Fisha yang memegang gelas jusnya langsung menjatuhkannya di saat mendengar ucapan Xaviel.
Bagai di tusuk berbagai macam beling, hati Fisha sangat sesak, bahkan tenggorokannya terasa tercekek. Dia cepat mengejapkan matanya yang hampir mengeluarkan tetesan air mata.
"Kenapa Fisha?" tanya Xaviel menjauhkan kursi Fisha dari pecahan gelas itu.
"Eh, maaf," ucap Fisha dengan pelayan cafe. Pelayan itu mengangguk dan membersihkannya.
Sesak yang di rasakan Fisha saat ini. "A-pa maksud kamu El?" tanya Fisha.
"Kenapa?" tanya Xaviel. "Kamu gak suka aku berhubungan dengan Alya?"
Fisha terdiam, lalu menggeleng. "Gak kok, aku kaget aja. Kamu dan diakan gak pernah akur, tapi malah menjalani hubungan," ucap Fisha tersenyum kecut.
Xaviel tersenyum lalu mengangguk. "Mungkin benar kata orang, bisa musuh menjadi cinta bukan?"
Fisha mengangguk pelan. "Apa kamu lupa sesuatu?" tanya Fisha membuat Xaviel bingung.
"Lupa apa?" tanya Xaviel.
Fisha cepat-cepat menggeleng, dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Gimana Fisha apa kamu mau bantu aku membuatkannya kejutan?"
"Nanti aku pikiran ya El, kalau gitu aku bisa pulang sekarang?"
"Kok buru-buru banget?"
"Aku baru ingat, aku ingin membantu umi buat kue, dia banyak pesanan," jawab Fisha berdusta.
"Mau aku antar pulang?" tanya Xaviel manawarkan.
"Gak usah El," tolak Fisha. "Aku pergi ya." Fisha melambaikan tangannya dan buru-buru pergi dari sana.
Xaviel manatap kepergian Fisha. "Dia kenapa? Raut wajahnya begitu pucat, apa Fisha sakit?"
Fisha berjalan dengan tangan yang bergetar. Tidak menyangka apa yang di katakan Xaviel, ternyata lelaki itu telah membohongi dirinya. Yang lebih mengejutkannya, dia berhubungan dengan gadis yang selalu membullynya di kampus.
Fisha menghela nafas dalam-dalam, air matanya menitih turun. Namun, cepat-cepat dia menghapusnya dan menaiki taksi.
Sesampainya di rumah, mengucapkan salam dan langsung berlari menaiki kamar.
"Dia kenapa?" tanya umi Aisha melihat putrinya buru-buru menaiki kamar.
Fisha dengan tangan masih bergetar mengunci pintu kamarnya, dia merosotkan badannya ke lantai.
"Hahha, janji adalah kata penenang. Tidak ada kata janji yang akan di tepati. Kamu jahat Xaviel," ucap Fisha melap air matanya. "Aku benci kamu, kamu cuma bermain, dan kenapa aku harus menganggapnya serius? Kita hanya sebatas sahabat kenapa aku harus menaroh hati yang dalam? Di sini aku yang bodoh, menunggu mu pulang! Kalau tau seperti ini, aku menerima saja perjodohan waktu itu bersama Kainal, demi kamu aku menolak permintaan umi dan papah," lirihnya. Dia beranjak bangun dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wuduh, melaksanakan sholat adzar.
Gadis itu menangis di bawah sejada dengan sesengukan. Mengadu pada yang maha kuasa.
"Ya Allah, hamba ada salah? Hamba menjaga hati demi seseorang sedangkan seseorang itu berhubungan zina dengan wanita lain, aku sakit hati ya Allah," ucap Fisha. "Maaf, maafin hambamu. Hamba hanyalah manusia biasa yang bisa sakit hati dengan perbuatannya, maaf hamba terlalu memikirkan lelaki yang bukan muhrimku, sekarang dan seterusnya hamba berjanji, hamba hanya mempercayaimu dan mencintaimu saja. Aku yang salah ya Allah, aku yang terlalu berharap dan menganggapnya serius, jadi tolong jangan beri dia hukuman atas aduanku kepadamu. Aku hanya kecewa ternyata penungguanku seperti ini endingnya," lanjutnya.
Usai sholat gadis itu memandang wajahnya di cermin, matanya yang bengkak karena menangis. Dia menghela nafas panjang dan menoleh mengambil ponselnya, melihat Xaviel menelfon.
Dia merijet telfonnya. Dan lebih memilih mengirimkan pesan saja.
...Xaviel...
💬"Fisha apa jadi?"
💬"Kenapa di rijet?"
