Sejak hari itu, Alina benar benar dekat dengan Clara. Dan bahkan Clara menceritakan soal pria yang pernah ia ambil dari Alina.
Di kantin. “Oh ya Clara, aku mau bertanya soal wanita yang aku duduki bangkunya itu. Aku dengar dengar, kalau kau pernah mengambil pria yang ia sukai ya. Apa itu benar?.” Tanya Alina sambil mengangkat alisnya.
“Benar banget. Aku sangat membencinya, dan bahkan aku tidak segan segan untuk mempermalukannya. Aku tidak bisa melihat dia disayang oleh siapapun. Aku ingin dia dibenci. Maka sebab itu, saat sedang istirahat. Aku meletakkan dompetku ke tasnya, dan aku berpura pura merasa kehilangan barang.”
“Lalu aku salahkan deh dia, dan saat diperiksa. Tentu saja dompetku ada di tasnya, dan dia langsung diejeki deh, oleh semua teman teman yang ada di kelas. Dan lagian, dia jelek banget, dan bau lagi. Bikin aku muntah saja.” Jawab Clara dengan jujur.
Clara tidak tahu, kalau Alina sudah merekam suaranya. Dan ponselnya ia letakkan di paha bawahnya, yang tidak akan terlihat oleh Clara.
“Maka sebab itu, aku juga berencana merebut pria yang ia sukai. Tapi, gara gara video itu, aku jadi diputuskan, dan aku direndahkan di sekolah ini. Hanya kaulah satu satunya teman bagiku. Terima kasih banyak Felisa. Kamu memang teman yang sangat baik untukku.” Jawab Clara tanpa curiga sedikitpun, dan malah bahagia bercerita dengan Alina.
Jam pulang pun tiba. Mereka langsung pulang dengan arah yang berbeda. Di rumah Clara. Saat Clara masuk ke dalam rumah, tiba tiba saja ayahnya menghampiri Clara, dan langsung menamparnya.
“Kamu tahu, kenapa ayah menamparmu. Itu semua karena kamu sudah membuat malu aku. Semua perusahaanku hancur, karena kau. Dasar tidak berguna.” Ucap ayahnya langsung menampar Clara kembali.
Clara pun langsung terjatuh, dan mengeluarkan darah dari hidungnya. Dan ia pun menangis kesakitan. Baru kali ini Clara merasakan tamparan dari ayahnya, dan itu baru pertama kalinya.
Estiana pun langsung membantu Clara berdiri. “Kamu jangan menampar anak kamu sendiri sayang. Kamu gak kasihan dengannya.” Ucap Estiana sambil mengelus pundak Clara.
“Kamu ajari anak kamu itu. Beraninya dia membuatku hancur. Gara gara video memalukan itu, semua perusahaan tidak mau bekerjasama denganku. Bagaimana aku tidak marah. Ajari anak murahan kamu ini.” Jawab Wilson sambil melotot.
“Kamu panggil si Lumina itu. Suruh dia siapkan makan malam, dan jangan sampai kelamaan. Aku sudah lelah. Cepat bodoh.” Teriak Wilson sangat marah.
“Mari sayang, ibu antarkan kamu ke kamar dulu.” Ucap Estiana menuntun Clara masuk ke kamarnya.
Setelah masuk ke kamar Clara. Estiana langsung memanggil Lumina, yaitu ibu kandung Alina, yang sudah di keluarkan dari ruang bawah tanah. Tapi tetap di siksa, dengan dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah, tanpa istirahat.
Sudah dari ulang tahun Estiana, ia sudah mengeluarkan Lumina dari ruang bawah tanah. Tapi tetap saja ia menderita, karena ia terus dipukuli dan di siksa hebat.
Malam pun tiba. Dimana Alina sudah membuat janji kepada Clara, untuk mengerjakan tugas di rumah Clara.
“Kau mau kemana Alina?.” Tanya bos Gray.
“Mau melakukan rencanaku dong. Aku pinjam mobilnya dulu bos. Terima kasih.” Jawabnya mengambil kunci mobil milik bos Gray, dan langsung berangkat menuju rumahnya.
Saat di perjalanan. Alina sudah menyiapkan kamera mini, yang diberikan oleh bos Gray, untuk berjaga jaga.
Alina sudah tahu, kalau ibunya sudah di keluarkan dari ruang bawah tanah. Sejak ulang tahun ibu tirinya waktu itu. Di situlah, Alina semakin dendam, dan cepat cepat membalaskan dendamnya secara baik baik saja.
Sesampai rumah. Ia pun langsung mengetuk pintu, dan pintu pun dibukakan oleh Clara.
Dan Alina pun masuk ke dalam rumah. Dan Alina langsung duduk di sofanya.
Clara memanggil ibu kandung Alina, untuk menyiapkan jus. Setelah selesai membuatkan jus. Ibu kandung Alina, langsung meletakkannya di atas meja.
Alina dan ibunya saling bertatapan. “Dia hampir mirip dengan Alina. Siapa dia, dia pasti teman Clara.” Ucap batin ibunya.
Alina menahan air matanya. “Pergi kamu, jangan lama lama di sini. Buat malu saja kamu, sana pembantu.” Usir Clara dengan keras.
Dan ibu Alina bergegas kembali ke dapur. “Maafkan pembantu itu ya Felisa. Dia tidak jauh sama dengan anaknya yang gendut itu.” Ucap Clara yang tidak curiga dengan Alina.
“Tidak apa apa kok. Mari kita lanjut belajarnya.
“Ouh ya Clara. Aku daritadi kebelet buang air kecil. Apa aku bisa ke kamar mandi dulu? .” Tanyanya.
“Boleh banget. Aku akan menunggumu di sini." Jawab Clara, dan Alina mengambil sebuah kamera mininya, dan langsung ke kamar mandi.
"Kenapa Felisa selalu ke kamar mandi ya. Aneh," ucap batin Clara sedikit bingung.
Alina tidak ke kamar mandi. Tapi ke meja pajang, dan langsung menaruh kamera mini tersebut, di sela sela pot bunga.
“Dengan begini, semua akan berjalan dengan baik.” Tersenyum tipis Alina, dan kembali ke ruang tamu.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Oh ya Clara, apakah aku boleh menginap di sini. Karena di rumah lagi gak ada siapa siapa. Ayahku sangat sibuk di perusahaannya, dan tidak bisa pulang. Boleh kan, kalau aku menginap semalam saja di sini?." Tanya Alina sambil memohon.
"Wah, boleh banget dong. Malah aku senang kalau kamu menginap di rumah aku. Karena kebetulan ayah dan ibu sedang pergi, dan akan kembali nanti." Jawab Clara dengan bahagia.
Alina menatap wajahnya. "Ada apa dengan wajahmu ini. Kenapa ada bekas tamparan. Kau di tampar?." Tanya Alina pura pura cemas dengannya.
"Heheheheh, gak apa apa kok. Hanya ada nyamuk saja tadi di pipiku, jadinya aku tampar deh. Ternyata tamparannya cukup keras, makanya berbekas deh." Jawab Clara.
"Syukurlah kalau kau baik baik saja. Kalau begitu, mari kita selesaikan tugas sekolah kita yang belum siap." Kembali berakting dengan bahagia, dan Clara ikut bahagia, karena ada Felisa di sampingnya.
Selesai mengerjakan tugas sekolah. Alina dan Clara langsung masuk ke dalam kamar Clara. "Wah, kamarmu benar benar besar ya Clara. Aku sampai kagum melihatnya." Puji Alina sambil duduk di tempat tidur.
"Sebenarnya ini bukan kamarku. Tapi kamar kakakku yang aku bilang gendut itu, dan yang aku tuduh mencuri itu. Aku gak tahu ke mana keberadaan kakak sekarang. Lagian aku tidak peduli dengannya." Jawab Clara kembali menceritakannya secara jujur.
"Aku ada di depanmu sekarang Clara. Inilah aku, Alina." Ucap batin Alina menahan emosinya.
"Karena ini sudah malam, jadinya mari kita tidur bersama. Gara gara mengerjakan tugas sekolah itu, kita jadi begadang kan. Mari tidur." Ucap Clara yang sudah mandi dari tadi, saat Alina belum datang.
Dan Clara pun langsung berbaring disebelah kiri, dan Alina berbaring disebelah kanannya. "Ouh ya Clara
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments