Part 14 ~Delapan belas tahun yang lalu~

Altar mengusap perut buncit istrinya. "Ayo cepat keluar, papah menunggu mu, jagoan," bisik Altar di perut istrinya. Aisha tersenyum dan mengeluas surai sang suami.

Altar memeluk istrinya, mencium semua inci wajah sang istri. Dia mengambil bantal dan menarohnya di pinggang Aisha.

"Kak," panggil Aisha. Altar yang sedang membuka daster istrinya sampai di dada berdehem.

"Coba kamu pangku aku! Aku merasa gak nyaman ," ucap Aisha membuat Altar menoleh lalu mengangkat istrinya kepangkuan.

Bumil itu, meremas dan sedikit meringis mencari tempat yang membuatnya nyaman.

"Kenapa sayang?" tanya Altar.

"Kamu gak merasa gak enak, aku ingin duduk dengan nyaman, tapi entah di mana," jawab Aisha.

Altar dengan kekuatannya menggendong tubuh istrinya yang membulat karena kehamilan.

"Kak, aw...," rintih Aisha merasa air ketubangnya pecah. Altar merasa tangannya basah. Dia langsung berlari keluar dan menyuruh supir rumahnya mengendarai mobil.

Aisha menjerit dan mengigit bibirnya.

"Gigit, punggungku aja sayang," pinta Altar yang masih sanantiasa memangku istrinya dan menahan rasa sakit di saat Aisha menggigit punggungnya.

Aisha menarik napas membuangnya dalam kembali menahan rasa sakitnya. "Kak, aku mau...." Aisha kembali menjerit.

Altar mencium pucuk kepala sang istri dan keluar dari mobil, dan segera melarikannya ke dalam rumah sakit.

Aisha sudah berada di ruang persalinan. Altar tak di biarkan masuk sementara waktu, sebelum di panggil untuk membimbing.

Papah calon dua anak itu bolak balik di ruang persalinan. Tiba-tiba dia menerima telfon kalau mamanya meninggal dunia.

Altar menjatuhkan ponselnya. Dan berlari ke arah ruangan mamanya, mumpung mereka berada di rumah sakit yang sama.

Di depan ruangan terdapat papanya yang menangis. Altar langsung berlari dan memeluk papanya. "Pah, jangan ngeprank, hari ini Aisha melahirkan. Ini hari bahagia," terik Altar menggeleng.

"Terima kenyataannya Altar, mamamu sudah berpulang," ucap papa Kana memegang bahu anaknya. Altar langsung menangis di pelukan papanya.

"Mama tak ingin bertemu dengan cucu keduanya?" tanya Altar memukul dinding, dia memasuki ruangan bersama sang papa.

"Mama," teriak Altar menguncang tubuh mamanya. "Ayo bangun, kita tunggu kedatangan anak Altar yok? Mama inginkan menggendong cucu lagi? Ayo bangun," teriak Altar.

Kana memelum jasad istrinya dengan terus menangis. "Kenapa kamu lebih cepat pergi dari pada papa sayang? Seharusnya aku yang lebih cepat pergi bukan kamu," ucapnya.

Pintu ruangan kembali kebuka. Abi Nando masuk bersama dengan bunda Karen.

"Kiay,"lirih Papa Kana memeluk besannya.

Abi mengelus bahu sahabat serta besannya. Dia menyuruh pria paruh baya itu menangis sejadi-jadinya.

Karen memeluk keponakannya. "Kak, kenapa pergi secepat ini? Bukannya kau datang ke ruanganku, dan bertanya 'Apa aku bisa menggendong cucuku lagi, di usiaku sudah tua seperti ini?' Iya kak, kamu masih bisa. Ayo kak kita gendong bergantian cucu kita," ucap Karen di depan jasad kakak iparnya.

"Udah, sudah nangisnya. Kasian Mbak Marwan," ucap abi Nando. "Altar apa kamu bisa kembalilah di ruang persalinan? Mungkin saat ini istrimu membutuhkan mu."

Altar menghapus air matanya lalu beranjak pergi dari sana. Kembali ke ruang persalinan, dia memasuk ruangan tersebut. Dia melihat bayinya di gendong suster.

Lelaki beralih memandang istrinya. Papah dua anak itu mendekati istrinya.

"Sayang. Mama udah gak ada," ucap Altar.

Dokter itu menghampiri Altar dan berkata. "Suaminya? Maaf istri bapak sepertinya koma sementara waktu. Maaf kami tidak memberi tau anda, karena anda sedang berada di ruangan mayat. Kami mengambil jalan satu-satunya agar anak anda bisa keluar," jelas dokter.

