"Kamu kenapa Fisha? Dia baru nolongin kamu dan bisa-bisanya kamu langsung percaya kepadanya, apa kamu bodoh? Ayo biar aku antar pulang."
"Iya aku lebih dari kata bodoh, lagian aku tidak ingin pulang sama kamu. Aku lebih ingin naik taksi kalau harus pulang samamu," balas Fisha dengan lantang. "Ayo kita pergi." Fisha mengajak Kainal pergi, lelaki itu memegang pipinya dan mengikuti Fisha. Sedangkan Xaviel hanya menatap kepergian Fisha.
"Aku salah?" tanyanya bergumam, dan kembali ke arah pesta.
Fisha menaiki mobil Kainal, di dalam mobil cuma ada keheningan. Fisha hanya menatap keluar jendela.
"Maaf, tapi apa aku boleh bertanya?"tanya Kainal membuat Fisha melirik.
"Tanya apa?"
"Cowok tadi, siapa?" tanya Kainal.
"Owh, dia sahabatku. Maaf ya atas kesalahan yang di lakukannya, dia hanya takut aku kenapa-napa. "
"Terus kalau dia takut kau kenapa-napa, kenapa dia membawamu ke pesta itu? Apalagi di saat kau ketakutan, dia tidak langsung menolongmu dan menenangkanmu? Dia malah mengikuti kemauan pacarnya," jelas Kainal.
Fisha mengejapkan matanya. "Aku tidak terlalu penting, aku kan hanya sahabat bukan kekasihnya?"
"Maaf," ucap Kainal. "Beri tau alamat mu," sahut Kainal buka suara kembali
Fisha menoleh, dan mengarahkan arah jalan kepada lelaki itu.
Sesampainya di rumah, Fisha mengajak Kainal. Lelaki itu menolak, tapi Fisha memaksanya.
"Nak Kainal, terima kasih ya," ucap Altar pada anak laki-laki itu.
Kainal mengangguk, dan mengobati luka pukalan Xaviel.
"Siapa yang melakukan ini, kepada mu?" tanya Aisha yang baru saja datang membawa nampang berisi cemilan dan jus.
Kainal baru ingin berucap. Namun, di sela duluan oleh Fisha.
"Xaviel, tapi dia gak sengaja kok. Xaviel mengira Kainal itu ingin macam-macam sama aku, makanya dia langsung memukul Kainal, tanpa tau yang sebenarnya,"sela Fisha.
Kedua orang tua itu mengangguk.
Setelah berbincang sedikit lama, dan lukanya sudah di obati, lelaki itu ingin pamit. Namun, di tahan Altar.
"Kok buru-buru? Makan malam di sini aja." Altar menarik lengan Kainal ke meja makan, agar anak itu tidak menolak ajakannya. "Gak usah sungkan, nak. Kalau kamu tau gimana ayahmu dulu, gak ada sungkan-sungkannya sama om, dia bahkan lebih suka bermalam di rumah om dari pada pulang ke rumahnya."
"Iya benar banget," timpal Aisha, masih mengingat dengan keempat sahabat suaminya dulu yang sering berkunjung kerumahnya bahkan bisa di hitung tiap hari bermalam dan makan di sana tanpa rasa malu. Kalau di ingat-ingat dia jadi kangen momen dulu. Dimana mereka yang pelawak dan membuat suasana semakin hidup.
"Kamu tuh beda ya sama sikap ayahmu, ayahmu dulu sangat absurd, dia yang paling moodmoster di antara ketiga sahabat om yang lain," ucap Altar menceritakan gimana sikap sahabatnya.
Kainal hanya tertawa kecil, dan ikut makan malam dengan keluarga sahabat ayahnya.
"Emang nama-nama sahabat apah siapa?" tanya Fisha. "Terus nama ayah Kai siapa?"
"Tanya ke readers, readers pasti tau nama sahabat apah, suruh juga menebak siapa ayahnya Kainal," jawab Altar membuat Fisha mengerucut bibirnya.
"Ayo readers, beri tau aku!"
Ternyata Kainal bukan saja orang yang membantunya, ternyata dia juga anak sahabat papahnya. Fisha belum pernah ketemu dengan keempat teman apahnya, mereka sibuk dan jarang ngumpul seperti dulu. Sekarang ada yang di luar negeri, ada yang tinggal di perkampungan. Kainal dan keluarganya saja baru pulang dari singapura.
Setelah bercanda menyelesaikan makan malam. Kainal pamit pulang karena sudah mendapatkan telfon dari bundanya, untuk segera pulang.
