Omong Kosong

...Perhatian!...

...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....

...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....

...Terima kasih,...

...selamat membaca....

...__________________________...

...Roar of the Ocean...

...__________________________...

..._____________...

..._____...

..._...

Dia menggeram, batin Tivana dan Ilda serentak. Òsedian menampilkan ekspresi wajah penuh rasa permusuhan—menatap tajam sosok Ilda di pinggir kolam.

Melihat hal tersebut membuat makhluk dari keturunan bangsa mermaid itu merotasi kedua matanya, jenuh. Lagi pula ada-ada saja. Bagaimana bisa Tivana mengajukan pertanyaan polos bersifat ajakan terhadap Ilda padahal wanita tersebut sudah berstatus milik Òsedian. Jelas kalau Ilda jadi temannya—Ilda pasti akan marah juga. Siapa yang mau berbagi pasangan dengan teman meraka?

"Oh ayolah kawan, Tivana hanya bercanda..." ucap Ilda kemudian, berusaha memperbaiki suasana. Wanita yang mendengar namanya dijadikan tumbal melayangkan tatapan tajam. Ilda acuh tak acuh terhadap tatapan mata tersebut.

Maaf! Tapi aku berada dipihak Òsedian. Begitu yang dapat Tivana tangkap dari raut muka milik Ilda.

Tch!

Hal ini berhasil membuat satu-satunya wanita yang berada di sana berdecih, cukup keras—memberi isyarat bahwa dia tengah marah. Ilda yang mendengar terkekeh hambar. Òsedian bergerak naik, duduk di pinggiran kolam dengan wajah yang masih melayangkan tatapan ganas.

Sial! Batin Ilda, dia sedang tidak ingin merasakan amukan dari siren itu atau meladeninya bertarung secara brutal di laut. Lelaki tersebut menghela napas panjang, Ilda kembali memilih buka suara.

"Tivana tadi bertanya kenapa perubahan tubuhnya berlangsung sangat lambat, jadi ku jelaskan kalau dia perlu 'asupan' dari mu Òsedian..." ujarnya, membuat kedua bola mata Tivana membulat dengan sempurna. Apa yang baru saja ia dengar?

Kau menumbalkan aku lagi?! Ingin sekali Tivana menjerit, berteriak tepat di samping telinga yang Ilda miliki tapi apalah daya wanita itu hanya dapat memberikan tatapan melotot bukan main.

Ilda jelas mengabaikan tatapannya tersebut, dia memilih membuang pandangan yang dia punya kearah lain. Berbeda dengan Òsedian, ketika dia mendengar perkataan itu wajah masam miliknya hilang—digantikan dengan raut muka girang.

"BENARKAH?!" beonya girang. Menyeret ekor besarnya diatas permukaan lantai gua agar bisa mendekati sosok Tivana dengan manik mata yang berbinar.

Dalam batin lelaki tersebut berucap.

Ana mencari ku!

DIA MENCARI KU?!

Reaksi berlebihan yang Òsedian tunjukkan membuat Tivana berdiri, mundur hingga punggungnya membentur dinding gua. Sial! Dia merasa jijik. Apa makhluk setengah ikan semacam Òsedian bisa mengalami gangguan kepribadian seperti Bipolar?

Kemana perginya sosok mengerikan yang menculik Tivana sebelumnya? Mengapa saat ini Òsedian di mata wanita tersebut terlihat seperti sosok yang norak dan narsis?

"Menjauh!" dengus Tivana kesal. Dia melakukannya secara spontan ketika jemari berkuku tajam milik Òsedian ingin menggapai pergelangan tangannya. Tapi seakan buta dan tuli Òsedian masa bodoh dengan sikap yang Tivana tunjukan, dia masih berusaha menangkap bagian tubuh manapun dari wanita tersebut.

Habis perlawanan, Tivana berhasil ditangkap oleh kedua tangan Òsedian. Makhluk setengah ikan itu tanpa pikir panjang langsung membawa Tivana masuk kedalam pelukan tubuh besarnya, bahkan kaki dari wanita tersebut di-lilit oleh ekor dengan sangat erat. Hal ini membuat Tivana tidak bisa bergerak, meronta pun akan jadi sia-sia. Tch! Kurang ajar!

Tivana berakhir diam dengan tatapan pasrah. Meski lubuk hati terdalam miliknya menyerukan kata dendam—pada Ilda.

AKU AKAN MEMBALAS MU, LIHAT SAJA NANTI!

...***...

Omong kosong, apa yang dari tadi dia ucapkan? Komentar Tivana dalam hati ketika telinga miliknya mendengar kicau-an tak berarti tanpa henti yang keluar dari mulut Òsedian. Ilda juga tampak kembali dengan kesibukan miliknya.

