Mereka semua bernapas lega mendengar perkataan dokter barusan. Ataar melewati masa kritisnya, dan akan di pindahkan ke ruang rawat. Fisha, Aisha dan Altar memasuki ruangan. Hanya tiga orang yang bisa menjenguki pasien, yang lain di tunggu mengantri.
Fisha menyuruh uminya duduk di kursi. Dia memegang kedua tangan sang adik dan mengecupnya.
"Sudah kaka bilang, kamu pasti selamat," lirih Fisha. "Jangan nekat kaya gini lagi ya? Kakak akan marah sama kamu!" tegas Fisha membelai surai sang adik. Ataar masih belum sadar.
"Maafin, umi iya? Umi hampir terlambat? Atau umi memang sudah terlambat," ucap Aisha mengenggam tangan putranya.
Altar hanya diam memandang wajah anaknya, yang tidur dengan damai. Di wajahnya terlihat kecemasan atau penyelasan? Tidak! Di wajah pria paruh baya itu nampak biasa saja.
Fisha memandang apahnya, dan menghela napas. Dia ingin sekali papahnya itu sadar, kapan baru dia menyadari kesalahannya? Apa ini belum cukup membuatnya menyesal? Tidak adakah rasa perih di hatinya sebagai ayah kandung?
"Papah," ucap pelan Ataar membuat Fisha dan Aisha mendongak.
Altar yang mendengar ucapan anaknya hanya membuang muka ke arah lain.
Bahkan saat kesadarannya belum penuh, nama yang pertama dia sebut adalah papahnya. Seseorang yang membuatnya tersiksa selama dia di dunia.
Ataar membuka matanya, hal yang pertama dia lihat adalah langit-langit ruangan. Dia menoleh dan mendepatin kakaknya.
"Kak Fisha," lirih Ataar. "Umi."
Aisha langsung menghujamkan kecupan di inti wajah putranya.
Ataar melirik ke arah papahnya yang sedikit jauh dari brankar. Ingin sekali anak itu memeluk papahnya, dia ingin merasakan di peluk seorang ayah.
"Apah," panggil Ataar, Altar menoleh dan berdehem membalas ucapan Ataar.
Ataar tersenyum. Setidaknya papahnya merespon panggilannya.
"Selamat ulang tahun. Maaf di hari ulang tahun papah, malah jadi gini, karena Ataar. Maafin Ataar kalau ada salah sama papah, tadinya Ataar ingin memberi papah kado istimewa, tapi..."
Fisha menutup mulut adiknya. "Ayo tidur, kamu masih lemah," sela Fisha memakaikan selimut untuk adiknya.
Aisha menoleh kebelakang dan menyuruh suaminya maju. Mau tak mau Altar maju, dan memeluk anaknya.
Deg!
"Apah," lirih Ataar mendongak, matanya berkaca-kaca. Ternyata begini rasanya di peluk oleh ayah?
Altar melap air mata putranya yang mengalir. "Kamu sudah memberi hadiah yang terbaik untukku," ucap Altar dengan lembut. Ataar langsung memeluk papahnya dengan erat, dia tahu papahnya sedang terpaksa, tapi dia tidak ingin menyia-nyiakan momen ini. Apa senyaman ini di peluk seorang ayah? Seberuntung ini kah kakaknya sering di peluk oleh papah? Pikir Ataar.
Altar merasa kemejanya basah, karena air mata putranya. Tiba-tiba saja dia merasakan sesak di dadanya. Dia mendongak ke atas mencoba menahan air matanya.
"Makasih, walaupun Ataar tau papah terpaksa, tapi Ataar tidak akan melupakan momen ini," ucap Ataar pelan sehingga hanya papahnya yang mendengarnya. Dia melepaskan pelukan Altar dan melap air matanya dengan buru-buru.
"Aku udah sembuh, ayo kita pulang," seru Ataar mencoba tersenyum. Namun, tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. "Aw," rintihnya memegang kepalanya.
"Eh kenapa?" tanya Fisha menidurkan adiknya.
Ataar menggeleng. "Gak papa," jawabnya.
Pintu terbuka, terlihat seorang suster membawa nampan berisi bubur. Dia taroh di nakas, lalu berkata. "Pak Altar, anda di panggil ke keruangan dokter," kata suster itu lalu keluar.
"Aku pergi dulu ya sayang," pamit Altar pada sang istri.
Altar membuka pintu ruangan dokter, dia tersenyum tipis dan duduk.
"Ada apa dok?" tanya Altar.
