Vieara dan mommynya sudah menunggu kedatangan sang abang.
"Daddy abang kok lama banget?" tanya Vieara yang duduk di pangkuan sang daddy, anak itu memang sangat manja pada daddynya. Dan Revandra tidak sungkan untuk memanjakan sang putri walaupun istrinya sering cemburu.
"Sabar dong," jawab sang daddy.
Terdengar suara mobil di luar mansion membuat gadis itu berlari keluar dari mansion, dia tau yang datang adalah sang abang.
Dia tersenyum mengembang saat Xaviel turun dari mobil dan berjalan ke arahnya.
"Abang," teriak Vieara langsung berlompat kepelukannya Xaviel.
"Ara, abang kamu tuh capek," sahut mommynya merasa gemass oleh sang anak.
"Biarin," ketus Vieara yang berada di gendongan Xaviel.
Mommy Gracel mengerucut bibirnya, padahal dia juga ingin memeluk putranya. Namun apa daya kedua lelaki itu selalu sama memanjakan Vieara.
Xaviel menyuruh Vieara turun, gadis itu pun hanya menurut.
"Sayang," sahut Gracel memeluk putranya.
"Mommy," ucap Xaviel yang berada di dalam pelukan sang mommy.
"Mommy kangen banget sama kamu, lihat badanmu kurus banget. Di sana kamu gak ngurus diri ya?"
"Mommy aku makin cantik aja, terus cerewetnya gak kurang," ledek Xaviel membuat wanita paruh baya itu berdecak kesal.
Revandra merentangkan tangannya, Xaviel pun langsung memeluk daddynya.
"Gimana keseharian mu di sana? Apa kamu terbebani?" tanya Revandra.
Xaviel menggeleng. "Gak kok daddy," jawab Xaviel.
"Naiklah ke kamar, mommy akan membuatkan mu makan," perintah Gracel.
Xaviel pun mendorong kopornya kekamarnya, di mana sudah 5 tahun lebih tidak dia tempati.
Dia membuka pintu kamar, di dalam kamar tersebut tidak ada yang berubah, yang berubah hanya sperai.
Lelaki berusia 24 tahun itu menghela nafas lalu merebahkan dirinya.
"Akhirnya, perjuanganku telah usai," gumamnya. Dia mengambil kartu ponselnya di laci dan segera menghubungi seseorang.
***************
Seorang gadis yang sedang menunggu kabar dari sang sahabat, malah tak kunjung datang.
Pintu terbuka, Ataar masuk ke kamar Fisha.
"Kakak belum tidur? Masih nunggu kak El hubungi kakak?" tanya Ataar membuat Fisha mengangguk.
"Tidurlah kak, besok kakak bisa menemuinya. Pasti dia juga capek," ucap Ataar.
Fisha terdiam, apa yang di katakan adiknya ada benarnya. Xaviel juga butuh istirahat.
Fisha mengangguk. "Baiklah kakak akan tidur, kembalilah ke kamarmu."
Ataar ingin beranjak dari sana. Namun langsung di tahan oleh Fisha.
"Jangan bilang kamu habis di pukul papah lagi?"
Ataar menggeleng. "Gak kak, apah gak ada, kata umi dia lembur," jawab Ataar.
"Cepatlah tidur, sebelum papah pulang," perintah Fisha membuat Ataar mengangguk dan pergi dari kamar.
Dia menghela nafas lalu menyimpan ponselnya dan mematikan lampu kamar.
Gadis itu mencoba menutup matanya agar tak kepikiran dengan Xaviel.
"Astahgfirullah," ucapnya bangun dan langsung menenguk air.
Keesokan paginya seperti biasa, Fisha akan membantu ibunya menyiapkan sarapan, mumpung kali ini dia memasuki jam kuliah siang.
"Rajin banget sih anak umi," sahut Aisha yang baru saja datang dan melihat anaknya cuci piring di dapur.
"Gak papa umi, Fisha juga gak ngelakuin apa-apa," ucap Fisha tersenyum.
"Nanti mau ke rumah Xaviel?"
Fisha menggeleng. "Buat apa? Yakali cewek ke rumah cowok, seharusnya dia yang datang ke sini kalau dia masih mengingatku sebagai sahabatnya," jawab Fisha.
"Fisha," panggil uminya.
"Iya umi?"
Umi Aisha memegang kedua tangan sang putri. "Nak, jangan terlalu melibatkan perasaan antara kamu dan Xaviel ya? Umi hanya gak suka suatu saat nanti anak umi ini malah patah hati atau tidak suka di saat Xaviel sudah memiliki kehidupan sendiri. Kamu jangan egois, walaupun Xaviel adalah sahabat mu, kamu juga harus tahu kamu hanyalah sahabat tidak termasuk kehidupannya. Di suatu saat nanti kamu dan Xaviel akan menempuh jalan yang berbeda. Hem... Umi sih berharap kamu dan Xaviel berjodoh, tapikan umi bukan Tuhan yang harus menentukan jodoh, umi hanya berharap aja," jelas umi Aisha.
Fisha terdiam mendengar ucapan sang umi, tapi dia juga masih berharap janji yang di katakan Xaviel lima tahun yang lalu akan di tepati.
"Iya Umi, umi kaya gak tau Fisha aja," ucap Fisha tersenyum tipis ke arah uminya.
"Umi hanya ingatin kamu aja sayang," balas Aisha. "Ini tolong kamu potong ya," pinta Umia Aisha.
Fisha mengangguk dan mengambil daging dan memotong kecil-kecil daging itu.
Siang hari, Fisha bersiap untuk ke kampus, dia masih melihat ponselnya. Namun belum tanda-tanda lelaki itu akan menghubunginya.
"Sudahlah, mungkin dia lagi sibuk atau capek," gumam Fisha menunggu taxinya datang.
Saat berada di atas taksi tiba-tiba ponselnya berdering, dia tersenyum saat melihat nomor tak di kenal, dia tau kalau itu adalah nomor Xaviel.
📱"Asslamualaikum, dengan siapa?" tanya Fisha basa-basi saat sambungan tersambung.
📱"Aku El, Sha," jawab seseorang di sebarang telfon.
Fisha seketika tidak bisa berkutik mendengar suara sahabatnya yang sudah lama dia tak dengar. Suara lelaki itu makin berat dari sebelumnya.
📱"Xa-viel?" tanya Fisha membuat lelaki itu berdehem dari telfon.
📱"Fisha, aku mau ketemu kamu sebentar apa boleh? Nanti aku akan meminta izin pada om Altar," ucap Xaviel.
📱"Boleh, setelah aku pulang kuliah ya," ucap Fisha membuat lelaki itu berdehem dan memutuskan panggilan telfon.
Hari ini, Fisha sangat bahagia walaupun mendapatkan usilan Alya. Namun dia tetap menerimanya. Setelah selesai jam mata pelajaran Fisha segera menuju cafe yang sudah di kirimkan Xaviel. Gadis itu sudah tak sabar melihat sahabatnya.
"Dia dimana ya?" tanya pada diri sendiri saat sampai di cafe dan memperhatikan pengunjung.
Xaviel yang melihat Fisha kebingung lantas menaikan tangannya membuat gadis itu tersenyum lalu mengampiri Xaviel.
Ingin rasanya mereka berpelukan. Namun itu semua tak bisa karena larangan agama, Xaviel tahu bagaimana sahabatnya itu tak bisa di pegang sembarangan lelaki selain Ataar dan ayahnya.
Senang, tapi langsung merasa canggung. Tidak ada yang ingin memulai obrolan lebih dulu.
"Fisha."
"Xaviel."
Mereka sama-sama berucap membuatnya pada menyengir.
"Kamu dulu deh, aku merasa canggung," ucap Fisha jujur.
Xaviel tertawa kecil, sahabatnya itu tidak ada perubahan. "Aku kangen banget sama kamu," ucap Xaviel.
"Aku apa lagi, kamu gak tau aja gimana aku kuliah tanpa ada kamu. Kamu tau dari kecil aku gak mempunyai teman, hanya kamu yang ingin berteman samaku," tutur Fisha.
Xaviel terdiam dan tersenyum. "Sekarang aku gak bakal pergi lagi, kita akan selalu bersahabat." Xaviel mengeluarkan sabuk tangannya.
Mereka saling menautkan jari kelingking. Mereka tertawa mengingat masa-masa mereka terus melakukan ini.
"Fisha..."
"Iya?"
"Aku mau minta bantuan sama kamu," ucap Xaviel membuat Fisha memandangnya penasaran.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Happyy
😎😎
2023-12-22
0
suharyantik
apa Exel cintanya sama Alya dan menganggap fisha sebatas teman Thor, lanjutkan karyamu selanjutnya
2023-07-03
1
Astri
kog koyok e Si El mau pdkt ma cew lain
2023-07-02
0