Sial! Sudah berapa lama aku terjebak?! Tanya dewi batin Tivana kesal. Mulai merasa kebas dan mati rasa. Makhluk ini tidak memiliki niatan 'kah untuk melepaskan dirinya? Pikir wanita itu.

Walau yang ada Òsedian malah semakin erat dalam memeluknya. Hal ini membuat wanita tersebut melenguh keras, dia bosan. Bahkan ketika Òsedian berbicara sesuatu yang menurutnya tidak terlalu penting. Itu hanya menambah titik dari kebosanan milik Tivana. Paling seputar kata-kata penuh cinta dan kasih sayang, ya meski setelah itu ada kalimat yang Òsedian ucapkan—berhasil menarik minat dari wanita pemilik nama Tivana tersebut.

Satu kalimat unik dengan makna yang sedikit—?

"Mari kita lanjutkan proses transformasi mu Ana! Aku akan memberikan banyak asupan—tenang saja?!"

BERBAHAYA! Alarm biologis Tivana bicara.

Dengan wajah pucat wanita tersebut mendongak, dia tidak salah dengar bukan? Belum sempat bicara; hendak membela diri—hitungan detik setelah itu Tivana sudah merasakan tubuhnya terlempar menuju air, disusul dengan sosok Òsedian.

Samar-samar Tivana mendengar, Ilda bicara.

"Nikmat waktu kalian~"

BYURR!

.

.

.

.

.

Bersama Òsedian yang menggenggam pergelangan tangan dengan sangat erat, Tivana merasa bahwa dirinya dibawa menyelam semakin dalam menuju dasar lautan yang paling gelap.

Sial! Apa yang harus aku lakukan?! Batin Tivana dengan pikiran kosong. Dia bingung harus bertindak apa, soal tekad dan segala macam—jelas wanita itu masih belum bisa menerapkannya.

Belum!

Dia belum mampu, belum mampu dalam melawan sosok Òsedian. Kecuali jika Tivana mau merasakan rasa sakit yang sama persis seperti sebelumnya. Sudah dia bilang bukan? Kalau dia sedikit mengalami trauma.

Terlalu banyak mendapatkan tekanan secara mental; panik, gugup, dan takut membuat hidung Tivana mimisan. Bau darah yang menyatu dengan air laut merangsek masuk menuju bagian dalam dari rongga hidung milik Òsedian. Hal tersebut membuat makhluk setengah ikan dari bangsa siren itu berhenti menyelam, dia berbalik. Hendak mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Tapi!

Apa yang Òsedian dapatkan diluar dugaa.

Yaitu sosok tak sadarkan diri dari Tivana; terpejam damai dengan hidung yang mengucurkan banyak darah. Òsedian terkekeh, membawa sosok itu—pelan kedalam pelukan hangat miliknya.

"Ana... kau pingsan lagi..." gumam Òsedian tepat disamping daun telinga wanita tersebut.

"Jangan harap hanya karena kau kehilangan kesadaran aku akan berperilaku lembut." ucapnya, lagi. Mulai meraba garis rahang Tivana dengan jemari, lalu mendekatkan wajah wanita itu menuju wajahnya.

"Ini hukuman karena membuat ku cemburu pada Ilda." bisik makhluk itu lalu membuka paksa mulut Tivana dan memasukkan lidahnya kedalam benda tersebut. Seperti ada rasa manis, Òsedian kecanduan mencium bibir Tivana dengan dalam. Tanpa celah sedikitpun hingga semua dari rongga mulut wanita pemilik nama Tivana itu dapat dijelajahi dengan benar oleh lidah panjang milik Òsedian.

Argh~

Ini nikmat, lenguhnya.

Sembari menarik jubah yang Tivana kenakan hingga tubuh wanita tersebut dapat terlihat dengan jelas. Tanpa kain secuilpun.

Banyak sisik berwarna peach disana. Sial! Òsedian merasa semakin girang. Tangannya lantas meraba-raba punggung berlapis sisik tersebut.

Indah~

Aku tak sabar melihat seberapa cantiknya kamu nanti Ana! Jerit Òsedian dalam hati sambil membayangkan sosok Tivana yang berubah secara sempurna menjadi seekor siren. Sama seperti dia—Òsedian.

Akankah ini menjadi akhir yang bahagia? |

Entahlah~

Siapa yang dapat menilai.

...***...

...T b c...

...Jangan lupa tinggalkan jejak...

...Terima kasih...

...Ketemu lagi nanti...

...Bye...

...:3...

Terpopuler

Comments

Lisa Z

Lisa Z

siapa yang ga stress kalau begitu jadinya

2023-10-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!