Altar mengusap perut buncit istrinya. "Ayo cepat keluar, papah menunggu mu, jagoan," bisik Altar di perut istrinya. Aisha tersenyum dan mengeluas surai sang suami.
Altar memeluk istrinya, mencium semua inci wajah sang istri. Dia mengambil bantal dan menarohnya di pinggang Aisha.
"Kak," panggil Aisha. Altar yang sedang membuka daster istrinya sampai di dada berdehem.
"Coba kamu pangku aku! Aku merasa gak nyaman ," ucap Aisha membuat Altar menoleh lalu mengangkat istrinya kepangkuan.
Bumil itu, meremas dan sedikit meringis mencari tempat yang membuatnya nyaman.
"Kenapa sayang?" tanya Altar.
"Kamu gak merasa gak enak, aku ingin duduk dengan nyaman, tapi entah di mana," jawab Aisha.
Altar dengan kekuatannya menggendong tubuh istrinya yang membulat karena kehamilan.
"Kak, aw...," rintih Aisha merasa air ketubangnya pecah. Altar merasa tangannya basah. Dia langsung berlari keluar dan menyuruh supir rumahnya mengendarai mobil.
Aisha menjerit dan mengigit bibirnya.
"Gigit, punggungku aja sayang," pinta Altar yang masih sanantiasa memangku istrinya dan menahan rasa sakit di saat Aisha menggigit punggungnya.
Aisha menarik napas membuangnya dalam kembali menahan rasa sakitnya. "Kak, aku mau...." Aisha kembali menjerit.
Altar mencium pucuk kepala sang istri dan keluar dari mobil, dan segera melarikannya ke dalam rumah sakit.
Aisha sudah berada di ruang persalinan. Altar tak di biarkan masuk sementara waktu, sebelum di panggil untuk membimbing.
Papah calon dua anak itu bolak balik di ruang persalinan. Tiba-tiba dia menerima telfon kalau mamanya meninggal dunia.
Altar menjatuhkan ponselnya. Dan berlari ke arah ruangan mamanya, mumpung mereka berada di rumah sakit yang sama.
Di depan ruangan terdapat papanya yang menangis. Altar langsung berlari dan memeluk papanya. "Pah, jangan ngeprank, hari ini Aisha melahirkan. Ini hari bahagia," terik Altar menggeleng.
"Terima kenyataannya Altar, mamamu sudah berpulang," ucap papa Kana memegang bahu anaknya. Altar langsung menangis di pelukan papanya.
"Mama tak ingin bertemu dengan cucu keduanya?" tanya Altar memukul dinding, dia memasuki ruangan bersama sang papa.
"Mama," teriak Altar menguncang tubuh mamanya. "Ayo bangun, kita tunggu kedatangan anak Altar yok? Mama inginkan menggendong cucu lagi? Ayo bangun," teriak Altar.
Kana memelum jasad istrinya dengan terus menangis. "Kenapa kamu lebih cepat pergi dari pada papa sayang? Seharusnya aku yang lebih cepat pergi bukan kamu," ucapnya.
Pintu ruangan kembali kebuka. Abi Nando masuk bersama dengan bunda Karen.
"Kiay,"lirih Papa Kana memeluk besannya.
Abi mengelus bahu sahabat serta besannya. Dia menyuruh pria paruh baya itu menangis sejadi-jadinya.
Karen memeluk keponakannya. "Kak, kenapa pergi secepat ini? Bukannya kau datang ke ruanganku, dan bertanya 'Apa aku bisa menggendong cucuku lagi, di usiaku sudah tua seperti ini?' Iya kak, kamu masih bisa. Ayo kak kita gendong bergantian cucu kita," ucap Karen di depan jasad kakak iparnya.
"Udah, sudah nangisnya. Kasian Mbak Marwan," ucap abi Nando. "Altar apa kamu bisa kembalilah di ruang persalinan? Mungkin saat ini istrimu membutuhkan mu."
Altar menghapus air matanya lalu beranjak pergi dari sana. Kembali ke ruang persalinan, dia memasuk ruangan tersebut. Dia melihat bayinya di gendong suster.
Lelaki beralih memandang istrinya. Papah dua anak itu mendekati istrinya.
"Sayang. Mama udah gak ada," ucap Altar.
Dokter itu menghampiri Altar dan berkata. "Suaminya? Maaf istri bapak sepertinya koma sementara waktu. Maaf kami tidak memberi tau anda, karena anda sedang berada di ruangan mayat. Kami mengambil jalan satu-satunya agar anak anda bisa keluar," jelas dokter.