Dunia seketika berhenti berputar mendengar ucapan dokter. Dia memandang tubuh istrinya yang tidur dengan damai di brankar. Dia mengenggam tangannya dengan kuat, amarahnya seketika membara, kalau istrinya tidak melahirkan anak itu dan dokter lebih memilih istrinya, mungkin ini tak akan terjadi.

"Anak pembawa sial," lirih Altar memandang ke rak bayi di mana ada bayi mungil.

Dokter memindahkan anak dan ibu keruang perawatan. Altar sama sekali tidak mempedulikan bayinya, bayi itu terus menangis. Namun, dia hanya diam, duduk di kursi dekat brankar sang istri.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka terlihat Rigel dan istrinya masuk ke dalam ruangan.

"Asslamualaikum," ucap kedua pasangan itu. Altar pun membalasnya.

Istri Rigel yang melihat keponakannya menangis langsung berlari dan menenangkan bayi itu di gendongannya. Sedangkan Rigel mendekati brankar sang adik.

Altar mendongak dan langsung menyalami tangan Rigel. "Bang maaf, gue gak bisa menjaga Aisha. Dia koma gara-garaku. Aku meninggalkannya detik-detik dia bersalin."

Rigel menggeleng. "Ini semua sudah takdir Allah. Saya dan istriku, turut berduka kematian mamamu. Kalau kau ingin kepamakamannya, pergilah. Saya dan istri saya yang akan menjaga Ais di sini."

Altar yang masih mengenggam tangan istrinya, perlahan dia lepas. "Gak papa bang? Kalau ngeropotin gak usah," ucap Altar.

"Pergilah Altar, ada kami yang menjaga mereka. Ini terakhir kalinya kamu melihat mamamu," sela istrinya Rigel.

Altar beranjak bangun. "Yasudah kalau gitu, aku pamit bang, mbak," pamit Altar membuat kedua pasangan itu mengangguk.

Altar mendekati putrinya. "Fisha di sini aja ya? Jagain umi, apah mau pergi dulu," ucap Altar pada putrinya.

Fisha mengangguk. "Iya apah," jawab Fisha. Altar pun pergi dari sana, tanpa mencium atau memegang pipi bayinya. Sekedar memberi adzan aja belum.

Fisha memandang kepergian sang papah. Walaupun anak itu masih kecil, dia mengerti semua keadaan. Dia juga sama pikirnya yang di pikirkan Rigel dan istrinya saat ini.

"Ante, kenapa apah gak mencium adik Fisha?" tanya anak itu.

Istri Rigel mendongak kebawah. "Apahmu buru-buru Fisha."

Fisha hanya mengangguk, dia tak ingin bertanya lagi. "Om Igel, adzanin adiknya Fisha dong," sahut anak itu. " Gak papakan?"

Rigel mendekati bayi mungil itu. Dia mengambil ahlo bayi itu dari istrinya.

Setelah mengadzankan. Lelaki itu mencium hidung mancung sang keponakan. "Tumbuhlah dengan bijak. Kamu harus kuat melewati semua rintangan hidup. Ingat perjuangan umimu yang melahirkan mu kedunia, jangan kau sia-siakan, balas perjuangan umimu dengan kesuksesan. Masukan kedua orang tuamu kesurga yang indah. Jadilah anak penurut, penyabar dan anak sholeh," bisik Rigel ketelinga bayi merah itu.

Rigel tersenyum ke arah istrinya. Istrinya itu memandang dalam bayi tersebut.

"Sabar ya, kita juga akan mendapatkan bayi mungil, tapi Allah menyuruh kita mengantri."

Talita mengangguk. Kedua pasangan itu memang belum juga mendapatkan momongan, tapi mereka juga sudah berusaha. Dia akan tetap menunggu saatnya Allah memberikan buah hati, mungkin sang maha pencipta belum bisa memberi mereka tanggung jawab untuk menjadi orang tua.

Rigel menidurkan bayi itu ke rak bayi. Rigel sangat tau dari mata Altar. Adik iparnya itu menyalahkan bayi mungilnya yang menyebabkan ini semua.

Terpopuler

Comments

Enung Samsiah

Enung Samsiah

dasar ayah nggk punya hati,,,

2024-01-21

0

Dewi Angriani

Dewi Angriani

meskipun dalam cerita, tapi ini sangat menyedihkan, apa salahnya bayi baru lahir sampai papanya begitu membencinya

2023-12-27

0

Rita Riau

Rita Riau

ni papa nya Fisha kayak bukan orang beragama ya,,,, heran aku,,,,memang Ataar bisa memilih dan melihat takdir. egois bgt ni bapak,,,

2023-12-24

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Part 1 ~ Penantiang Seorang Gadis~
3 Part 2 ~Penantian Seorang Gadis~
4 Part 3 ~ Penantian Seorang Gadis~
5 Part 4 ~Penantian Seorang Gadis~
6 Part 5 ~Penantian Seorang Gadis
7 Part 6~Penantian Seorang Gadis~
8 Part 7 ~Penantian Seorang Gadis~
9 Part 8 ~Penantian Seorang Gadis~
10 Part 9 ~Penantian Seorang Gadis~
11 Part 10 ~Penantian Seorang Gadis~
12 Part 11 ~Penantian Seorang Gadis~
13 Part 12 ~Penantian Seorang Gadis~
14 Part 13 ~Penantian Seorang Gadis~
15 Part 14 ~Delapan belas tahun yang lalu~
16 Part 15 ~Penantian Seorang Gadis~
17 Part 16 ~Penantian Seorang Gadis~
18 Part 17 ~Penantian Seorang Gadis~
19 Part 18 ~ Penantian Seorang Gadis~
20 Part 19 ~Penantian Seorang Gadis
21 20 ~Penantian Seorang Gadis~
22 21 ~Penantian Seorang Gadis~
23 Part 22 ~Penantian Seorang Gadis~
24 Part 23 ~Penantian Seorang Gadis~
25 Part 24 ~Penantian Seorang Gadis~
26 Part 25 ~Penantian Seorang Gadis~
27 Part 26 ~Penantian Seorang Gadis~
28 Part 27 ~Penantian Seorang Gadis~
29 Part 28 ~Penantian Seorang Gadis~
30 Part 29 ~Penantian Seorang Gadis~
31 Part 30 ~Penantian Seorang Gadis~
32 Part 31 ~Penantian Seorang Gadis~
33 Part 32 ~Penantian Seorang Gadis~
34 33 ~Penantian Seorang Gadis~
35 part 34 ~Penantian Seorang Gadis~
36 Part 35 ~Penantian Seorang Gadis~
37 Part 36 ~Penantian Seorang Gadis~
38 Part 37 ~Penantian Seorang Gadis~
39 Part 38 ~Penantian Seorang Gadis~
40 Part 39 ~Penantian Seorang Gadis~
41 Part 40 ~Penantian Seorang Gadis~
42 Part 41 ~Penantian Seorang Gadis~
43 Part 42 ~Penantian Seorang Gadis~
44 Part 43 ~Bab kusus Ataar~
45 Part 44 ~Membawanya Pergi~
46 Part 45 ~Penantian Seorang Gadis~
47 Part 46 ~Penantian Seorang Gadis~
48 Part 47 ~Penantian Seorang Gadis~
49 Part 48 ~Penantian Seorang Gadis~
50 Part 49 ~Penantian Seorang Gadis~
51 Part 50 ~Penantian Seorang Gadis~
52 Part 51 ~Penantian Seorang Gadis~
53 Part 52 ~Penantian Seorang Gadis~
54 53 ~Penantian Seorang Gadis~
55 Part 54 ~Penantian Seorang Gadis~
56 55 ~Penantian Seorang Gadis~
57 Part 56 ~Penantian Sprang Gadis~
58 Part 57 ~Penantian Seorang Gadis~
59 Part 58 ~Penantian Seorang Gadis~
60 Part 59 ~Penantian Seorang Gadis~
61 Part 60 ~Penantian Seorang Gadis~
62 Part 61 ~Penantian Seorang Gadis~
63 Part 62 ~Penantian Seorang Gadis~
64 Part 63 ~Penantian Seorang Gadis~
65 Part 64 ~Penantian Seorang Gadis~
66 Part 65~Penantian Seorang Gadis~
67 Part 66 ~Penantian Seorang Gadis~
68 Part 67 ~Penantian Seorang Gadis~
69 Part 68 ~Penantian Seorang Gadis~
70 69 ~Penantian Seorang Gadis~
71 Part 70 ~Penantian Seorang Gadis~
72 Part 71 ~Penantian Seorang Gadis~
73 Part 72 ~Penantian Seorang Gadis~
74 Rekomendasi novel baru
75 Part 73 ~Penantian Seorang Gadis~
76 Part 75 ~Fallback~
77 Part 76 ~Fallbck 2~
78 Part 77 ~Penantian Seorang Gadis~
79 Part 78 ~Penantian Seorang Gadis~
80 Part 79 ~Penantian Seorang Gadis~
81 Part 80 ~Penantian Seorang Gadis~
82 Part 82 ~Penantian Seorang Gadis~
83 Rekomendasi novel baru
84 rekomendasi novel baru milik author
85 rekomendasi ulang
86 rekomendasi novel baru milik author
87 rekomendasi novel baru milik author
88 rekomendasi novel baru milik author
89 Rekomendasi novel baru
90 rekomendasi novel baru
