Hari terus berlalu, bulan dan tahun. Kini kepergian Xaviel sudah menempuh lima tahun lebih dan itu benar-benar membuat Fisha kesepian tanpa sosok sahabatnya Xaviel.
Fisha menjalani hari-harinya tanpa Xaviel, berkuliah sendiri tanpa bersama Xaviel yang dulunya kemana-mana selalu bersama.
Lima tahun Fisha masih senantiasa menunggu kepulangan lelaki itu, mengingat akan janji yang di ucapkan sebelum pergi. Gadis itu hanya berharap lelaki itu benar menepati janjinya untuk menjadikannya penamping hidup.
"Kak Fisha," teriak Ataar yang masuk ke dalam kamar kakanya tanpa memberi salam.
"Astaga Ataar, bisa gak sih kalau kamu masuk itu beri salam dulu?" tanya Fisha kaget dengan teriakan sang adik.
Laki-laki itu duduk di samping sang kakak yang sedang sibuk mengerjakan tugas.
"Kak, kakak udah hampir lulus s2 kan?" tanya Ataar.
Fisha hanya berdehem tanpa menoleh ke arah sang adik.
"Berarti kak Xaviel bakal pulang dong?".
Fisha memberhentikan mengerjakan tugasnya dan menoleh ke arah sang adik.
"Iya kakak tau," jawab gadis itu. "Buka jaket mu coba, kakak tau kamu habis di pukul sama papah," lanjut Fisha menyuruh adiknya itu membuka jaket kulitnya.
Ataar menggeleng. "Gak, apah gak pukul Ataar, kakak sembarangan aja," dusta Ataar.
"Ataar, gak usah berbohong sama kakak ya!" tegas Fisha menarik tangan adiknya dan membuka jaket yang di pakai.
Fisha menahan nafas sesaat melihat beberapa bekas cambokan di bahu serta tangan sang adik.
Gadis itu berdiri untuk mengambil kotak p3k.
"Buka pakaian mu," pinta Fisha membuat adiknya itu menurut. "Kan udah kakak bilang, kamu gak usah balapan," ucap Fisha menatap adiknya yang menahan rasa sakit.
"Balapan gak balapan, bukannya apah setiap pulang selalu pukul gue, kak?"
Fisha menghela nafas dan tidak membahas itu lagi, dia fokus mengobati luka adiknya.
"Udah kamu pergilah tidur, jangan kemana-kamana," perintah Fisha. "Kali ini jangan pergi di saat orang rumah sudah pada tidur, kakak pernah lihat kamu pergi tengah malam."
"Kapan? Sok tuduh aja," ketus Ataar memakai pakaiannya kembali.
Ataar tidur di pangkuan sang kakak. "Kak," panggil Ataar.
"Apa?"
"Kok apah gak sayang aku kaya kakak?" tanya Ataar membuat Fisha terdiam.
"Stt, papah sayang kamu. Sayang kita berdua, mana ada seorang ayah tidak menyayangi anaknya?"
"Ada! buktinya apah, dia gak sayang gue, dia hanya menyayangi kakak. Kalau dia sayang sama gue, dia tidak akan memukul gue setiap hari," ucap Ataar.
Fisha tidak membalas ucapan sang adik, dia hanya fokus membelai rambut adiknya itu.
"Pergilah ke kamar mu, tidur, kakak masih ada tugas kuliah," ucap Fisha menyuruh adiknya bangun dari pangkuannya.
Ataar memakai jaketnya kembali dan pergi dari kamar sang kakak.
Fisha membuka laptopnya, membuka sosmed. Berita tentang Xaviel akan keluar kalau benar-benar lelaki itu akan pulang. Terlebih dia'kan anak dari pengusaha tersukses, Fisha akan mendapatkan tanda-tanda kepulangan sahabatnya dari internet.
"Aku kangen kamu El, apa kamu tau setelah kamu pergi. Alya terus mengusiliku di kampus," keluh Fisha.
Gadis itu menghela nafas dan menutup laptopnya kembali. "Kalau dia kembali." Gadis itu tersenyum dan langsung menggeleng saat sadar dia telah memikirkan lelaki yang bukan muhrimnya. "Ya Allah maaf," ucap Fisha istigpar dalam hati.
***************
Keesokan paginya, Fisha akan membantu uminya menyiapkan sarapan.
"Gak usah sayang, nanti pakaian kamu kotor," ucap Umi Ais melarang putrinya.
"Gak papa umi."
"Kamu bangunin adek kamu dan apah kamu aja."
Fisha mengangguk dan pergi dari sana untuk membangunkan adik dan papahnya.
Fisha masuk ke dalam kamar sang adik dan baru pertama kali saat memasuki kamar adiknya, kali ini dia tersenyum melihat sang adik sudah selesai bersiap.
"Tumben," sahut Fisha membuat Ataar berbalik badan.
"Ngapain?" tanya Ataar.
"Turun umi menunggu," ucap Fisha lalu keluar dari kamar.
Ataar pun memasukan semua buku-bukunya ke dalam tas ranselnya lalu mengikuti Fisha.
Ataar terdiam di anak tangga melihat papahnya menyium dan tersenyum kepada Fisha, dia hanya menghela nafas lalu melanjutkan jalannya dan duduk di samping kakanya.
Ataar tidak menyapa siapa pun, dia langsung duduk dan makan.
"Kakak mau ikut sama aku?" tanya Ataar yang sedang mengeluarkan motornya.
Fisha menggeleng. "Sama papah aja," jawabnya membuat anak itu manggut-manggut aja dan langsung melajukan motornya pergi.
"Papah, Fisha mau ngomong sama apah," ucap Fisha saat sudah berada di atas mobil.
"Iya?"
"Fisha gak suka kalau apah bedain aku dan Ataar. Fisha gak mau nanti Ataar merasa iri kepada Fisha dan menjadi membenciku, aku mohon sama apah jangan pukul adik Fisha lagi. Dia juga seorang anak apalagi dia seorang laki-laki biarin dia mengenal dunia, Fisha yakin dia tidak akan melewati batasan kenakalannya," jelas Fisha.
Altar terdiam, tidak menjawab ucapan sang anak.
Fisha menyalimi tangan sang papah saat dia sudah sampai di kalangan kampus.
"Belajar yang benar," peringat Altar membuat anaknya itu mengangguk.
Fisha pun memasuki kampus. Sudah beberapa tahun berkuliah, belum sama sekali mendapatkan teman. Palingan dia menjadi bahan bullyan.
"Si ninja datang," ucap para siswi yang mendekati Fisha.
Fisha hanya menunduk dan berjalan cepat sambil memeluk buku pelajarannya.
"Aw, sorry," sahut seorang gadis saat sengaja menumpahkan segelas jus kekerudung Fisha.
Fisha mengejapkan matanya. "Alya, seharinya gak ganggu aku bisa?" tanya Fisha.
Alya menggeleng. "Apa? Sekarang lo cuma sendiri, sahabat atau pahlawan lo udah gak ada," ucap Alya pergi dari sana.
"Astaghfirullah," gumam gadis itu dan berjalan memasuki ruang dosen untuk mengumpulkan tugasnya.
Setelah memberikan tugasnya kepada dosen, dia sangat apes. Dosennya selalu menegurnya karena pakainnya yang kotor, padahal ini bukan yang dia perbuat melainkan Alya dan teman-temannya.
Fisha melihat ponselnya, dia masih memiliki waktu untuk membersihkan pakaiannya di toilet.
"Ayo dong Fisha, ginikan kalau dulu kamu terus bergantung pada Xaviel, sekarang dia gak ada. Jadi kamu jangan menye-menye kaya gini,"keluhnya membersihkan kerudungnya yang terkena jus.
Dia pun keluar dari toilet. Namun baru selangkah dia tersentak saat dia terkena air dari atas. Dia mendongak ke atas dan mendengus kesal.
"Kenapa sih orang-orang pada jahat sama aku? Padahal aku juga manusia. Emang gadis yang menutup auratnya begitu terhina?"
Dia membuka tasnya, untungnya tiap hari dia membawa pakaian cadangan, karena memang setiap hari dia akan mendapatkan usilan oleh para teman kampusnya.
Setelah menganti pakaian, dia memasuki kelas untungnya dia lebih dulu masuk dari pada dosen jadi tidak mendapatkan teguran lagi dan lagi.
Fisha menatap Alya dengan tatapan intens, sedangkan gadis itu menatap ke arah lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Rita Riau
apa Ataar bukan anak kandung ya 🤔🤔
2023-12-24
0
Happyy
😘😘
2023-12-22
0
Pujiastuti
lanjut kak semangat upnya 💪💪💪
2023-07-02
1