...Perhatian!...
...Cerita ini hanya bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...Roar of the Ocean...
...____________________...
...__________...
...____...
..._...
Deg!
Apa itu?!
Bentuknya seperti manusia tapi—! Apa-apaan itu! Kenapa sekujur tubuhnya dipenuhi dengan sisik?! Nyaris seperti ikan tapi bukan ikan. Tivana yang melihat terbelalak kaget.
Tak sengaja berteriak di dalam air hingga menyebabkan gelembung udara di dalam paru-parunya keluar.
MONSTER!
Ucapnya.
Panik.
Berusaha bangkit dari sana tapi apalah daya, jari-jari berkuku tajam dan terlihat berselaput tersebut menahan pergelangan kakinya. Tivana menendang. Dia menutup kembali mulut untuk menyimpan secuil oksigen yang masih tersisa.
Sial! Saat ini gadis tersebut sangatlah ketakutan. Ia berusaha melepaskan sesuatu yang menjerat kakinya dengan cara menendang-nendang secara brutal. Harap-harap sesuatu yang menyerupai tangan tersebut melepaskannya, meski usaha Tivana berakhir nihil.
Bukannya lepas ia malah merasakan tubuhnya terseret kedalam perairan laut yang lebih dalam. Jantung Tivana berdebar sangat kencang, seakan siap meledak. Dengan keberanian sebesar kacang, Tivana berbalik. Posisi air saat ini benar-benar dalam, dia bertaruh nasip—bertarung melawan makhluk yang mencoba menyeretnya semakin dalam dengan cara berenang melawan arah.
Seakan tahu apa yang sedang Tivana lakukan, makhluk tersebut tiba-tiba mengentakan tubuh gadis itu. Tivana terdorong, mendekati sosok bersisik yang menyeret tubuhnya. Dengan kelopak mata yang terbuka lebar, Tivana menyaksikan—dengan jelas sosok apakah tersebut.
Tingginya mungkin sekitar 3 meter, dari kepala sampai kepinggang; menyerupai manusia hanya saja ditutupi oleh sisik serta memiliki alat semacam insang. Bagian bawah dari makhluk tersebut adalah ikan, bersirip juga memiliki ekor yang begitu indah. Gambaran tersebut mengingatkan Tivana pada perwujudan sosok yang hidup didalam sebuah negeri dongeng dan itu adalah mermaid.
Biasanya mermaid digambarkan sebagai putri setengah ikan yang cantik jelita. Pakaiannya terbuat dari kerang, tapi! Alih-alih cantik jelita—Tivana rasa sosok mermaid yang berada tepat didepan matanya ini adalah JANTAN!
Dan itu bukannya cantik! Lebih kearah ngeri karena ia baru saja menyeringai menampilkan deretan gigi tajam khas seperti ikan pemangsa. Ada apa dengan makhluk itu!
Tivana merinding.
Belum sampai di situ, gadis yang saat ini surai rambutnya melambai-lambai terbawa arus malah dikejutkan oleh ekor dari makhluk setengah ikan tersebut. Dia melilit kedua pergelangan kaki Tivana lalu membawa tubuhnya kedalam sebuah?
Pelukan?
AAAARGHHHH!
Tivana ingin menjerit tapi ia menyayangi sisa oksigen didalam tubuhnya.
"Ænà..." tiba-tiba terdengar suara. Gadis itu spontan menoleh, kearah makhluk tersebut yang jelas-jelas menjadi pemicu dari suara tersebut. Terdengar familiar, Tivana cukup yakin ia pernah mendengar suaranya. Dimana? Kapan?
Biar Tivana ingat.
"Mîßß ýo~"
Deg!
Ia ingat. Dengan tampang setengah horor Tivana meyakini bahwa makhluk inilah pelaku sebenarnya dari nyanyian aneh yang selalu Tivana dengar. Terjawab sudah rasa penasaran.
Ya, meski hanya saja Tivana tidak tahu apakah ia dapat keluar dari situasi aneh ini untuk memberitahukan pada dunia kalau makhluk semacam mermaid itu ternyata—nyata dan benar adanya. Mungkin ia lebih cepat menjemput ajal a.k.a mati karena kehabisan oksigen di dalam air atau menjadi santapan dari makhluk mengerikan yang tengah memeluknya tersebut. Haruskah Tivana pasrah?
TENTU TIDAK!
Saat ini saja Tivana masih berusaha untuk lepas meski usaha tersebut jelas tidak bernilai apa-apa. Rasa pusing dan lemas mulai menjalar, inikah batasnya? Batin Tivana yang perlahan kehabisan udara.
Karena tidak kuat lagi mempertahankannya—mulut Tivana akhirnya terbuka, oksigen terakhir yang ada di dalam tubuh gadis tersebut keluar dengan cepat digantikan oleh air laut yang merangsek masuk melalui rongga mulut dan hidung. Hal ini menyebabkan rasa sesak luar biasa.
Apakah aku akan mati? Dewi batin Tivana bicara.
Pikiran negatif soal kematiannya berseliweran, setidaknya sebelum fenomena janggal dan aneh lainnya muncul.
DEGH!
Tivana tersentak, mata gadis tersebut membola dengan sempurna. Sesuatu baru saja mengganjal mulutnya, benda panjang bertekstur kasar menggeliat tepat didalam sana.
Haruskah Tivana menyebut itu sebagai ciuman?
Atau—apa?!
Karena percaya atau tidak, makhluk yang memiliki gigi taring seperti ikan karnivora tersebut tengah menciumnya! Begitu dalam! Bahkan sampai-sampai lidahnya bermain-main disana. Tivana ingin muntah, lendir aneh seperti saliva terdorong kedalam kerongkongan. Sial! Apa yang coba makhluk ini lakukan padanya?!
Kedua benda menyerupai tangan dengan kuku yang panjang menggeliat tepat di belakang punggungnya. Memasuki kaos lalu merobeknya dengan kasar.
Aneh, padahal taring dan kuku dari makhluk itu sangatlah tajam—tapi dari pada menyakiti lebih kearah geli. Seolah menggelitik.
Tidak kuat dengan lendir-lendir yang ada dimulut dan sepertinya makhluk itu tak memiliki niatan untuk melepaskan bibirnya mau tak mau Tivana menelan semua benda itu. Rasanya aneh. Menjijikan.
Setelah yakin bahwa Tivana menelan habis semua saliva barulah tautan bibir di antara mereka terlepas. Tangan-tangan yang membelai punggung telanjang Tivana berpindah. Bergerak menuju bawah, tepatnya celana kargo yang Tivana kenakan. Mengetahui ide gila dari makhluk tersebut Tivana bergidik ngeri. Sudah cukup!
Dia benar-benar merasa seperti tengah dilecehkan! Entah datang dari mana, yang pasti Tivana mendapatkan sumber kekuatan. Dia menyentak kakinya hingga terlepas dari ekor mermaid tersebut lalu menendang perutnya.
Makhluk berukuran besar tersebut terdorong, melihat ada celah disana Tivana langsung berbalik. Berenang dengan kuat dengan seluruh tenaga yang ia punya.
Tanpa sedikitpun menoleh kebelakang, ia tahu sosok itu pasti tengah mengejarnya. Persetan!
Perairan laut yang lebih dangkal terlihat, Tivana bernapas lega. Dia bergerak keatas permukaan air untuk mencapai oksigen. Pasir-pasir di tepi pantai terlihat dari kejauhan, ada seseorang berdiri di sana. Ia kenal sosok siluet tersebut.
Itu Johan!
Tivana yang sudah benar-benar berada di air dangkal langsung berlari dengan cepat, hal ini membuat Johan menyadari keberadaan sosok itu; lantas ia ikut berlari—mendekati gadis tersebut yang terlihat begitu ketakutan.
"TIVANA?!" teriaknya.
Napas Tivana terengah. Dia tak punya tenaga lagi untuk bicara, gadis tersebut tanpa aba-aba secara tiba-tiba memeluk Johan begitu ia benar-benar sudah dapat mencapainya.
Ya Tuhan! Aku pikir aku akan mati! Batin Tivana memeluk erat tubuh lelaki itu. Baru saja beberapa detik merasa lega sesuatu kembali menarik kakinya.
Tivana maupun Johan terkejut, berbeda dengan situasi sebelumnya—cengkeraman yang Tivana dapatkan begitu kuat. Johan yang menyadari kejanggalan tersebut mengangkat tubuh Tivana; menggendongnya lalu menendang air laut di bawah kakinya yang entah menyimpan sesuatu di dalam sana.
Tes!
Titikkan darah menetes dari pergelangan kaki Tivana. Tangisan terdengar, gadis tersebut terisak dengan kuat. Susana berisik tadi tiba-tiba berubah senyap. Johan yang semula siap melawan apapun didalam air laut tersebut mengalihkan pandangan.
Lebih baik mereka pergi dari sini. Sambil menggendong Tivana layaknya bayi, Johan berlari menuju pantai.
Meninggalkan sosok Õsedian yang mendesis dari kejauhan, lalu menghilang dari sana.
Tch!
...***...
...T B C...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Lisa Z
semoga tivana baik baik aja yaa
2023-10-08
1
Sri Supeni
awal yg bagus
2023-09-12
2
Reeni
semangat terus buat updatenya 😆
2023-07-03
1