"Kau lihat saja Clara. Aku akan membuat semua orang yang ada di kelas ini membencimu, persis seperti kau merendahkanku dulu. Kau tidak akan Tenang Clara." Ucap batin Alina tersenyum miring.
Sore pun tiba. Dimana tiba jam pulang, dan Alina bersama gengnya langsung menuju restoran, dengan mobil mereka masing masing.
Sesampai restoran. Merekapun langsung masuk ke dalam, dengan elegan. Di dalam restoran, merekapun duduk dikursi yang menyediakan banyak tempat.
"Dimana yang lainnya?." Tanya Alina sambil meletakkan tasnya.
"Mungkin dia masih ada kegiatan di kelasnya. Paling sebentar lagi akan datang tuh. Kita pesan saja dulu makanan dan minuman di sini." Jawab Gista dan yang lainnya.
"Tentunya dong. Kalau begitu, pelayan," panggil Agnes kepada pelayan, dan pelayan tersebut langsung datang ke meja mereka.
"Iya kak, mau pesan apa. Silahkan dilihat." Menunjukkan menu yang ada di restoran tersebut.
Merekapun langsung melihat menu menu tersebut. Dan setelah mereka memesan makanan dan minuman. Pelayan tersebut kembali ke dapur, untuk membuatkan pesanan mereka semua.
"Oh ya Felisa. Kapan kau akan kembali ke Dubai?." Tanya Celine sambil tersenyum tipis.
"Entahlah, mungkin saja beberapa bulan lagi. Oh ya gays, katanya sekolah juga akan mengadakan pentas seni kan. Wah, itu sungguh hebat dong. Apa saja pentas seni yang diperbolehkan?." Jawab Alina sekaligus bertanya.
"Benar banget itu. Bagaimana kalau kita menampilkan fashion show saja. Dan modalnya itu kau, tentu itu akan sangat bagus bukan. Atau bagaimana dengan drama, kan itu bagus juga." Jawab Celine.
"Biar wali kelas kita saja yang menentukannya bagaimana sih. Aku ikut ikut saja." Ucap Alina sambil menaikkan bahunya.
Clara pun akhirnya datang," halo gays, maaf membuat kalian menunggu lama. Karena tadi ada urusan di sekolah, jadi harus mengurusnya dulu." sahut Clara langsung duduk di kursi kosong.
"Kami sudah biasa denganmu Clara. Kau kan memang orang yang cukup dikenal guru juga di sekolah. Jadi wajar kalau kau sibuk sih." Ucap Agnes yang sudah biasa dengan sikap Clara.
Makanan merekapun akhirnya datang. "Apa kalian tidak memesankan punyaku?." Tanya Clara sambil merapikan rambutnya.
"Kami sudah memesankan untukmu juga. Jadi kau tenang saja." Jawab Gista.
"Ini makanan dan minumannya kak," meletakkan pesanan mereka semua di atas meja.
"Terima kasih banyak," ucap mereka bersamaan.
"Sama sama kak, saya permisi"
Alina pun mengambil bagiannya, dan meminum lemon tea. "Mari kita makan dulu. Baru kita mengobrol lagi." Kata Alina dan semua mengikuti ucapannya. Merekapun langsung makan bersama sama, dengan pesanan mereka masing masing.
Setelah beberapa menit. Mereka semua sudah menghabiskan makanan dan minuman mereka masing masing. "Kenyang juga nih. Setelah ini kita mau ke mana nih?." Tanya Clara, sambil membersihkan mulutnya dengan tisu yang ada.
"Bagaimana kalau kita shopping. Sudah lama aku tidak berbelanja dengan kalian." Jawab Agnes.
"Maaf banget ya gays, aku gak bisa ikut dengan kalian. Karena aku ada urusan mendadak. Biasalah." Ucap Alina sambil tersenyum tipis.
"Yah, Felisa gak bisa. Kalau Felisa gak bisa, aku gak ikut deh gays. Karena kalau gak ada Felisa gak enak hawanya. Hahahah." Ujar Gista.
"Benar juga yang kau katakan itu Gista. Aku gak ikut juga deh, lain kali aja. Kalau Felisa lagi bisa. Yakan." Ikut Agnes juga menolaknya, juga dengan Celine.