^^^💬"Maaf, aku gak bisa El. Jadwalku padat banget. Maaf banget ya?"^^^
💬"Apa kamu baik-baik aja, Fisha?"
^^^💬"iya, ok."^^^
"Maaf El," gumam Fisha menaroh ponselnya kembali.
Ketukan pintu membuatnya langsung berdiri.
"Fisha," panggil uminya dari luar.
"Iya umi, Fisha akan turun," teriak Fisha mengolesi bedak ke kelopat matanya dan memakai cadar.
Fisha turun dan mendekati uminya.
"Iya umi?"
"Kamu kenapa sayang?" tanya Aisha.
Fisha menggeleng. "Fisha gak papa umi," jawab Fisha. "Umi maaf,"batinnya.
Fisha tidur di pangkuan uminya, tiba-tiba air matanya jatuh.
Aisha yang merasakan gamisnya basah langsung medongak kebawah.
"Ada apa sayang?" tanya Aisha. "Kamu kok nangis? Ada apa? Apa ada yang menganggu putriku lagi di kampusnya? Apa umi harus memberi tahu ke apahmu agar orang-orang yang menganggumu bisa mendapatkan pelajaran?"
Fisha menggeleng. "Gak usah umi, ini bukan tentang orang-orang yang sering memaki Fisha kok, Fisha udah kebal sama itu semua. Ini hanya faktor capek aja," dusta Fisha.
Aisha tidak gampang di bohongi oleh anaknya. Namun, dia juga tak ingin memaksa anaknya berkata jujur.
Fisha tertidur di pangkuan uminya. Dia kira hari ini hari kebahagiaannya karena Xaviel telah kembali. Namun, ternyata ini hari, hari di mana dia tidak akan mempercayai seseorang lagi.
**************
Xaviel mondar-mandir di dalam kamarnya, kenapa Fisha menjadi berubah?
"Fisha kenapa ya?" tanya pada dirinya sendiri.
Dia menoleh, karena ada yang mengetuk pintu. Dia pun langsung membuka pintunya.
"Abang El," ucap Vieara.
"Kenapa hem?" tanya Xaviel.
"Di luar ada kak Alya," jawab Vieara lalu pergi.
Xaviel tersenyum dan menutup pintu kamarnya dulu, untuk bersiap-siap.
Gracel tersenyum kepada Alya.
"Kamu makin cantik aja, Alya," puji mommy Gracel pada gadis itu.
"Makasih tante," ucap Alya.
Alya tersentak saat ada yang memeluknya dari belakang. Bahkan Gracel membulatkan matanya melihat perlakuan sang putra.
"Ka-lian?"
Mereka mengangguk. Gracel tersenyum mengembang, sebenarnya dia tidak mendukung siapapun yang menjadi pendamping anaknya. Maupun itu Fisha atau Alya dia hanya ingin anaknya yang memilih sendiri.
Alya mencubit pinggang Xaviel untuk mengurangi pelukannya karena malu di tatap oleh camer.
Xaviel melepaskan pelukannya. "Aku kangen banget tau," bisik Xaviel membuat Alya salah tingkah.
"Udah deh, Mommy gak mau jadi nyamuk," timpal mommy Gracel meninggalkan ruang tamu.
Xaviel menatap Alya dengan tersenyum begitupun dengan Alya.
"Aku kira kamu akan melupakan janji mu, El," sahut Alya.
"Mana bisa aku melupakannya? Bukannya kita sudah mengikat hubungan saat aku berangkat ke Amerika, bahkan kita bertahan menjalani hubungan jarak jauh. Apa kamu tersiksa? Aku sih ya," jelas lelaki itu.
"Aku gak!"
"Owh ya? Jadi kamu gak bosan gitu, kita komunikasi lewat telfon aja?"
Alya tersenyum. "Aku lebih tersiksa El," ucapnya memeluk Xaviel.
Xaviel pun membalas pelukannya.
Vieara yang melihat dari atas langsung menghela nafas. "Abang kok jahat banget? Memberi janji kepada dua wanita, tapi yang di tepati hanya kak Alya. Gimana dengan kak Fisha? Aku tau dia pasti paling bersabar menunggu abang El pulang, bahkan waktu itu dia menentang perjodohannya demi abang. Ara berharap abang bisa sadar, apa yang di lakukan itu salah," gumam Vieara tidak habis pikir dengan jalan pikiran abangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Enung Samsiah
dasarrr buaya darattt bikin darting yg baca,,,,
2024-01-21
0
Rita Riau
nyesek bgt dgn Fisha ,,, sumpah demi apapun,,, air mata mu terlalu mahal untuk lelaki kayak Xaviel,,,
semangat Fisha 💪💪💪💪
2023-12-24
0
Happyy
😰😰
2023-12-22
0