1 minggu pun berlalu, dimana sudah habis hukuman yang diberikan oleh gurunya, dan di pagi harinya, Alina langsung berangkat ke sekolahnya.
Di sekolahnya, ia pikir akan tenang. Tapi, baru Alina duduk, Alina sudah langsung dibully habis habisan oleh teman sekelasnya. Dengan mengejeknya si gendut dan pencuri. Juga mengatakan Alina, si Alien, diambil dari namanya.
Alina hanya bisa diam, dan melampiaskan amarahnya di kamarnya, dengan menusuk nusuk kertas bukunya.
Sepulang sekolah, Alina seperti biasanya jalan kaki. Dan sesampai rumah, ternyata Clara pulang duluan, dan sedang mengobrol dengan ibunya.
"Oh ya ibu, sebentar lagi kan ulang tahunku. Aku mau kalau aku dirayakan dengan meriah. Boleh kan ibu, dan ayah." Tanya Clara dengan bahagia.
"Tentu saja sayang, kamu kan anak ayah yang paling cantik dan tersayang." Jawab ayahnya dengan bahagia, sambil mengelus rambut Clara.
Clara melirik Alina yang baru pulang. "Kakak, kemarilah." Panggil Clara, dan Alina langsung menghampirinya.
"Iya, ada apa?." Tanya Alina dengan polosnya.
"Sebentar lagi kan hari ulang tahunku kak. Jadi aku minta tolong sama kakak, untuk jangan memperlihatkan wajah kakak kepada tamu tamu. Karena kakak ini jelek. Kakak paham kan." Jawab Clara sambil tertawa, menghinanya.
"Baiklah dek, yang penting kamu bahagia." Ucap Alina hanya bisa pasrah dan langsung ke kamarnya, dengan menundukkan kepalanya.
tibalah hari ulang tahun Clara, dan Alina dijadikan babu oleh ibu, adik, dan ayah tirinya. Alina tidak bisa menghadiri pesta tersebut, karena Alina di sibukkan oleh pekerjaannya, untuk membersihkan piring dan merapikan meja meja tamu.
Saat acara di mulai, semua sangat bahagia, dan Alina hanya bisa menangis di dapur.
"Hei kau, cepat kamu siapkan semuanya. Kalau semuanya beres, baru kamu aku perbolehkan bertemu dengan ibu mu yang karatan itu." Ucap ibu tirinya yang baru datang.
Alina pun langsung berdiri kembali. "Benar bu, kalau begitu, Alina akan bekerja keras, untuk membersihkan semua ini." Langsung bahagia Alina.
"Kalau begitu, cepat kerjakan semuanya. Jangan sampai ada yang kotor, atau wajah mu yang akan aku kotori." Ucap ibu tirinya langsung pergi.
"Ini kesempatanku untuk bertemu ibu di ruang bawah tanah. Aku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah ini secepatnya." Kembali membersihkan piring piring yang kotor.
Acara ulang tahun Clara pun selesai, dan Alina memberitahu kepada ayah tiri, dan ibu tirinya, kalau semuanya sudah beres dan sudah rapi.
"Semua sudah beres bu, ibu bisa melihatnya langsung." Bahagia Alina.
Ibu tirinya yang sedang istirahat, langsung memperbolehkannya untuk menjenguk ibunya, sekalian mengantarkan makan malam untuk ibunya, yang hanya berlauk nasi, dan kerupuk.
Alina pun langsung turun ke ruang bawah tanah, yang ditunjukkan oleh ayah tirinya, dan Alina langsung bertemu ibunya yang kotor, dan wajahnya dipenuhi dengan tanah.
Alina langsung duduk, sambil meneteskan air matanya. Ia sangat kasihan dengan ibunya, yang harus tidur di tanah, yang tanpa karpet, dan tanpa alas apapun.
Belum lagi pakaiannya yang sudah rusak dan sudah robek sedikit demi sedikit.
"Ibu, ibu kedinginan kan bu di sini. Maafin Alina ya bu, karena gak bisa bawa ibu keluar dari neraka ini." Tangis pecah Alina sambil menundukkan kepalanya, karena tak sanggup melihat wajah ibunya yang sangat sengsara.
Ibunya justru tersenyum dan mengusap air mata Alina, sambil menggelengkan kepalanya. Menandakan, kalau ibunya tidak apa apa di ruang bawah tanah.
Alina pun menyuapi ibunya, dan ibunya tidak bisa berbicara, karena ibunya sudah trauma berat. Akibat siksaan dari keluarga tirinya, dan ibunya hanya bisa memperagakan dengan gerakan tangan.
Paginya pun tiba, dimana Alina sangat kelelahan, karena tidak ada istirahat. Ia sibuk untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dan dimana saat Alina sudah di sekolah.
Alina melihat pria yang sudah ia sukai selama 2 tahun, sedang berduaan dengan Clara. Clara yang melihat Alina pun, langsung menghampirinya.
"Halo Alina, apa kabar mu?." Tanya Clara sambil menggandeng tangan Kevin, dan tersenyum licik.
"Kabarku baik. Omong omong, kalian sudah pacaran ya." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Tentu saja dong, kan katanya, kamu pernah menyukai Niko juga kan. Maaf ya, karena Kevin sukanya sama aku, bukan kamu. Yakan sayang." Jawab Clara sambil menatap wajah Kevin.
"Tentu saja. Mana mungkin aku mau pacaran dengan wanita gendut seperti dia. Amit amit deh." Jijik Kevin, sambil memiringkan bibirnya.
"Semoga kalian langgeng deh, sampai pelaminan nanti. Kalau begitu, aku pergi dulu." Ucap Alina yang menahan air matanya, dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku tidak akan bisa membiarkanmu bahagia Alina. Aku akan merebut semua kebahagiaanmu." Ucap batin Clara tersenyum puas.
Siang pun tiba. Dimana teman temannya mengajaknya untuk ke suatu tempat , dengan berekspresi bahagia.
"Alina, ikut kami yuk. Ada yang mau kami tunjukkan pada kamu." Ucap teman dekat Alina.
"Kalian mau bawa aku ke mana?." Tanya Alina sambil menatap teman temannya.
"Ada deh, ini rahasia kami. Kamu akan suka, yuk." Jawab teman temannya dengan tersenyum.
Sontak Alina bahagia, karena temannya sudah mempercayainya. Namun, itu semua hanya ilusinya saja. Justru dia di bawah ke taman belakang sekolah. Dan ia langsung di siram oleh air merah, dan semua pakaiannya penuh dengan noda merah.
"Hahahahah, mampus kamu gendut." Hina semua teman temannya, dan murid yang ada di sekolah tersebut.
Tidak hanya di situ saja, semua teman sekelasnya, malah membuat video dirinya yang sudah kotor dan penuh dengan bercak merah di pakaiannya. Bahkan wajahnya juga terkena air merah tersebut. Semua murid yang ada di sekolah tersebut, langsung menertawakannya, dan lagi lagi Alina hanya bisa diam, dan tidak berani melawan. Ia hanya bisa mendengar cacian dan makian dari mulut demi mulut.
"Bagaimana ini, aku tidak bisa melawan mereka semua. Ingin sekali aku menampar wajah mereka yang tertawa itu. Tapi kalau aku menampar mereka, aku akan di keluarkan dari sekolah ini. Bagaimana ini tuhan." Ucap batin Alina meneteskan air matanya, dan menundukkan kepalanya.
Saat Alina pulang sekolah, ia juga di pandang oleh orang orang yang ada di sekitarnya.
"Kenapa dia itu. Badannya dipenuhi dengan bercak merah, jorok banget ya. Jijik lihatnya." Ucap orang orang yang ada di sekitarnya, dan terus menghinanya.
Semua hinaan itu, masuk ke telinganya. Dan ia hanya bisa meneteskan air matanya, yang tidak akan mengubah semua yang telah terjadi.
Sampai di malam hari, di tengah malam. Alina memilih untuk jalan jalan malam, untuk menghirup udara yang segar. Dan duduk di kursi dekat laut.
"Coba saja aku ke tengah laut itu, dan aku mati di sana. Apakah ada orang yang akan menolongku, dan menangisi kematianku. Hahahah, itu tidak mungkin. Mana ada orang yang rela menangis, demi aku yang jelek dan tidak berguna ini. Percuma aku pintar, tapi aku tidak cantik. Itu juga tidak berguna juga bagiku." Tertawa Alina, untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Ayah, andai saja ayah masih hidup di dunia ini. Mungkin aku dan ibu tidak akan sengsara seperti ini. Ayah tidak tahu, kalau selama ini, keluarga baru ayah, adalah orang yang sangat jahat kepada aku dan ibu. Andai ayah tidak menikah juga, mungkin aku akan bahagia bersama ibu, walau ayah sudah meninggal." Curhat Alina dengan dirinya sendiri, sambil mengayunkan kakinya.
Tiba tiba ada seorang pria misterius yang memegang pundaknya. Sontak Alina kaget, dan langsung membalikkan badannya.
Pria itupun langsung duduk disampingnya dan berkata. “Apa kau mau balas dendam. Aku bisa membantumu.” Ucap pria tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments