Fisha dan Kainal saling tatap sebentar lalu menunduk.
"Kalian inginkan?" tanya Vier.
Fisha memainkan jemarinya. Perasaannya masih ada pada Xaviel bukan Kainal, dan bisa-bisanya orang tua mereka sepakat untuk menjodohkan mereka kembali.
Kainal melihat Fisha ketakutan. Lelaki itu tau Fisha masih menaroh hati pada Xaviel.
"Apa gak bisa? Kami belum mengambil keputusan, lagian kenapa buru-buru? Kalau memang kami berjodoh, kami akan bersama-sama. Biarkan kami yang menentukan jalan kami sendiri," ucap Kainal pelan, tapi terdengar tegas.
"Bakal ada cinta sesudah menikah. Perasaan kalian seiring waktu akan terisi, lagian kalian selalu bersama? Apa kalian gak takut khilaf?"
Fisha dan Kainal kembali terdiam. Apa bisa mereka menerima perjodohan tanpa cinta? Kainal sudah mempunyai rasa terhadap Fisha dari lama, tapi belum tentu dengan Fisha, jelas-jelas gadis itu masih mencintai Xaviel.
"Papah mohon sama Fisha," ucap Altar pada sang anak. Fisha memejamkan matanya lalu terpaksa mengangguk.
"Iya pah, aku mau," jawab Fisha. Mungkin jalan ini yang membuatnya menemukan jalan baru dan tak tersesat lagi. Bukan ingin membuat Kainal sebagai perlarian, tapi dia yakin pelihatan papahnya pasti yang terbaik, dia serahkan semua kepada Allah. Allah akan mengaturnya, dia akan menjauhkan hambanya di kehidupan yang sesat.
"Alhamdulillah," ucap para orang tua.
"Gimana denganmu Kainal?" tanya Altar pada anak sahabatnya.
"Kainal, terserah kalian saja. Nolak pun, tidak ada gunanya'kan?"
Altar dan Vier saling memandang lalu menunduk. "Kami hanya ingin jalan terbaik buat kalian," ucap mereka bersama.
"Fisha dan Kainal tau itu," sahut Fisha.
Mereka semua pun berbincang kembali. Mereka memutuskan langsung melaksanakan pernikahan saja. Lebih cepat lebih bagus. Maka dari itu minggu yang akan datang. Keduanya akan melangsungkan pernikahan. Ketahap yang serius.
Sekitar empat jam, akhirnya keluarga Kainal dan dirinya pamit pulang. Setelah kepulangan mereka semua, Fisha menaiki kamarnya, sebelum memasuki kamar. Dia sempat buka pintu kamar adiknya, dia mengintip, tapi keadaan dalam kamar sangat sunyi.
"Ataar," panggil Fisha. Namun, tak ada sahutan. Fisha membuka ruang belajar sang adik. Namun tak adapun.
"Dia kemana sih?" tanya Fisha bergumam. Dia mengetok pintu kamar mandi. "Tar, apa kamu ada di dalam?" tanya Fisha.
Tok tok!
Fisha kembali mengetuk. Dia memutar kenop pintu. "Kakak tau kamu ada di dalam, kalau kamu baik-baik saja menyahutlah," teriak Fisha, tapi tidak ada tanda-tanda sahutan dari dalam. Akhirya Fisha mencari dompet adiknya, dia mengeluarkan ATM sang adik.
Dengan idenya, Fisha mengesekan ATM itu ke sela pintu kamar mandi, tanpa menunggu lama pintunya kebuka. Fisha pun buru-buru masuk. Dia menjatuhkan kartu yang dia pegang, saat melihat ke bathub, melihat tubuh adiknya.
"Ataar," teriak Fisha menjerit, sehingga kedua orang tuanya yang sudah berada dalam kamar langsung berlari ke arah kamar Ataar.
Fisha mengangkat kepala adiknya, yang wajahnya sudah pucat. Altar dan Aisha datang. Aisha ikut terkejut melihat putranya, sedangkan Altar hanya menampakan wajah datarnya.
"Papah angkat! Bawa Ataar ke rumah sakit cepat!" teriak Fisha membuat Altar maju dan mengangkat tubuh putranya.
Altar berlari menurungi anak tangga di ikuti kedua orang tersayangnya dari belakang.
Fisha dan Aisha menangis dan berlari menaiki mobil. Aisha memegang kepala anaknya.
"Sayang, Ataar," bisik Aisha pada putranya. "Kak ngebut dong!" teriak Aisha pada suaminya.
Sesampainya di rumah sakit, Ataar langsung di bawa masuk kedalam ruang darurat. Fisha berada di pelukan uminya.
"Ataar gak bakal ninggalin kitakan?" tanya Fisha sesenggukan.
