Episode 2: Bercak Merah

1 minggu pun berlalu, dimana sudah habis hukuman yang diberikan oleh gurunya, dan di pagi harinya, Alina langsung berangkat ke sekolahnya.

Di sekolahnya, ia pikir akan tenang. Tapi, baru Alina duduk, Alina sudah langsung dibully habis habisan oleh teman sekelasnya. Dengan mengejeknya si gendut dan pencuri. Juga mengatakan Alina, si Alien, diambil dari namanya.

Alina hanya bisa diam, dan melampiaskan amarahnya di kamarnya, dengan menusuk nusuk kertas bukunya.

Sepulang sekolah, Alina seperti biasanya jalan kaki. Dan sesampai rumah, ternyata Clara pulang duluan, dan sedang mengobrol dengan ibunya.

"Oh ya ibu, sebentar lagi kan ulang tahunku. Aku mau kalau aku dirayakan dengan meriah. Boleh kan ibu, dan ayah." Tanya Clara dengan bahagia.

"Tentu saja sayang, kamu kan anak ayah yang paling cantik dan tersayang." Jawab ayahnya dengan bahagia, sambil mengelus rambut Clara.

Clara melirik Alina yang baru pulang. "Kakak, kemarilah." Panggil Clara, dan Alina langsung menghampirinya.

"Iya, ada apa?." Tanya Alina dengan polosnya.

"Sebentar lagi kan hari ulang tahunku kak. Jadi aku minta tolong sama kakak, untuk jangan memperlihatkan wajah kakak kepada tamu tamu. Karena kakak ini jelek. Kakak paham kan." Jawab Clara sambil tertawa, menghinanya.

"Baiklah dek, yang penting kamu bahagia." Ucap Alina hanya bisa pasrah dan langsung ke kamarnya, dengan menundukkan kepalanya.

tibalah hari ulang tahun Clara, dan Alina dijadikan babu oleh ibu, adik, dan ayah tirinya. Alina tidak bisa menghadiri pesta tersebut, karena Alina di sibukkan oleh pekerjaannya, untuk membersihkan piring dan merapikan meja meja tamu.

Saat acara di mulai, semua sangat bahagia, dan Alina hanya bisa menangis di dapur.

"Hei kau, cepat kamu siapkan semuanya. Kalau semuanya beres, baru kamu aku perbolehkan bertemu dengan ibu mu yang karatan itu." Ucap ibu tirinya yang baru datang.

Alina pun langsung berdiri kembali. "Benar bu, kalau begitu, Alina akan bekerja keras, untuk membersihkan semua ini." Langsung bahagia Alina.

"Kalau begitu, cepat kerjakan semuanya. Jangan sampai ada yang kotor, atau wajah mu yang akan aku kotori." Ucap ibu tirinya langsung pergi.

"Ini kesempatanku untuk bertemu ibu di ruang bawah tanah. Aku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah ini secepatnya." Kembali membersihkan piring piring yang kotor.

Acara ulang tahun Clara pun selesai, dan Alina memberitahu kepada ayah tiri, dan ibu tirinya, kalau semuanya sudah beres dan sudah rapi.

"Semua sudah beres bu, ibu bisa melihatnya langsung." Bahagia Alina.

Ibu tirinya yang sedang istirahat, langsung memperbolehkannya untuk menjenguk ibunya, sekalian mengantarkan makan malam untuk ibunya, yang hanya berlauk nasi, dan kerupuk.

Alina pun langsung turun ke ruang bawah tanah, yang ditunjukkan oleh ayah tirinya, dan Alina langsung bertemu ibunya yang kotor, dan wajahnya dipenuhi dengan tanah.

Alina langsung duduk, sambil meneteskan air matanya. Ia sangat kasihan dengan ibunya, yang harus tidur di tanah, yang tanpa karpet, dan tanpa alas apapun.

Belum lagi pakaiannya yang sudah rusak dan sudah robek sedikit demi sedikit.

"Ibu, ibu kedinginan kan bu di sini. Maafin Alina ya bu, karena gak bisa bawa ibu keluar dari neraka ini." Tangis pecah Alina sambil menundukkan kepalanya, karena tak sanggup melihat wajah ibunya yang sangat sengsara.

Ibunya justru tersenyum dan mengusap air mata Alina, sambil menggelengkan kepalanya. Menandakan, kalau ibunya tidak apa apa di ruang bawah tanah.

Alina pun menyuapi ibunya, dan ibunya tidak bisa berbicara, karena ibunya sudah trauma berat. Akibat siksaan dari keluarga tirinya, dan ibunya hanya bisa memperagakan dengan gerakan tangan.

