...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________...
...Roar of the Ocean...
...__________________________...
...__________...
...____...
..._...
Sudut bibir Tivana berkedut, hati kecilnya meronta—kesal terhadap penuturan yang Ilda ucapkan.
Iya! Kau tak akan pernah bisa kabur dari sini, tidak sama sekali! Selama kau masih menjadi pasangan dari Òsedian Tivana, begitu katanya. Membuat wajah jengkel wanita sang pemilik nama Tivana tersebut semakin kentara, dia bahkan merotasi kedua matanya jenuh—menghadapi tatapan mengejek dari sosok di depan sana.
Persetanlah! Tivana muak.
Wanita itu memilih membuang pandangan kearah lain, sudahi saja percakapan tak berarti antara dirinya dengan Ilda. Hal ini semakin membuat Ilda terkekeh girang karena melihat respon yang Tivana tunjukan tersebut. Dia bahkan nyaris terpingkal menertawakan Tivana tanpa rasa beban, ya meski hatinya berujar lain—ini peringatan untuk mu Tivana! Begitu batin lelaki itu.
Dia sejujurnya tak ingin temannya; Òsedian terluka hanya karena mengejar cintanya terhadap manusia. Tanda kutip makhluk yang tidak lebih kuat dari pada seekor ikan hiu.
Ilda jadi teringat kembali bagaimana dia pertama kali mendengar Òsedian mengucapkan kata 'ketertarikan' dalam hal ini adalah cinta kepada seorang manusia. Ilda pikir dulunya itu hanyalah sebuah candaan belaka, dia tahu tak ada satu manusia pun yang hidup di dunia ini dapat mengetahui peradaban mereka secara jelas; bangsa dari makhluk setengah ikan. Jadi Ilda hanya menanggapi hal tersebut seperti angin lalu, ditambah saat itu Òsedian mengalami nasip sial ketika berburu di lautan lepas—dia menghilang beberapa waktu karena terseret oleh badai, saat berhasil kembali ke teluk siren Òsedian malah berkicau soal 'bisakah manusia berubah menjadi sama seperti ku?' begitu katanya. Kebanyakan beranggapan bahwa Òsedian hanya mengalami keterkejutan dikarenakan baru pertama kali berpapasan dengan makhluk bernama manusia. Lumrah juga bukan Ilda mengabaikannya?
Ya walau Òsedian tak menyerah begitu saja, dia bahkan memaksa Ilda untuk bercerita sampai-sampai makhluk yang merupakan keturunan dari bangsa putri duyung itu menjelaskan dia tidak tahu dengan tegas tapi! Lain cerita jika ingin hidup menyerupai manusia—kuncinya ada pada kekuatan magis dan itu hanya dimiliki oleh bangsa mermaid saja.
Jelas bukan jawaban semacam itu yang Òsedian mau. Dia ingin mengubah manusia menjadi siren, hanya itu keinginannya. Tidak lebih! Sampai Òsedian membuahkan hal dengan menemukan caranya—dari para tetua siren yang hidup ratusan abad sebelum dia ataupun Ilda lahir, jauh di dalam pedalaman laut sana. Tepat para roh dan peri laut berada.
Sungguh pengembaraan panjang, Ilda yang mendengarnya dibuat terharu saat dia tahu Òsedian berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. TIVANA. Maka dari itu Ilda tak keberatan membantu Òsedian, bagi dia temannya tersebut lebih dari sekadar teman—mereka seperti saudara. Mengabaikan masa lalu rumit yang hidup di-antara kedua bangsa mereka.
"Omong-omong kemana dia pergi?" tanya Tivana dengan nada merajuk. Dia masih kesal terhadap ejekan yang Ilda layangkan pada dirinya.
Ilda mencondongkan kepala, wajah lelaki tersebut terlihat hendak menggoda. Dia tahu Tivana tidak benar-benar ingin bertanya padanya, wanita itu hanya berdalih agar bisa menemukan informasi yang dapat dia gunakan. Entah jenis informasi apa Ilda tak peduli toh! Nantinya semua itu hanya berakhir sia-sia, karena wanita tersebut akan menghabiskan sisa hidupnya di teluk siren dengan melahirkan banyak keponakan untuk Ilda.
Argh~ Membayangkan sarang penuh telur membuat Ilda bersemangat. Dia tidak sabar.
"Kenapa kau tidak menjawab?!" dengus Tivana. Sedari tadi Ilda hanya menatapnya lekat dengan pandangan mata yang sulit untuk diartikan. Itu membuat Tivana merinding dia merasa jadi sedikit was-was.
Ilda menggeleng.
"Tidak..." sahutnya, gantung.
"Jika kau bertanya tentang Òsedian, dia mendapatkan sinyal darurat dari kawanannya di teluk. Itu kenapa dia bergegas pergi kesana untuk memastikan situasi..." sambung sosok tersebut sembari berbalik lalu berlenggang pergi dari sana—hendak melakukan sesuatu.
...***...
Kedua tangan Tivana mengepal, dia yang sudah terlanjur jengkel semakin dibuat jengkel oleh sikapnya Ilda yang sekarang mengabaikan Tivana. Lelaki itu tampak sibuk sendiri dengan sihir miliknya, entah apa yang dilakukan makhluk tersebut. Masa bodohlah! Lebih baik Tivana kembali menatap pantulan diri diatas permukaan air.
Kaki yang menjuntai bergerak-gerak, riak air bergelombang tercipta karena gerakan tersebut. Tivana tidak merasakan suhu kakinya menjadi dingin, apa ini salah satu kelebihan yang aku dapatkan juga? Batin wanita tersebut sedikit merasa penasaran. Antara dapat menjaga suhu normal didalam tubuh atau justru sebaliknya, dia yang beradaptasi dengan suhu lingkungan.
Memikirkan hal tersebut membuat Tivana ingin melanjutkan pemikiran miliknya sebelum Ilda datang tadi, soal rencana apa yang akan wanita itu lakukan agar dia dapat membalas dendam nanti. Pada Òsedian tentunya.
Baiklah, mari lanjutkan!
Konteks janji yang Òsedian sebut adalah soal kawin, bisa Tivana asumsikan bahwa hal tersebut sama pemahamannya dengan konsep CINTA di dunia manusia. Òsedian hanya menagih janji, lagi pula sepertinya Tivana pernah mendengar bahwa makhluk tersebut dalam satu dialognya menggunakan katan M E N I K A H bukan kawin, itu artinya Òsedian pasti memahami makna dari kata tersebut dari dunia manusia.
Jadi apa yang Òsedian inginkan berkaitan dengan hal yang bersifat romantis. Terikat dalam sebuah ikatan, menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia selamanya. Seperti itu.
Ah—!
Tivana jadi terpikirkan satu ide cemerlang, ini terlintas begitu saja saat bayangan Rachel tiba-tiba muncul didalam otaknya. Teman sekaligus sahabat Tivana tersebut pernah menghabiskan 1 malam penuh bercerita hingga membuat Tivana tidak dapat tidur hanya karena dia diselingkuhi oleh kekasihnya. Lalu beberapa waktu setelah itu ternyata sang kekasih malah meminta berbaikan lagi dengan Rachel.
Ya Rachel memang gadis polos tapi dia tidak bodoh. Mana mau dia kembali bersama dengan lelaki bajingan semacam itu meski Tivana tahu sebenarnya Rachel masih benar-benar memendam rasa cinta untuk sosok mantan kekasihnya tersebut.
Karena Tivana adalah tipe yang tidak terlalu memikirkan pria, kalau dia dicampakkan ya sudahlah baginya. Tapi ini berkaitan dengan Rachel temannya—Tivana jadi memikirkan solusi terbaik untuk gadis tersebut.
Nah solusi inilah yang membuat kepribadian Rachel berubah 180° seperti sekarang. Kadang Tivana menyesal menyuruh Rachel berpura-pura menerima kembali mantan kekasihnya lalu ketika sang mantan kekasih sudah berada dititik cinta mati campakkan dia.
Terinspirasi dari hal tersebut. |
Tivana rasa dia bisa menggunakan ide itu. Buat Òsedian yang sekarang ini saja sudah cinta semakin menjadi tergila-gila, lalu hancurkan dia. Sederhana bukan?
Bunuh dengan kuku yang nantinya akan berubah menjadi tajam, gigi yang menjadi taring, dan kaki yang menyerupai seekor ikan.
Tidak apa-apa, merelakan wujud manusia. Toh! Tivana sekarang tidak memiliki jalan untuk kembali. Biarkan dia berkecimpung di dalam takdir menjijikan yang sudah diberikan oleh Tuhan padanya.
...***...
...Nomor #1 :...
...Hanya sesama makhluk setengah ikan sajalah yang dapat saling membunuh satu sama lain....
.......
.......
.......
.......
.......
...T b c...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments