Kebencian

...Perhatian!...

...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....

...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....

...Terima kasih,...

...selamat membaca....

..._________________________...

...Roar of the Ocean...

...________________________...

...___________...

...____...

..._...

"Jangan menangis Ana..." bisik Òsedian, berhasil membuat Tivana tersentak.

DEG!

Jantungnya seperti berhenti berdetak. Apa yang baru saja dia dengar? Tidak salah bukan? Òsedian —makhluk itu meminta Tivana untuk jangan menangis. Setelah semua kejadian tak masuk akal ini terjadi?

Yang benar saja?!

Bukankah itu semua adalah salah mu!

MENGAPA KAU MENYERET KU KEDALAM SEMUA INI!

KAU PENYEBABNYA! KAU?!

Kira-kira itulah yang sedang Tivana pikirkan tentang Òsedian. Andai saja dia tidak bertemu makhluk setengah ikan tersebut, mungkin saat ini Tivana sudah berada di dalam Apartement-nya yang nyaman; berleha-leha seperti biasa sebelum kembali kuliah di hari senin bersama teman baiknya—Rachel.

Emosi benci menumpuk diwajah Tivana, cekikannya memang tidak bertenaga tapi apa yang ingin wanita itu tunjukan benar adanya.

Dia merutuki Òsedian, tak henti-henti sampai wanita itu menyadari.

Mungkin saja ini memang TAKDIR yang harus ku hadapi.

Kepala Tivana berputar, dia mencoba menyangkal hal tersebut. Takdir! Yang benar saja?! Tivana tidak akan menerimanya—meski itu semua adalah jalan yang sudah dirancang oleh Tuhan sekalipun. Pergolakan batin membuat pikiran Tivana kacau, wanita tersebut mengalami hiperventilasi secara tiba-tiba.

Cekikan pada leher Òsedian lepas, tangan Tivana berpindah. Napasnya terdengar cepat dengan suara pekikan bagai kuda yang tengah kelelahan. Melihat hal itu membuat Òsedian panik, begitu juga Ilda.

Ilda cepat-cepat mendatangi Tivana, wanita yang berada di atas Òsedian atau tepatnya tengah menduduki bagian ekor dari makhluk itu; mencoba untuk membantu meski tangan Ilda ditepis langsung oleh Tivana.

"APA YANG TERJADI ANA?!" Berbanding terbalik dengan posisi Òsedian yang tampak seperti orang gila. Dia tidak tahu banyak dan tidak mengerti tentang seluk beluk manusia.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Tivana mulai mengalami batuk parah, mulutnya tidak bisa menutup. Air liur berceceran. Paru-paru Tivana sakit, wanita itu mencengkeram kuat dadanya. Lucu, dia baru menyadari bahwa selama ini dia tidak mengenakan sehelai kain pun badan. Meski sekarang bukan itu yang menjadi point pentingnya, irama napas Tivana yang tidak stabil—panjang pendek tanpa jeda dibarengi batuk membuat Òsedian ketakutan.

Bahkan Ilda tak berkutik, tidak tahu harus berbuat apa.

Tivana tiba-tiba merosot jatuh, kepalanya membentur pelan tubuh Òsedian. Hal ini membuat makhluk itu terlihat seperti tengah memeluk Tivana.

Tak kunjung membaik, Òsedian mencoba memutar otak. Dia melihat dengan seksama kondisi Tivana.

Wanita tersebut tampak memiliki masalah dengan jalur pernapasannya. Itu kesimpulan yang dapat Òsedian ambil, hal gila lalu tercetus begitu saja didalam otak. Òsedian lantas mengangkat Tivana lalu memeluknya erat.

Bingung dengan apa yang ingin Òsedian lakukan Ilda kemudian bertanya.

"Apa yang ingin kau lakukan Òsedian?!" tanya dia, panik—melihat temannya itu tiba-tiba ingin membawa Tivana memasuki air.

Òsedian menoleh sebentar sebelum menjawab.

"Bernapas menggunakan insang!"

Byur?!

Lalu riak air terdengar, Òsedian bersama Tivana memasuki air. Oksigen di dalam hidung Tivana keluar secara bersamaan, menciptakan gelembung-gelembung besar di bawah air. Insang yang tadinya tertutup kini terbuka.

Tivana perlahan-lahan tampak menjadi tenang. Napasnya kembali teratur, tentu saja—itu karena wanita tersebut menggunakan sepasang insang di-kedua area tulang selangka-nya untuk bernapas.

"Hosh~"

Menghela napas panjang di dalam air, percaya atau tidak itu yang sedang Tivana lakukan. Dia merasa bersyukur perasaan sesak dan sakit di dadanya berangsur hilang, meski ia harus berada di dalam pelukan makhluk menjijikan menurutnya—siapa lagi kalau bukan Òsedian.

"Merasa lebih baik?" Òsedian bertanya. Tivana menaikkan pandangan menuju kearah makhluk bermanik emerald tersebut.

Tivana tidak berkomentar, dia hanya diam sebelum menyerahkan diri dengan patuh kepada kegelapan yang menjemput kesadarannya.

Òsedian menyadari Tivana telah pingsan beberapa detik setelah dia bertanya, makhluk itu kemudian mengeratkan pelukan miliknya lalu berenang menuju gua tempat Ilda berada.

Dari kejauhan, Ilda menyaksikan kepala Òsedian bersama Tivana yang perlahan timbul dari dalam air.

"Dia kembali pingsan..." ucap Òsedian, sendu. Ilda yang melihat mengangguk, sosok itu lalu membentangkan tangannya ketika Òsedian menepi hendak menyerahkan Tivana kepada sosok tersebut.

"Tolong rawat dia, Ilda." tambah makhluk itu.

"Tentu saja..." Ilda menyahuti dengan patuh. Kini tubuh Tivana sudah berpindah tangan. Òsedian tampak diam merenung sebentar sembari memperhatikan dengan lekat wajah terlelap milik Tivana.

Bibirnya pun kembali berucap.

"Aku akan pergi berburu, beri sinyal pada ku jika Ana sudah terbangun." ucapnya, lalu menghilang. Berenang menuju dalam air kearah lautan lepas meninggalkan Tivana bersama sosok Ilda, teman baiknya.

...***...

Aroma seperti terbakar mengusik indra penciuman milik Tivana. Wanita tersebut perlahan-lahan membuka kedua kelopak mata yang terasa sedikit berat.

Langit-langit gua terlihat menyambut mata Tivana, dia sudah tidak asing lagi dengan langit-langit itu.

Tivana mencoba membuka bibirnya, suara serak terdengar. Tenggorokan wanita itu kering. Dia perlu air.

"Argh..." Ilda tampak terlihat mendekati sosok Tivana, membantu wanita itu agar dapat bangun dari posisi berbaringnya kemudian menyerahkan sebuah cangkang kerang berukuran besar dengan air didalamnya.

Tanpa pikir panjang Tivana langsung menyambut air tersebut lalu meminumnya, ya meski setelah itu dia langsung memuntahkan air garam di dalam mulutnya tersebut.

Tivana melayangkan tatapan tajam, kearah Ilda yang tampak terlihat kebingungan. Hal ini memperkuat argumen bahwa makhluk disamping Tivana itu bukan seorang manusia, bisa jadi sebangsa dengan Òsedian.

"Huh~" Tivana kemudian menghela napas panjang. Kesadarannya sudah kembali dengan sempurna.

"Manusia tidak meminum air laut. Mereka akan mengalami dehidrasi parah jika memaksakan diri menelan air dengan kandungan garam yang tinggi." terang Tivana. Seperti paham dengan maksud wanita tersebut Ilda lantas berlari sebentar menuju pojok gua. Ada cangkang kerang berukuran tak lebih sekepal tangan dengan air didalamnya.

"Ini air hujan dari atas gua..." terang sosok itu.

"Kau bisa meminumnya 'kan?"

Tivana menurunkan pandangan, dia membuang napas lelah sejenak sebelum mengangguk mengambil benda itu lalu meminumnya.

"Kau tak sadarkan diri selama 3 hari..." tutur Ilda tiba-tiba, membuka percakapan dengan Tivana.

Ah~

Tivana melenguh dalam batin, dia ingat kejadian terakhir yang menimpa dirinya. Enggan berkomentar apapun Tivana memilih diam, keadaan gua tampak begitu gelap. Hanya ada cahaya dari sebuah api unggun yang entah bagaimana bisa hidup, padahal di sini cukup lembap.

Pantas saja Tivana mencium aroma terbakar.

"Òsedian benar-benar takut, dia pikir kau tidak akan bangun..."

Padahal sudah sengaja diabaikan tapi tampaknya Ilda masih berusaha membuka pembicaraan dengan Tivana. Wanita tersebut melirik, dia mendesis ketika mendengar nama Òsedian disebut.

Kebencian benar-benar menumpuk di dalam hati wanita itu.

"Kau tahu, bisa tolong maafkan perilaku-nya? Dia benar-benar menyesal telah menyakiti mu..." ucap sosok tersebut lagi. Berhasil membuat sudut bibir Tivana berkedut, tak percaya.

Omong kosong apa lagi yang sekarang Tivana dengar?

Memaafkan?

Heh!

JANGAN HARAP.

Makhluk itu pantas mendapatkan kebencian dari seseorang karena tingkah lakunya. Sialan!

...***...

...T B C...

...Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, atau comments...

...Terima kasih...

...Ketemu lagi nanti...

...Bye...

...:3...

Terpopuler

Comments

Author15🦋

Author15🦋

ya betul, kemudian kembali ke hari membosankan berikutnya😌😴

2023-07-29

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!