Fisha menceritakan semua pertemuan mereka di cafe tadi. Dia benar-benar senang bertemu dengan anak para sahabat papahnya.
Umi Aisha geleng-geleng. "Ternyata sifat mereka gak beda jauh dengan sifat ayah masing-masing," ucap Aisha.
"Lain kali undang mereka makan malam di sini umi, beri tau papah," pinta Fisha membuat uminya mengangguk.
"Nanti umi beri tau apahmu," jawab Aisha sehingga anaknya sumringan.
Fisha menyium pipi uminya yang ketutup cadar.
"Ciee, aku gak di ajak," sahut Ataar yang baru saja datang. Lelaki itu langsung tidur di pangkuan uminya. "Lain kali ajak kau juga kak."
Fisha mengangguk. Dia beranjak bangun dan mengambil tas ranselnya lalu berjalan ke dalam kamar.
Fisha tersenyum dan langsung merebahkan badannya di kasurnya.
Dia mengambil ponselnya karena terus berdering sedari tadi. Dia membulat dan langsung tertawa, ternyata Tofik memasukannya di sebuah grup.
"Astaga." Fisha tertawa kecil, melihat isi chat mereka yang pada random. Kerjaanya pada berantem, tapi lucu bagi Fisha. "Mereka ada-ada aja," gumamnya.
Saat sedang asik membaca setiap pesan mereka, tiba-tiba notif masuk dari Xaviel. Fisha tak ingin melihatnya, tapi pesannya tak sengaja ke pencet.
Fisha bingung mau menjawab apa, akhirnya dia hanya membalas menggunakan stiker random yang dia dapat dari chatnya bersama Kainal. Lelaki itu kalau mengechat selalu menggunakan chat random membuat Fisha biasa tertawa dan tertarik untuk menambahkannya ke favorit.
"Di saat seperti ini aja, kamu lebih mempercayai Alya dari pada aku, El. Padahal jelas-jelas kamu sudah mengenalku lama, tapi entah. kamu sudah terlalu di butakan oleh cinta, hingga tak bisa melihat kebusukan Alya. Semoga aja suatu saat nanti kamu tidak salah langkah," gumam Fisha. "Bukan aku yang menghancurkan persahabatan kita, melainkan kamu sendiri yang melakukannya. Kalau saat itu kamu tidak memberikan ku janji palsu, dan tidak menyembunyikan hubunganmu dengan Alya, mungkin saja hubungan kita masih berjalan mulus seperti dahulu, tapi gimana? Seluru kebohonganmu membuatku sakit hati, El. Terlalu banyak kebohongan yang kau perbuat sehingga sulit bagiku untuk memaaafkannya," lirih Fisha kembali menulis di buku hariannya.
Dia membuka kerudungnya dan cadarnya lalu memasuki kamar mandi. Dia akan melaksanakan sholat magrib.
Healing terbaik saat merasakan kesedihan adalah curhat di bawah sejadah, mengeluarkan keluh kesan kepada yang maha esa. Hati akan lebih tenang, di saat kita telah melakukannya.
"Readers gak usah, kasihani aku ya? Aku orang kuat, sebagai pemeran utama wanita, aku berusaha kuat demi kalian. Author sih jahat, buat aku menderita makanya aku kaya gini," keluh Fisha. "Gak deh, authorkan baik hati. Jangan sampai dia membuatku lebih tersiksa nantinya," lanjut Fisha cemberut.
Dia melipat sejadahnya, dan turun untuk membantu uminya menyiapkan makan malam.
Fisha sudah melihat uminya di dapur sedang memasang. Dia mendekati uminya dan membantunya untuk mengangkatnya ke meja makan.
"Anak umi memang. Masya-Allah," puji Aisha pada putrinya.
"Umi, kok nyiapin makan malam banyak banget?" tanya Fisha.
"Keluarga Kainal dan dirinya akan kemari," jawab Aisha.
"Kok Fisha gak tau sih?" tanya Fisha, gadis itu mencuci tangannya dan berlari menaiki kamar, untuk memakai kerudung dan cadarnya. Takut secara tiba-tiba mereka datang.
"Makanya setiap keluar kamar pake kerudung dan cadar, walaupun di rumah cuma ada umi, papah dan adikmu. Berjaga-jaga nantinya ada tamu yang datang secara tiba-tiba gimana?"
Fisha mengangguk. "Iya umi," ucap Fisha.
"Fisha, Xaviel selama pulang dari Amerika kok udah jarang mampir ke rumah ya?"
Fisha terdiam mendengar ucapan uminya. Kenapa malah bahas lelaki itu sih?
"Dia sibuk, sekarangkan dia sudah bekerja di perusahaan daddynya, pasti kurang waktu. Lagian aku siapanya yang selalu di hampiri," sungut Fisha mengangkat piring ke meja makan dan menyusungnya.
Tiba-tiba bel berbunyi.
"Biar umi aja, kamu lanjut aja," ucap umi Aisha membuat gadis itu menurut saja.
Beberapa saat kemudian, uminya kembali masuk bersama dengan keluarga Kainal.
Fisha tersenyum dan bersikap sopan ke arah mereka.
"Altar belun datang, bu ketua?" tanya ayahnya Kainal yang tak lain adalah Vier.
"Apasih Vier, panggil Aisha aja," tegur Aisha pada mantan anggota geng motor suaminya.
Vier tertawa dan mengangguk. "Aku lupa," jawabnya. "Fisha rajin banget," pujinya melihat Fisha menyajikan makanan.
Fisha hanya tersenyum ke arah Vier.
"Gimana kabarnya kak Aisha?" tanya bundanya Kainal menyahut.
Aisha menoleh dan tersenyum. "Baikloh, udah di bilang dari dulu jangan panggil kakak! Kitakan seumuran," ketus Aisha memukul pelan wanita paruh baya yang berpakaian sama dengannya.
Altar sudah datang. Mereka ngobrol dulu sebentar, lalu menyantap makan malam
Fisha tidak makan, dia memandang ke arah kamar adiknya.
"Fisha kamu mau kemana?" tanya Altar melihat anaknya ingin pergi.
"Panggil Ataar, dia juga pasti belum makan," jawabnya berlalu pergi.
Altar memandang kepergian putrinya, dia menghentakan sendong yang dia pegang membuat Aisha menatap suaminya bingung.
"Kenapa kak? " tanya Aisha menatap suaminya khawatir.
Altar menoleh lalu menggeleng. "gak papa, ayo lanjut makan aja."
Fisha datang bersama adiknya Ataar. Mereka duduk bersama.
Ataar memandang sekilas ke arah papahnya dan duduk di kursi samping kakaknya.
"Ataar, ganteng ya," puji bundanya Kainal membuat lelaki itu tersenyum canggung.
Mereka pun makan malam bersama dengan nyaman tanpa ribut. Namun, beda dengan Ataar yang tidak merasa nyaman.
Saat semua orang mengumpul di ruang tamu, sedang berbincang-bincang. Lelaki itu malah pergi ke kamar, karena papahnya yang mengode dan menyuruhnya pergi, padahal dia juga ingin kenalan dengan Kainal ataupun keluarganya, dia juga ingin seperti Fisha yang selalu di sayang di beri apapun yang dia mau. Dia iri kepada kakaknya, tapi tidak sedikitpun dia menaroh dendam kepada Fisha.
"Kenapa? Kenapa papah memandingkan jauh antara aku dan kakak? Apa aku bukan anaknya? Apa aku berbuat salah? Kenapa aku di perlakukan berbeda?" tanya Ataar mengacak rambutnya furstasi, dia merosotokan badanya di balik pintu kamar. "Kapan aku seberuntung kakak? Aku lahir di dunia hanya untuk menjadi obat penyembuh capek papah ya? Makanya setiap dia capek, pasti akan memukul ku?"
Anak itu beranjak berdiri, dan memasuki kamar mandi. Dia menyalahkan shower, dan turun di bathub. Dia memejamkan matanya, air yang keluar dari shower membuat air matanya tak terlihat.
"Aku capek ya Allah," lirihnya dalam hati. "Fisik dan mentalku gak sekuat itu, aku juga cuma manusia biasa. Kenapa gak sekalian engkau ambil saja nyawaku? Ini sangat sakit. Kak Fisha, apa aku boleh menyerah? Aku benar-benar capek," lanjutnya. Sesak napasnya mulai kambuh, dia memperkuat pejaman matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
kalea rizuky
kok jahat sialtar
2024-04-17
0
Enung Samsiah
kenapa altar jhat sm anaknya ayah macam apa nggk punya hati
2024-01-21
1
Siti Yuliatin
apa alasan apah pilih kasih antara fisha dan atar thor....,🤔
2024-01-17
0