“Aku bisa tahu. Karena aku yang meletakkan dompetku di tasnya. Agar semua teman yang ada di kelas, membencinya. Aku sangat benci dengannya, karena ia memiliki teman teman yang masih dekat dengannya. Maka sebab itu, aku mau menjatuhkannya deh, dengan menuduhnya, si pencuri.” Jawab Clara dengan bodohnya.
“Wah, kamu benar benar hebat Clara. Dengan begitu, tidak akan ada wanita gendut itu lagi deh. Hahahah, kamu memang teman yang keren Clara.” Puji Alina yang membuatnya jadi ingin muntah.
Clara tidak tahu, kalau sebelum ia masuk ke mobil. Alina sudah memasang perekam suara, agar bisa merekam semua perbuatan jahat Clara.
Sampai tiba di rumah, dan Clara langsung turun dari mobil, bersama Alina.
“Apa mau masuk dulu. Mari masuk dulu, sekalian aku pertemukan dengan orangtuaku.” Ajak Clara, dan Alina langsung masuk ke dalam, bersama Clara.
“Bagus juga rencanaku ini.” Ucap batin Alina tersenyum tipis.
“Boleh deh.” Jawab Alina langsung masuk ke dalam rumah, bersama Clara.
Di dalam rumah. “Rumah yang sudah menjadi neraka, karena kedatangan mereka ini. Sudah tidak ada lagi keindahan di rumah ini. Sungguh menjijikkan.” Ucap batin Alina menghela nafas panjang.
Ibu tirinya pun keluar dan menyambut Clara. “Sayang.” Ucap ibunya langsung memeluk dirinya.
“Ibu. Oh ya bu, kenalin ini teman baru aku, namanya Felisa.” Memperkenalkan Felisa.
“Salam tante, nama saya Felisa.” Tersenyum.
“Kamu cantik banget nak. Kelihatannya kamu baru terlihat deh. Kamu murid baru?.” Tanya Estiana.
“Iya bu, dia murid baru di sekolah kami bu. Dia memang cantik dan kaya tentunya. Hahahah.” Jawab Clara sambil tertawa.
“Hahahah, kau bisa saja deh Clara. Hanya sementara saja kok, hahahah.” Ucap Alina.
“Ouh, mari duduk dulu Felisa.” Ucap Clara tersenyum.
Alina pun langsung duduk dan menyilangkan kakinya.
“Sebentar ya, biar ibu buatkan jus untuk kalian.” Ucap Estiana langsung membuatkan jus.
“Besar juga ya rumah kamu Clara. Apa ada orang lain di rumah ini, selain kamu?.” Tanya Alina.
“Ada sih, tapi ini rahasia keluargaku. Maaf banget ya.” Jawab Clara.
Alina pun mengeluarkan uangnya, yang berisi uang 10 juta, dan menunjukkannya kepada Clara. “Mau uang?.” Tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
Sontak Clara langsung melotot dan melihat ke
arah uang, yang diberikan oleh Alina.
“Untukku?.” Tanya Clara kembali, sambil menatap wajah Alina.
“Tentu saja. Tapi, dengan syarat kamu katakan, siapa saja yang tinggal di rumah ini. Aku dengar dengar, almarhum ayah kamu, dulu pernah mempunyai istri dua ya. Dan ibu kamu adalah istri ke dua. Benarkah.” Ucap Alina, kembali menaikkan alisnya.
“Kau tahu dari mana kabar itu?.” Tanya Clara kembali.
“Ouh, apakah memang benar. Tadi hanya bercanda saja. Benarkah.” Jawab Alina kembali tersenyum.
“Tidak apa apa, itu hanya apa saja lah. Simpan saja uang mu itu, Karena kita belum terlalu dekat. Lain waktu saja, dan yang kau katakan tadi itu tidak benar. Ayahku hanya memiliki satu istri, yaitu ibuku. Jadi jangan berbicara sembarangan.” Ucap Clara ikut tersenyum, dan sedikit kesal.
“Baiklah, maafkan aku soal perkataanku barusan.” Ucap Alina menyimpan kembali uang tersebut, di tasnya.
"Tidak apa apa," sahut Clara kembali tersenyum kepadanya.
Jus pun datang, dan ibunya langsung meletakkannya di atas meja. "Ini minuman untuk kalian berdua. Kalian pasti lelah kan, silahkan diminum." Tersenyum ibunya yang bernama Estiana, langsung duduk disamping Clara dengan elegan.
"Omong omong nak Felisa. Kamu pindahan dari mana?." Tanya Estiana terus menatapnya.
"Saya pindahan dari Dubai tante. Ayah ada pekerjaan di sini, jadinya saya harus ikut juga." Jawab Alina ikut tersenyum, agar dramanya lebih kuat.
"Wah, bukannya Dubai adalah negara yang paling terkaya. Kamu pasti sangat kaya bukan." Memuji harta Alina.
"Tidak seberapa kok tante. Lagian kita hidup untuk menjalani dunia ini, dan saat kita mati, harta juga tidak dibawa mati." Jawab Alina sambil meminum jus yang dibuat oleh Estiana.
"Omong omong, tante tinggal di rumah sebesar ini. Tante juga kaya ya." Memulai pembicaraan.
"Hahahah, ini memang rumah tante sendiri, dan ini hasil kerja keras tante dan suami tante. Maka sebab itu tante bisa menyekolahkan Clara di sekolah mahal." Jawab Estiana kembali tersenyum, dan menyombongkan dirinya.
"Rumahmu, jijik banget aku mendengarnya. Sebentar lagi rumah ini akan diganti nama pemiliknya. Maka sebab itu aku harus cepat meluluhkan hati mereka semua, dan dengan begitu, pemilik rumah ini, tidak diganti dengan nama si tua bangka Wilson itu." Ucap batin Alina menahan emosinya.
"Kalau begitu, kalian nikmati jus nya dulu. Tante mau ke pekerjaan tante dulu." Langsung kembali ke kamarnya dan tinggallah mereka berdua di ruang tamu.
"Ouh ya Clara. Karena sebentar lagi akan ada ujian akhir semester. Bisakah aku belajar bareng denganmu?." Tanya Alina memulai misinya.
"Tentu saja boleh. Malah aku sangat senang. Tapi jangan melakukan apapun di rumah ini. Kau paham kan." Jawab Clara sambil menatapnya.
"Aman, mana mungkin aku macam macam di rumah orang kaya ini. Hahahah." Tertawa tipis Alina, dan kembali meminum jus tersebut dengan nikmat dan tenang.
Setelah mengobrol bareng dan menghabiskan jus tersebut. Alina pun berpamitan pulang dengan Clara.
"Aku pulang dulu ya Clara. Sampai jumpa besok." Melambaikan tangannya.
"Kau hati hatilah," ikut melambaikan tangannya dan tersenyum.
"Jangan lupa, kirimkan salamku kepada ibu mu. Dah." Langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah tersebut.
Di perjalanan menuju kost nya. "Aku harus memikirkan cara lagi. Agar nama pemilik rumah itu tidak diganti. Karena pemilik rumah itu adalah ayah, dan tertera disurat tersebut, kalau pemiliknya ada ayah. Lalu diserahkan kepada ibu, dan digantikan dengan nama ibu. Tapi mereka mau menggantinya lagi. Aku harus cepat mencegah itu semua." Ucap Alina sambil mengerutkan keningnya.
Sampailah di kost, dan ia langsung turun dari mobil. Dan bos Gray sudah menunggunya di depan pintu. "Eh bos Gray. Kenapa di sini?." Tanya Alina langsung berdiri disampingnya.
"Bagaimana dengan hari ini. Apa semua sudah berjalan dengan baik?." Tanya balik bos Gray.
"Ada rokok gak bos Gray. Boleh minta satu, setelah itu baru aku katakan." Meminta rokok Alina, dan bos Gray langsung memberikannya.
Alina pun mematiknya, lalu menghisapnya. "Semua sudah berjalan dengan baik. Dan aku sudah mendapatkan hati ibunya itu. Sebentar lagi mereka akan berada dibawah kakiku. Tapi, sebelum itu, bos harus membantuku, untuk merencanakan satu rencana." Jawab Alina sambil menghembuskan asap rokok tersebut ke atas.
"Katakan saja, dan aku akan mengikuti semua rencanamu. karena aku akan selalu ada dipihakmu." Ucap bos Gray ikut merokok.
"Oh ya bos Gray, aku masih bingung. Kenapa suami si Estiana itu jarang pulang ke rumah. Apa dia selingkuh. Kalau benar benar selingkuh, itu suatu kabar baik untukku." Ucap Alina kembali mengisap rokoknya.
"Maksudmu?." Tanya bos Gray kurang paham
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments