Tusuk

...Perhatian!...

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....

...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....

...Terima kasih,...

...selamat membaca....

...________________________...

...Roar of the Ocean...

..._________________________...

..._____________...

..._____...

..._...

Òsedian mendengus. Dia mengeratkan cengkeraman tangan di area celana kargo yang Tivana kenakan.

Makhluk itu lalu menjawab.

"Tentu saja, agar kita dapat dengan segera—KAWIN."

SREEET—!!

Disusul suara robekan yang terdengar sangat keras. Mata Tivana terbelalak lebar, terkejut bukan main dengan semua tindakan yang Òsedian lakukan terhadap celana miliknya.

Seketika Tivana berusaha mendorong tubuh Òsedian agar menjauh darinya. Pergerakan gadis itu terlihat lebih leluasa dari pada tadi, dia berenang di dasar lautan dengan hanya menggunakan hotpants yang lumayan ketat. Beberapa detik terbebas dari Òsedian, makhluk itu kembali memeluk Tivana. Seakan enggan memberi ruang, mereka kembali ke posisi semula.

Tivana yang sejujurnya sudah tersulut emosi melayangkan tatapan tajam.

"ITU KONYOL!" teriaknya. Mencoba mencekik ulang makhluk itu.

Òsedian terkekeh, dia menahan pergelangan tangan Tivana. Membalikkan posisi lalu membiarkan punggung berlapis kaos Tivana menghantam permukaan dari dasar lautan yang sebenarnya sangatlah gelap.

Tivana memekik, dia merasakan sakit; punggungnya seperti menghantam pasir juga bebatuan aneh disana. Òsedian mengurung Tivana dengan kedua tangannya, menindih kaki gadis itu dengan ekor hingga membuat pergerakan Tivana menjadi terbatas.

Manik mata pucat Òsedian perlahan berubah. Dari semula seperti orang buta kini tiba-tiba memancarkan cahaya, berwarna emerald disusul sirip hingga ke sisiknya. Begitu indah. Tivana tertegun.

Sebuah teori masuk kedalam pikiran gadis itu. Hanya ikan-ikan dari perairan laut dalam yang memiliki keunikan, semacam—mampu mengeluarkan cahaya dari tubuhnya. Hal ini biasa dilakukan untuk menarik mangsa mereka.

"Cantik bukan?" bisik Òsedian tiba-tiba. Tivana mengalihkan pandangan, makhluk yang besarnya 3 meter-an tersebut tampak menyombongkan diri. Memang Tivana akui bahwa saat ini Òsedian sangatlah indah, seperti peri yang hidup didasar lautan. Kesampingkan gigi taring yang dia sembunyikan di balik mulutnya.

"Nanti kau akan memiliki sirip ekor secantik ini juga..." ucapnya kemudian. Seperti batu tamparan, Tivana tersadar. Kemarahan yang sebelumnya hilang kembali muncul. Tivana mulai mendesis.

"Sebenarnya! Untuk apa kau melakukan ini semua?!"

Òsedian mengerutkan kening. Bukankah dia sudah menjawabnya tadi? Mengapa Tivana bertanya lagi?

Memahami rona ekspresi wajah Òsedian, Tivana kembali berucap.

"Persetan soal kawin! Yang ingin aku tahu adalah kenapa kau melibatkan aku?! Bukannya kita berasal dari 2 ras yang berbeda?! Untuk apa kau repot-repot mengubah ku sialan." sentak Tivana, dia mencoba mendorong Òsedian menjauh. Anehnya kali ini Òsedian menurut, makhluk itu terdorong mundur begitu saja. Melihat ada celah Tivana langsung memanfaatkannya, keluar dari kungkungan makhluk tersebut.

Òsedian menunduk, dia tidak mengejar Tivana seperti yang ia lakukan sebelumnya.

Tivana menjaga jarak, manik gadis itu menjadi tajam. Dia rasa ada sesuatu dari kalimat yang ia ucapkan mengandung makna dalam sehingga dapat menyerang mental Òsedian. Entah apa itu, Tivana masa bodoh. Yang jelas saat ini dia terbebas.

Lantas Tivana mendongak. Dia meringis, pemandangan diatasnya begitu gelap—itu artinya saat ini dia berapa sangat-sangat dalam didasar lautan. Entah bagaimana manik Tivana masih dapat melihat, simpulkan saja ini kemampuan yang dia dapatkan saat ber-transformasi menjadi Siren.

Meski selain insang tak ada perubahan yang cukup signifikan. Ini memberi harapan bagi Tivana, mungkin saja dia bisa kembali menjadi manusia jika dia sudah berada di daratan. Pemikiran sederhana. |

Tivana kembali menunduk, Òsedian masih berada di posisinya semula. Wajah makhluk itu sedikit sulit untuk dijelaskan, tapi satu hal yang pasti—di mata Tivana Òsedian tampak seperti orang depresi.

Shock, marah, dan sedih menjadi satu.

Kalau aku berenang keatas, akankah aku sampai? Tanya dewi batin Tivana. Kaki yang menapak didasar air menjadi kuat, entah hilang kemana sepatu yang Tivana kenakan.

Tangannya mengepal. Gugup.

Haruskah aku mencoba?

Makhluk itu terlihat sibuk dengan pikirannya.

Glek!

Tivana menelan saliva kasar.

Dia merasakan telapak kakinya menyentuh sesuatu. Menilik sebentar, gadis tersebut melihat benda dengan bentuk familiar. Itu! Pisau lipat yang Johan berikan padanya. Tivana langsung mencengkeram benda tersebut dengan jemari kaki, entah kenapa dia memiliki firasat harus menyembunyikan benda itu dari Òsedian.

"Hah~" lenguhan terdengar, Tivana tersentak dibuatnya. Gadis itu langsung mendongak, menatap pelaku dari sumber suara tersebut.

Òsedian menegakkan tubuhnya. Belum menantap Tivana. Sial, ini membuat Tivana takut.

Hawa sekitar terasa lebih berat dari pada sebelumnya.

Dilihat Tivana dari kejauhan, mulut Òsedian tampak bicara.

Meski tak terlalu jelas Tivana sendiri tidak merasa penasaran. Nalurinya menyuruh untuk mundur. Dengan gerakan teratur, gadis tersebut menjaga jarak. Òsedian masih berkomat-kamit sendirian. Oh ayolah, rasanya mulai menakutkan.

"—janji."

Òsedian melantangkan suara.

Dia menoleh, kearah Tivana dengan gerakan yang pelan. Kilat mata berwarna emerald tersebut semakin tajam dan menyala.

Tivana mematung. Dia menajamkan pendengaran, entah kenapa rasanya sekarang Tivana mulai sedikit penasaran. Janji?

Janji apa yang Òsedian maksud? Tanya dewi batin dari gadis tersebut.

"—bukannya kau sudah BERJANJI—KITA akan MENIKAH (kawin)!"

Deg!

Belum sampai 5 detik setelah Tivana mendengar kalimat tersebut, Òsedian bergerak dengan cepat; mencoba menyambar tubuh Tivana. Melihat hal tersebut, Tivana secara spontan melempar pisau lipat di kakinya menuju atas lalu mengambil benda itu dengan sigap.

Berbarengan dengan sampainya Òsedian, Tivana langsung menodongkan ujung runcing dari benda tersebut menuju kearah mata makhluk setengah ikan dihadapannya. Hal ini menghentikan Òsedian.

Maju sedikit lagi atau kau akan kehilangan matamu! Tivana terlihat mengancam makhluk itu dengan tindakannya. Lucu. |

Andai kata Òsedian berada di suasana hati yang sedang baik, mungkin dia akan tertawa gemas menanggapi Tivana—hanya saja saat ini makhluk itu terlihat benar-benar marah. Wajah yang Òsedian tampilkan datar, seakan-akan menunjukan dia sudah muak dengan semua permainan yang sebelumnya mereka mainkan.

"Tusuk saja." desis makhluk tersebut.

Tangannya terangkat tanpa takut-takut. Tivana meremang, dia setengah ngeri dengan raut muka yang Òsedian tampilkan.

Jemari berkuku tajam tersebut membela pipi Tivana dengan lembut. Lidahnya keluar, Òsedian memiringkan kepala lalu mencondongkan wajah menuju kearah Tivana.

Dia kemudian menjilat pipu gadis yang selalu ia panggil Ana, seperti hewan peliharaan yang menjilati pipi dari majikannya.

"Ayo Ana, tusuk saja..."

Tangan Tivana gemetar. Rasa takut tiba-tiba mendominasi pikirannya.

"Tusuk, lalu aku akan langsung mengawini mu tanpa ampun Ana—"

"Tak perlu harus menunggu wujudmu berubah secara sempurna, aku penasaran berapa banyak telur yang dapat kau kandung di dalam perut (rahim manusia) mu ini."

Haruskah kita coba? |

DEG!

...***...

...T b c...

...Jangan lupa tinggalkan jejak...

...Terima kasih...

...Ketemu lagi nanti...

...Bye...

...:3...

Terpopuler

Comments

Lisa Z

Lisa Z

errrr kok seram

2023-10-09

0

Author15🦋

Author15🦋

te, lur? eng

2023-07-29

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!