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Prolog
2
Part 1 ~ Penantiang Seorang Gadis~
3
Part 2 ~Penantian Seorang Gadis~
4
Part 3 ~ Penantian Seorang Gadis~
5
Part 4 ~Penantian Seorang Gadis~
6
Part 5 ~Penantian Seorang Gadis
7
Part 6~Penantian Seorang Gadis~
8
Part 7 ~Penantian Seorang Gadis~
9
Part 8 ~Penantian Seorang Gadis~
10
Part 9 ~Penantian Seorang Gadis~
11
Part 10 ~Penantian Seorang Gadis~
12
Part 11 ~Penantian Seorang Gadis~
13
Part 12 ~Penantian Seorang Gadis~
14
Part 13 ~Penantian Seorang Gadis~
15
Part 14 ~Delapan belas tahun yang lalu~
16
Part 15 ~Penantian Seorang Gadis~
17
Part 16 ~Penantian Seorang Gadis~
18
Part 17 ~Penantian Seorang Gadis~
19
Part 18 ~ Penantian Seorang Gadis~
20
Part 19 ~Penantian Seorang Gadis
21
20 ~Penantian Seorang Gadis~
22
21 ~Penantian Seorang Gadis~
23
Part 22 ~Penantian Seorang Gadis~
24
Part 23 ~Penantian Seorang Gadis~
25
Part 24 ~Penantian Seorang Gadis~
26
Part 25 ~Penantian Seorang Gadis~
27
Part 26 ~Penantian Seorang Gadis~
28
Part 27 ~Penantian Seorang Gadis~
29
Part 28 ~Penantian Seorang Gadis~
30
Part 29 ~Penantian Seorang Gadis~
31
Part 30 ~Penantian Seorang Gadis~
32
Part 31 ~Penantian Seorang Gadis~
33
Part 32 ~Penantian Seorang Gadis~
34
33 ~Penantian Seorang Gadis~
35
part 34 ~Penantian Seorang Gadis~
36
Part 35 ~Penantian Seorang Gadis~
37
Part 36 ~Penantian Seorang Gadis~
38
Part 37 ~Penantian Seorang Gadis~
39
Part 38 ~Penantian Seorang Gadis~
40
Part 39 ~Penantian Seorang Gadis~
41
Part 40 ~Penantian Seorang Gadis~
42
Part 41 ~Penantian Seorang Gadis~
43
Part 42 ~Penantian Seorang Gadis~
44
Part 43 ~Bab kusus Ataar~
45
Part 44 ~Membawanya Pergi~
46
Part 45 ~Penantian Seorang Gadis~
47
Part 46 ~Penantian Seorang Gadis~
48
Part 47 ~Penantian Seorang Gadis~
49
Part 48 ~Penantian Seorang Gadis~
50
Part 49 ~Penantian Seorang Gadis~
51
Part 50 ~Penantian Seorang Gadis~
52
Part 51 ~Penantian Seorang Gadis~
53
Part 52 ~Penantian Seorang Gadis~
54
53 ~Penantian Seorang Gadis~
55
Part 54 ~Penantian Seorang Gadis~
56
55 ~Penantian Seorang Gadis~
57
Part 56 ~Penantian Sprang Gadis~
58
Part 57 ~Penantian Seorang Gadis~
59
Part 58 ~Penantian Seorang Gadis~
60
Part 59 ~Penantian Seorang Gadis~
61
Part 60 ~Penantian Seorang Gadis~
62
Part 61 ~Penantian Seorang Gadis~
63
Part 62 ~Penantian Seorang Gadis~
64
Part 63 ~Penantian Seorang Gadis~
65
Part 64 ~Penantian Seorang Gadis~
66
Part 65~Penantian Seorang Gadis~
67
Part 66 ~Penantian Seorang Gadis~
68
Part 67 ~Penantian Seorang Gadis~
69
Part 68 ~Penantian Seorang Gadis~
70
69 ~Penantian Seorang Gadis~
71
Part 70 ~Penantian Seorang Gadis~
72
Part 71 ~Penantian Seorang Gadis~
73
Part 72 ~Penantian Seorang Gadis~
74
Rekomendasi novel baru
75
Part 73 ~Penantian Seorang Gadis~
76
Part 75 ~Fallback~
77
Part 76 ~Fallbck 2~
78
Part 77 ~Penantian Seorang Gadis~
79
Part 78 ~Penantian Seorang Gadis~
80
Part 79 ~Penantian Seorang Gadis~
81
Part 80 ~Penantian Seorang Gadis~
82
Part 82 ~Penantian Seorang Gadis~
83
Rekomendasi novel baru
84
rekomendasi novel baru milik author
85
rekomendasi ulang
86
rekomendasi novel baru milik author
87
rekomendasi novel baru milik author
88
rekomendasi novel baru milik author
89
Rekomendasi novel baru
90
rekomendasi novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!