Dunia seketika berhenti berputar mendengar ucapan dokter. Dia memandang tubuh istrinya yang tidur dengan damai di brankar. Dia mengenggam tangannya dengan kuat, amarahnya seketika membara, kalau istrinya tidak melahirkan anak itu dan dokter lebih memilih istrinya, mungkin ini tak akan terjadi.
"Anak pembawa sial," lirih Altar memandang ke rak bayi di mana ada bayi mungil.
Dokter memindahkan anak dan ibu keruang perawatan. Altar sama sekali tidak mempedulikan bayinya, bayi itu terus menangis. Namun, dia hanya diam, duduk di kursi dekat brankar sang istri.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka terlihat Rigel dan istrinya masuk ke dalam ruangan.
"Asslamualaikum," ucap kedua pasangan itu. Altar pun membalasnya.
Istri Rigel yang melihat keponakannya menangis langsung berlari dan menenangkan bayi itu di gendongannya. Sedangkan Rigel mendekati brankar sang adik.
Altar mendongak dan langsung menyalami tangan Rigel. "Bang maaf, gue gak bisa menjaga Aisha. Dia koma gara-garaku. Aku meninggalkannya detik-detik dia bersalin."
Rigel menggeleng. "Ini semua sudah takdir Allah. Saya dan istriku, turut berduka kematian mamamu. Kalau kau ingin kepamakamannya, pergilah. Saya dan istri saya yang akan menjaga Ais di sini."
Altar yang masih mengenggam tangan istrinya, perlahan dia lepas. "Gak papa bang? Kalau ngeropotin gak usah," ucap Altar.
"Pergilah Altar, ada kami yang menjaga mereka. Ini terakhir kalinya kamu melihat mamamu," sela istrinya Rigel.
Altar beranjak bangun. "Yasudah kalau gitu, aku pamit bang, mbak," pamit Altar membuat kedua pasangan itu mengangguk.
Altar mendekati putrinya. "Fisha di sini aja ya? Jagain umi, apah mau pergi dulu," ucap Altar pada putrinya.
Fisha mengangguk. "Iya apah," jawab Fisha. Altar pun pergi dari sana, tanpa mencium atau memegang pipi bayinya. Sekedar memberi adzan aja belum.
Fisha memandang kepergian sang papah. Walaupun anak itu masih kecil, dia mengerti semua keadaan. Dia juga sama pikirnya yang di pikirkan Rigel dan istrinya saat ini.
"Ante, kenapa apah gak mencium adik Fisha?" tanya anak itu.
Istri Rigel mendongak kebawah. "Apahmu buru-buru Fisha."
Fisha hanya mengangguk, dia tak ingin bertanya lagi. "Om Igel, adzanin adiknya Fisha dong," sahut anak itu. " Gak papakan?"
Rigel mendekati bayi mungil itu. Dia mengambil ahlo bayi itu dari istrinya.
Setelah mengadzankan. Lelaki itu mencium hidung mancung sang keponakan. "Tumbuhlah dengan bijak. Kamu harus kuat melewati semua rintangan hidup. Ingat perjuangan umimu yang melahirkan mu kedunia, jangan kau sia-siakan, balas perjuangan umimu dengan kesuksesan. Masukan kedua orang tuamu kesurga yang indah. Jadilah anak penurut, penyabar dan anak sholeh," bisik Rigel ketelinga bayi merah itu.
Rigel tersenyum ke arah istrinya. Istrinya itu memandang dalam bayi tersebut.
"Sabar ya, kita juga akan mendapatkan bayi mungil, tapi Allah menyuruh kita mengantri."
Talita mengangguk. Kedua pasangan itu memang belum juga mendapatkan momongan, tapi mereka juga sudah berusaha. Dia akan tetap menunggu saatnya Allah memberikan buah hati, mungkin sang maha pencipta belum bisa memberi mereka tanggung jawab untuk menjadi orang tua.
Rigel menidurkan bayi itu ke rak bayi. Rigel sangat tau dari mata Altar. Adik iparnya itu menyalahkan bayi mungilnya yang menyebabkan ini semua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Enung Samsiah
dasar ayah nggk punya hati,,,
2024-01-21
0
Dewi Angriani
meskipun dalam cerita, tapi ini sangat menyedihkan, apa salahnya bayi baru lahir sampai papanya begitu membencinya
2023-12-27
0
Rita Riau
ni papa nya Fisha kayak bukan orang beragama ya,,,, heran aku,,,,memang Ataar bisa memilih dan melihat takdir. egois bgt ni bapak,,,
2023-12-24
1