Paginya pun tiba, dimana Alina sangat kelelahan, karena tidak ada istirahat. Ia sibuk untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dan dimana saat Alina sudah di sekolah.

Alina melihat pria yang sudah ia sukai selama 2 tahun, sedang berduaan dengan Clara. Clara yang melihat Alina pun, langsung menghampirinya.

"Halo Alina, apa kabar mu?." Tanya Clara sambil menggandeng tangan Kevin, dan tersenyum licik.

"Kabarku baik. Omong omong, kalian sudah pacaran ya." Jawabnya sekaligus bertanya.

"Tentu saja dong, kan katanya, kamu pernah menyukai Niko juga kan. Maaf ya, karena Kevin sukanya sama aku, bukan kamu. Yakan sayang." Jawab Clara sambil menatap wajah Kevin.

"Tentu saja. Mana mungkin aku mau pacaran dengan wanita gendut seperti dia. Amit amit deh." Jijik Kevin, sambil memiringkan bibirnya.

"Semoga kalian langgeng deh, sampai pelaminan nanti. Kalau begitu, aku pergi dulu." Ucap Alina yang menahan air matanya, dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

"Aku tidak akan bisa membiarkanmu bahagia Alina. Aku akan merebut semua kebahagiaanmu." Ucap batin Clara tersenyum puas.

Siang pun tiba. Dimana teman temannya mengajaknya untuk ke suatu tempat , dengan berekspresi bahagia.

"Alina, ikut kami yuk. Ada yang mau kami tunjukkan pada kamu." Ucap teman dekat Alina.

"Kalian mau bawa aku ke mana?." Tanya Alina sambil menatap teman temannya.

"Ada deh, ini rahasia kami. Kamu akan suka, yuk." Jawab teman temannya dengan tersenyum.

Sontak Alina bahagia, karena temannya sudah mempercayainya. Namun, itu semua hanya ilusinya saja. Justru dia di bawah ke taman belakang sekolah. Dan ia langsung di siram oleh air merah, dan semua pakaiannya penuh dengan noda merah.

"Hahahahah, mampus kamu gendut." Hina semua teman temannya, dan murid yang ada di sekolah tersebut.

Tidak hanya di situ saja, semua teman sekelasnya, malah membuat video dirinya yang sudah kotor dan penuh dengan bercak merah di pakaiannya. Bahkan wajahnya juga terkena air merah tersebut. Semua murid yang ada di sekolah tersebut, langsung menertawakannya, dan lagi lagi Alina hanya bisa diam, dan tidak berani melawan. Ia hanya bisa mendengar cacian dan makian dari mulut demi mulut.

"Bagaimana ini, aku tidak bisa melawan mereka semua. Ingin sekali aku menampar wajah mereka yang tertawa itu. Tapi kalau aku menampar mereka, aku akan di keluarkan dari sekolah ini. Bagaimana ini tuhan." Ucap batin Alina meneteskan air matanya, dan menundukkan kepalanya.

Saat Alina pulang sekolah, ia juga di pandang oleh orang orang yang ada di sekitarnya.

"Kenapa dia itu. Badannya dipenuhi dengan bercak merah, jorok banget ya. Jijik lihatnya." Ucap orang orang yang ada di sekitarnya, dan terus menghinanya.

Semua hinaan itu, masuk ke telinganya. Dan ia hanya bisa meneteskan air matanya, yang tidak akan mengubah semua yang telah terjadi.

Sampai di malam hari, di tengah malam. Alina memilih untuk jalan jalan malam, untuk menghirup udara yang segar. Dan duduk di kursi dekat laut.

"Coba saja aku ke tengah laut itu, dan aku mati di sana. Apakah ada orang yang akan menolongku, dan menangisi kematianku. Hahahah, itu tidak mungkin. Mana ada orang yang rela menangis, demi aku yang jelek dan tidak berguna ini. Percuma aku pintar, tapi aku tidak cantik. Itu juga tidak berguna juga bagiku." Tertawa Alina, untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Ayah, andai saja ayah masih hidup di dunia ini. Mungkin aku dan ibu tidak akan sengsara seperti ini. Ayah tidak tahu, kalau selama ini, keluarga baru ayah, adalah orang yang sangat jahat kepada aku dan ibu. Andai ayah tidak menikah juga, mungkin aku akan bahagia bersama ibu, walau ayah sudah meninggal." Curhat Alina dengan dirinya sendiri, sambil mengayunkan kakinya.

Tiba tiba ada seorang pria misterius yang memegang pundaknya. Sontak Alina kaget, dan langsung membalikkan badannya.

Pria itupun langsung duduk disampingnya dan berkata. “Apa kau mau balas dendam. Aku bisa membantumu.” Ucap pria tersebut.

Episodes
1 Episode 1: Awal Mula Kesedihan
2 Episode 2: Bercak Merah
3 Episode 3: Balas Dendam Dimulai
4 Episode 4: Diusir Dari Rumah
5 Episode 5: Merubah Penampilan
6 Episode 6: Makan Bareng
7 Episode 7: Pulang Bareng
8 Episode 8: Rokok
9 Episode 9: Mengikuti
10 Episode 10: Geng Base Angel
11 Episode 11: Kamera Mini
12 Episode 12: Rencana Berhasil
13 Episode 13: Perasaan
14 Episode 14: Cinderella
15 Episode 15: Tipu Daya
16 Episode 16: Dihina Temannya
17 Episode 17: Menginap
18 Episode 18: Bertemu Dengan Ibu
19 Episode 19: Perpustakaan
20 Episode 20: Taruhan
21 Episode 21: Makan
22 Episode 22: Gratis
23 Episode 23: Menjalankannya Dengan Baik
24 Episode 24: Belepotan
25 Episode 25: Rindu
26 Episode 26: Dibohongi
27 Episode 27: Si Culun
28 Episode 28: Tampan
29 Episode 29: Dijodohkan
30 Episode 30: Suapan
31 Episode 31: Berkas Penting
32 Episode 32: Shopping Bersama
33 Episode 33: Dimatikan Cepat
34 Episode 34: Pentas Seni
35 Episode 35: Kancing Baju
36 Episode 36: Tidak Menerima
37 Episode 37: Rumor
38 Episode 38: Air Merah
39 Episode 39: Toilet
40 Episode 40: Sudah Tahu
41 Episode 41: Gudang Gelap
42 Episode 42: Melepaskan Pakaian
43 Episode 43: Berita
44 Episode 44: Tugas Sekolah
45 Episode 45: Coklat
46 Episode 46: Meriset Data Pribadi
47 Episode 47: Mencari
48 Episode 48: Membersihkan Diri
49 Episode 49: Bubuk Sakit Perut
50 Episode 50: Sakit Perut
51 Episode 51: Obat
52 Episode 52: Seember Air
53 Episode 53: Tikus
54 Episode 54: Buah dan Kue
55 Episode 55: Pistol
56 Episode 56: Pergi dari Neraka
57 Episode 57: Hal yang Ditunggu
58 Episode 58: Surat
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Episode 1: Awal Mula Kesedihan
2
Episode 2: Bercak Merah
3
Episode 3: Balas Dendam Dimulai
4
Episode 4: Diusir Dari Rumah
5
Episode 5: Merubah Penampilan
6
Episode 6: Makan Bareng
7
Episode 7: Pulang Bareng
8
Episode 8: Rokok
9
Episode 9: Mengikuti
10
Episode 10: Geng Base Angel
11
Episode 11: Kamera Mini
12
Episode 12: Rencana Berhasil
13
Episode 13: Perasaan
14
Episode 14: Cinderella
15
Episode 15: Tipu Daya
16
Episode 16: Dihina Temannya
17
Episode 17: Menginap
18
Episode 18: Bertemu Dengan Ibu
19
Episode 19: Perpustakaan
20
Episode 20: Taruhan
21
Episode 21: Makan
22
Episode 22: Gratis
23
Episode 23: Menjalankannya Dengan Baik
24
Episode 24: Belepotan
25
Episode 25: Rindu
26
Episode 26: Dibohongi
27
Episode 27: Si Culun
28
Episode 28: Tampan
29
Episode 29: Dijodohkan
30
Episode 30: Suapan
31
Episode 31: Berkas Penting
32
Episode 32: Shopping Bersama
33
Episode 33: Dimatikan Cepat
34
Episode 34: Pentas Seni
35
Episode 35: Kancing Baju
36
Episode 36: Tidak Menerima
37
Episode 37: Rumor
38
Episode 38: Air Merah
39
Episode 39: Toilet
40
Episode 40: Sudah Tahu
41
Episode 41: Gudang Gelap
42
Episode 42: Melepaskan Pakaian
43
Episode 43: Berita
44
Episode 44: Tugas Sekolah
45
Episode 45: Coklat
46
Episode 46: Meriset Data Pribadi
47
Episode 47: Mencari
48
Episode 48: Membersihkan Diri
49
Episode 49: Bubuk Sakit Perut
50
Episode 50: Sakit Perut
51
Episode 51: Obat
52
Episode 52: Seember Air
53
Episode 53: Tikus
54
Episode 54: Buah dan Kue
55
Episode 55: Pistol
56
Episode 56: Pergi dari Neraka
57
Episode 57: Hal yang Ditunggu
58
Episode 58: Surat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!