Episode 17: Menginap

Sejak hari itu, Alina benar benar dekat dengan Clara. Dan bahkan Clara menceritakan soal pria yang pernah ia ambil dari Alina.

Di kantin. “Oh ya Clara, aku mau bertanya soal wanita yang aku duduki bangkunya itu. Aku dengar dengar, kalau kau pernah mengambil pria yang ia sukai ya. Apa itu benar?.” Tanya Alina sambil mengangkat alisnya.

“Benar banget. Aku sangat membencinya, dan bahkan aku tidak segan segan untuk mempermalukannya. Aku tidak bisa melihat dia disayang oleh siapapun. Aku ingin dia dibenci. Maka sebab itu, saat sedang istirahat. Aku meletakkan dompetku ke tasnya, dan aku berpura pura merasa kehilangan barang.”

“Lalu aku salahkan deh dia, dan saat diperiksa. Tentu saja dompetku ada di tasnya, dan dia langsung diejeki deh, oleh semua teman teman yang ada di kelas. Dan lagian, dia jelek banget, dan bau lagi. Bikin aku muntah saja.” Jawab Clara dengan jujur.

Clara tidak tahu, kalau Alina sudah merekam suaranya. Dan ponselnya ia letakkan di paha bawahnya, yang tidak akan terlihat oleh Clara.

“Maka sebab itu, aku juga berencana merebut pria yang ia sukai. Tapi, gara gara video itu, aku jadi diputuskan, dan aku direndahkan di sekolah ini. Hanya kaulah satu satunya teman bagiku. Terima kasih banyak Felisa. Kamu memang teman yang sangat baik untukku.” Jawab Clara tanpa curiga sedikitpun, dan malah bahagia bercerita dengan Alina.

Jam pulang pun tiba. Mereka langsung pulang dengan arah yang berbeda. Di rumah Clara. Saat Clara masuk ke dalam rumah, tiba tiba saja ayahnya menghampiri Clara, dan langsung menamparnya.

“Kamu tahu, kenapa ayah menamparmu. Itu semua karena kamu sudah membuat malu aku. Semua perusahaanku hancur, karena kau. Dasar tidak berguna.” Ucap ayahnya langsung menampar Clara kembali.

Clara pun langsung terjatuh, dan mengeluarkan darah dari hidungnya. Dan ia pun menangis kesakitan. Baru kali ini Clara merasakan tamparan dari ayahnya, dan itu baru pertama kalinya.

Estiana pun langsung membantu Clara berdiri. “Kamu jangan menampar anak kamu sendiri sayang. Kamu gak kasihan dengannya.” Ucap Estiana sambil mengelus pundak Clara.

“Kamu ajari anak kamu itu. Beraninya dia membuatku hancur. Gara gara video memalukan itu, semua perusahaan tidak mau bekerjasama denganku. Bagaimana aku tidak marah. Ajari anak murahan kamu ini.” Jawab Wilson sambil melotot.

“Kamu panggil si Lumina itu. Suruh dia siapkan makan malam, dan jangan sampai kelamaan. Aku sudah lelah. Cepat bodoh.” Teriak Wilson sangat marah.

“Mari sayang, ibu antarkan kamu ke kamar dulu.” Ucap Estiana menuntun Clara masuk ke kamarnya.

Setelah masuk ke kamar Clara. Estiana langsung memanggil Lumina, yaitu ibu kandung Alina, yang sudah di keluarkan dari ruang bawah tanah. Tapi tetap di siksa, dengan dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah, tanpa istirahat.

Sudah dari ulang tahun Estiana, ia sudah mengeluarkan Lumina dari ruang bawah tanah. Tapi tetap saja ia menderita, karena ia terus dipukuli dan di siksa hebat.

Malam pun tiba. Dimana Alina sudah membuat janji kepada Clara, untuk mengerjakan tugas di rumah Clara.

“Kau mau kemana Alina?.” Tanya bos Gray.

“Mau melakukan rencanaku dong. Aku pinjam mobilnya dulu bos. Terima kasih.” Jawabnya mengambil kunci mobil milik bos Gray, dan langsung berangkat menuju rumahnya.

Saat di perjalanan. Alina sudah menyiapkan kamera mini, yang diberikan oleh bos Gray, untuk berjaga jaga.

Alina sudah tahu, kalau ibunya sudah di keluarkan dari ruang bawah tanah. Sejak ulang tahun ibu tirinya waktu itu. Di situlah, Alina semakin dendam, dan cepat cepat membalaskan dendamnya secara baik baik saja.

Sesampai rumah. Ia pun langsung mengetuk pintu, dan pintu pun dibukakan oleh Clara.

Dan Alina pun masuk ke dalam rumah. Dan Alina langsung duduk di sofanya.

Clara memanggil ibu kandung Alina, untuk menyiapkan jus. Setelah selesai membuatkan jus. Ibu kandung Alina, langsung meletakkannya di atas meja.

Alina dan ibunya saling bertatapan. “Dia hampir mirip dengan Alina. Siapa dia, dia pasti teman Clara.” Ucap batin ibunya.

Alina menahan air matanya. “Pergi kamu, jangan lama lama di sini. Buat malu saja kamu, sana pembantu.” Usir Clara dengan keras.

Dan ibu Alina bergegas kembali ke dapur. “Maafkan pembantu itu ya Felisa. Dia tidak jauh sama dengan anaknya yang gendut itu.” Ucap Clara yang tidak curiga dengan Alina.

“Tidak apa apa kok. Mari kita lanjut belajarnya.

“Ouh ya Clara. Aku daritadi kebelet buang air kecil. Apa aku bisa ke kamar mandi dulu? .” Tanyanya.

“Boleh banget. Aku akan menunggumu di sini." Jawab Clara, dan Alina mengambil sebuah kamera mininya, dan langsung ke kamar mandi.

"Kenapa Felisa selalu ke kamar mandi ya. Aneh," ucap batin Clara sedikit bingung.

Alina tidak ke kamar mandi. Tapi ke meja pajang, dan langsung menaruh kamera mini tersebut, di sela sela pot bunga.

“Dengan begini, semua akan berjalan dengan baik.” Tersenyum tipis Alina, dan kembali ke ruang tamu.

"Maaf membuatmu menunggu lama. Oh ya Clara, apakah aku boleh menginap di sini. Karena di rumah lagi gak ada siapa siapa. Ayahku sangat sibuk di perusahaannya, dan tidak bisa pulang. Boleh kan, kalau aku menginap semalam saja di sini?." Tanya Alina sambil memohon.

"Wah, boleh banget dong. Malah aku senang kalau kamu menginap di rumah aku. Karena kebetulan ayah dan ibu sedang pergi, dan akan kembali nanti." Jawab Clara dengan bahagia.

Alina menatap wajahnya. "Ada apa dengan wajahmu ini. Kenapa ada bekas tamparan. Kau di tampar?." Tanya Alina pura pura cemas dengannya.

"Heheheheh, gak apa apa kok. Hanya ada nyamuk saja tadi di pipiku, jadinya aku tampar deh. Ternyata tamparannya cukup keras, makanya berbekas deh." Jawab Clara.

"Syukurlah kalau kau baik baik saja. Kalau begitu, mari kita selesaikan tugas sekolah kita yang belum siap." Kembali berakting dengan bahagia, dan Clara ikut bahagia, karena ada Felisa di sampingnya.

Selesai mengerjakan tugas sekolah. Alina dan Clara langsung masuk ke dalam kamar Clara. "Wah, kamarmu benar benar besar ya Clara. Aku sampai kagum melihatnya." Puji Alina sambil duduk di tempat tidur.

"Sebenarnya ini bukan kamarku. Tapi kamar kakakku yang aku bilang gendut itu, dan yang aku tuduh mencuri itu. Aku gak tahu ke mana keberadaan kakak sekarang. Lagian aku tidak peduli dengannya." Jawab Clara kembali menceritakannya secara jujur.

"Aku ada di depanmu sekarang Clara. Inilah aku, Alina." Ucap batin Alina menahan emosinya.

"Karena ini sudah malam, jadinya mari kita tidur bersama. Gara gara mengerjakan tugas sekolah itu, kita jadi begadang kan. Mari tidur." Ucap Clara yang sudah mandi dari tadi, saat Alina belum datang.

Dan Clara pun langsung berbaring disebelah kiri, dan Alina berbaring disebelah kanannya. "Ouh ya Clara

Episodes
1 Episode 1: Awal Mula Kesedihan
2 Episode 2: Bercak Merah
3 Episode 3: Balas Dendam Dimulai
4 Episode 4: Diusir Dari Rumah
5 Episode 5: Merubah Penampilan
6 Episode 6: Makan Bareng
7 Episode 7: Pulang Bareng
8 Episode 8: Rokok
9 Episode 9: Mengikuti
10 Episode 10: Geng Base Angel
11 Episode 11: Kamera Mini
12 Episode 12: Rencana Berhasil
13 Episode 13: Perasaan
14 Episode 14: Cinderella
15 Episode 15: Tipu Daya
16 Episode 16: Dihina Temannya
17 Episode 17: Menginap
18 Episode 18: Bertemu Dengan Ibu
19 Episode 19: Perpustakaan
20 Episode 20: Taruhan
21 Episode 21: Makan
22 Episode 22: Gratis
23 Episode 23: Menjalankannya Dengan Baik
24 Episode 24: Belepotan
25 Episode 25: Rindu
26 Episode 26: Dibohongi
27 Episode 27: Si Culun
28 Episode 28: Tampan
29 Episode 29: Dijodohkan
30 Episode 30: Suapan
31 Episode 31: Berkas Penting
32 Episode 32: Shopping Bersama
33 Episode 33: Dimatikan Cepat
34 Episode 34: Pentas Seni
35 Episode 35: Kancing Baju
36 Episode 36: Tidak Menerima
37 Episode 37: Rumor
38 Episode 38: Air Merah
39 Episode 39: Toilet
40 Episode 40: Sudah Tahu
41 Episode 41: Gudang Gelap
42 Episode 42: Melepaskan Pakaian
43 Episode 43: Berita
44 Episode 44: Tugas Sekolah
45 Episode 45: Coklat
46 Episode 46: Meriset Data Pribadi
47 Episode 47: Mencari
48 Episode 48: Membersihkan Diri
49 Episode 49: Bubuk Sakit Perut
50 Episode 50: Sakit Perut
51 Episode 51: Obat
52 Episode 52: Seember Air
53 Episode 53: Tikus
54 Episode 54: Buah dan Kue
55 Episode 55: Pistol
56 Episode 56: Pergi dari Neraka
57 Episode 57: Hal yang Ditunggu
58 Episode 58: Surat
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Episode 1: Awal Mula Kesedihan
2
Episode 2: Bercak Merah
3
Episode 3: Balas Dendam Dimulai
4
Episode 4: Diusir Dari Rumah
5
Episode 5: Merubah Penampilan
6
Episode 6: Makan Bareng
7
Episode 7: Pulang Bareng
8
Episode 8: Rokok
9
Episode 9: Mengikuti
10
Episode 10: Geng Base Angel
11
Episode 11: Kamera Mini
12
Episode 12: Rencana Berhasil
13
Episode 13: Perasaan
14
Episode 14: Cinderella
15
Episode 15: Tipu Daya
16
Episode 16: Dihina Temannya
17
Episode 17: Menginap
18
Episode 18: Bertemu Dengan Ibu
19
Episode 19: Perpustakaan
20
Episode 20: Taruhan
21
Episode 21: Makan
22
Episode 22: Gratis
23
Episode 23: Menjalankannya Dengan Baik
24
Episode 24: Belepotan
25
Episode 25: Rindu
26
Episode 26: Dibohongi
27
Episode 27: Si Culun
28
Episode 28: Tampan
29
Episode 29: Dijodohkan
30
Episode 30: Suapan
31
Episode 31: Berkas Penting
32
Episode 32: Shopping Bersama
33
Episode 33: Dimatikan Cepat
34
Episode 34: Pentas Seni
35
Episode 35: Kancing Baju
36
Episode 36: Tidak Menerima
37
Episode 37: Rumor
38
Episode 38: Air Merah
39
Episode 39: Toilet
40
Episode 40: Sudah Tahu
41
Episode 41: Gudang Gelap
42
Episode 42: Melepaskan Pakaian
43
Episode 43: Berita
44
Episode 44: Tugas Sekolah
45
Episode 45: Coklat
46
Episode 46: Meriset Data Pribadi
47
Episode 47: Mencari
48
Episode 48: Membersihkan Diri
49
Episode 49: Bubuk Sakit Perut
50
Episode 50: Sakit Perut
51
Episode 51: Obat
52
Episode 52: Seember Air
53
Episode 53: Tikus
54
Episode 54: Buah dan Kue
55
Episode 55: Pistol
56
Episode 56: Pergi dari Neraka
57
Episode 57: Hal yang Ditunggu
58
Episode 58: Surat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!