"Kenapa semua jadi berada dipihak Felisa. Aku jadi tersingkirkan makin lama. Aku tidak bisa biarkan ini semua." Ucap batin Clara sedikit kesal, karena semua berpihak kepada Alina.
"Kalau begitu, aku pulang duluan deh. Kalau kalian mau pulang juga, yuklah." Ajak Alina langsung membayar makanan dan minuman yang sudah ia pesan, dan setelah itu ia langsung keluar dari restoran tersebut.
Mereka semua pun ikut seperti Alina, dan meninggalkan Clara sendirian di dalam restoran tersebut. "Alina tunggu." Panggil Gista menghampirinya, dan semua menghampirinya juga.
Disisi lain. Clara melihat mereka dari dalam restoran. "Kenapa semua jadi tidak mempedulikanku. Dan semua malah peduli dengan Alina. Aku harus lebih dekat dengan Alina, agar aku tidak dicueki seperti ini." Ucap batin Clara juga membayarnya, dan menyusul mereka di luar restoran.
"Felisa," panggil Clara melambaikan tangannya, dan menghampirinya.
Alina menatapnya," iya, ada apa?." Tanyanya, langsung menaikkan alisnya.
"Tidak apa apa, aku hanya mau bilang, hati hatilah di jalan. Karena banyak begal sekarang." Jawab Clara sambil mengelus lehernya.
"Hahahahh, aman itu. Oh ya gays, aku pergi duluan ya. Karena ada urusan yang harus aku selesaikan. Dah." Melambaikan tangannya, dan masuk ke dalam mobil lamborgini tersebut.
"Felisa benar benar kaya ya. Aku ingin terus berteman dengannya." Ucap Celine bahagia.
"Tentu saja, kan kita sudah menjadi satu geng. Dan tentu saja Felisa akan terus bersama kita." Ujar Clara ikut tersenyum, dan mereka masuk ke dalam mobil mereka masing masing.
Di perjalanan. Alina menghubungi bos Gray, dan ia langsung memakai earphone nya.
"Halo Alina, ada apa?" tanya bos Gray langsung.
"Ini bos, aku mau ke lokasi bos ya. Untuk mengambil kamera mini yang aku minta kemarin malam. Bos di rumah kan." Jawab Alina sekaligus bertanya.
"Iya nih, aku lagi di ruangan biasanya. Lagi mengangkat beban nih. Kau datanglah secepatnya." Jawab bos Gray.
"Ok deh bos. Aku langsung ke sana secepatnya." Mematikan ponselnya, dan kembali fokus menyetir.
"Dengan adanya kamera mini itu. Aku bisa mengetahui soal Wilson, dan dengan video itu. Aku bisa menjatuhkan mereka bertiga, dan otomatis. Perusahaan yang bekerjasama dengannya, tidak akan mau bekerjasama, dengan orang yang suka selingkuh. Hahahaha, habislah kamu Wilson." Tertawa Alina, dan tersenyum miring.
Sesampai di lokasi bos Gray. Alina pun langsung keluar dari mobil, dan masuk ke dalam.
"Annyeong bos tampan," sapa Alina sambil tersenyum, dan duduk disampingnya.
Bos Gray menatanya. "Kamera mininya ada di ruangan tempat alat rahasia. Di lantai 2," ucap bos Gray.
"Okey deh bos Gray. Aku pergi mengambilnya dulu deh." Jawab Alina langsung naik ke lantai 2, untuk mengambil kamera mini.
Di lantai 2, Alina pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Dan mengambil kamera mini yang ada di salah satu meja.
"Nah, ini kamera mininya. Sangat bagus, dan kecil. Dengan begini, mereka tidak akan tahu, kalau aku sedang mengawasi mereka." Tersenyum Alina, dan mengambil beberapa kamera mini, lalu ia masukkan ke dalam tasnya.
Setelah itu, Alina pun langsung turun ke bawah, dan menghampiri bos Gray. "Apa sudah kau ambil?." Tanya bos Gray, sedang mengusap keringatnya.
"Aman bos Gray. Terima kasih banyak bos, dengan begini, aku bisa melalukan pembalasan dendamku dengan mudah." Jawab Alina bahagia.
"Kalau begitu,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments