

...____...

..._...

Tivana termenung, dia duduk di sebuah pondok tepat di tepi pantai yang langsung menghadap laut. Terlihat deburan ombak bergerak seirama dengan lambaian daun dari pohon kelapa akibat embusan angin laut yang lewat. Aroma garam tercium, sedikit amis. Sudah lewat satu hari semenjak kejadian itu—kejadian aneh yang menimpa Tivana.

Rasa sakit disebelah pergelangan kaki membuat Tivana meringis, gadis tersebut melirik. Seharusnya ada luka besar yang menganga disitu tapi nyatanya tidak ada, bahkan tak secuilpun ada goresan disana. Hanya rasa sakit yang anehnya entah datang dari mana. Seperti ilusi, batin Tivana—masih tak bisa melupakan kejadian yang menimpanya tersebut.

Aneh, tapi nyata.

Johan sendiri juga yakin kala itu ia melihat luka besar di pergelangan kaki Tivana. Namun saat mereka benar-benar sampai di pantai, luka tersebut lenyap—hilang tak bersisa.

Sekelebat ingatan lusa kemarin kembali muncul. Tivana merasakan rasa sakit luar biasa seperti habis diterkam oleh hewan buas, kakinya mati rasa. Hal itulah yang menyebabkan Tivana menangis dengan kencang. Dia yakin betul bahwa tetesan darah dari tubuhnya membanjiri air laut. Untung saja Johan membuat keputusan yang tepat; dia langsung membawa Tivana pergi dari situ menuju tempat yang lebih kering—jauh dari laut. Lalu setelah itu barulah Tivana mendengar cerita dari pihak Johan soal bagaimana Johan bisa berada di tepi pantai dan menyelamatkan Tivana dari kejaran makhluk setengah ikan tersebut.

Johan menjelaskan, bahwa Rachel terbangun dan mendapati sosok Tivana yang menghilang dari sisinya. Kemudian gadis bodoh itu dengan lugu membuat keributan soal hilangnya Tivana, alhasil semua orang menjadi gaduh mencari-cari Tivana kesegala penjuru.

Singkat cerita seperti itu.

Tivana yang mendengar bernapas lega, dia bahkan tak pernah terpikirkan akan lepas dari cengkeraman makhluk aneh tersebut. Tivana amat merasa bersyukur.

Tak!

Tiba-tiba sebuah sentilan keras menyentakkan kening Tivana, gadis itu terbebas dari lamunan panjangnya. Seseorang berdiri tepat didepan mata, berbadan besar hingga kedua bahu miliknya dapat menutupi pemandangan laut didepan sana.

"Johan?" gumam Tivana. Lugu. Lelaki pemilik nama tersebut terkekeh, reaksi lucu macam apa itu? Batinnya. Menertawakan respon konyol yang Tivana tunjukan. Jelas sekali gadis itu melamunkan sesuatu dengan dalam hingga membuatnya tidak sadar akan kehadiran Johan disana.

Johan beranjak, dia duduk tepat di samping Tivana sambil berucap.

"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.

Tivana termenung, diam sebentar memikirkan sebuah jawaban yang tepat sebelum ia bicara.

"Sesuatu dibawah laut." ujarnya. Johan yang mendengar untaian kata tersebut mengangguk paham, dia tahu betul apa maksud dari perkataan gadis di sampingnya itu.

Hal ini malah membuat Johan ikut terdiam. Pikiran laki-laki tersebut hanyut mengingat kejadian lusa lalu. Dia juga jadi sedikit penasaran, sesuatu seperti 'apa' yang tersembunyi didalam air laut kala itu—hingga berhasil membuat Tivana ketakutan dan menangis dengan kencang.

Hah~

Semakin dipikirkan semakin sulit bagi Johan untuk menerka jawabannya.

"Kau menyimpan benda yang ku berikan bukan?" tanya Johan tiba-tiba, memilih memecahkan keheningan. Tivana yang mendengar melirik sebentar. Dia ingat kalau semalam lelaki tersebut memberikan sesuatu padanya.

Digapainya saku celana.

Tivana menarik sebuah benda kecil berbahan stainless steel dari situ. Ia tunjukan tepat di depan mata milik Johan.

"Tentu saja..." ucap gadis itu, memberikan jawaban.

Sebuah pisau lipat tampil dengan bangga. Johan yang melihat tersenyum. Alasan ia memberikan benda itu kepada gadis tersebut adalah ketika ia melihat tampang murung milik Tivana. Hanya mereka berdua yang tahu, dan yakin bahwa ada sesuatu didalam laut sana bahkan ketika Tivana mencoba bercerita tak ada satu orangpun yang percaya. Itulah mengapa Johan memberikannya.

Sebagai bentuk dukungan, bahwa kau tidak sendirian dan kau dapat melawan apapun di dunia selama kau berusaha. Kau itu kuat! Meski kau seorang perempuan.

Manis bukan? |

"Tinggal 1 hari..." ucap Johan, lagi—mengingatkan Tivana soal kegiatan praktikum lapangan mereka yang akan segera berakhir.