Dokter itu menceritakan kondisi Ataar saat ini. Altar pun terdiam mendengar ucapan demi ucapan dokter.
"Anda harus lebih menjaga kesehatan Ataar, dia mempunyai asma. Yang bisa kambuh kapan saja, tidak kenal tempat," ucap dokter.
Altar mengangguk. "Hanya itu?" tanya Altar dengan wajah datarnya.
Dokter memberi asil leb kearah Altar. Altar mengambil asil leb itu.
"Maksudnya?"
"Tolong di baca pak," pinta sang dokter. Altar pun dengan sedikit bingung membaca hasil leb yang diberikan dokter tersebut.
"Kanker otak?" tanya Altar tak salah baca. Dokter itu menganggukan kepala.
"Saya dan para dokter lain sedikit kasian pada Ataar. Di usianya yang masih remaja, harus mendapat penyakit berbahaya seperti ini. Penyakitnya bukan hanya sma. Namun, dia juga mempunyai penyakit kanker. Saya berharap bapak ataupun istri bapak, bisa menjaga kesehatan Ataar, kalian bisa membawa Ataar operasi segera. Sebaiknya datang bulan depan untuk melakukan operasi mengangkat tumornya. Pasien, mempunyai penyakit kanker otak stadium awal. Namun begitu juga, kita harus mencegahnya sebelum semakin parah. Saya berdo'a semoga pasien bisa melawan penyakitnya."
Altar terdiam lalu mengangguk. "Makasih dok," ucap Altar berdiri dan keluar dari ruangan sambil memegang kertas. "Dia." Altar duduk di kursi yang berada di depan ruangan, tangannya bergetar memegang kertas asil leb putranya.
dia buru-buru memasukannya kedalam saku dan berjalan kekantin rumah sakit. Dia akan membelikan makan untuk istri dan anaknya. Untuk yang lain pun yang datang.
Ataar membalikan kepalanya ke samping. Di saat gadis yang dia gak suka datang menjenguknya.
"Ataar, jangan cuek-cuek. Pantas aja kamu kaya gini, kamu cuekin aku!" ketus Vieara.
"Gak ada yang nyuruh lo datang ke sini," balas Ataar.
Vieara mengerutuk mendengar ucapan lelaki di depannya. "Ih, udah baik ada yang jengukin kamu! Aku bawain buah," sungut Vieara.
"Iya makasih," ucap Ataar singkat. "Yaudah sana keluar."
Vieara menggeleng. "Boleh gak, aku jaga kamu aja?" tanya Vieara berlari ke depan lelaki itu.
Ataar yang kaget, karena wajah mereka begitu dekat. Dia buru-buru menjauhkan wajahnya. "Gak usah, gue gak sembuh kalau ada lo di sini. Mending lo pulang deh," usir Ataar.
"Ataar, aku tuh baik sama kamu. Kapan kamu mau balas rasa kamu ke aku?"
"Gak, dosa pacaran," jawab Ataar.
"Yaudah kita nikah aja," ucap Vieara ambigu.
"Gilak lo? Lo keluar deh, muak gue lihat muka lo," ketus Ataar.
"Awas aja! Cita-citaku akan terhujut, jadi istri gus tampan kaya Ataar," bisik Vieara lalu berlari keluar dari ruangan.
Ataar langsung mengelitik. "Dih gak mau," gumamnya.
Di luar ruangan, Vieara di tatap aneh dengan keenam manusia yang tak di kenal.
"Dia pacar Ataar?" tanya Celi berbisik ketelinga Kaira. Kaira menaikan bahunya gak tau.
Vieara menunduk dan berlari mendekati mommy dan abangnya yang sedang berbincang dengan orang tua Ataar.
"Jadi Fisha akan melangsungkan pernikahan minggu depan?" tanya mommy Gracel.
Aisha mengangguk. "Datang ya," pintanya. "Maaf tiba-tiba gak sempat sebar undangan."
Gracel mengangguk. "Gak papa," jawabnya.
"Fisha akan menikah?" tanya Xaviel yang berada di belakang mommynya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Rita Riau
nikmatin aja Altar penyeselan kamu bapak songong bin bego
dan Xaviel kamu juga bakal kalah seribu langkah dari Fisha 🤭
2023-12-24
0
bintang Harahap
thor lanjut LG dong
2023-07-10
0
Pujiastuti
paati nyesel kan kamu Altar karena sudah menyiksa dan menyiayiakan Ataar, jangan sampai ucapan teman² menjadi kenyataan sebelum terlambat cepat kamu obatin Ataar sampai. sembuh
2023-07-10
0