Fisha mengumpulkan tugasnya di ruangan dosen, lalu menunggu Kainal di lobby kampus. Di saat menunggu Xaviel datang mendekatinya.
"Fisha," panggilnya membuat Fisha menoleh. Fisha hanya menatapnya datar.
"Apa?" tanya Fisha.
"Apa kita gak bisa bicara dulu?" tanya Xaviel.
Fisha menggeleng. "Maaf gak bisa, lagian emang kamu gak ada kerjaan pulang balik mulu? Perasaan tiap hari ke kampus ini mulu, kamu gak kerja? Owh nunggu Alya?"
Xaviel terdiam memandang Fisha. "Benaran persahabat kita gak bisa kaya dulu lagi? Jangan hancurin persahabatan kita, Sha."
"Gak ada yang ngehancurin, tapi memang persahabatan kita gak bisa berjalan mulus terus-menerus. Mungkin ini akhir dari persahabatan kita? Kita udah pada dewasa, kita akan menempuh jalan masing-masing," jelas Fisha, dia melihat Kainal berjalan ke arah mereka.
Xaviel menatap Kainal, lalu menatap Fisha. "Apa hubungan kalian?"
Fisha menoleh. "Kamu gak perlu tahu, lagian kalau kamu tahu, mau ngapain?" tanya Fisha.
Kainal memandang Xaviel dengan datar lalu mengajak Fisha pergi dari sana.
Xaviel menatap kepergian mereka, dia menghela napas. Baru ingin berjalan keluar. Tiba-tiba seseorang memanggil membuatnya berhenti.
"Sayang," teriak Alya memeluk lengan Xaviel. "Nunggu lama ya?" tanya Alya.
Xaviel tidak membalas pertanyaan Alya, dia berjalan keluar.
"Kita singgah belanja, yok?"
Xaviel hanya berdehem tanpa menoleh ke arah Alya melainkan ke arah ponselnya.
"Xaviel, kalau pacar ngomong tuh di lihat!" ketus Alya berhenti membuat Xaviel menoleh.
Xaviel menghembuskan napasnya, dan mendekati Alya. "Gak usah marah, ayok," ajak Xaviel mengenggam tangan Alya sehingga gadis itu tersenyum.
Fisha menatap Xaviel yang berjalan meriringan dengan Alya. Dia pikir sahabatnya itu marah pada Alya, saat masalah tadi, tapi ternyata dugaanya salah.
"Fisha," panggil Kainal membuat Fisha menoleh.
"Kenapa?" tanya Fisha.
"Mau ngumpul gak sama yang lain?"
"Yang lain siapa?" tanya Fisha bingung.
"Yang lain, anaknya, om Kendra, om Evan, dan om Cakra," jawab Kainal.
"Mereka semua siapa?" tanya Fisha lagi penasaran.
"Dia sahabat ayahku dan papahmu," jawab Kainal.
"Benaran? Sekarang kita ketemunya?"
Kainal mengangguk sehingga gadis itu sumringan. Mereka pun menuju Cafe, dimana yang lain sudah pada memesannya.
Kainal membuka'kan pintu buat Fisha, dan berjalan meriringan masuk ke dalam.
"Kainal," teriak seseorang membuat Kainal tersenyum dan mendekati orang yang memanggilnya, Fisha hanya mengikuti Kainal.
Kainal saling berpelukan dengan salah satu di antara mereka. Fisha memandang kelima orang yang berada di sana. Ada dua cewek dan tiga cowok.
Mereka menatap Fisha keheranan. Kainal mengajak Fisha duduk.
"Dia anaknya om Altar," ucap Kainal membuat mereka beroh dan tersenyum. Mereka berlima tersenyum ke arah Fisha.
Di sana bukan Fisha doang gadis bercadar, ada orang lainnya, yang baru saja datang.
"Kenalin, dia Devon. Anaknya om Kendra," ucap Kainal membuat Fisha mengangguk. "Sedangkan dia... Anaknya om Evan, namanya Celi," lanjut Kainal.
"Sedangkan ketiga orang ini, Tofik, ufik. Saifara. Anak om Cakra."
"Nah, yang ini adik aku..." Yang terakhir Kainal menunjuk seorang gadis bercadar yang duduk di dekatnya. "Namanga Kaira," ucap Kainal membuat Fisha mengangguk. Ternyata semua sahabat papahnya sudah pada beranak.
"Kak Fisha setiap kita ngumpul gak pernah ikut sih, makanya pada gak kenal," sahut Celi.
Fisha tersenyum tipis. "Aku gak tau, papah jarang menceritakan kalian. Mungkin papah jarang berkumpul juga dengan teman-temannya."
"Ya kayanya, om Altar kadang-kadang aja datang ke rumahku. Kalau ayah mereka, kayanya tiap hari," ucap Devon sehingga mendaparkan toyoran Tofik.
Fisha hanya tertawa kecil. Kainal yang melihatnya tersenyum tipis.
Celi menyenggol lengan Saifara membuat gadis yang sibuk makan menoleh.
"Apasih?"
"Wow, bukannya kalian pernah di jodohin ya? Kalian terima gak perjodohan itu?" tanya Ufik.
Fisha dan Kainal saling memandang, lalu menggeleng. "Kita masih mempunyai jalan masing-masing, gak suka terlalu buru-buru," ucap mereka bersamaan. Sehingga Devon, Tofik dan Ulfik berteriak hesteris.
"Berisik." Saifara menyumpal mulut sodoranya Tofik dengan timun.
"Kalian nikah aja deh, kalian cocok," timpal Celi.
Fisha hanya tertawa, sedangkan Kainal hanya diam dan meminum jusnya.
"Woi, lihat si emoy. Njir dah habis," seru Devon menunjuk Saifara sudah menghabiskan kentang goreng yang ada di piring.
Ufik melemparkan togeh ke arah Devon. "Biarin adek gue makan," ketus Ufik. Saifara pun langsung menjulurkan lidahnya ke arah Devon.
"Kak Fisha," panggil Kaira membuat Fisha menoleh.
"Kakak gak usah heran ya sama mereka berlima, orangnya memang mantan pasien rsj," ucap Kaira sehingga mendapatkan tatapan tajam kelima orang tersebut.
Fisha tertawa mendengar ucapan Kaira, bisa-bisanya. Dia kira gadis itu kalem, karena Kainal pun sedikit kalem, tapi dugaannya salah.
"Gak usah heran kak Fisha, diakan anaknya om Vier," imbun Celi.
"Lah emang yang bilang aku anaknya om Kendra siapa?" tanya Kaira.
"Serah lo," cibir Celi meminum jus alpukat Tofik. "Huek..."
"Anjir, minuman gue," pekik Tofik mengambil jus alpukatnya.
"Dih lo aneh banget, rasa alpukat'kan enak," timpal Saifara.
"Dari mana coba enaknya," ketus Celi melap bibirnya menggunakan tisu.
"Lagian ngapain lo coba," balas Tofik.
"Gak sengaja, edan," sungut Celi melemparkan bekas tisunya. Tofik pun cepat-cepat menghindar dan tak sengaja jusnya tumpah ke pakaian Fisha.
Fisha langsung berdiri karena merasa basah. Kainal yang melihatnya langsung membuka jaket yang di pakai dan menyuruh adiknya membalutkannya di pinggang Fisha. Kaira pun hanya menuruti.
Devon menoyor kening Tofik. "Makanya jangan seberono," kelitnya.
"Maaf kak Fisha," ucap Tofik membuat Fisha tersenyum dan mengangguk.
Di antara mereka semua memang Fisha yang paling tua. Bahkan selisi empat bulan, Fisha lebih duluan lahir di dunia sebelum Kainal.
Mereka pun berbincang, sekali-kali mereka melawak membuat Fisha tertawa melihat kelakuan mereka.
Mereka memang titisan para bapak masing-masing. Etss... Gak semua, Kainal mempunyai sifat tersendiri yaitu kalem. Padahal dia anak seorang Vier yang masa mudanya, di juluki si kocak. Mungkin cuma Kainal yang mengikuti sifat bundanya. Beda dengan Kiara duplikat Vier banget.
Mereka pun memutuskan pada pulang, karena waktu kumpul mereka sudah terlalu lama. Fisha di antar pulang oleh Kainal.
"Hati-hati ya," peringat Fisha membuat adik kakak itu mengangguk.
"Dadah kak Fisha." Kaira melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju.
Fisha menghela napas lalu tersenyum. Hari-hari ini benar melelahkan, tapi merasa seru. Baru kali ini dia merasakan gimana rasanya mempunyai banyak teman, apalagi tadi anak para sahabatnya papahnya pada absurd.
Fisha berjalan masuk ke dalam rumah. Dengan sumringan, dia mengucapkan salam dan di balas oleh uminya.
"Ada apa tuh senyum-senyum," ucap umi Aisha saat anaknya mencium punggung tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Rita Riau
dunia baru Fisha moga dgn ini Fisha semakin jauh dari Xaviel,,,
dan bentar lagi si Xaviel bakal nyesel,,,
2023-12-24
0
Happyy
😚😚
2023-12-22
0
Pujiastuti
Nafisha lagi bahagia umi karena habis ketemu sama anak² temannya apah yang bisa buat Fisha bahagia
lanjut kak upnya 💪💪💪
2023-07-07
0