"Kita berdo'a saja, semoga dia baik-baik aja," balas Umi Aisha.
"Aku takut," ucap Fisha bergetar. Altar mengambil tubuh anaknya. "Papah, adik Fisha akan baik-baik ajakan?" tanya Fisha.
Altar mengangguk. Fisha sesengukan di dalam pelukan papahnya. Dia akan benar-benar hancur di saat adiknya pergi.
"Ayo kuat, kamu udah janji kamu akan kuat demi kakak. Kamu janjikan untuk berjuang, jangan menyerah!" ucap Fisha dalam hatinya.
Fisha tertidurkan di dekapan sang papah. Sudah setengah jam, belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruangan.
💗💗💗💗💗💗
Fisha menutup matanya, karena ada tampak cahaya yang berdatangan mendekatinya.
"Kak Fisha." Fisha memandang kedepan. Di depan ada Ataar, yang tersenyum. Wajahnya sangat tenang dan damai.
"Ataar," teriak Fisha langsung memeluk adiknya. "Kenapa kamu ada di sini? Tempat apa ini?" tanya Fisha. "Ayo kita pulang, umi dan papah khawatir sama mu," ucap Fisha menarik tangan sang adik. Ataar menggeleng, dan tidak bergerak dari tempatnya.
"Papah gak khawatir sama aku, dia senang kalau aku pergi. Biarin aku pergi kak, sebagai hadiah ulang tahun papah, besok dia ulang tahun. Aku akan memberinya hadiah ini. Ini hadiah paling istemwa, papah pasti sangat senang. Setelah kakak pulang, tolong buka laci yang ada di dalam kamar Ataar. Di dalam sana ada buku, tolong di berikan kepada apah," jelas Ataar melepaskan pelukan Fisha dan ingin melangkah pergi. Namun, cepat-cepat Fisha menahan jemarinya.
"Kamu gak bisa pergi, kalau kamu pergi. Kakak janji, kakak akan membenciku seumur hidup," ucap Fisha.
"Tubuhku sakit kak. Aku capek, aku mau istirahat, izinkan aku istirahat," lirih Ataar.
"Kamu akan istirahat di rumah, ayo kita pulang. Kakak akan memelukmu. Capek mu akan hilang kalau memeluk."
"Biarin aku pergi kak," pinta Ataar mencoba melepaskan tangan kakaknya yang mengenggam seluru jemarinya.
"Gak! Kakak gak akan menyuruhmu pergi. Jalanmu masih panjang, kau tak akan pergi! Kakak sebentar lagi akan menikah, kamu tak ingin mengadiri pernikahan kakak? Hari bahagia kakak? Kakak tidak akan bahagia kalau tak ada kamu."
"Nanti bakal ada Kainal yang menjaga kakak, aku akan memintanya untuk menjagakan kakak untukku. Kakak harus bahagia."
"Kakak gak bakal bahagia kalau gak ada kamu, Ataar. Jangan kaya gini kakak gak suka," tegas Fisha. "Kamu tidak akan pergi!" lanjut Fisha.
"Tapi kak, dia menungguku. Tadi aku minta izin untuk bertemu dengan kakak sebentar saja, dan dia memberiku waktu. Waktu ku hampir habis, aku akan pergi sekarang." Ataar menunjuk ke arah pojokan.
Fisha mengikut arah tunjuk adiknya. "Gak! Ayo ikut kakak!"
"Tapi katanya, aku akan di bawa ketempat yang indah. Di mana aku akan bahagia," ucap Ataar.
Pakaian hitam yang menutupi wajahnya. Dia mempunyai sayap hitam, membawa Howitzer di tangannya. terlihat nyala api di setiap helai rambutnya.
"Kamu tidak akan pergi," cegah Fisha menarik adiknya. "Kau ingin meninggalkan kakak sendiri? Kamu ingin ketempat yang indah tanpa mengajak kakak?"
Ataar menggeleng. "Gak mau," ucapnya.
"Ayo kita pulang," ajak Fisha.
"Bentar kak!" Ataar berhenti. "Aku mau ikut sama kakakku, lain kali aja ya kau mengajakku pergi. Aku masih ingin bersama kakakku," ucap Ataar sehingga seseorang atau melaikat maut yang ingin membawanya pergi, menghilang dari pojokan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Rita Riau
lagi lagi nyesek dipart ini gelap baca nya,,, nyentuh banget Thor,,,moga Ataar kembali dan papa nya sadar dan nyesel 😭😭😭
2023-12-24
0
Happyy
😭😭😭
2023-12-22
0
Mami Pihri An Nur
Ko aku nangis ya, emng sbenarnya ank kndung bukn si
2023-09-30
0