Kainal langsung pulang setelah mengantar Fisha kembali ke rumahnya.
Fisha menaiki kamarnya untuk sholat isya, ternyata sehabis makan di warung, Kainal mengajak Fisha berjalan-jalan dulu di taman, dan mengunjungi mesjid terbesar di kota itu hanya sekeder sholat magrib. Bukan tak ingin sholat di mesjid kecil atau pun mushola, tapi Kainal ingin sekali-sekali sholat di mesjid tersebut.
"Kainal itu baik, tapi aku gak ingin tertipu lagi," gumamnya. "Tapi, emamg Kainal mau ngapain aku?"
Gadis itu menghela nafas. "Luka yang tak berdarah dan tak terlihat sudah mulai membaik, aku berterima kasih ya Allah. Aku tidak akan melaju dengan kencang lagi dan akhirnya aku tertabrak truk. Nanti dan seterusnya, aku akan lebih hati-hati saat melaju, agar aku tidak mengenai kecelakaan lagi dan pada akhirnya mendapatkan luka yang dalam seperti yang kurasakan saat ini," gumam Fisha menulis di buku hariannya. "Aku akan menunggu masa mu. Ya Allah, mungkin ini teguran, karena menutup hati untuk seseorang yang tidak di takdirkan untuk ku. Mungkin bukan dia yang tertulis di dalam lauhul mahfudz. Jodoh yang akan datang, akan lebih baik darinya. Dia memang baik, tapi aku tidak ingin lagi bertemu dengan lelaki yang seperti dirinya," lirih Fisha. Tenggorokannya terasa tercekek kembali, dadanya mulai sesak, tapi dia cepat-cepat memejamkan matanya beberapa menit untuk tidak mengeluarkan air matanya. Dia menutup kembali bukunya, dan beranjak berdiri, karena mendengar ketukan pintu.
Fisha membuka'kan pintu, ternyata adiknya. Lelaki itu langsung ambruk ke dadanya membuatnya kaget.
Fisha langsung memampah tubuh adiknya ke dalam kamar.
"Ataar," ucap Fisha menepuk pundak adiknya. Ataar mendongak.
"Kak sakit," keluh anak itu. Fisha pun langsung membuka hoodie adiknya, Fisha terkejut dan langsung memeluk Ataar dengan erat.
"Kak sakit."
Fisha berdiri dan langsung mengambil kotak p3k, dan mengobati adiknya.
"Kita tanya umi?"
Ataar menggeleng. "Jangan kak," cegah Ataar geleng-geleng.
"Kenapa sih? Kalau apah menyuruhmu keruang kerjanya. Panggil kakak, biar kakak yang menemani mu!" bentak Fisha beranjak berdiri.
Ataar langsung menarik kakaknya. "Kakak mau kemana?"
"Ke ruangan papah," jawab Fisha berjalan keluar kamar.
Dengan kekuatan kilat, Ataar berlari menahan Fisha di ambang pintu.
"Jangan kak, gue gak mau ada keributan. Gak papa, gue baik-baik aja." Ataar mencoba tersenyum.
Fisha menghela nafas. Dan masuk kembali kedalam, menarik Ataar juga masuk.
"Besok kalau apah menyuruhmu lagi ke ruang kerjanya, jangan turutin, kamu pergilah dari rumah," pinta Fisha.
Ataar hanya diam, dan menahan pedih saat Fisha melap bibirnya yang robek sedikit karena tamparan Altar. Di tubuhnya penuh luka cambokan.
"Gak papa kak, kalau memukul ku membuat capek apah meredah. Gak papa," ucap Ataar.
"Kamu bodoh? Udah kakak bilang jangan sok kuat," bentak Fisha.
Ataar tidak menjawab perkataan kakaknya. "Kak gue mau tidur sama lo, boleh? Kali ini gak papakan? Di antara kita juga gak bakal ada nafsuan kok, kitakan sodora. Sekali ini aja, badan gue sakit, tapi setiap di peluk sama kakak bakal sembuh."
Fisha menganggguk. Ataar pun memperbaiki bantal dan tidur. Dia menyuruh Fisha untuk membelai rambutnya, Fisha pun hanya menurut.
Ataar memeluk kakaknya dengan erat, dan mulai menutup matanya, berusaha menahan rasa sakit di setiap inci tubuhnya.
Sekitaran beberapa menit, Ataar terlelap sambil memeluk Fisha.
Fisha memegang kedua pipi adiknya, dia memandang wajah tampan yang duplikan papahnya banget.