Tivana tersenyum.

"Yeah~" sahutnya.

...***...

Lucu. Hingga detik-detik terakhir Tivana melakukan kegiatan praktikum lapangan, ia tak pernah lagi mendapati makhluk setengah ikan tersebut. Bahkan suara nyanyian-nya tak lagi terdengar. Seolah sirna.

"Sudah beres?" tanya Rachel. Tivana mengangguk, semua benda miliknya sudah masuk dengan aman kedalam ransel besar. Waktunya mereka pulang.

Bersama teman-teman seangkatan, tentu dengan Rachel juga—Tivana beranjak pergi dari kamar penginapan. Dua bus besar terlihat tengah terparkir tak jauh dari sana. Logo kampus tempat Tivana melakukan studi terpampang dengan jelas.

"Semua sudah berkumpul?" teriak sir Liam bertanya, memanggil para mahasiswa dari kampusnya. Tivana bergegas bersama Rachel untuk barisan, ada beberapa pengarahan sebelum mereka dapat secara teratur memasuki bus.

Sir Liam kemudian tampak berpamitan dengan pemilik penginapan.

"Kita duduk dekat pintu yah?" bisik Rachel bertanya pada Tivana. Gadis tersebut mengangguk. Terserah kau saja, gumamnya tanpa suara.

Dengan teratur mereka memasuki bus, laki-laki dan perempuan dipisah busnya. Sesuai keinginan Rachel—mereka berdua akhirnya duduk di dekat pintu.

"Praktik keluar lapangan yang melelahkan..." lenguh Rachel beberapa detik setelah mendaratkan bokong di kursi penumpang. Tivana setuju.

Saat semua teman-teman seangkatan mereka sudah naik, bus-bus tersebut barulah bergerak tapi belum sampai setengah jam mereka berjalan sesuatu terjadi.

BADUM!

Dentuman keras terdengar. Bus yang Tivana naiki sedikit hilang kendali meski untung saja meraka berhasil menepi dengan aman. Beberapa teman perempuan gadis tersebut berujar gaduh, bertanya pada pak supir.

"Apa yang terjadi sir?" tanya mereka. Tivana pun ikut penasaran, dia berdiri dari bangku. Menantap keluar jendela kaca lalu merasakan posisi bus menjadi miring.

Usut punya usut ternyata ban dari bus tersebut pecah. Bus kedua yang mengiringi dari belakang baru saja sampai. Sir Liam keluar dari sana, dengan tampang panik ia lalu menanyai para mahasiswinya.

"Kalian baik-baik saja?!"

Tivana bersama yang lain mengangguk, mau tak mau mereka turun secara teratur dari bus. Pak supir bersama supir bus satunya dan beberapa mahsiswa laki-laki mulai memeriksa ban dari bus tersebut.

Ada-ada saja, padahal mereka baru ingin pulang.

"Hah..."

Tivana menghela napas lelah. Saat ini mereka masih berada didaerah dekat kawasan pantai. Lihat saja hutan-hutan mangrove itu, perairan payau terusan laut.

"Pstt! Tivana?" panggil Rachel tiba-tiba, setengah berbisik. Apa lagi gadis satu ini? Dia melambai meminta Tivana untuk mendekatkan daun telinga.

"Ya?" beo Tivana.

"Bisa temani aku kesitu?" bisiknya, menunjuk aliran air di tepi hutan mangrove disamping mereka. Kening Tivana mengkerut. Untuk apa kita kesana?

Seakan paham tanpa harus menunggu Tivana bertanya Rachel langsung menjelaskan.

"Tiba-tiba aku ingin... kau tahu? Kecil? Panggilan alam... please..."

Tivana menepuk jidatnya. Kebiasaan!

"Ayo cepat!" desis Tivana, mereka berdua bergerak secara perlahan memisahkan diri dari kerumunan.

Begitu sampai didekat aliran air dengan area aman Rachel bergegas mencari tempat bersembunyi untuk keperluan panggilan alamnya. Tivana lantas berbalik, memunggungi sambil menyilangkan tangan; menunggu Rachel selesai.

Tapi belum ada 30 detik, sesuatu muncul di belakang punggung Tivana—tepatnya dari dalam aliran air di hutan mangrove tersebut.

Tampangnya menyeringai, makhluk itu sangatlah mengerikan. Siapapun yang melihat pasti merinding, ia merentangkan kedua tangan bersisiknya—memeluk Tivana dari belakang dengan kencang lalu menarik Tivana menuju kedalam air.

BYURR!

Selesai sudah.

Itu, Òsedian.

Seekor siren yang agaknya terobsesi dengan sosok Tivana.

...***...

...T b c...

...Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, dan comments...

...Terima kasih...

...Ketemu lagi nanti...

...Bye...

...:3...

Terpopuler

Comments

Lisa Z

Lisa Z

untung bus nya ga oleng yaa 😥

2023-10-09

0

Lisa Z

Lisa Z

wah aneh bin ajaib

2023-10-09

0

Sri Supeni

Sri Supeni

lanjut

2023-09-12

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!