Aisha melihat anaknya tidak seperti kemarin lagi. Lebih banyak diam, sekarang perlahan sikap gadis itu sudah kembali, mulai cerewet, terus memarahi adiknya Ataar.
"Aku bingung, kak, dua hari ini Fisha diam bahkan kantung matanya menghitam dan bengkak. Aku tanya dia hanya menjawab kurang tidur karena tugas kuliah banyak, tapi aku yakin bukan itu masalahnya kak. Aku ingin kamu datang kekampusnya, aku sering melihat bekas luka di sudut pipi anakmu, dan di siku. Dia juga sering membawa dua pakaian ke kampusnya, aku takut dia menjadi bahan bulllying di kampusnya. Kamu taukan selama ini dia jarang berbaur dan berteman dengan seseorang, itu aja dia hanya berteman dengan Xaviel. Aku takut dia depresi," jelas Aisha panjang lebar pada suaminya. Dia mengeluarkan isi hatinya terhadap sang anak.
"Nanti kakak akan selidki," jawab Altar.
Aisha pun mengangguk dan ingin pergi. Namun, tangannya langsung di tarik.
"Eh, kenapa?" tanya Aisha.
"Is kakak tiga hari lembur tau, jadi kakak lapar pengen makan kamu," bisik Altar langsung menggendong istrinya seperti karung beras masuk ke dalam kamar. Untungnya kedua anaknya tidak melihat itu.
Fisha berada di dalam kamarnya. Hatinya sudah benar-benar hancur. Dia jujur dia masih mencintai Xaviel, tapi rasa cinta itu tidak sebesar dulu. Sekarang hatinya sudah mati, sulit bagi seseorang akan masuk ke dalamnya, bahkan Xaviel yang semisalnya ingin mendobraknya kembali mungkin sedikit susah tidak seperti dulu, atau mungkin juga Fisha tidak akan membuka hatinya kembali untuk lelaki bernama Xaviel.
Dia menatap langit-langit kamarnya dengan air mata terus menetes. Kalau terus-menerus seperti ini, mungkin apa yang di pikirkan uminya akan terjadi. Dia akan depresi seiring waktunya. Orang di luar sana yang terus menghina dan memakinya, membullynya. Di tambah dengan sakit hati yang di berikan Xaviel kepadanya, lelaki itu benar-benar membuatnya kecewa dan patah hati. Penantian, kesabarannya terbuang sia-sia dan di musnahkan oleh lelaki yang sangat dia cintai.
💗💗💗💗💗
Xaviel mengantar Alya pulang, lalu kembali ke mansionnya.
Dia membaringkan badannya di atas kasur, sama dengan yang di lakukan Fisha. Dia juga menatap langit-langit kamar. Pikirannya terus kepada Fisha, dia mikir kenapa sikap Fisha seperti ini. Dia terus bertanya-tanya dalam hati, apa dia membuat kesalahan sampai gadis itu seakan menciptakan jarak di antara mereka.
Pintu kamarnya terbuka. Mommynya mendekati putranya sambil membawa segelas susu untuk anaknya.
Xaviel langsung beranjak bangun dan melepaskan sepatunya yang masih terpasang di kaki.
"Makasih, mommy," ucap Xaviel membuat wanita paruh baya itu mengangguk saja.
"Kenapa? Mommy lihat kamu banyak pikiran, ayo mikir apaan tuh?"
Xaviel menggeleng. Dia tidur di pangkuan mommynya. "Entahlah mommy, akhir-akhir ini El memikirkan tentang Fisha yang serasa sikapnya itu berubah kepadaku," keluh Xaviel.
"Hemm... Kemungkinan Fisha tau kalau kamu dan Alya punya hubungan. Takutkan Alya merasa cemburu kamu dekat dengan Fisha walaupun Fisha adalah sahabatmu. Fisha sepertinya mengerti Alya, karena mereka sama-sama wanita. Kamu dan Fisha itu tidak selamanya akan seperti dulu, bersama, kemana-mana selalu berdua. Sekarangkan kalian sudah pada dewasa, bisa memilih jalan kalian masing-masing," jelas Gracel pada putranya.
Xaviel terdiam, mencernah semua kata-kata mommynya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Rita Riau
Xaviel ingat tu janji,,,kamu bukan pria sejati,,,kamu sibuk cari kesalahan Fisha ,,, kesalahan ada sama kamu
2023-12-24
0
Pujiastuti
lanjut kak upnya semangat 💪💪💪
2023-07-05
0
pisces
semoga othor berbaik baik memperlihatkan pada altar maupun xaviel betapa jahatnya alya pada fisha dan melihat sendiri kejadian disaat fisha dijahati sama alya
2023-07-05
0