"Ini bukan salahmu, tapi entah mengapa papah memperlakukan mu seperti ini, padahal waktu itu kamu tidak membuat kesalahn sedikit pun. Itu semua terjadi karena takdir Allah," batin Fisha. Dia membuka kerudungnya, dan ikut memeluk adiknya. "Kakak ada bersamamu, kamu harus kuat karena ada kakak yang ada buat kamu. Walaupun papah memperlakukan mu seperti ini, papah juga pasti mencintaimu, menyayangimu. Seperti mana papah mencintai umi dan aku. Maaf ya kakak gak bisa melindungimu di setiap waktu," lanjut Fisha dia mencium pucuk kepala adiknya, tanpa sadar air matanya menetes membasahi rambut sang adik.
💗💗💗💗💗💗
Xaviel saat ini sedang berkumpul dengan keluarganya di ruang tamu. Raganya ada di sana, tapi pikirannya melayang ke Fisha, entah dia malah memikirkan Fisha bikan Alya.
"Abang!" teriak Vieara membuat Xaviel yang melamun langsung tersentak kaget.
"Ara!" pekik Xaviel menoyor kepala adiknya. "Abang kaget."
"Dari tadi aku panggil-panggil, tapi abang malah ngelamun," ketus Vieara.
Xavie meraup wajahnya dengan kasar.
"Kamu kenapa sih El?" tanya Revandra. "Perasaan kerjaan di kantor gak terlalu berat, loh."
"Namanya juga baru hari ini masuk, Mas. Maklum'kan kalau kepikiran," sela Mommy Gracel memukul pelan paha sang suami yang memeluknya tanpa malu di perhatikan oleh para anak-anak.
"Kalian tuh udah tua, ingat umur," ketus Vieara.
"Dih kamu iri? Tua-tua gini, daddy sama mommy masih romantis. Makanya nanti kalau nyari pasangan seperti kita ya, nak," ucap Revandra.
"Bang," panggil Vieara kembali membuyarkam lamunan abangnya.
"Aku ke kamar dulu ya," pamit Xaviel beranjak bangun dan pergi dari sana.
Vieara dan kedua orang tuanya menatap kepergian Xaviel.
"Abangmu kenapa, Ra?"
Vieara menaikan bahunya, lalu lompat di tengah-tengah orang tuanya.
"Vieara!" pekik Mommy Gracel.
"Gak boleh, bucin kalau aku ada di sini," ketus Vieara mengambil cemilan yang di pegang mommynya, mengsandarkan kepalanya di dada sang daddy.
Mommy Gracel mengerucut bibirnya, merasa kesal dengan anaknya.
"Sabar, sebentar mas akan memanjakan mu, sampai kamu sendiri yang akan menyerah," bisik Revandra membuat Gracel merinding.
Xaviel menatap langit-langit kamarnya. Dia melirik ke samping dan mengambil ponselnya, pesannya belum di balas oleh Fisha sedari semalam.
"Setidaknya kalau menghargai Alya, dia bisa chatan sama gue," gumam Xaviel, masih menatap room chatnya dengan Fisha. "Gue kangen, masa-masa kita dulu, Sha. Kayanya bukan masalah ini yang membantu jauh, tapi apa?" tanya Xaviel dia hanya membolak balikan layar ponselnya, padahal pesan Alya belum dia balas. Dia hanya menunggu chat dari Fisha. Mungkin sudah terbiasa.
"Jujur aku lebih nyaman bersama Fisha, tapi aku mencintai Alya. Gimana ini?"
Xaviel beranjak bangun, dia membuka laci mengambil kotak kecil. Xaviel membuka kotak itu dan tersenyum.
"Jadi kangen," gumam Xaviel mengeluarkan seluru lukisan tangannya bersama Fisha dulu. Bahkan foto-foto kecilnya. Waktu kelulusan tk hingga sma. Semua kenangan mereka masih tersimpan rapi di dalam kotak itu.
Xaviel menghela nafas. "Fisha dan lelaki itu sudah berkenal lama sebelum gue pulang ya? Dia sudah mempunyai teman baru, makanya sikapnya berubah." Xaviel mulai memikirkan yang tidak-tidak pada Fisha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Rita Riau
Xaviel kalo jadi cowok itu ga usah plin plan gitu kalo cinta sama Alya ya cinta aja,,, jgn nyaman ke orang lain,,,, astagfirullah,,,kok papa nya kejam bgt sama Ataar ,,,
2023-12-24
1
Junida Susilo
masih nggak nyadar dgn kesalahan nya si El ini,bikin kesel 😠
2023-07-06
1
Pujiastuti
kenapa sih apahnya Fisha selalu menghajar Altar, apa sebenarnya yang terjadi 🤔🤔🤔
buat Xaviel kamu kok ngak sadar² sih apa yang membuat Fisha berubah itu semua karena perbuatanmu Xaviel
2023-07-06
0