Fisha menghela nafas saat siswi lain mengambil tempat yang seharusnya dia pakai, akhirnya dia duduk di kursi paling belakang.
Saat selesai kelas. Fisha menahan Alya di pintu kelas, dia menarik tangan gadis itu sampai halaman belakang kampus.
"Lepasin, apa-apaan sih," ketus Alya.
"Kamu kan yang sering kerjain aku?" tanya Fisha. "Aku salah apasih sama kamu, Alya?"
"Lo nanya?" tanya Alya balik. "Gue benci sama lo karena dekat sama Xaviel, apa lo gak tau? Xaviel itu jodoh gue, dulu pas waktu kami masih kecil kami di jodohkan. Mommy Xaviel dan bunda gue udah sepakat saat dewasa kami akan bersama," jelas Alya.
"Jodoh di tangan Allah, bukan di tangan manusia. Seberusaha apapun seseorang menjodohkan seseorang kalau bukan Allah yang ngatur itu tidak akan mungkin," balas Fisha.
Alya berdecak sebal. "Serah," ucap Alya pergi dari sana.
Fisha pun ikut meninggalkan tempat itu untuk pulang. Hari sudah sore, menunggu di alte bus sangat sepi, apalagi hujan datang membuat gadis yang sudah berumur 23 Tahun merasa takut.
Dia terus menghela nafas. "Jangan takut, takutlah sama Allah," gumamnya menenangkan dirinya sendiri.
Fisha duduk di kursi, lalu membuka ponselnya, kalau bus gak datang dia akan memesan taksi. Dia terkejut saat membuka sosmednya dan menemukan rumor tentang sahabatnya.
Fisha mengerut bingung. Di artikel tersebut tertulis, bahwa Xaviel sedang menjalani hubungan dengan seseorang wanita cantik. Namun orang itu belum di ketahui yang jelas orang itu berasal dari indonesia bukan dari Amerika, dan Xaviel Abyan Maheswara sedang berhubungan jarak jauh dengan kekasihnya itu.
"Inikan Rumor, orang-orang kok pada bikin hoax kaya gini. Gak takut apa? Perdiksi perdiksi," ketusnya.
Beberapa saat kemudian bus datang, dia pun menaikinya.
Walaupun dia mencoba untuk berpikir positif. Namun tentang rumor itu terus berlayang-layang di pikirannya, ingin rasanya dia menghubungi Xaviel menanyakan langsung dengan sahabatnya itu. Bukan gimana-gimana, tapi dia tau Xaviel bukanlah lelaki yang mengikari janji, dia sudah lama menunggu lelaki itu kembali untuk menepati janjinya.
"Apakah janji itu serius ya? Atau hanya sekedar penenang? Apa cuma aku yang menganggapnya serius sedangkan dia gak?" tanyanya ke diri sendiri. "Kalau rumor itu terbukti benar, siapa kekasih Xaviel?"
Pikiran gadis itu sudah melayang kemana-mana, menebak-nebak suatu yang belum pasti.
Dia tersadar saat bus berhenti, dia pun turun dari bus dan berjalan ke arah rumahnya.
"Kak Fisha," panggil seseorang membuat Fisha menoleh.
"Vieara," ucap Fisha tersenyum dalam cadarnya melihat adik dari sahabatnya.
"Ngapain di jalan ini?" tanya Fisha karena memang rumah mereka tak searah.
"Mau ke rumah kak Fisha, ini buku Ataar aku pake tadi terus dia lupa ambil, dan marah gitu aja, dan pergi deh," jelas Vieara ikut berjalan bersama Fisha.
"Kamu gak takut pergi sendiri, apalagi naik bus. Supir yang sering ngantar kamu mana?"
Vieara menggeleng. "Vieara ingin menjadi anak mandiri dan sederhana, kak Fisha, seperti kak Fisha," jawab Vieara.
"Iya tapi hati-hati loh, musuh atau Rival om Revandra'kan banyak, jangan sampai mereka tau dan melukaimu," ucap Fisha.
"Cuma sekali ini kok kak, sekalian kakak aja yang beri ini ke Ataar," balas Vieara memberikan buku lelaki itu.
"Ikut masuk dulu, hujan ini takut terjadi apa-apakan, nanti kamu telfon supir kamu pas di rumah aja," imbuh Fisha menarik tangan Vieara.
Vieara mau tak mau harus ikut masuk, padahal dia tak ingin bertemu dengan Ataar cowok galak dan dingin yang pernah dia temui.
Vieara dan Fisha menaroh payung di luar rumah dan berjalan masuk.
"Asslamualaikum," ucap mereka bersama.
"Walaikumsslam," ucap orang yang ada di dalam rumah.
"Lihat umi, ada Vieara," ucap Fisha membuat wanita paruh baya itu tersenyum dan menerima uluran tangan Vieara yang ingin menyaliminya.
"Ataar mana umi?" tanya Fisha.
"Di kamarnya, dia juga baru pulang," jawab umi Aisha lalu berlalu kedapur untuk menyiapkan cemilan untuk Vieara.
"Ara, kamu tunggu di sini dulu ya? Aku panggilin Ataar," ucap Fisha membuat gadis berusia 18 tahun itu mengangguk.
Fisha pun menaiki anak tangga untuk menuju kamar sang adik.
"Ataar," panggil Fisha membuka kenop pintu. Dia tidak mendapati adiknya di dalam kamar. "Ataar," teriak Fisha. Tiba-tiba pintu kamar mandi kebuka terlihatlah Ataar.
"Kenapa sih kak, teriak-teriak," ketus Ataar mengiringkan rambutnya.
"Setelah berpakaian kamu turun, ada Vieara di bawah," ucap Fisha.
"Ngapain dia ke sini? Terus gunanya apa gue turun?" tanya Ataar.
"Turun aja Ataar, kasian anak orang bawain buku kamu, hujan-hujan ke sini. Turun dan ajak dia bicara jangan ketus-ketus, sekalian kalau hujan dah redah kamu antar dia pulang,"tutur Fisha keluar dari kamar Ataar.
Ataar hanya memutar bola matanya jengah. Setelah selesai memakai pakaian, dia pun turun.
Dia melihat gadis mungil duduk di sofa sambil menyeruput teh hangat yang di ambilkan sang umi.
"Ngapain lo kesini? Gue bilang kembaliin besok aja!" ketus Ataar membuat gadis itu menaikan pandangannya.
"Gak suka nyimpan barang orang terlalu lama," ucap Vieara.
"Mana!"
Vieara mengeluarkan buku Ataar dalam tasnya lalu memberikannya ke arah lelaki itu.
"Ataar, gak usah galak-galak bisa gak sih?" tanya Vieara memberikan buku itu.
Ataar hanya diam dan membuka bukunya.
Umi datang dan ikut bergabung duduk. "Gimana kabarnya Ara, baik?" tanya Umi Aisha pada gadis depannya.
Gadis itu mengangguk. "Baik umi," jawab Vieara, dia memang memanggil Aisha dengan sebutan umi karena dulu dia sering di ajak main oleh sang abang untuk kerumah Fisha.
"Mommy sama daddy kamu?"
"Baik juga," jawab Vieara.
Umi Aisha manggut-manggut dan tersenyum memandang Vieara.
"Ataar setelah hujan redah kamu antar Ara pulang ya," perintah Aisha.
"Kok Ataar? Dia bisa pulang sendiri, di suruh jemput supir rumahnya," protes Ataar.
Gadis itu mendengus kesal. "Supir aku lagi ke bendara jemput abang El," sahut Vieara.
"Apa? Xaviel udah pulang?" tanya Fisha yang baru saja datang.
Vieara mengangguk. "Dia sudah selesai dan daddy sudah menyuruhnya pulang untuk memimpin perusahaan milik daddy yang ada di sini," ucap Vieara.
Fisha tersenyum di balik cadarnya, akhirnya lelaki yang dia tunggu-tunggu akan kembali.
Ataar menatap kakaknya yang kelihatan bahagia. Dia sangat tau bagaimana kakaknya itu menunggu kepulangan Xaviel, tiap malam kakaknya itu menulis di buku hariannya tentang Xaviel.
"Tapi belum ada berita loh?"
Vieara menggeleng. "Kepulangan abang di rahasiakan, kak Fisha. Dia tidak ingin tersorot di media sosial hanya hal sepele kaya gini," jawab Vieara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Rita Riau
semoga Xaviel menepati janjinya sama Fisha,,,
2023-12-24
0
Happyy
😉😉
2023-12-22
0
Pujiastuti
apakah Xaviel lupa akan janjinya sama Fisha 🤔🤔🤔🤔
2023-07-02
0