"Karena ini sudah malam, jadinya mari kita tidur bersama. Gara gara mengerjakan tugas sekolah itu, kita jadi begadang kan. Mari tidur." Ucap Clara yang sudah mandi dari tadi, saat Alina belum datang.
Dan Clara pun langsung berbaring disebelah kiri, dan Alina berbaring disebelah kanannya. "Ouh ya Clara. Setelah kita lulus, kau mau menyambung ke mana?." Tanya Alina sambil menatap langit langit rumah.
"Ehm, aku ingin kuliah di tempat yang mahal dan elit tentunya. Karena aku tidak ingin malu di sana nanti. Karena di sekolah ini aku sudah malu, dan aku sangat benci dengan orang yang menyebarkan video itu. Padahal itu tidak benar kau tahu." Jawab Clara sedikit tegas.
Alina kembali duduk dan memegang kedua tangan Clara. "Aku tahu kalau kau tidak melakukan hal semacam itu. Aku mempercayaimu Clara." Menenangkan Clara, sesuai aktingnya.
Clara pun kembali duduk juga, dan langsung memeluk Alina. "Terima kasih banyak Felisa. Kaulah sahabat terbaikku." Bahagia Clara, sampai mengeluarkan air matanya.
"Sudahlah, jangan menangis. Kalau begitu, mending kita tidur sekarang. Karena ini sudah malam, yuk." Merekapun berbaring kembali, dan menyelimuti dirinya masing masing.
"Selamat tidur Felisa," ucap Clara.
"Selamat tidur juga Clara cantik," ucap Alina juga, langsung berpura pura menutup kedua matanya, dan membelakangi Clara.
Tengah malam pun tiba. Dimana Alina bangun, dan dari tadi ia benar benar tidur pura pura. Alina pun duduk dengan hati hati, dan menatap wajah Clara.
Alina mengayunkan tangannya diwajah Clara, dan Clara benar benar tidur. "Dia sudah tidur lelap. Ini saatnya aku beraksi." Ucap batin Alina turun dari tempat tidur dengan sangat hati hati, agar Clara tidak bangun.
Alina pun berhasil turun dari tempat tidur, dan tiba tiba saja
"Ehm," ucap Clara terlentang, dan Alina langsung jongkok, dan menutupi mulutnya, agar tidak mengeluarkan suara.
Alina pun kembali mengintip, dan Clara masih tidur. "Fyuh, ternyata dia hanya mengigo saja. Aku harus cepat keluar dari kamar ini, dan mengambil hak warisan rumah ini, yang ada di kamar pribadi Estiana dan Wilson." Ucap batinnya kembali, langsung keluar dari kamar Clara dengan mengendap endap.
Dan saat Alina keluar. Ia melihat sekitarnya, dan ternyata semua aman dan sepi. Alina yang sudah tahu di mana letak kamar pribadi Wilson dan Estiana. Langsung bergegas menuju kamar mereka berdua.
Sesampainya, ia menguping di dalam, untuk mengecek situasi. Apa memang benar benar sudah tidur, atau masih mengobrol. Dan tidak ada suara apapun. Alina pun membuka pintu kamar tersebut, dengan sangat hati hati, dan ia kembali mengecek situasi di dalam.
Dan ternyata mereka sudah tidur. Alina pun langsung masuk ke dalam, dengan mengendap endap kembali, dan menghampiri mereka berdua. Alina mengecek mereka berdua, apa memang sudah tidur, atau baru tidur. Dan mereka sudah benar benar tidur, dan bahkan Wilson dan Estiana sampai mendengkur.
Alina pun tersenyum, dan langsung membuka lemari pakaian tersebut. Alina mencari keberadaan hak rumah tersebut, disela sela pakaian dan di beberapa tempat.
Sampai pada akhirnya, Alina menemukannya di bagian kotak hitam, dan Alina membuka kotak misterius tersebut. Benar saja, didalam ada hak rumah tersebut.
Alina pun langsung mengambilnya, dan ia mengeluarkan kertas palsu yang sudah ia siapkan untuk berjaga jaga. Alina pun meletakkan kertas kosong tersebut, ke dalam kotak hitam tersebut.
Setelah itu, Alina memegang surat hak rumah aslinya. Dan ia kembali meletakkan kotak tersebut ke tempat semulanya. Dan Alina menutup lemarinya, dan kembali ke luar, dengan mengendap endap.
Dan saat di luar kamar. Alina sangat bahagia, dan tiba tiba saja ada yang menariknya ke sisi lainnya. Dan menutupi mulutnya.
Sontak Alina kaget dan langsung menatap wajah seseorang tersebut. Ia adalah ibunya sendiri.
Ibunya memperagakan tangan, yang memperagakan," siapa kamu, dan kenapa keluar dari kamar mereka." Bahasa isyarat ibunya.
Alina pun menahan air matanya," ini aku bu, Alina yang dulunya gendut. Sekarang aku sudah menjadi wanita yang kurus. Kan sudah aku katakan bu, kalau Alina akan berubah, dan akan balas dendam demi kita bu." Jawab Alina langsung memeluk ibunya.
Dan ibunya langsung melepaskan pelukan tersebut, dan meraba wajah Alina. "Ini memang benar benar aku bu. Aku masuk ke kamar mereka tadi, karena aku mau mengambil ini bu." Menunjukkannya kepada Ibunya.
Ibunya pun melihat apa yang ditunjukkan oleh Alina. Dan ibunya kembali memberi tangan isyarat," kamu benar benar anak yang sangat menyayangi ibu. Kalau begitu, kamu cepatlah masuk ke kamar. Dan jangan sampai ada yang melihat kita. Cepat sana," ucap ibunya.
Alina mengangguk dan meneteskan air matanya. "Aku akan mengeluarkan mereka semua dari rumah kita ini bu. Dan aku akan mengembalikan suara ibu kembali. Ibu tenang saja." Menangis Alina dan langsung kembali ke kamar Clara dengan mengendap endap.
Alina pun berdiri di depan kamar Clara, untuk mengusap air matanya. Setelah itu, Alina pun langsung masuk ke dalam kamar Clara dan ia memasukkan surat hak rumah tersebut, ke dalam tasnya dan kembali berbaring, dan tidur.
Keesokan paginya. Dimana mereka semua sedang sarapan bersama. "Tumben banget kamu mau tidur di rumah Clara nak. Maaf kalau rumahnya tidak sebesar rumah kamu, karena kamu kan anak orang kaya, dari Dubai. Sudah pasti rumahnya lebih besar dari ini kan." Ucap Estiana sambil mengunyah makanannya.
"Hahahah, tidak seperti itu kok tante. Malah saya sangat bahagia, karena bisa tidur bersama dengan sahabat saya. Dan saya sangat tidur dengan nyenyak di rumah ini." Tertawa tipis Alina, sambil mengunyah makanannya juga.
"Dulu aku tidak pernah merasakan duduk dikursi ini. Baru kali ini aku merasakan duduk bersama iblis berkedok manusia ini." Ucap batin Alina sambil melirik mereka semua.
Selesai makan. Alina langsung berpamitan untuk pergi ke sekolah, bersama Clara. "Kami pergi dulu ayah dan ibu." Berpamitan Clara sambil melambaikan tangannya.
"Aku juga pergi dulu ya tante dan paman." Ikut melambaikan tangannya, dan Clara masuk ke dalam mobil Alina.
Merekapun langsung berangkat menuju sekolah. Sesampainya, Alina dan Clara langsung keluar dari mobil. Dan pada saat Alina dan Clara belum masuk ke dalam sekolah. Clara sudah dibully habis habisan oleh teman temannya. Dan Clara hanya bisa mengadu dengan Alina.
Jam istirahat pun tiba. Dimana seperti biasanya, Clara dan Alina makan bersama.
“Oh ya Clara. Aku mau tanya, siapa wanita yang di rumah mu itu. Yang pembantu itu. Tidak pernah kelihatan soalnya?.” Tanya Alina, sambil mengunyah makanannya.
“Ouh, wanita itu. Dia adalah ibu dari kakakku yang gendut itu dong. Aku dan keluarga tiriku menyiksanya habis habisan. Oh ya, jangan katakan hal ini kepada siapapun ya.” Jawab Clara.
“Aman, aku bukan wanita yang Jabir. Kan aku juga sahabatmu sekarang. Mana mungkin aku menceritakannya ke lain orang.” Ucap Alina sambil tersenyum.
Alina sudah merekam perekam suara. Agar ia bisa mengetahui jawaban dari Clara, dan ia bisa menyimpan suara yang dikatakan oleh Clara tersebut.
Clara pun mulai menceritakan kalau ia menyiksa ibu Alina, karena mereka sangat membencinya, dan ingin mengambil semua hak milik keluarganya.
“Bagus banget kamu. Keluarkan semua cerita itu.” Ucap batin Alina tersenyum tipis.
Tiba tiba saja, datanglah gengnya. "Annyeong Felisa sayang." Sapa mereka semua langsung duduk didekat Felisa, dan menjauhi Clara.
"Eh, kalian. Kenapa lama banget?." Tanya Alina langsung memeluk mereka satu per satu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments